Ikhlas

Ikhlas
Pulang Terlambat


__ADS_3

"Assalammualaikum!" ujar Vira lirih.


"Waalaikumsalam!" sahut Melda ramah, Vira menutup mulutnya tak percaya. Vira berpikir saat di datang, tidak ada orang yang sedang berada di ruang tamu. Namun dugaannya salah, Melda tengah menerima tamu bersama dengan Angga.


Melda berjalan menuju pintu saat mendengar Vira dan Azzam datang. Sejak sore Melda khawatir menunggu kepulangan Vira dan Azzam. Melda cemas memikirkan Vira, bukan Azzam. Melda percaya Azzam bisa menjaga dirinya. Sebaliknya Vira sekarang bukan orang lain. Dia menantu sekaligus putri satu-satunya yang dimiliki Melda. Sebab itu Melda merindukan Vira, dia menunggu Vira sejak sore. Melda langsung memeluk Vira, ketika dia melihat Vira datang bersama Azzam.


Vira dan Azzam tiba di kediaman Atmaja sekitar pukul 21.30 WIB. Setelah selesai bertemu dengan klaiennya. Azzam mengajak Vira berjalan-jalan sebentar. Merasakan udara malam dan membeli beberapa keperluan Vira. Sebenarnya Vira sudah menolak. Namun Azzam memaksa dengan alasan, keperluan Vira sudah menjadi tanggungjawabnya.


"Sayang, kemana saja kamu? Kenapa tidak memberi kabar pada tante?" ujar Melda cemas, Vira menunduk merasa bersalah.


Vira bingung akan menjawab apa? Jangankan memberi kabar pada Melda. Azzam saja dibuat kelabakan mencari Vira. Sampai detik ini Vira tidak memiliki ponsel. Dia tidak mengetahui nomer ponsel Azzam. Apalagi nomel ponsel Melda atau telpon rumah keluarga Atmaja. Sepintas Vira merasa terharu melihat kasih sayang Melda padanya. Melda tak membedakan Vira dengan Azzam. Kasih sayangnya jelas mengatkan, jika Melda menganggap Vira layaknya putri kandungnya.


"Kamu juga Azzam, kenapa tidak mengatakan pada mama? Kalau Vira ada bersamamu. Apa kamu tahu? Sejak sore mama khawatir memikirkan Vira!" ujar Melda kesal, Azzam tersenyum simpul. Azzam merasa bahagia melihat kedekatan Melda dengan Vira. Setidaknya ada satu orang yang merestui hubungannya dengan Vira.


"Maaf, tadi Azzam sibuk sampai lupa mengabari mama!" sahut Azzam merasa bersalah, Vira mengangguk mengiyakan perkataan Azzam.


Melda mengangguk percaya perkataan Azzam. Melda meminta Azzam dan Vira naik ke kamar mereka. Sebab Melda masih ada tamu. Azzam mengangguk mengiyakan, dia menggandeng tangan Vira menuju kamarnya. Tanpa menoleh sekadar ingin tahu siapa tamu yang begitu penting? Azzam dan Vira melangkah masuk ke dalam. Mereka berjalan tanpa berpikir ingin mengetahui tamu Angga Atmaja.


"Azzam, kemarilah!" teriak Angga lantang, seketika Azzam menoleh. Azzam menghentikan langkahnya, tepat di depan Angga Atmaja. Vira menabrak punggung tegap Azzam. Saat dia tidak menyadari Azzam yang berhenti tiba-tiba.


Vira menoleh ke arah yang sama dengan tatapan Azzam. Kedua bola matanya membulat sempurna. Vira terkejut sekaligus tak menyangka. Tamu yang dibicarakan Melda, tak lain keluarga besar Nadya sahabatnya. Vira melihat Nadya duduk dengan anggun diantara keluarga besar Atmaja dan keluarga besarnya. Vira merasa sesak saat kedua matanya menatap Nadya sahabatnya.


Seketika Vira menunduk, ada rasa bersalah dihatinya. Vira telah menghancurkan pernikahan yang sejatinya untuk sahabatnya. Vira telah menyakiti hati sahabatnya, tanpa Vira sengaja. Azzam menoleh ke arah Vira yang terus menunduk. Azzam merasakan tangan Vira yang dingin dan bergetar. Vira jelas takut akan rasa bersalahnya pada Nadya. Azzam menggenggam erat tangan Vira. Azzam akan melindungi Vira dengan cara apapun?

