Ikhlas

Ikhlas
Makan Tengah malam


__ADS_3

"Aggghhmm!"


"Pak Arif, sedang apa disini?" ujar Vira kaget, Arif tersenyum simpul mendengar perkataan Vira.


Vira duduk di pinggir taman kota. Tepatnya Vira duduk di depan penjual bakso keliling. Vira merasa lapar setelah berjalan mencari minimarket. Vira merasa lelah, setelah berkeliling tak tentu arah mencari minimarket. Wilayah yang sangat asing, membuat Vira kesulitan mencari minimarket.


Vira bukan pribadi pembangkang, tapi terkadang rasa egois membuatnya lupa akan status yang melekat dalam dirinya. Vira sengaja mencari minimarket sendiri. Sebab Vira tidak ingin membebani Azzam. Bisa saja Vira meminta Azzam membelikan barang yang dia butuhkan. Namun ada batasan Vira meminta bantuan Azzam. Ada kata pantas dan tidak pantas yang harus Vira jaga.


"Kamu sendiri sedang apa? Aku merasa ini bukan waktunya makan bakso. Apalagi untuk seorang istri Azzam Atmaja!" ujar Arif menggoda Vira. Seketika Vira menunduk merasa bersalah.


Arif tersenyum sembari mengamati Vira. Sikap kikuk Vira sudah cukup menjawab kecurigaan Arif. Selama ini Arif bisa memahami Vira. Bahkan saat ada rasa Vira untuk Azzam. Dengan mudah Arif mengetahuinya. Vira pribadi yang teguh, tapi tertutup. Dia sulit dimengerti, meski sesungguhnya dia ingin dimengerti.


Vira mengingat kejadian bagaimana dia keluar dari rumah? Vira menyadari dirinya telah salah keluar tanpa pamit pada Azzam. Apalagi Vira keluar di tengah malam. Arif melihat gelagat Vira, seketika Arif menyadari kalau Vira keluar tanpa Azzam.


"Tidak baik seorang istri berada di luar rumah tanpa suami. Apalagi dia keluar tanpa izin suaminya!" ujar Arif menyindir Vira. Sontak Vira mendongak, Arif terkekeh melihat Vira terkejut dengan perkataannya. Apa yang dikatakan Arif memang benar? Sikap Vira salah, meski dia memiliki pembenaran sendiri.


Vira mengaduk kuah bakso yang ada di mangkok miliknya. Entah kenapa napsu makannya menghilang? Vira teringat akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Vira mengabaikan tugas dan kewajibannya. Hanya karena amarah sesaat yang tak jelas.


"Pak Arif memang benar. Aku bukan istri yang baik bagi kak Azzam. Seharusnya dia menikah dengan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku wanita lemah, tapi selalu berpikir kuat dan mampu hidup sendiri. Tanpa berpikir membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pada suamiku sendiri!" sahut Vira lirih, Arif semakin yakin akan dugaannya.


Arif mulai mengerti permasalahan yang terjadi. Sikap dewasa Vira yang selalu merasa kuat. Mengalahkan rasa takut meninggalkan Azzam tanpa pamit. Arif memahami pemikiran Vira yang spontan. Pemikiran egois yang tidak peduli pada orang lain. Terutama Azzam yang mencarinya dengan penuh kecemasan. Mengelilingi kota yang gelap, berharap menemukan sosok yang mengusik malamnya.

__ADS_1


"Vira, apapun yang kamu lakukan memang salah. Namun adakalanya sikapmu benar, mengingat hidupmu dulu yang mandiri. Hidup dalam fase yang berbeda, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab itu kamu masih merasa mampu tanpa Azzam. Meski sebenarnya Azzam lemah tanpamu!" ujar Arif, sembari menyodorkan secangkir teh hangat.


Arif melihat wajah pucat Vira. Tubuh mungil Vira menggigil kedinginan. Angin malam menusuk tulang beiulangnya. Lalu tanpa Vira sadari, Arif mengirim lokasinya pada Azzam. Agar Azzam mudah menemukan mereka berdua. Arif yakin Azzam tengah khawatir memikirkan Vira yang pergi tanpa pamit.


"Duniaku jauh berbeda dengannya. Kehidupan pewaris keluarga Atmaja sulit aku pelajari. Sebaliknya duniaku terlalu suram, untuk kak Azzam. Aku tidak ingin menjadi alasan dukanya, aku juga tak ingin menjadi bebannya. Aku seseorang yang keras kepala. Hanya ada luka yang dirasakan kak Azzam!" sahut Vira lirih, Arif menggeleng lemah. Dia percaya Azzam mampu menjadi imam terbaik untuk Vira.


