
"Udara malam tidak bagus untuk kesehatan!" Ujar Azzam tiba-tiba. Azzam memakai jaket pada tubuh Vira.
Vira menoleh, dia terkejut ketika melihat Azzam berdiri tepat di belakangnya. Vira merasa heran, saat dia melihat Azzam ada di tempat yang sama dengannya. Tempat yang tak seharusnya didatangi Azzam. Lebih tepatnya laut luas yang jauh dari keramaian kota. Apalagi di waktu malam yang sunyi. Pertemuan yang tak terencana, tapi menyimpan cerita yang begitu indah.
"Kamu!" Ujar Vira heran, ketika dia melihat Azzam berdiri tepat di sampingnya.
Vira merasa tak percaya, ketika dia menyadari. Azzam sudah berada begitu dekat dengannya. Vira benar-benar tak percaya, laki-laki yang dirindukan dalam diamnya. Kini berdiri di sampingnya. Bersama menatap laut luas tanpa batas.
"Hmmm!"
"Sedang apa?" Ujar Vira heran.
"Sama seperti dirimu!" Sahut Azzam santai. Vira semakin heran, ketika menyadari pertemuan mereka tidak mungkin terjadi begitu saja. Tempat yang lama terlupakan, ternyata masih diingat oleh Azzam. Bukti jika Vira itu satu dan segalanya.
"Kamu masih mengingatnya!" Ujar Vira lirih, Azzam diam menatap luas laut di depannya.
"Dua puluh tahun kepergianmu, tak pernah sekalipun aku melewatkan hari ini. Dalam sendiri aku mengenangmu. Dalam sepi aku merindukanmu. Suara ombak wujud gemuruh hatiku yang mencarimu. Hari ini menjadi satu-satunya hari dimana aku merasa hidup? Hari aku bisa menjadi Azzam yang lemah tanpa cintamu!"
"Kenapa kamu menghancurkan hidupmu? Aku bukan wanita hebat. Aku wanita penuh kekurangan. Tak sepantasnya aku mendapatkan cinta abadimu!"
"Vira, jangan larang aku mencintaimu!"
"Tapi cinta itu salah!"
"Tak ada yang salah dalam cinta. Kata yang sama pernah kamu katakan pada Nadya!"
"Sudahlah, tidak ada gunanya kita berdebat. Aku percaya cinta kita harus berakhir. Sebaliknya kamu berharap cinta kita bersatu!" Ujar Vira final, Azzam terus diam. Tak ada sanggahan yang mampu menjawab atau merubah pemikiran Vira.
Vira pribadi yang tangguh dan tegas. Tak ada yang bisa membuatnya berubah pikiran. Azzam selalu kalah, jika berurusan dengan keputusan Vira. Satu alasan yang membuatnya kehilangan Vira selamanya.
"Mas Azzam!" Sapa Vira hangat.
"Hmmm!"
"Terima kasih masih mengingat diriku!"
"Aku tak pernah melupakanmu!"
"Jujur, aku bahagia melihatmu berdiri di sampingku. Entah kenapa aku merasa malan ini indah? Suara gemuruh ombak, seolah menyapa kebersamaan kita. Binta yang bersinar terang, seakan ingin menerangi malam gelap di atas kita. Langit cerah seumpama hati kita yang bahagia!" Ujar Vira sembari menatap lurus ke tengah laut.
__ADS_1
"Vira, aku menikah dengan Nadya. Semua karena mama yang memaksa. Tahun pertama kepergianmu aku hancur. Kupertaruhkan seluruh hidupku. Aku hancurkan karier yang selama ini kugenggam. Setiap malam aku berdiri di tepi pantai ini. Berharap kamu datang menemuiku!"
Vira diam mendengar perkataan Azzam. Lirih suara Azzam, bak sayatan tipis di hati Vira. Jerit hati Azzam yang terpendam, kini nyata terdengar di telinga Vira. Terasa sakit menusuk ke dalam hatinya.