__ADS_1


"Ada apa papa memanggilku?" sahut Azzam sembari berjalan menghampiri Angga. Azzam menarik tubuh Vira mengikuti langkahnya.


Nadya menatap sinis Vira yang berjalan di belakang Azzam. Amarah dan rasa cemburu menguasai hati dan benaknya. Nadya mengepalkan tangannya penuh amarah. Nadya ingin menghancurkan Vira sebagai balasan atas pengkhianatan Vira. Nadya menunggu waktu yang tepat untuk menghina dan menghancurkan harga diri Vira. Agar Vira tak lagi berani menatap Azzam dan keluarganya.


Angga tersenyum sinis melihat Vira yang berjalan di belakang Azzam. Angga memperhatikan barang yang dibawa Vira. Angga menduga Vira baru saja menghabiskan harta Azzam. Alasan Angga tidak menerima Vira sebagai menantunya. Sebab Angga berpijur Vira hanya ingin menguasai harta keluarga Atmaja.


"Aku memanggilmu, bukan dia anak ART. kenapa kamu malah membawanya kemari? Sudah papa katakan, sampai kapanpun papa tidak setuju pernikahan kalian?" ujar Angga sinis, Azzam meradang mendengar perkataan sinis Angga. Sebaliknya Vira yang mulai merasa rendah diri. Menarik tangan Azzam, berharap Azzam mengizinkannya masuk ke dalam kamar.


Vira merasa tak sanggup berdiri diantara orang-orang yang meragukannya. Vira tak ingin mendengar hinaan yang terus menyakiti hatinya. Seandainya Vira bisa memilih, Vira ingin kembali hidup sebatang kara. Daripada hidup dengan orang-orang yang melihat sebelah mata ke arahnya.


"Kak Azzam, aku pergi ke kamar!" bisik Vira lirih, Azzam menggeleng lemah. Dia tidak mengizinkan Vira jauh darinya. Nadya tersenyum sinis melihat Vira mantan sahabatnya.


"Papa, Vira dan aku satu. Jika papa memanggilku, artinya papa siap menemui Vira juga. Satu hal lagi, Vira mungkin anak ART. Namun papa harus ingat, aku menantu seorang ART. Sesering apapun papa mengingatkan statusnya. Sesering itu pula papa mengingatkan, siapa mertuaku sesungguhnya?" ujar Azzam dingin dan tegas, Angga meradang mendengar jawaban Azzam.


"Azzam, tutup mulutmu. Sebelum kamu bicara, lihat sekelilingmu. Bukan dia yang membesarkanmu, tapi papa yang selama ini ada untukmu. Kamu mengenalnya hanya beberapa bulan, tapi kamu sudah melupakan hubungan bertahun-tahun diantara kita!" ujar Angga emosi, Melda memegang tangan Angga. Mencoba menenangkan, agar tak terjadi pertengkaran.


"Wanita murahan, puas kamu sekarang. Kehadiranmu membuat ketenangan rumah ini terusik!" teriak Angga sembari menunjuk ke arah Vira. Sontak Vira menunduk merasa bersalah dan malu.


Vira merasa bersalah atas apa yang terjadi? Pertengkaran ayah dan anak yang tak seharusnya terjadi. Kini nyata terjadi dan tak bisa dielak lagi. Azzam meradang mendengar hinaan Angga. Dia hendak berjalan menghampiri Angga, sebelum tangan Vira menahannya. Azzam menoleh menatap wajah memelas Vira. Wajah yang menyimpan luka akan hinaan ayahnya.


"Kak Azzam, aku mohon. Biarkan aku pergi ke kamar. Aku tidak berhak ada disini. Jangan buat diriku merasa bersalah, karena menjadi penyulut pertengkaran di rumah ini!" bisik Vira, sembari menatap sendu ke arah Azzam


Azzam membelai wajah Vira. Lalu mengangguk pelan. Azzam mengizinkan Vira kembali ke kamar. Seketika Vira berjalan menuju kamar Azzam. Vira tak lagi mampu berdiri di samping Azzam, bukan karena dia terluka akan hinaan. Namun Vira tak ingin menjadi alasan pertengkaran yang tak seharusnya ada.

