
"Mama!"
"Ada apa Fatih?" Sahut Vira heran, Fatih duduk di samping Vira.
Vira melihat gelagat Fatih yang tak biasa. Sejak pulang dari acara di rumah keluarga Atmaja. Sikap Fatih berubah menjadi dingin dan lebih pendiam. Vika dan Arif yang pulang setelah Fatih, bersikap sama. Seakan ada sesuatu yang terjadi di rumah keluarga Atmaja. Entah apa yang terjadi semalam? Apapun itu, Vira merasa Fatih sedang memikirkan sesuatu.
"Mama!" Sapa Fatih ragu.
"Hmmm!"
"Siapa sebenarnya Farah?" Ujar Fatih lirih, sontak Vira menoleh.
Vira terkejut dengan pertanyaan Fatih. Sebuah pertanyaan yang seakan-akan meragukan keberadaan Farah. Vira melihat rasa tak percaya Fatih akan status Farah. Sejenak Vira sedih, ketika Fatih menanyakan status yang sudah jelas. Jika Farah adik kandungnya, adik yang lahir dari rahim yang sama dengannya.
"Apa maksudmu? Kamu meragukan status Farah. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa kamu berubah dingin? Katakan pada mama alasan keraguanmu!" Ujar Vira lantang dan tegas.
Fatih menunduk, dia merasa telah salah bertanya. Namun tetap diam dan berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Bukanlah hal yang benar. Keraguan Fatih tak lebih dari rasa terkejut. Fatih merasa asing dengan sosok Farah yang semalam ada di pesta. Adik yang begitu pendiam, berubah menjadi garang. Farah yang lembut, nampak tegas dan keji. Sikap dingin Farah bukan karena dia merasa rendah atas sakitnya. Melainkan Farah yang siap menghancurkan siapapun yang pernah melukai keluarganya? Farah yang berbeda dan tak pernah dikenal Fatih.
"Kenapa diam?" Ujar Vira, ketika melihat Fatih diam menunduk. Vira menepuk pelan pundak Fatih. Mencoba menyelami hati putra yang tak pernah dia besarkan.
"Semalam kami melihat Farah yang berbeda. Dia sangat asing pada kami. Farah nampak dingin tak berhati. Farah meradang dan siap menghancurkan keluarga Atmaja!" Sahut Vika, Vira mendoangak menatap Vika.
"Itulah yang aku takutkan!"
"Maksud kak Vira!" Sahut Vika tak mengerti, Fatih langsung menoleh melihat Vira. Seolah Fatih butuh kejelasan akan perkataan Vira.
"Farah tinggal di negara ini. Hanya dengan tujuan menghancurkan keluarga Atmaja. Dalam hidup Farah, membuat keluarga Atmaja tak berdaya. Menjadi satu-satunya impian yang belum tercapai. Farah yang kalian lihat semalam. Dialah Farah yang sesungguhnya. Dingin dan tak berhati bila menyangkut keluarga Atmaja!"
"Apa alasan Farah membenci keluarga Atmaja sedalam itu? Farah mengenal mereka baru beberapa hari. Lantas, kenapa bisa Farah membenci mereka sebesar itu? Kesalahan apa yang mereka perbuat, sampai Farah begitu dingin!" Ujar Vika tak percaya, Vira terdiam. Nampak raut wajah kesal Vika. Seolah sikap Farah sangat keterlaluan dan tak pantas dilakukan oleh keturunan keluarganya.
"Kesalahan terbesar mereka, karena mereka membuat mama merasakan dinginnya dinding rumah sakit jiwa. Menjadikanku yatim-piatu sejak aku belum terlahir. Mungkin di mata kalian aku keji, tapi hanya dengan hati dingin dan keji. Mereka bisa disadarkan, kesombongan keluarga Atmaja harus berakhir. Sudah cukup lama mereka bangga dengan kekayaan yang fana. Sekarang saatnya mereka menghiba. Sadar jika harta tak selamanya membuat mereka bahagia dan berkuasa!" Ujar Farah dingin, Fatih dan Vika menunduk.
