Ikhlas

Ikhlas
Amarah Vika


__ADS_3

"Vika, kita harus bicara!" teriak Arif lantang, sembari mengejar Vika.


Vika terus berjalan tanpa menoleh pada Arif. Dengan mendekap erat buku pelajarannya. Vika gadis bercadar tambatan hati Arif terus melangkah menjauh. Seminggu sudah Vika menjauh dari Arif. Vika tak pernah mengangkat ponselnya. Bahkan sekadar membaca pesan yang dikirim Arif. Vika seolah tidak sudi, Vika menghindar sejauh-jauhnya dari Arif.


Ketika di kampus, Vika selalu pulang lebih dulu. Vika menjauh dari jalan yang dilalui Arif. Vika membolos saat pelajaran Arif. Vika tak pernah lagi betah berada di kampus. Ketika Arif menemuinya di rumah. Vika selalu menghindar dan menolak menemui Arif. Entah apa yang terjadi pada Vika? Seminggu tak melihat Vika, Arif gelisah tak karuan. Seminggu sudah sangat cukup membuat Arif kebingungan. Dunia Arif seakan berhenti, hanya Vika yang ada dalam benaknya.


Hari ini tanpa diduga Vika melewati ruang dosen. Arif langsung berlari menghampiri Vika. Dia tidak peduli lagi, jika ada yang melihat. Bahkan menjadikan hubungannya dengan Vika sebagai gosip panas. Hanya bicara dan bertemu dengan Vika fokus utama Arif. Dia sudah tak sanggup menanggung kerinduan yang sangat menyiksa.


"Vika!" ujar Arif, sembari menarik tangan Vika. Tubuh Vika terpental menghadap ke arahnya. Wajah Arif dan Vika sangat dekat, sontak Vika mendorong tubuh Arif ke belakang.


Vika marah tatkala dia menyadari Arif dalam posisi memeluknya. Vika tak menduga Arif akan bersikap seagresif itu. Hubungan mereka masih belum sah. Jadi sangat tidak pantas, bila Arif memeluk Vika. Sekadar menyentuh Vika, Arif sama sekali tidak berhak. Arif merasa bersalah melihat Vika menunduk malu. Arif tak berniat menyentih Vika. Namun sikap Vika yang selalu menghindar darinya. Membuat Arif tak lagi bisa menahan diri. Arif hanya ingin bicara, agar tak ada lagi masalah diantara dirinya dengan Vika.


"Maaf Vika, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin bicara berdua denganmu. Kita harus bicara, aku tak lagi bisa menahan hasrat ini. Aku mohon, katakan apa salahku? Sampai kamu menjauh dariku!" ujar Arif gelisah, vika diam menunduk tanpa berpikir ingin menatap Arif.


Vika mendekap erat buku yang dipegangnya. Jelas terlihat kegelisahan Vika, mungkin jauh lebih besar dari Arif. Meski dengan alasan yang tak sama. Vika mundur beberapa langkah, satu langkah yang menyayat hati Arif. Seolah mengatakan Arif takkan pernah bisa bersama Vika.


"Maafkan Vika, tapi Vika ada urusan. Kapan hari saja kita bicara? Vika harus pergi!" ujar Vika menghindar, Arif terdiam. Dia menatap lekat Vika yang terus menunduk.


Arif melihat langkah mundur Vika. Seakan pertanda keraguan Vika akan dirinya. Meski nyata persiapan pernikahan Vika dan Arif telah berjalan. Vira sudah menyiapkan yang terbaik untuk pernikahan Vika. Tak ada satupun yang luput dari Vira. Namun semua tak berjalan lancar. Kala Vika menolak semua persiapan yang ada. Arif dan Rayyan sempat bingung dengan penolakan Vika. Kini kebinguan itu menjadi rasa cemas. Tatkala Vika menjauh dari Arif. Sikap pendiam dan murung Vika, menjadi puncak kekhawatiran Rayyan.


"Aku mohon, sebentar saja!" ujar Arif sembari berlutut di depan Vika. Kedua tangan Arif menangkup memohon pada Vika. Seketika Arif menyita perhatian mahasiswanya.

__ADS_1


Arif dosen dengan disiplin tinggi, sangat tegas dan tidak akan mentolelir kesalahan sekecil apapun. Kini berlutut di depan mahasiswinya. Menghiba cinta yang dengan mudah bisa dia dapatkan dari wanita lain. Pendapat sempurna tentang Arif. Seketika berubah melihat sikap Arif yang takluk akan pesona Vika. Arif kalah oleh rasa tulusnya pada Vika.


"Pak Arif, apa yang sedang anda lakukan? Aku mohon berdirilah. Sangat tidak pantas anda bersikap seperti ini. Para mahasiswa sedang memperhatikan anda!" ujar Vika bingung, dia melihat tatapan para mahasiswa ke arahnya. Semua seakan tak mimpi bagi Vika. Menjadi pusat perhatian bersama Arif dosen idola di kampusnya.


"Tidak, selama kamu menolak bicara denganku. Aku tidak peduli pendapat mereka. Sikap dinginmu telah membuatku kalut. Aku tak sanggup menahan rasa takut ini. Kehilanganmu jauh membuatku hancur. Daripada reputasiku yang hancur!" ujar Arif tegas, Vika terdiam membisu. Sekilas terdengar helaan napas panjang Vika. Arif merasakan beban berat yang ditanggung Vika. Arif menunduk semakin dalam. Hatinya terasa ngilu, diam Vika semakin membuatnya sakit. Dadanya terasa sesak, mengingat cintanya yang kandas.