__ADS_1


Melda melihat kehangatan Azzam pada Vira. Kebahagian Azzam jelas hanya bersama Vira. Tak ada amarah yang diperlihatkan Azzam ketika bersama Vira. Seolah kehadiran Vira menjadi penenang dan penerang dalam hidup Azzam. Hidup yang kosong dan gelap tanpa kebahagian.


"Tunggu Vira Azza Ifatunnisa!" teriak Nadya lantang, sontak Vira menghentikan langkahnya. Azzam menoleh ke arah Nadya. Azzam menatap tajam Nadya, seolah isyarat agar Nadya tak menyentuh Vira.


"Vira mantan sahabatku, aku belum mengucapkan selamat atas pernikahanmu!" ujar Nadya sembari berjalan menghampiri Vira.


Terlihat Nadya mengulurkan tangan ke arah Vira. Nadya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Vira dan Azzam. Vira yang tak merasa aneh. Dia langsung menerima uluran tangan Nadya. Vira menjabat tangan sang sahabat, berpikir kerenggangan mulai merapat kembali. Nadya akhirnya menerima pernikahan Vira dan Azzam.


Plaakkk Plaakkk


Saat semua orang merasa semua baik-baik saja. Justru terdengar suara tamparan yang sangat keras. Tepat sesaat setelah berjabat tangan dengan Vira. Nadya menampar Vira dengan penuh amarah. Nadya merasa dikhianati oleh Vira. Nadya kesal melihat Vira menikah dengan laki-laki yang dicintainya.


"Puas kamu Vira, kamu telah merenggut kebahagianku. Sahabat macam apa kamu? Merebut calon suami sahabatnya sendiri. Apa sekarang kamu mulai lelah hidup miskin? Sampai akhirnya kamu memilih menikah dengan tuan muda keluarga ini. Lihat barang belanjaanmu, jika bukan dengan uangnya. Sampai matipun kamu tidak akan bisa membelinya. Kamu hanya wanita miskin yang ingin merasakan hidup kaya!" cecar Nadya emosi, Vira diam sembari memegang pipi bekas tamparan Nadya.


Azzam berlari menghampiri Vira, tapi Vira merentangkan tangannya ke depan. Mengisyaratkan agar Azzam tak mendekat kepadanya. Vira tak ingin menyulut pertengkaran yang lebih besar lagi. Vira berjalan menuju meja besar di depan Nadya berdiri. Vira meletakkan beberapa tas besar yang dipegangnya.


"Nadya, aku memang miskin. Aku wanita tak berharta dan tak pantas menikah dengan tuan muda keluarga Atmaja. Percaya atau tidak, aku tidak pernah ingin menjalin hubungan dengan kak Azzam. Namun jodoh mempertemukanku dengannya, bukan demi hidup mewah atau kebahagian dunia. Melainkan hidup bersama menuju jannah-NYA. Barang yang kamu jadikan alasanmu menghina harga diriku. Ada di depan matamu, silahkan periksa dan pastikan aku menghabiskan harta kak Azzam!" ujar Vira lirih, Azzam menatap lekat Vira.


Azzam merasa bangga akan keberanian Vira melawan Nadya. Namun disisi lain, Azzam mulai takut kehilangan Vira. Seandainya Vira terus terhina dan dihina oleh keluarganya. Tak berapa lama, Nadya membuka tas-tas besar yang ada di depannya. Nadya melihat buku-buku pelajaran milik Vira. Bukan belanjaan seperti dugaannya.


"Nadya, kamu mengenalku jauh sebelum siapapun mengenalku? Kamu memahami prinsip yang selalu kupegang teguh. Aku sakit melihatmu meragukanku, tapi aku bangga pada diriku. Setidaknya aku tidak mengemis rasa yang tak pernah ada untukku!" ujar Vira dingin, Nadya meradang. Dia merasa terhina, Vira membuat Nadya tak berkutik.


"Kamu kurang ajar!" teriak Nadya sembari mengangkat tangannya. Vira menutup mata, dia takut akan tamparan Nadya.

__ADS_1


"Sekali lagi tanganmu terangkat, aku pastikan hidupmu sengsara!" ujar Azzam dingin.


__ADS_2