Ikhlas

Ikhlas
Amarah Nadya


__ADS_3

"Vira Azza Ifatunnisa, sahabatku yang munafik. Menusukku dari belakang, merebut kabahagian yang nyata untukku!" teriak Nadya lantang, sontak banyak mata yang menoleh. Suara lantang Nadya membuat beberapa mahasiswa terkejut. Ada rasa penasaran, saat Nadya mengatakan hal buruk tentang sahabatnya.


Vira yang baru saja keluar dari ruang kelasnya. Tak pernah menyangka akan bertemu dengan Nadya. Lebih tepatnya Nadya menunggu Vira keluar. Nadya berdiri tepat di depan kelas Vira. Dengan tatapan penuh kebencian dan amarah yang siap menghancurkan Vira. Nadya sudah tak bisa menahan amarahnya. Melihat kebahagian Vira dan Azzam, Nadya dibakar api cemburu. Berpikir kebahagian Vira, itu miliknya sepenuhnya.


"Nadya, apa yang sedang kamu lakukan?" ujar Abil sahabat Vira, Nadya tersenyum sinis mendengar perkataan Abil.


Dengan tatapan yang tak kalah dingin. Nadya menatap Abil, seakan ingin mengatakan padanya. Agar Abil tidak ikut campur. Nadya benar-benar marah, dia tak lagi peduli akan sekelilingnya. Nadya buta akan mata yang memandang heran ke arahnya.


"Vira, kenapa kamu diam? Kamu malah sembunyi dibalik ketiak sahabatmu. Katakan pada mereka. Kamu tak lebih dari wanita munafik. Kamu merebut calon suamiku, kamu merebut kebahagian yang seharusnya menjadi milikku. Kamu wanita miskin dan hina!" teriak Nadya emosi, Vira diam menatap Nadya.


Vira tak pernah menyangka, Nadya mampu berkata sekasar itu padanya. Seandainya Vira salah telah menikah dengan Azzam. Namun tak seharusnya Nadya mencaci maki dirinya dihadapan teman mahasiswanya. Nadya tidak hanya menyalahkan Vira. Nadya menghina status dan derajat keluarga Vira. Seakan Vira wanita murah dan hina yang tak pantas bahagia.


"Nadya, cukup kamu bicara. Tidak sepantasnya, wanita berpendidikan berkata sekasar itu. Kamu berada di kampus ini untuk belajar. Bukan sibuk menyalahkan orang lain!" ujar Abil kesal, Nadya semakin meradang. Dia marah melihat Abil membela Vira. Dengan sikap arogant Nadya mendorong tubuh Abil menjauh dari Vira.


Nadya menarik kasar tubuh Vira. Kedua mata Nadya siap menghujam tubuh Vira dengan amarah. Sebaliknya Vira terlihat sangat tenang, tak ada amarah mendengar hinaan dari Nadya. Vira mencoba bersikap bijak. Dia tidak ingin terpancing amarah. Vira berpikir Nadya sedang emosi, jadi tidak perlu meladeni amarah Nadya yang tidak ada habisnya.


"Tutup mulutmu, jangan ikut campur urusanku. Biarkan Vira yang bicara, dia punya mulut sendiri. Apa hidup di dalam keluarga Atmaja? Membuat Vira lupa cara membela diri. Dia mulai merasa nyaman dengan hartanya. Lupa akan status keluarganya yang rendah!" ujar Nadya semakin tak terkendali.

__ADS_1


Vira diam membisu, perkataan Nadya menghancurkan hati Vira. Nadya menginjak-injak harga diri keluarga Vira. Rasa cemburu yang membuat Nadya lupa akan rasa sakit Vira. Nadya merasa menang, saat dia melihat Vira menunduk lesu. Bangga akan perkataan yang tak pantas.


"Kenapa kamu diam? Sekarang kamu sadar, kalau aku jauh lebih baik daripada kamu. Wanita yang tepat berada di samping kak Azzam. Kamu hanya wanita rendah tak berharta!" ujar Nadya menggebu.


Hampir seluruh teman satu kelas Vira keluar. Mereka menatap heran ke arah Nadya dan Vira. Pertengkaran yang seolah tak imbang. Menunjukkan sikap arogant Nadya dan ketenangan Vira menerima hujatan yang belum tentu benar adanya.


"Sampai kapan kamu diam? Dia harus sadar posisinya. Semakin kamu diam, dia akan semakin menjadi!" ujar Arif berdiri di belakang Vira. Sebagian mahasiswa mundur melihat kedatangan Arif. Mereka takut saat Arif sang dosen mendekat.