Farah yang semalam mereka lihat, pagi ini ada di depan mereka. Keraguan yang mereka katakan, menyiratkan rasa tak suka Farah. Dukungan yang diharapkan Farah, nyata tak didapatnya. Farah sendiri dalam mencapai impiannya. Fatih dan Vika merasa sikap Farah tak pantas. Mereka merasa Farah sangat keterlaluan. Sedangkan Vira yang mengenal sikap Farah. Hanya bisa terdiam membisu. Vira tak mampu mengubah pemikiran Farah. Tujuan hidup yang membuat Farah bangkit ingin lebih maju, tak lain kehancuran keluarga Atmaja.
"Tapi mereka keluargaku!" Sahut Arif, Farah menoleh seraya mengutas senyum sinis. Vika berdiri menghampiri Arif. Vika berdiri di samping Arif. Vika menjadi pendukung setia Arif. Istri yang harus melangkah bersama suaminya.
"Keluarga tak berhati yang selalu menganggap harta segalanya. Martabat bak harga mati, tanpa peduli harga diri orang lain. Kekayaan segalanya, sedangkan orang miskin tak berarti. Kemewahan abadi, sebaliknya cinta fana. Mereka menjadikan kelamahan orang lain sebagai kekuatan. Tangis dan air mata orang lain. Menjadi senyum kemenangan bagi mereka. Sekarang katakan padaku, apa itu yang dinamakan keluarga?"
"Jaga bicaramu, baik atau buruk mereka. Nyatanya darah mereka yang mengalir dalam nadimu. Tanpa setetes air hina Azzam, kamu takkan pernah ada. Tak pantas kamu sombong, jika sebenarnya kamu ada karena keluarga Atmaja!" Sahut Arif emosi, Vika menahan tangan Arif.
Vika tidak ingin Arif melakukan sesuatu yang salah. Memang benar Vika tidak sepaham dengan Farah. Namun membiarkan Arif bersikap melebihi batas. Jujur Vika tidak setuju, karena bagaimanapun Farah adalah keponakannya? Anak kandung Vira, kakak yang membesarkannya dengan penuh cinta.
"Sabar kak!" Ujar Vika mencoba menenangkan.
__ADS_1
Vira dan Fatih berdiri, mencoba menjadi penengah. Vira ketakutan melihat amarah Arif. Bukan dia cemas terjadi sesuatu pada Arif. Namun Vika tidak ingin ada perselisihan yang bisa memecah keluarganya. Sedangkan Fatih tetap di samping Vira. Menjaga kondisi Vira agar tetap tenang, tidak terpancing emosi. Vira yang tidak muda lagi, memiliki riwayat penyakit jantung dan darah tinggi.
"Tapi dia keterlaluan!" Sahut Arif emosi.
"Anda memang benar, setetes air hina tuan Azzam yang membuatku terlahir. Namun pernahkah anda sadari, tangan hina keluarga Atmaja yang hendak membunuhku. Ketika sang anak membuatku terlahir. Keluarganya malah membuatku tiada. Sekarang katakan, hati siapa yang keji? Aku yang ingin menunjukkan pada mereka. Harta tak selamanya abadi. Atau mereka yang dengan kejinya ingin membunuh ibu dan anaknya. Seorang anak yang bahkan belum terlahir!" Ujar Farah lantang dan emosi, Vira menggelengkan kepalanya lemah.
"Mama, Farah kenapa?" Ujar Fatih lirih, Vira menggelengkan kepalanya.
Vira tak mampu mengatakan pahit yang pernah dialami Farah dan Vira. Kenyataan yang sengaja Vira simpan dari Fatih. Semua demi ketenangan Fatih, tapi semua orang seolah ingin menguak tabir kelam Farah di masa laku.
"Farah, mama mohon hentikan. Biarkan semua terkubur di masa lalu. Cukup mama dan kamu yang terluka!" Ujar Vira menghiba, Farah menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Dia yang mengaku bagian dari keluarga Atmaja. Harus mengetahui betapa kejinya keluarga Atmaja? Dia harus mendengar tangis yang pernah terucap dari bibir kita. Bukan hanya air mata yang kita tumpahkan. Darah kita bak minuman anggur yang terasa nikmat di teguk oleh tuan besar Atmaja!" Ujar Farah sembari menunjuk wajah Arif.
Arif dan Vika terbelalak, Farah tak lagi bersikap sopan. Amarah Farah mengubah kelembutan menjadi kegarangan yang tak bisa dicegah. Tangan Farah yang menunjuk ke arah Arif. Bak mata elang yang siap menghunus korbannya. Farah benar-benar berbeda, Fatih seakan tak mengenal Farah.