"Vira, jika kamu percaya. Setiap makmum diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Maka kamu akan percaya, jika Azzam pemilik tulang rusukmu. Entah dia kaya atau miskin? Entah dia sakit atau sehat? Semua itu seakan tak berarti, ketika kalian berdua saling menggenggam tangan. Berjalan bersama, menghadapi badai yang datang menerjang!" ujar Arif, Vira menunduk mengerti.


"Belajarlah mengalah dan berserah. Percayalah, Azzam mampu melindungimu!' ujar Arif lagi, Vira diam membisu. Dia mencoba mencerna perkataan Arif. Vira masih mencari titik nyaman berada di kediaman keluarga Atmaja.


Vira mencari cara agar dia bisa memahami karakter suaminya. Beberapa hari Vira menjadi istri Azzam. Namun anehnya Vira belum bisa beradaptasi dengan Azzam. Terkadang Vira teguh pada pendiriannya. Lupa jika dia tidak lagi sendiri, tapi sudah menjadi seorang istri dan mungkin kelak menjadi seorang ibu.


"Kenapa?" ujar Arif dingin.


"Aku akan pulang ke rumah lamaku. Sudah sangat malam, jika aku pulang ke rumah keluarga Atmaja. Takutnya akan mengganggu mereka!" sahut Vira, Arif mengangguk mengerti.


Arif berjalan menjauh meninggalkan Vira. Arif ingin menunggu Azzam datang. Duduk berdua dengan Vira tidak pantas dilakukan. Mengingat Vira tidak lagi sendiri. Vira telah menikah dengan Azzam sepupunya sendiri. Arif selalu ingat batasan diantara dirinya dengan Vira. Arif sekilas menoleh ke arah Vira. Arif melihat Vira melahap bakso dengan begitu nikmatnya.


"Arif, dimana Vira?" sapa Azzam cemas, napas Azzam memburu. Dia melajukan mobilnya secepat mungkin. Agar dia bisa segera menemui Vira. Arif menunjuk ke arah Vira yang duduk dengan tenang. Vira merasa sangat nyaman duduk diantara orang-orang yang tak mengenalnya.


"Azzam, apapun yang terjadi jangan bertanya alasan Vira keluar tanpa pamit. Aku sudah mengingatkan kesalahannya. Bersabarlah menghadapi Vira, dia dalam masa penyesuaian!" ujar Arif, Azam mengangguk pelan. Lalu mengucapkan terima kasih, karena telah menolong dan menemani Vira.

__ADS_1


"Aku tahu, sekali lagi terima kasih!" ujar Azzam, Arif mengangguk seraya mengancungkan tangan ke udara. Tanda Arif menerima ucapan terima kasih Azzam.


Azzam berjalan menghampiri Vira. Dia melihat istri kecilnya melahap semangkok bakso. Sekilas Azzam melihat Vira memasukkan sambal terlalu banyak. Ingin rasanya Azzam melarang, tapi Azzam teringat akan nasehat Arif. Jika Vira masih menyesuaikan dengan kebiasaan Azzam.


"Sayang!" sapa Azzam lirih, lalu mencium puncak kepala Vira. Azzam meluapkan kecemasan dan kerinduannya pada Vira. Azzam duduk tepat di samping Vira.


"Kak Azzam!" ujar Vira heran, Azzam mengedipkan kedua mata indahnya. Isyarat dia mengiyakan panggilan Vira. Azzam memakaikan sebuah jaket ke tubuh Vira.


"Makanlah sayang, aku akan menemanimu!" ujar Azzam lirih. Vira mengangguk mengiyakan


"Jangan pergi tanpa pamit padaku. Aku akan mengantar, kemanapun kamu ingin pergi? Tanpamu aku bisa tiada, cukup sekali kamu menjauh dariku. Jangan pernah lagi, jangan lagi!" ujar Azzam lirih, sembari menyatukan keningnya dengan Vira.


"Maaf!"


"Sayang, kamu tidak bersalah. Aku yang belum bisa menyakinkan dirimu. Jika aku bisa membahagiakan dirimu!" ujar Azzam tegas, sedangkan Vira diam membisu.


Azzam mengelap sisa bakso diujung bibir Vira. Azzam sabar menemani Vira, lalu tiba-tiba tanpa aba-aba. Azzam mengecup mesra bibir Vira. Azzam tak sanggup lagi menahan hasrat dihatinya. Azzam sangat merindukan Vira.


"Kak Azzam!" teriak Vira lirih.


"Sayang, aku mencintaimu!' sapa Azzam lemah.

__ADS_1


__ADS_2