"Pak Arif, biarkan dia menghina dan menghujatku. Bukan aku ingin membenarkan, tapi aku ingin mendengar seberapa hina diriku dimatanya. Sampai sejauh mana dia mampu bicara kasar padaku!" sahut Vira dingin, Nadya tersenyum sinis. Dia merasa Vira hanya mencari simpati. Kebencian Nadya pada Vira seakan mendarah daging.


Vira melihat sosok Nadya yang jauh berbeda. Nadya terlihat kasar dan tak berhati. Vira hanya bisa menggeleng tak percaya. Dia diam mematung, tak berdaya menerima kenyataan Nadya yang tak lagi sama.


"Vira, lebih baik kita pergi dari sini. Jangan pedulikan Nadya, dia masih sangat labil. Meladeni Nadya hanya akan membuat kita kehilangan akal!" ujar Cecil, lalu menarik tangan Vira menjauh dari Nadya.


"Tunggu Vira!" teriak Nadya emosi, Nadya hendak menarik tangan Vira.


Namun saat tangan Nadya hendak menggapai tangan Vira. Fariz terlebih dulu menarik tangan Nadya. Dengan kasar Fariz menarik tubuh Nadya, menghempaskan tubuh Nadya menempel ke dinding. Fariz menatap Nadya penuh emosi. Kedua bola mata Fariz memerah, dia marah mendengar setiap hinaan Nadya pada Vira.

__ADS_1


"Fariz, lepaskan aku!" teriak Nadya lantang, Fariz tidak peduli pada teriakkan Nadya. Arif meminta para mahasiswa untuk membubarkan diri. Arif tidak ingin permasalahan keluarga Atmaja menjadi konsumsi publik. Sebaliknya Arif seakan pura-pura tidak tahu akan amarah Fariz pada Nadya.


"Diam kamu, tak pantas kamu menghina Vira. lagipula wanita macam apa kamu? Menghina Vira tanpa henti. Dia sahabatmu bukan musuhmu. Tak sepantasnya kamu memaki Vira, dia tidak salah atas semua yang terjadi. Jika ada yang ingin kamu salahkan. Bukan Vira, tapi hati kak Azzam yang memilih Vira!" teriak Fariz emosi, sembari terus mendorong tubuh Nadya ke dinding.


"Dia bukan sahabatku, Vira wanita munafik tak berhati. Dia wanita jahat yang sembunyi di balik hijab. Aku benci Vira, aku membencinya. Dia tak lebih dari wanita tanpa harga diri!" teriak Nadya lantang, Fariz meradang. Amarahnya tersulut, tanpa Fariz sadari tangannya terangkat.


"Fariz, jangan pernah kamu sentuh Nadya. Tangan seorang laki-laki bukan untuk menyakiti, tapi melindungi wanita. Nadya sedang emosi, tak pantas rasanya bila kamu mengikuti amarahnya!" ujar Vira sembari menahan tangan Fariz. Nadya seketika membuka matanya. Dia menutup mata, saat melihat Fariz akan menamparnya. Nadya ketakutan melihat amarah Fariz.


Fariz tercengang melihat Vira berdiri di sampingnya. Vira kembali untuk meminta maaf pada Nadya. Vira tidak ingin melihat kebencian Nadya yang semakin menjadi kepadanya. Namun Vira terkejut, ketika melihat Fariz mendorong tubuh Nadya. Bahkan Fariz siap menampar Nadya. Vira berjalan cepat menghampiri Fariz, dengan sigap Vira menahan tangan Fariz. Tepat sebelum Fariz menampar Vira.


"Nadya, maafkan aku yang telah menyakiti hatimu. Seandainya aku bisa memutar waktu. Aku akan menjauh, bahkan menolak menikah dengan kak Azzam. Namun semua telah terjadi, ada nama kak Azzam dalam hati dan jiwaku. Aku memang bersalah menikah dengan kak Azzam, tapi aku tidak pernah merebut apa yang menjadi hakmu!" ujar Vira dingin


"Kak Azzam memilihku, sebelum dia memilihmu. Tak pernah kak Azzam menjadi milikmu, sehingga tak ada hakmu mengatakan aku perebut kebahagianmu. Merebut bila barang yang kita miliki diambil orang. Sedangkan kak Azzam nyata tak pernah kamu miliki!" ujar Vira lirih.


"Vira, lancang kamu!"


"Jangan pernah berani mengangkat tangan di depan Vira. Jika kak Azzam akan membuatmu sengsara. Sebaliknya aku akan membuat, hidupmu hancur di kampus!" ujar Fariz emosi, sembari menghempaskan tangan Nadya kasar.

__ADS_1


__ADS_2