
"Ada apa kalian mencariku?"
"Kakek Dimas!" Ujar Fatih lirih.
"Kalian mencari Farah!" Sahut Dimas dingin, Fatih dan Azzam seketika terdiam. Ada rasa malu, ketika mereka mendengar perkataan dingin Dimas.
"Om Dimas, dimana Farah?" Ujar Azzam, Dimas tersenyum sinis. Perkataan Azzam seolah lucu ditelinga Dimas.
"Dua puluh tahun lalu kamu membuangnya. Kalian menyisihkannya, mengacuhkan keberadaannya. Lalu, kenapa kalian mencarinya sekarang? Farah sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Farah tak pernah menangis, meski dia kesakitan. Dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri!" Tutur Dimas tegas, Azzam menunduk. Tak ada pembelaan setelah semua yang terjadi. Azzam benar-benar malu akan perbuatan keluarganya. Dimas tak bisa membenci keluarganya. Namun dengan kekuasaannya, Dimas menjauhkan Farah dari cengkraman keluarga Atmaja yang bengis.
"Tapi kakek, mama khawatir akan kondisi Farah!"
"Vira mengenal pribadi Farah, tidak sekali Farah menghilang. Dulu saat Farah tak memiliki apa-apa? Farah kembali dengan kondisi baik-baik saja. Kenapa sekarang Vira harus khawatir? Di saat Farah memiliki semua yang diinginkannya. Kecuali ada alasan kuat Farah menghilang?" Tutur Dimas mencari penjelasan.
Fatih menggelengkan kepalanya perlahan. Tak ada yang dia ketahui tentang Farah. Selama ini Fatih hidup dalam zona nyamannya. Tak pernah sekalipun Fatih mencoba mencari tahu tentang Farah. Apa yang sedang dilakukan Farah? Atau kenapa Farah terus membenci keluarga Atmaja? Fatih terus diam, seolah tidak hal yang harus dicemaskan olehnya. Namun semuanya menjadi sangat menyesakkan. Ketika Farah menghilang, membawa duka dan kelailannya sebagai seorang kakak.
"Maafkan Fatih, selama ini Fatih diam melihat perjuangan Farah. Tak sekalipun Fatih bertanya atau sekadar mengerti alasan Farah. Fatih merasa bodoh, ketika menyadari Farah pergi tanpa pamit!"
"Kamu memang bodoh, kamu lemah layaknya Azzam papamu. Dia sama seperti dirimu yang tak pernah bisa melihat jauh isi hati Vira atau Farah. Papamu seorang laki-laki, tapi selalu lemah bila berhadapan dengan keluarga Atmaja yang bengis!" Ujar Dimas ketus.
"Dimas, jaga bicaramu. Kamu lupa sedang berada di rumah siapa? Tak seharusnya kamu mencela sang pemilik rumah. Kamu hanya tamu, bersikaplah layaknya tamu!" Ujar Angga sinis, Dimas tersenyum sinis.
Angga datang tanpa permisi. Dia merasa marah, mendengar amarah Dimas pada Azzam. Hinaan Dimas akan pribadi putranya, seketika memantik amarahnya. Angga tidak terima Azzam direndahkan begitu saja. Apalagi Dimas hanyalah adik sambungnya. Saudara yang tak pernah diakui oleh Angga.
"Mas Angga yang lucu. Mungkin aku tamu, tapi seorang anak tak pernah menjadi tamu di dalam rumah orang tuanya. Jika kamu keberatan akan kehadiranku. Kamu bisa mengatakannya pada papa. Dengan senang hati aku akan keluar dari rumah ini!"
"Kamu selalu mengancam dengan alasan papa. Sejak dulu aku tahu, papa selalu membelamu. Itu sebabnya kamu merasa tinggi hati. Bahkan saat kamu melindungi Vira, papa seolah tak berkutik. Dia tidak sanggup melawan anak kesayangannya!" Ujar Angga dingin, sontak Azzam dan Fatih mengangkat kepalanya.
Mereka berdua terkejut, ketika mendengar sendiri dari Angga. Ada rasa tak percaya, tapi lebih besar amarah. Mereka merasa bodoh, ketika menganggap keluarga Atmaja tak bersalah. Namun kebenaran akan terungkap pada akhirnya. Seperti hari ini, kebenaran tanpa sengaja terungkap dari bibir Angga sendiri. Pengakuan akan kejahatan mereka pada Farah dan Vira selama ini.
