
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
"Azzam!" sapa Andra ramah, Azzam mendongak menatap Andra.
Andra Dwi Kusuma, asisten pribadi sekaligus sahabat Azzam. Sosok yang selalu ada di setiap suka dan duka Azzam. Dia sengaja menghampiri Azzam di cafe depan kantor. Andra telah menunggu lama Azzam di dalam kantor. Namun Azzam tak kunjung datang, padahal sepuluh menit lagi ada rapat penting.
Bertahun-tahun Azzam selalu duduk di tempat yang sama. Diam termenung menatap jalan ramai di depannya. Segelas kopi menemani hari-hari Azzam. Bahkan Azzam membeli cafe itu. Agar dia bisa datang kapanpun? Tanpa ada yang bisa melarangnya. Azzam bak mayat hidup, waktu mungkin berputar di sekelilingnya. Namun seakan berhenti berputar baginya. Azzam melupakan setiap hari yang dilaluinya. Azzam hanya mengingat hari, dimana Vira pergi jauh membawa separuh jiwanya?
"Aku sudah menduga, kamu ada disini!" ujar Andra dengan seutas senyum. Azzam diam membisu, tak ada lagi senyum di wajah Azzam. Dingin tak ada kehangatan yang jelas diperlihatkan Azzam.
"Ada apa?" sahut Azzam dingin.
"Kita harus segera berangkat. Rapat pagi ini sangat penting!" ujar Andra, Azzam mengangguk. Lalu melemparkan pandanganya ke arah jalan besar.
"Azzam, sudah lebih dari lima tahun. Lupakan Vira, mungkin dia sudah bahagia. Kamu harus menata hidupmu, setiap hari kamu berada disini. Jika kamu tidak ingin hidup, setidaknya bangkit dan hiduplah demi harapan tante Melda. Dia kehilangan Fariz, jangan sempurnakan sakit hatinya dengan tiadanya dirimu!" ujar Andra lirih, Azzam menghela napas panjang.
"Mungkin lima tahun atau bahkan sepuluh tahun. Tidak akan bisa membuatku lupa akan hari itu. Hari dimana aku merasakan dingin dan keras hati Vira? Teguh pendiriannya menghancurkan harapan hidupku. Aku tidak akan pernah lupa hari itu!" ujar Azzam, lalu menunduk mengingat kenangan pahit hari itu.
__ADS_1
FLASH BACK
"Kak, kita pulang sekarang. Kamu harus istirahat. Nanti malam kamu harus fit. Penerbanganmu butuh waktu lama!" ujar Rayyan mengingatkan, Vira menoleh seraya mengangguk pelan. Azzam mendongak menatap heran ke arah Rayyan.
Azzam tidak percaya, sekaligus tidak mengerti maksud perkataan Rayyan. Azzam semakin heran melihat senyum di wajah Vira. Seakan Vira mengiyakan perkataan Rayyan. Azzam merasa ada yang salah dengan sikap hangat Vira. Perkataan Rayyan sangatlah jelas menandakan kepergian Vira. Hanya saja Azzam tidak percaya. Jika Vira akan melakukan penerbangan. Entah kemana Vira akan pergi? Azzam merasa cemas dan gelisah. Bayangan dirinya akan berpisah dengan Vira. Kini nyata terpampang di depannya.
"Kak Azzam, terima kasih telah menyuapiku. Aku harus pergi, tiga jam lagi aku harus berangkat menuju bandara. Hari ini aku menemui, sekalian pamit padamu!" ujar Vira ramah, Azzam menggeleng tak percaya.
Vira tersenyum ke arah Azzam. Sebuah senyum sebelum tangis yang sengaja ditinggalkan Vira. Azzam merasa bingung, dalam sekejap dia harus kehilangan Vira. Bukan hanya Vira, tapi Putra yang belum dia lihat. Bahkan mungkin tidak akan pernah dia lihat.
"Kemana kamu akan pergi? Apa maksud dari kebahagian yang baru saja kamu berikan? Jika nyata kamu akan pergi. Kamu datang menemuiku hanya untuk berpamitan. Aku tidak percaya kamu bisa bersikap sekejam ini padaku. Aku yakin hatimu tidak sedingin ini, sampai kamu harus pergi meninggalkanku sendirian!" ujar Azzam tak percaya, Vira menggeleng seraya mengutas senyum.