"Setahun kehancuranku tanpamu. Tanpa sadar membuatku kehilangan Fatih. Aku lupa akan hadiah yang kamu tinggalkan. Aku larut dalam luka yang kamu torehkan. Setiap inci kulitku tak luput dari sayatan. Tetes demi tetes darah kutumpakan. Berharap sakitku berakhir, ketika darahku habis menetes!"
"Mas Azzam!" Ujar Vira lirih tak percaya. Azzam mengangguk pelan, seolah ketakutan Vira nyata terjadi.
"Iya Vira, satu tahun aku hidup dalam gelap. Sampai akhirnya aku terbangun, ketika suara tangis Fatih pergi menjauh dariku. Aku menyadari putraku telah pergi. Fatih memilih tinggal bersama Rayyan, meninggalkan aku sendiri dalam keterpurukan!" Tutur Azzam lirih, Vira menunduk terdiam. Duka yang dirasakan Azzam, begitu dalam dan nyata. Vira membisu, tak ada pembenaran karena egonya.
"Akhirnya di tahun kedua kepergianmu, aku menikah dengan Nadya. Mama mendesakku dengan sakitnya. Memintaku menikah dengan wanita yang menghancurkan kebahagianku. Saat itu demi balas dendamku, aku menikah dengan Nadya. Aku akan menghncurkan Nadya, aku kubuat Nadya menyesal menikah denganku. Namun semua tak sesuai harapanku!"
"Nafisa!" Ujar Vira, Azzam mengangguk pelan.
"Dalam keterpurukanku, kulampiaskan hasrat birahiku pada Nadya. Aku mengkhianati cinta kita, aku menghancurkan pondasi cinta kita. Aku menjadikan Nadya pelampias kerinduanku padamu. Boneka yang akan kupeluk ketika aku membutuhkan hangatmu. Sampai akhirnya Nafisa terlahir, menjadi jawaban atas dendam yang tak tercapai!"
"Entah aku bahagia atau sedih? Aku mendengar kejujuranmu. Sebuah rasa yang memang sudah bukan milikku!"
"Vira, sesungguhnya Nadya tak pernah menggantikanmu. Nadya ada dihatiku, hanya demi Nafisa. Putri yang lahir tanpa dosa. Dia tidak salah, karena lahir dalam pernikahan tanpa cinta!"
"Jika Nafisa tidak salah? Lalu, apa salahku? Sampai aku lahir tak sempurna!"
"Farah!" Ujar Azzam dan Vira bersamaan.
Nampak Farah berjalan dengan dua tongkat yang menyangganya. Sejak awal Farah mendengar pembicaraan Azzam dengan Vira. Farah mencoba diam, tak ikut campur dengan urusan Vira dan Azzam. Namun hati kecilnya menjerit, ketika mendengar kasih sayang Azzam pada Farah. Sebagai seorang putri, Farah merasa berhak merasakan cinta yang sama seperti Farah.
"Aku tak pernah menyalahkan mama. Aku hanya ingin, dia melihat luka mama. Malam ini dia mengatakan semua dukanya. Seolah mama yang bersalah akan hancurnya. Namun sebenarnya, mama orang yang paling hancur. Mama sakit tanpa siapapun? Sedangkan dia masih bisa merangkul cinta yang lain!"
"Farah!" Ujar Vira, sembari menggelengkan kepala. Vira tak berharap Farah mengatakan hal yang tak pantas pada Azzam.
"Apa maksudmu Farah?"
"Aku lahir tak sempurna, bukan tanpa alasan. Meski sejujurnya, aku ikhlas dengan kondisiku saat ini!"
"Vira, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku, aku benar-benar tak mengerti!"