"Jaga sikapmu!"
Braaaakkk
"Lihat itu!" Teriak Farah lantang penuh emosi. Farah melempar sebuah berkas ke arah Arif. Lebih tepatnya di atas meja yang ada di depan Arif.
Arif mengambil map bersampul hitam. Dengan tangan bergetar, Arif membuka map hitam tersebut. Entah kenapa Arif merasa takut? Jantungnya berdegub begitu hebat, seakan ada yang salah dengan isi map yang sedang dipegangnya. Perlahan Arif membuka sampul. Kedua bola mata Arif membulat sempurna. Arif mendongak menatap Farah, seakan Arif tak percaya dengan penglihatannya. Vika yang sejak tadi hanya diam. Secara tidak sengaja melihat isi map. Sontak Vika menutup mulut dengan tangan. Vika tak percaya, apa yang dilihatnya begitu mengerikan?
"Aku rasa anda bisa membaca laporan yang ada di tiap lembarnya. Lihat dengan jelas, tanggal dan tempat kejadian. Bahkan anda bisa melihat dalang di balik setiap kejadian. Dengan map hitam itu, dengan mudah aku bisa membuat tuan Angga dan tuan Arka dipenjara. Bukan hanya setahun, bahkan puluhan tahun dalam penjara. Namun hukuman itu terlalu mudah. Aku ingin mereka menangis, menghiba demi keturunan dan kekayaan yang membuat mereka mampu melakukan semua itu!"
"Kenapa kakak diam saja? Bahkan kakak terus hangat pada mereka!" Ujar Vika tak mengerti.
"Karena mama tidak ingin aku jauh dari waliku!"
"Maksudmu!" Sahut Fatih.
"Sebagai seorang wanita, tuan Azzam satu-satunya waliku. Seluruh keturunan keluarga Atmaja, berhak dan paling pantas menjadi waliku!" Sahut Farah sinis.
"Apa kakimu juga karena perbuatan mereka?" Tanya Fatih, Farah mengangguk tegas.
Fatih langsung terduduk, dia merasa bersalah telah menyalahkan dan meragukan Farah. Fatih merasa bodoh telah membela keluarga Atmaja. Arif termenung melihat betapa kejam keluarga Atmaja pada Farah. Dia menjadi orang yang paling salah pada Farah. Arif menganggap Farah tak lebih dari anak sombong dan angkuh. Namun saat semua nampak di depan kedua matanya. Arif menyadari, keluarga Atmaja terlalu menakutkan.
"Kak Fatih tidak perlu ambil bagian dalam tujuanku. Aku akan melawan mereka sendiri. Sasaran mereka adalah aku, jadi tak perlu kakak ikut campur. Aku dan kakak tak sejalan, satu pesanku pada kakak. Jika kakak harus memilih aku atau Nafisa, pilihlah Nafisa. Dia gadis yang ceria, jadikan dia adik iparmu. Agar tanganku dinginku tak mampu menyentuhnya!" Ujar Farah dingin, Fatih hanya bisa diam. Fatih menatap Farah datar, tak ada yang mampu dia katakan lagi. Farah benar-benar teguh.
"Permisi bu Farah, mobil sudah siap!" Ujar Arya, asisten pribadi Farah.
"Itu koperku, taruh di dalam mobil!" Sahut Farah dingin, Arya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tunggu Arya!"
"Iya bu!"
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya? Aku ingin perusahaan itu, minimal 51 persen saham mereka!" Ujar Farah tegas, Arya mengangguk.
"Pergilah, sebentar lagi aku keluar!" Titah Farah, Arya keluar membawa sebuah koper tanggung. Vira menghampiri Farah, hari yang ditakutinya telah tiba.
Farah yang seolah mengerti kecemasan Vira. Dengan lembut menarik tangan Vira. Farah mencium punggung tangan Vira. Menempelkan tangan hangat Vira di pipi kanannya. Vira merasakan setetes air bening menyentuh tangannya. Vira merasakan Farah tengah menangis, dengan penuh kasih sayang. Vira membelai kepala Farah yang tertutup hijab. Vira mengecup lembut kening Farah. Sebuah restu dalam diam yang begitu hangat. Vira tak dapat mencegah Farah, hanya doa dan restu yang bisa diberikan Vira pada Farah.
"Maafkan Farah!"