"Maafkan aku kak Azzam. Sekali lagi aku harus mengecewakanmu. Aku harus pergi selama beberapa tahun. Aku pergi bukan menjauh darimu, tapi mencari harga diriku yang terhina. Aku harus mengejar impian yang sempat tertunda. Dulu aku bertekad menjadi tulang punggung. Sebelum aku menjadi tulang rusuk imamku. Kini aku akan penuhi tanggungjawabku. Aku akan menjadi tulang punggung keluarga. Aku harus memilih demi kebaikan semua orang!" ujar Vira lirih, Azzam menggeleng tidak setuju.
Azzam menunduk tepat di depan Vira. Azzam bingung harus bersikap seperti apa? Dia tidak ingin kehilangan Vira dan putranya. Namun ketegasan yang terpancar di wajah Vira. Seakan pertanda perpisahan tak lagi bisa dihindari. Vira memilih menjadi tulang punggung dan melepas tulang rusuknya. Vira pergi membawa kepingan hati Azzam. Membawa separuh jiwa Azzam yang tumbuh di rahim Vira.
"Maafkan aku kak, keputusanku mungkin salah. Aku melupakan tanggungjawabku sebagai istrimu. Seandainya kamu bukan anggota keluarga Atmaja. Mungkin aku akan bersandar padamu dalam menggapai impianku. Namun fakta itu nyata adanya. Aku pergi bukan hanya demi keluargaku, tapi semata agar aku pantas menerima cinta tulusmu!" ujar Vira tegas, lagi dan lagi Azzam menggeleng tak percaya. Vira begitu teguh pada pikiran dan keputusannya.
__ADS_1
"Vira, aku mohon!"
"Kak Azzam, mungkin hari ini aku akan meminta bukti cintamu. Dengan cara lepaskan aku, ikhlaskan aku pergi. Aku tidak akan berhasil, tanpa ikhlas dan ridhomu. Kak Azzam suamiku, ridho dan berkahmu pembuka jalanku. Satu hal lagi yang kak Azzam harus pahami. Aku pergi tanpa syarat, tidak ada janji yang kupinta atau kuberikan padamu. Kamu bebas menjalani hidup, bertahan denganku atau melepasku. Agar kelak saat aku kembali, tidak akan ada tuntutan dariku!" ujar Vira dingin, Azzam menunduk lemah. Semua telah berakhir.
Keputusan Vira sangatlah kuat, meski badai datang menghantam. Tidak akan Vira goyah akan keputusannya. Vira bertekad ingin berjuang demi harga diri yang tak pernah dianggap. Vira akan mencari jati dirinya. Bukan diam memangku tangan, menerima hinaan dan cacian yang tak pernah ada habisnya. Vira pergi mendapatkan harga diri yang sepadan dengan Azzam. Agar tak ada orang yang memandang sebelah mata ke arahnya. Vira percaya mampu sejajar dengan Azzam. Jika Allah SWT menghendakinya.
"Kenapa harus selalu seperti ini?" ujar Azzam, Vira menatap Azzam lekat. Seutas senyum terlihat di wajah cantiknya. Vira menangkup wajah Azzam dengan kedua tangannya.
Vira memahami sakit perpisahan ini, tapi pertemuan setelah perpisahan akan terasa bahagia dan berarti. Sebab setiap pengorbanan diperlukan demi kebahagian yang sejati. Vira membungkuk mendekat ke arah wajah Azzam. Vira mencium lembut pipi Azzam. Sikap hangat yang tidak pernah Vira lakukan. Apalagi di depan banyak orang, tapi ciuman itu nyata dirasakan Azzam. Ciuman manis sebelum pahit perpisahan.
"Karena semua sudah tertulis. Kita hanya mengikuti jalan yang ada. Aku bahagia pernah mengenalmu. Aku bangga menjadi tulang rusukmu. Kak Azzam bukan imam yang kuimpikan, tapi kak Azzam suami pilihanku!" ujar Vira tegas.
FLASH BACK OFF
"Sudahlah Azzam, semua akan baik-baik saja! Kamu harus bangkit, semua demi tante Melda. Jangan berikan kepahitan di sisa hidupnya. Berikan senyum di hidupnya, meski kamu harus menangis!" ujar Andra.
"Kamu benar, Vira pergi demi menghapus air mata ibunya. Kenapa aku tidak bisa meninggalkannya demi senyum mama? Aku akan melakukan apapun demi mama. Termasuk menikah dengan gadis pilihannya?" sahut Azzam tegas.
__ADS_1
"Kamu benar Azzam, semangat Azzam. Kamu pasti bahagia, meski tanpa Vira!" ujar Andra lirih, Azzam mengangguk mengiyakan perkataan Andra.