"Sudahlah mas Azzam, perkataan Farah tak perlu diambil hati. Dia cemburu mendengar kasih sayangmu pada Farah. Setidaknya kini Farah mulai merindukan kasih sayangmu!" Ujar Vira mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak cemburu dengan keluarga mereka. Hanya saja hatiku sakit, ketika mendengar kenyataan yang menyudutkan mama. Semua berpikir dia yang paling terpuruk. Terluka dengan perpisahan yang sejak awal diharapkan keluarganya!"
__ADS_1
"Vira!" Ujar Azzam, sembari menoleh ke arah Vira. Azzam berharap Vira mengatakan semuanya, tanpa ada yang ditutupi.
"Tahukah anda tuan Azzam, mama kembali tiga bulan setelah dia menyadari kehadiranku. Mama mencari keberadaan anda sebagai suami, sekaligus ayahku. Namun bukan kata selamat yang diucapkan keluarga besar anda. Sebaliknya hinaan dan selembar kertas bertuliskan cerai. Kertas yang menjadi awal kehancuran hidupku!"
"Vira, apa semua itu benar?" Ujar Azzam, Vira hanya diam membisu. Bibirnya kelu tak mampu menjawab perkataan Azzam.
"Tuan Azzam, tahukah anda? Aku terlahir bukan di rumah sakit, aku lahir di tempat rehabilitasi gangguan jiwa!"
DUAAAARRR
"Vira, tidak mungkin!" Ujar Azzam lirih, kenyataan yang dikatakan Farah. Bak petir yang menyambar tulang belulang Azzam. Vira menunduk semakin dalam, suara jeritan Farah tak lagi bisa dicegah.
"Sayangnya semua itu benar. Putrimu lahir di rumah sakit jiwa!"
"Farah sayang!" Ujar Azzam lirih, sembari mendekat ke arah Farah. Namun dengan langkah tegas, Farah berjalan mundur menjauh dari Azzam.
"Jangan mendekat!" Teriak Farah, seketika langkah kaki Azzam terhenti. Vira berjalan menjauh, tak ada lagi alasan Vira mencegah Farah bicara.
"Sayang, maafkan papa!"
"Terlambat tuan Azzam, penolakan keluargamu atas kehadiranku dua puluh tahun yang lalu. Hinaan akan kehormatan mama yang mereka pertanyakan. Menjadi alasan kuat, kata maaf itu tak pernah ada untukmu!"
"Tapi!"
"Tapi semua yang mama alami nyata. Mama hancur tanpa seorangpun di sampingnya. Mama mengalami tekanan yang begitu hebat. Mama depresi ketika mengingat hinaan keluargamu. Bukan sekali mama ingin mengakhiri hidupku, berharap kami tiada bersama. Namun semua tak terjadi, mama sembuh dan bangkit. Ketika suara tangisku terdengar oleh telinga mama yang tuli. Setelah mendengar hinaan keluarga besarmu!"
"Farah cukup!"
"Belum ma, dia harus mendengar kepahitan hidupku. Dia yang bertanggungjawab atas semua sakitku!"
"Tidak mungkin, Vira tak selemah itu!"
"Mama tak lemah, tapi wanita akan hancur ketika kehormatannya dipertanyakan. Jujur kini aku merasa bangga. Saat keluargamu meragukan keberadaanku. Setidaknya aku tak merasa berhutang budi pada darah yang mengalir dalam nadiku!"
"Farah, papa tak pernah mengetahui itu!"
"Kini anda sudah mengetahuinya. Jadi berhenti berpikir mama yang bersalah dan anda yang tersakiti!" Ujar Farah final, lalu menjauh dengan tongkat sebagai penyangga hidupnya.
"Farah, maafkan mama yang lemah. Mama penyebab kamu lahir tak sempurna!"
__ADS_1
"Bukan mama yang salah, tapi cinta mama yang salah memilih hati!" Sahut Farah dingin, Vira dan Azzam terdiam.
"Mama, aku kedinginan. Lebih baik kita pulang!" Pinta Farah tegas dan lantang.