"Jangan lupakan mama, kami akan selalu ada untukmu. Datanglah pada mama saat kaki dan tanganmu mulai lelah. Jangan menahan sakit, jika nyatanya kamu tak sanggup menahannya!" Ujar Vira, lalu menarik Farah dalam pelukannya. Vira mendekap erat gadis kecilnya.
"Terima kasih!" Sahut Farah, Fatih tak mengerti arti pelukan Farah dan Vira. Farah menyandarkan kepalanya tepat di dada Vira. Merasakan hangat kasih sayang yang mungkin lama tak dirasakannya.
"Mama ada untuk Farah!"
"Kenapa kalian berpelukan begitu lama? Mama seolah melepaskan Farah untuk waktu yang lama. Memangnya Farah akan pergi kemana?" Cecar Fatih cemas, Farah menoleh ke arah Fatih. Tangan Farah menggenggam erat, seakan Farah tak mampu jauh dari Vira.
"Aku titip mama, tolong jaga mama. Jangan biarkan mama mengingatku!" Ujar Farah, Fatih menggelengkan kepalanya pelan. Fatih menolak permintaan Farah.
"Maafkan aku kak Fatih, aku harus pergi. Tetap di sisi kalian hanya akan membuatku lemah. Sudah saatnya aku melawan mereka. Setelah semua ini selesai, aku akan menjadi Farah kalian!" Ujar Farah datar, Fatih terdiam mendengar kata pamit dari Farah.
Vira menatap nanar Farah putri kecilnya. Langkah tegas Farah, tak lagi bisa dihentikan. Tekanan demi tekanan yang dia terima dari keluarga Atmaja. Menjadikan Farah tangguh dan berhati dingin. Amarah Farah yang tak lagi bisa dikendalikan. Menjadi pemicu pembalasan di hati Farah. Sakit yang terus menerus dirasakan Farah, menjadi cikal bakal rasa kecewa yang berbuntut pada dendam.
"Tunggu Farah!"
"Ada apa kak?" Sahut Farah pada Fatih. Farah menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya 180°, menatap lekat Fatih kakak yang baru dikenalnya.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa memiliki asisten? Bahkan aku melihat, ada beberapa mobil yang sedang menunggumu. Katakan padaku, kamu Farah adikku atau Farah anak angkat kakek Dimas!"
"Secara status aku adik kandungmu, cucu perempuan kakek Dimas. Sekaligus anak angkat ayah Dimas. Namun secara profesional, aku Farah Nada Maulida. Pemilik perusahaan FVF group, perusahaan besar di bidang investasi dan property!" Ujar Farah lugas, sontak Fatih menoleh ke arah Vira. Berharap Vira menyangkal perkataan Farah. Namun Fatih harus ikhlas melihat anggukan kepala Vira. Jawaban final, jika Farah tidak berbohong.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa kamu memiliki kemampuan sebesar itu?" Ujar Fatih tak percaya. Vika dan Arif bak mendapat tamparan. Mereka semakin merasa bersalah, ketika melihat Farah yang begitu hebat.
"Dalam setiap lemah seseorang, Tuhan selalu memberikan kelebihan yang tak ternilai. Bagitu juga diriku, dalam lemah dan rapuhku. Tuhan menitipkan satu kemampuan yang bahkan tak dimiliki orang lain. Aku yang merasa rendah diri di orang lain. Terpaksa bersembunyi di balik dinding kamar yang sepi. Namun siapa sangka? Dalam sendiriku, aku menemukan kelebihan dalam hal bisnis. Sehingga aku mampu mengepakkan sayap sampai sejauh ini!"
"Aku tak percaya!" Ujar Arif.
"Percaya atau tidak, Tuhan itu adil pada setiap hamba-NYA yang berikhtiar. Tuhan tidak akan mengingkari janjinya. Sebab Keadilan dan janji-NYA mutlak!" Sahut Farah lantang. Farah melangkah keluar dari rumah keluarganya.
"Farah, aku tak mengenalimu!" Ujar Bayu, tepat di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Sejak dulu sudah aku katakan. Kamu tak mengenalku, jadi jangan pernah ikut campur urusanku. Kakak berhak bahagia, Nafisa gadis yang baik!" Ujar Farah, Bayu menggeleng lemah.
"Izinkan aku mengenalmu sekali lagi!" Pinta Bayu.