
"Kak Fatih!" Sapa Nafisa, Fatih diam tak bergeming.
Fatih duduk menatap tajam pintu ruang rawat IGD rumah sakit terbaik di kotanya. Pikiran Fatih kacau tak tentu arah. Fatih tak lagi bisa memikirkan hal lain. Farah mengisi seluruh pikirannya. Kondisi Farah yang lemah, seolah tanggungjawab yang harus dia pikul. Bukan sebagai beban, melainkan wujud kasih sayangnya pada Farah adik perempuannya.
"Kak Fatih!" Sapa Nafisa lirih, Fatih diam membisu.
Nafisa menunduk lesu, dia tak mengerti harus bersikap seperti apa? Nafisa selalu merasa salah dan disalahkan. Nafisa tersisih dengan sikap dingin Azzam dan Fatih. Sikap yang terus mengacuhkan kasih sayangnya. Nafisa seolah tak berarti dimata Azzam dan Fatih. Laki-laki yang sangat disayangi dan dihormatinya.
"Kenapa kak?" Ujar Nafisa lirih, seketika Fatih menoleh. Dia melihat Nafisa menunduk lesu. Seakan dirinya merasa lemah tak bertenaga. Bukan fisik melainkan hati yang terus tersakiti.
Fatih tak mengerti maksud perkataan Nafisa. Dengan tatapan tajam memburu. Fatih mengunci tubuh Nafisa. Tatapan yang seolah butuh penjelasan. Bukan tatapan yang penuh dengan kasih sayang. Entah kenapa Fatih begitu dingin pada Nafisa? Meski Fatih jelas mengetahui, Nafisa adik perempuan yang pantas dia lindungi. Namun rasa ego Fatih, seolah menghalangi pelukan hangatnya menyentuh tubuh Nafisa.
"Kenapa?" Ujar Fatih mengulang perkataan Nafisa, sekilas nampak Nafisa mengangguk pelan. Nafisa mengiyakan perkataan Fatih, pertanyaan yang selama ini ada dalam benaknya.
"Kenapa aku selalu diacuhkan? Kenapa aku selalu sendiri? Kenapa aku tak merasakan hangat itu? Aku juga adikmu, layaknya Farah. Memang kita terlahir dari rahim yang berbeda. Namun darah yang mengalir dalam darah kita sama!" Tutur Nafisa lirih, suara Nafisa yang tertahan. Seolah ingin mengisyaratkan hatinya yang terasa sakit.
Fatih diam menunduk, menatap lantai rumah sakit yang kini dipijaknya. Fatih sangat mengerti perkataan Nafisa. Namun bibirnya kelu, seolah tak ada kata yang mampu menjawab pertanyaan Farah. Fatih tak mampu memahami hubungan diantara mereka. Sejak dulu Fatih menjaga jarak dengan Nafisa. Bukan tak mengakuinya sebagai adik. Namun Fatih tak ingin Azzam mengetahui rasa sayangnya pada Nafisa. Fatih masih mengingat betapa sakitnya jauh dari orang yang begitu disayanginya. Masa lalu Fatih, saat baru mengenal Azzam.
FLASH BACK
"Pak Fandi, bawa Fatih kemari!" titah Vira tegas, Fandi mengangguk pelan. Dia bergegas keluar dari ruang rapat.
"Tuan Azzam, jika tidak keberatan tunggulah sebentar lagi. Ada yang ingin bertemu denganmu!" ujar Vira lirih.
"Siapa yang ingin bertemu denganku? Aku rasa tidak ada yang ingin bertemu denganku. Sebaliknya orang yang kurindukan, seolah tak pernah mengenalku!" sahut Azzam dingin, Andra diam melihat Azzam dan Vira. Keduanya saling merindukan, tapi angkuh mengakuinya. Azzam menjauh dari Vira, dia mendapatkan telpon dari Melda.
KREEEKKK
"Mama!" teriak Fatih lantang. Dia berlari memeluk Vira sesaat setelah pintu terbuka.
Azzam menoleh ke arah Vira. Azzam menurunkan ponsel dari telinganya. Azzam mematung menatap Fatih yang memeluk erat Vira. Bukan hanya itu, panggilan mama yang disematkan Fatih pada Vira. Bak petir yang menyambar tubuhnya.Tulang Azzam seakan remuk tak bersisa.
"Fatih, lihat mama!" ujar Vira lirih, sembari berjongkok memegang bahu Fatih. Seketika Fatih mengangguk mengerti.