"Baiklah, kita bicara di cafe depan kampus. Setengah jam lagi aku ada disana. Aku masih ada urusan dengan Rektor. Aku harus menandatangani sesuatu!" ujar Vika sembari berlalu. Arif menahan tangan Vika, dengan perlahan Arif menggeleng.


Vika terkejut merasakan tangan Arif yang menahannya. Vika menepis pelan tangan Arif, tapi Arif tak bergeming. Bukan melepas tangan Vika, Arif semakin memperat pegangan tangannya. Arif tak ingin Vika pergi dan kembali menghindar darinya. Sebaliknya Vika menatap tajam Arif. Dia tidak suka melihat sikap memaksa Arif. Bahkan melewati batasan yang ada.


"Aku tahu alasanmu bertemu Rektor, alasan yang membuatku memaksa bicara denganmu. Lagipula Rektor menolak keinginanmu. Aku sudah meminta kak Rayyan membatalkan permohonanmu!" ujar Arif lantang, sembari menarik tangan Vika. Arif seakan lupa batasan yang ada. Rasa takut kehilangan mengalahkan akal sehatnya. Arif melupakan iman yang selama ini dipegang dalam hatinya.


Arif melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Setengah jam lebih Arif mengendarai mobilnya. Keduanya diam larut dalam angan masing-masing. Vika seolah tak terima dengan sikap kasar. Sebaliknya Arif sudah tak sanggup menerima sikap dingin Vika. Sikap dingin yang perlahan tapi pasti membuatnya hancur.


Mobil Arif melaju membelah jalanan kota. Lalu memasuki gerbang tinggi perumahan elit di tengah kota. Tak berapa lama mobil Arif memasuki sebuah rumah megah nan cantik. Rumah didesain modern tapi tidak meninggalkan nuansa sederhana. Rumah besar dengan fasilitas yang tak kalah dengan fasilitas di rumah utama Vira.


"Turun!" ujar Arif, Vika mengangguk. Dia turun dari mobil Arif. Meski dia bingung sedang berada di rumah siapa? Vika tetap menuruti perkataan Arif. Dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan amarah yang tanpa batas.


"Kenapa kamu diam? Tidakkah kamu ingin mengetahui rumah siapa ini?" ujar Arif memecah kesunyian. Sikap diam Vika, membuat Arif merasa harus memulai pembicaraan.


"Vika, haruskan kamu pergi meninggalkanku tanpa pamit. Ketika aku sudah yakin akan hubungan diantara kita. Rumah yang sedang kamu lihat. Ini rumah yang aku bangun dengan keringatku, tanpa sepeserpu harta keluarga Atmaja. Aku membangun istana kita, karena aku ingin membuatmu nyaman. Aku menyiapkan semua ini. Jauh sebelum aku menemuimu dan mengatakan isi hatiku padamu. Aku merasa rendah diri, saat aku mengetahui kamu bukan orang sembarangan. Dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Aku mewujudkan harapanku, kubangun rumah ini yang kuharap menjadi istana kita!"

__ADS_1


"Untuk apa kamu melakukan semua ini?"


"Karena aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu mendapatkan kenyamanan yang sama dengan di rumahmu. Aku ingin rumahku menjadi istanamu. Bahagiamu menjadi alasan hidupku. Kamu segalanya Vika, kamu segalanya dalam hidupku. Aku siap meninggalkan seluruh keluargaku, tapi tidak imanku. Aku tidak bisa terus menahan hasrat penuh napsu ini. Aku ingin memilikimu seuntuhnya, jangan tinggalkan aku!"


"Tapi keluarga Atmaja!"


"Aku akan meninggalkan mereka, karena sejak awal aku tak pernah mereka anggap. Tegakah kamu melihatku hancur. Layaknya Azzam yang menahan dukanya selama bertahun-tahun. Aku mencintaimu Vika, aku tidak sanggup jauh darimu!"


"Tapi aku takut meninggalkan keluargaku. Aku ingin bersama mereka. Aku tak ingin jauh dari mereka. Menikah denganmu akan membuatku jauh dari mereka. Seorang makmum harus mengikuti langkah imam. Meski dia harus melupakan keluarganya. Aku mencintaimu pak Arif, tapi aku takut kehilangan keluargaku!" ujar Vika lirih.


"Mungkin makmum mengikuti langkah imam. Tapi tidak ada salahnya, bila imam mengikuti langkah makmum!" ujar Arif lantang, Vika diam menunduk.


Braaakkkk


"Ambilah surat rumah ini, kita akan menjualnya jika kamu tidak ingin menempatinya. Dimanapun kamu merasa nyaman? Disanalah istanaku, sebab istanaku ada dalam hati dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting, selain senyum di wajahmu. Kamu istana termegah dalam hidupku!" ujar Arif sesaat setelah menutup pintu. Arif memberikan surat kepemilikan rumahnya.


"Jangan menjauh dariku, sungguh aku tidak akan sanggup!" ujar Arif lirih, sembari mencium lembut punggung tangan Vika.


"Pak Arif!" teriak Vika.


"Maaf, aku tak lagi bisa menahan hasrat untuk bersamamu!"

__ADS_1


__ADS_2