__ADS_1
"Kamu mendengarnya Azzam, dialah papa kebanggaanmu. Dia yang terus menyiksa Vira dan Farah. Sedangkan kamu dengan bodohnya diam melihat sikap mereka. Bahkan kamu memilih menikah dengan Nadya. Wanita yang menjadi alasan mereka ingin memgakhiri hidup Vira. Dua puluh tahun lalu kamu bodoh. Sekarang kamu tidak hanya bodoh, tapi kamu juga lemah. Kekuasaanmu tak mampu menemukan putri kecilmu yang bersembunyi. Jangankan kamu, tuan Arka Dwi Atmaja yang tangguh dan kuat. Takkan mampu menembus benteng pertahanan Farah!" Tutur Dimas penuh kebanggaan pada Farah.
"Om Dimas mengenal putriku dengan baik!"
"Tentu saja dia mengenalnya, Dimas tak lebih dari laki-laki bodoh yang terus mengharap cinta rendah Vira. Meski dia tak pernah bisa memilikinya!" Sahut Angga mengejek, Dimas tersenyum sinis sembari menggelengkan kepalanya.
Dimas merasa lucu mendengar tuduhan Angga. Di saat Dimas sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putra yang membanggakan. Angga malah mengatakan pemikiran kotor yang hanya akan menjadi bom waktu bagi Dimas dan keluarganya. Namun Dimas selalu selangkah lebih maju dengan Angga dan Arka. Sejak dia memutuskan menikah, Dimas sudah mengatakan semua masalah pribadinya pada. Kini pemikiran dangkal dan picik Angga, takkan mampu menggoyahkan pondasi pernikahannya.
"Papa, aku mohon cukup. Jangan terus berdebat, Fatih pertama kali datang ke rumah ini. Jangan biarkan dia melihat pertikaian keluarga kita!"
"Aku tidak peduli, lagipula tidak ada yang memintanya datang. Jika dia merasa tidak suka, pintu rumah ini terbuka. Jika memang dia ingin keluar!"
"Papa cukup!" Bentak Azzam emosi, Fatih menunduk semakin dalam. Dia merasa asing meski berada diantara keluarganya sendiri.
"Fatih, angkat kepalamu. Jangan pernah tundukkan kepalamu dihadapan mereka. Farah tak pernah menunduk, dia selalu menatap mata bengis mereka. Kamu seorang kakak, jadi jangan bersikap lembek. Saatnya kamu menjadi benteng paling kuat untuk.Vira dan Farah. Tunjukkan jika kamu penerus keluarga Atmaja yang bengis!"
"Dia sadar akan posisinya, dia hanya anak ART. Sangat wajar bila dia diam!" Ujar Angga kasar, Dimas hanya bisa menahan amarah. Sikap kasar Angga, membuat Dimas malu pada Fatih.
"Dimas, dia kakakmu!"
"Aku tahu, tapi dia yang tak pernah menghargaiku sebagai seorang adik. Mas Angga yang terus ikut campur urusanku. Mereka tamuku, tapi mas Angga mengusir mereka tanpa alasan!"
"Kenapa anak ini datang menemuimu?" Ujar Arka datar.
"Maaf, saya hanya ingin bertanya tentang Farah adik saya. Seandainya saya mengganggu, lebih baik saya permisi!" Ujar Fatih, dengan perlahan Fatih berdiri.
Namun terhenti ketika Dimas menarik tangannya. Dimas meminta Fatih duduk kembali. Isyarat mata Dimas, seakan meminta Fatih untuk duduk diantara mereka. Kesopanan Fatih takkan membuat keluarga Atmaja mengerti. Sebaliknya mereka merasa tinggi hati dengan kesombongan yang mereka miliki.
"Duduklah Fatih, kamu harus melihat betapa keluarga ini porak-poranda. Keluarga Atmaja tidak sebaik yang dikatakan orang. Jadi sangat pantas adikmu menghancurkan keluarga ini!" Ujar Dimas datar, Fatih hanya diam melihat tiga generasi keluarga Atmaja yang tengah berselisih paham.
__ADS_1
"Tapi kakek!"