"Fatih ingin bertemu Papa. Fatih ingin memeluk papa. Fatih merindukan papa. Lihat kesana, itu papa yang selalu Fatih tanyakan sebelum tidur. Papa yang selalu Fatih impikan!" ujar Vira lirih, Fatih mengangguk lalu menoleh ke arah Azzam.
"Papa!" ujar Fatih lirih.
PRAAAYYYRRR
Azzam terkejut mendengar Fatih memanggilnya papa. Tanpa Azzam sadari dia menjatuhkan ponsel miliknya. Azzam bahagia sekaligus tak percaya. Dia terduduk di lantai, kedua lututnya menghantam sempurna lantai keramik. Azzam tak percaya, dia akan bertemu dengan putra yang dia rindukan.
"Fatih, peluk papa sayang!" bisik Vira, Fatih mengangguk pelan. Dia berlari memeluk Azzam. Air mata Azzam menetes, tubuhnya bergetar merasakan pelukan Fatih.
__ADS_1
"Azzam Al-Fatih, putra yang terlahir dari cinta kita. Namun terhina dan tak dianggap sebelum dia lahir!" ujar Vira dingin.
"Fandi, antar Fatih pulang. Jika dia sudah selesai bertemu papanya. Aku ada rapat sebentar lagi. Hati-hati saat mengantar Fatih!" titah Vira, Fandi mengangguk mengerti. Vira keluar dari ruang rapat.
"Mama, Fatih ikut!" teriak Fatih sembari berlari mengejar Vira.
"Fatih, disini bersama papa. Bukankah Fatih merindukan papa!" ujar Vira lirih, Fatih menggeleng lemah. Azzam melihat Fatih takit berada di dekatnya.
"Kenapa?" sahut Vira.
"Fatih harus bersama mama, Fatih ingin melindungi mama. Papa kuat, dia bisa menjaga diri. Mama lemah, Fatih yang harus menjaga mama!" ujar Fatih, Vira mengangguk lemah. Vira menarik tubuh Fatih ke dalam pelukannya.
"Mama akan kuat demi Fatih!" ujar Vira.
"Azzam, putramu hebat. Dia mungkin masih sangat kecil, tapi dia yang akan menjaga Vira dari keangkuhan orang tuamu!" bisik Andra.
FLASH BACK OFF
"Jawab pertanyaannya Fatih. Dia berhak mengetahui dalam sayangmu padanya. Seperti kata tante Vira, seburuk apapun hubungan orang tua kalian. Nafisa dan Farah tetap adik kandungmu!"
"Kak Bayu!" Ujar Nafisa hangat, tatapan Nafisa binar. Sekali lagi Nafisa merasakan hangat perhatian Bayu. Sosok kakak bahkan mungkin lebih yang selalu dirindukan Nafisa.
Fatih mendongak ke arah Bayu. Tatapan pias penuh dengan pertanyaan. Fatih melihat sosok Bayu yang jauh lebih dewasa. Sosok kakak yang mampu melindungi Farah dan Nafisa. Tak berapa lama, terlihat Fatih menggeleng lemah. Seolah Fatih benar-benar tak mengerti isi hatinya. Lebih tepatnya suara hati terdalamnya. Kasih sayang yang tak mampu terucap dibibir Fatih. Namun jelas ada di relung hati Fatih.
"Kenapa Fatih?"
"Lalu padaku? Kapan kakak memenuhi tanggungjawab itu? Haruskah aku tiada, baru kakak menyadari artiku!"
"Nafisa, jaga bicaramu!" Ujar Bayu lantang, nampak jelas kekhawatiran Bayu. Nafisa menunduk, tubuhnya bergetar. Terdengar isak tangis yang jelas ingin mengatakan rasa sakitnya.
"Fatih, katakan sesuatu pada Nafisa. Jangan hanya diam melihat air matanya. Dia adik yang merindukanmu, butuh dekapan hangat tanganmu!"
"Jika kamu kasihan padanya. Berikan kasih sayangmu, maafkan aku Bayu. Aku benar-benar tak mampu berpikir hal lain!"
"Fatih, jangan asal bicara kamu!" Ujar Bayu dingin.
"Kenapa kak? Kenapa kak Fatih begitu dingin? Bukan salahku yang terlahir dari rahim yang berbeda denganmu!"
"Baik, aku akan bicara!" Ujar Fatih emosi, Fatih berdiri tepat di depan Nafisa. Dia menatap tajam Nafisa yang ketakutan melihat amarah Fatih.
"Fatih jaga emosimu!" Ujar Bayu mencoba menenangkan.
"Bukankah kamu ingin mendengar jawabanku!" Ujar Fatih penuh emosi, Bayu mundur beberapa langkah. Ketika dia melihat tajam tatapan Fatih padanya.
__ADS_1
"Kakak!"
"Nafisa, jujur aku kecewa pada papa yang telah menikah dengan tante Nadya. Aku benci pada tante Nadya, karena dia yang merebut papa dari mama. Aku marah pada keluarga besar Atmaja, karena kesombongan mereka yang menganggap mama hina. Namun tak pernah aku menyesal akan kelahiranmu. Aku tak pernah mengutuk statusmu sebagai adikku!"
"Artinya kakak menyayangiku, kakak mengakui keberadaanku!" Ujar Nafisa, Fatih mengangguk pelan. Bayu tersenyum simpul, hatinya merasa bahagia sekaligus lega. Melihat Fatih mengakui kasih sayangnya pada Nafisa.
"Lantas, kenapa kakak begitu dingin padaku?"
"Karena kamu dekat dengan keluarga Atmaja. Tanpa kasih sayangku, kamu sudah memiliki kasih sayang yang utuh. Mereka mampu memenuhi haus dahaga kasih sayangmu. Sekarang katakan padaku, layakkah kamu merasai iri dengan Farah?" Tutur Fatih tegas penuh emosi, Nafis menggeleng lemah.
"Nafisa, kamu hidup dalam gemerlap kemewahan. Segala sesuatu kamu dapatkan dengan sangat mudah. Sebab itu kamu merasa tersisih dan diacuhkan, ketika yang kamu harapkan tak terpenuhi!"
"Maaf!"
"Tidak perlu, kamu takkan bisa mengerti beban atau duka orang lain. Sifat periang dalam dirimu, membuatmu lupa akan tangis!"
"Fatih cukup, Nafisa tak seburuk itu!" Ujar Bayu, Fatih menoleh ke arah Bayu. Berharap Bayu diam, agar Fatih bisa menjelaskanya semuanya pada Nafisa.
"Aku juga bisa menangis!"
"Kapan kamu menangis? Pernahkah kamu merindukan wajah papamu? Pernahkah kamu merindukan wajah mamamu? Atau pernahkah kamu bertanya, dimana mama yang melahirkanmu?" Ujar Fatih lantang, Nafisa menggeleng lemah.
"Kamu mungkin sedih atau sakit, ketika merasakan sikap dinginku atau papa. Namun sakitmu, tak sesakit yang aku dan Farah rasakan. Jangankan memeluk, menatap wajah papa dan mama itu tidak mungkin. Kamu tumbuh dalam keluarga utuh, sedangkan aku dan Farah tumbuh dalam keluarga yang terbelah. Sekarang katakan, masihkah kamu merasa paling disakiti? Jika nyatanya aku dan Farah yang tersakiti!"
"Kak!"
"Iya Nafisa, kamu memang egois. Sejak tadi aku diam, bukan aku mengacuhkanmu. Aku manahan amarah, agar aku tak melukai hatimu. Namun pengertian kecil yang aku minta, seolah sulit untukmu. Farah di dalam sana tengah berjuang melawan sakitnya. Sedangkan kamu disini, sibuk mempertanyakan kasih sayangku!" Ujar Fatih keras, tangannya menunjuk ke arah pintu ruang IGD.
"Fatih!" Ujar Bayu sembari menepuk pelan pundak Fatih. Bayu berharap Fatih menenangkan diri. Bayu merasa tak tega, melihat Nafisa mulai menangis menerima sikap kasar Fatih.
"Maafkan Nafisa!" Ujar Nafisa lirih, isak tangis terdengar di sela perkataannya.
"Maafkan aku!" Ujar Nafisa lagi dengan tubuh yang bergetar. Bayu melihat tangis Nafisa yang semakin menjadi.
"Fatih!"
"Ada apa Bayu? Bukankah kamu yang memintaku bicara. Aku sudah mengatakan semuanya!"
"Tapi!" Sahut Bayu tertahan.
"Tapi kamu tidak tega melihatnya menangis. Seharusnya kamu sadar, saat memintaku bicara tadi. Kamu mengenal diriku melebihi siapapun? Jelas kamu akan tahu hasil akhir dari perkataanku!"
"Fatih, dia adikmu!" Ujar Bayu lirih.
__ADS_1
"Dia memang adikku, sama seperti Farah. Sekarang jika kamu ingin melindunginya, silahkan saja. Aku akan menemukan laki-laki lain, untuk Farah. Agar Nafisa tidak merasa aku mengacuhkannya dan lebih mementingkan Farah!" Bisik Fatih tegas, Bayu melotot.
"Fatih, bukan itu maksudku!" Teriak Bayu, saat melihat Fatih berjalan menjauh.