"Fatih, kamu harus mulai belajar memahami siapa keluarga Atmaja? Jangan bodoh seperti papamu. Terkadang amarah jalan terakhir menyadarkan orang akan keangkuhannya. Sama halnya yang dilakukan Farah. Dia mungkin keras, tapi niatnya baik. Entah siapa yang akan menang? Aku tidak bisa memihak satu diantara keduanya. Farah sudah seperti putriku, bahkan secara status dia cucu kandungku. Sedangkan keluarga Atmaja, keluarga tempatku dibesarkan!"
"Jika kamu tidak memihak, kenapa kamu melindungi mereka?" Ujar Angga dingin.
"Haruskah aku diam, saat melihat kalian melawan anak kecil. Vira dan Farah saat itu lemah. Tidak ada suami atau ayah yang menjaganya. Kelemahan seorang tuan muda Atmaja yang tak pernah mampu melindungi keluarganya. Wibawanya sebagai CEO hebat tak lantas membuatnya sanggup menjaga keluarganya yang terancam!"
"Maafkan Azzam yang bodoh!"
"Terlambat Azzam, Farah tidak akan membuka hati untukmu. Dia sudah terlalu lelah menunggumu. Sekarang Farah fokus menghancurkan satu per satu keluarga Atmaja. Tunggulah giliranmu, saat itu kamu akan mengenal. Betapa kuat dan tangguhnya putri keluarga Atmaja yang terbuang!"
"Aku sudah mengenalnya, dengan hati dingin dia merebut perusahaanku. Farah membuatku kehilangan semuanya. Hanya dalam hitungan hari dia menguasai seluruh asetku. Dia tak berhati, dingin dan kejam!" Sahut Fariz lantang, Fatih berdiri lalu menggelengkan kepalanya lemah.
Dimas membiarkan Fatih meluapkan amarah yang tengah berkobar di hatinya. Dimas ingin melihat seberap besar nyali Fatih melawan keluarga Atmaja. Keluarga yang tak pernah dikenalnya. Azzam mencoba untuk tenang, berdebat di saat suasana panas. Hanya akan membuat semuanya semakin kacau.
"Anda salah menilai Farah. Dia tidak sejahat itu. Anda yang harus intropeksi diri. Kenapa Farah mampu melakukan semua itu? Farah mungkin dingin, tapi dia tidak akan melukai bila tidak dilukai. Farah hany membalas, apa yang pernah kalian lakukan? Farah mencoba membela dirinya, semua karena kalian yang terus bersikap arogant dalam berbisnis. Bahkan kalian bermain curang, agar semua tender jatuh ke tangan kalian!" Ujar Fatih lantang dan emosi.
Plok Plok Plok Plok Plok
"Bagus Fatih, lawan mereka. Jangan biarkan mereka menghinamu!" Ujar Dimas sesaat setelah bertepuk tangan. Dimas bangga melihat Fatih membela adiknya.
"Dimas cukup sikap tak pantasmu!" Ujar Arka marah, Dimas hanya tersenyum melihat amarah Arka.
"Kamu hanya anak kemarin sore. Tidak ada hakmu bicara sekeras itu di sini. Farah adikmu memang tak berhati. Dia merebuat sesuatu yang bukan miliknya!" Ujar Fariz marah.
"Jika Farah tak berhati, lalu apa kalian berhati baik? Berapa banyak lagi aset perusahaan mama yang akan kalian rebut? Hanya agar mama menghiba di bawah kaki kalian. Tuan Azzam jelas mengerti, apa yang aku maksud? Sebab dia pemeran utama dalam perebutan perusahan mama. Namun kalian lupa, di saat kalian berambisi menghancurkan mama. Ada satu perusahaan yang terus mengincar dan menghancurkan kalian. Namun sayangnya perusahaan itu bukan milik Farah. Seperti pemikiran kalian. Malah sebaliknya, Farah yang menyelamatkan perusahaan kalian!"
"Kamu bohong!" Ujar Fariz dan Azzam bersamaan.
__ADS_1
"Sejak mama mengatakan pada akan tulus hati Farah. Aku mencari tahu semua kebenarannya. Ternyata Farah hanya ingin menyelamatkan perusahaan tuan Fariz dari kebangkrutan. Akibat pengkhianatan salah satu pegawainya. Terkadang mengakui kebaikan seseorang itu susah. Namun terus berpikir buruk, hanya akan merusak hatimu!" Ujar Fatih.
"Dia putramu Azzam, mereka aset terbesarmu!" Ujar Dimas final, lalu mengajak Fatih keluar dari rumah keluarga Atmaja.