
"Sayang, aku ada janji makan malam dengan klien dari luar kota. Bersiap-siaplah, aku menunggumu di luar!" ujar Azzam sesaat setelah mematikan ponselnya.
Setelah menemani Vira berbuka. Azzam menerima panggilan dari salah satu klien pentingnya. Sedangkan Vira masuk ke dalam kamarnya, setelah membersihkan peralatan makan. Terlihat Vira mengerjakan tugas kuliahnya. Saat Azzam mengajak Vira menemui kliennya.
"Kak Azzam, aku tidak ikut denganmu. Tugas kuliahku masih banyak. Kalau aku ikut denganmu, kapan aku mengerjakannya?" ujar Vira memberikan alasan, Azzam mengeryitkan keningnya tak percaya.
Azzam melihat Vira sangat santai. Jelas Azzam mengetahui kalau Vira tidak terlalu sibuk. Seandainya Vira memang memiliki tugas kuliah. Sangat mudah bagi Vira menyelesaikannya. Azzam menghampiri Vira yang duduk di atas tempat tidurnya. Vira berpura-pura sibuk, ketika Azzam mendekat ke arahnya. Vira sengaja mencari alasan, agar dia tidak ikut dengan Azzam. Vira merasa enggan bila ikut dengan Azzam.
"Sayang, kamu berbohong. Jangan mencari alasan, aku tidak akan pergi bila tanpamu!" ancam Azzam tegas, Vira diam tak menoleh ke arah Azzam.
Vira menyibukkan diri, dia memeriksa beberapa catatan di bukunya. Cuti selama hampir dua minggu, membuat Vira keteteran. Banyak pelajaran yang tertinggal. Vira tidak berbohong jika dia banyak tugas. Meski sebenarnya Vira bisa mengerjakannya nanti. Namun Vira berpikir harus mengerjakan malam ini. Agar dia tidak ikut dengan Azzam.
"Aku tidak berbohong, kakak bisa lihat sendiri. Tugasku menumpuk, dua minggu aku cuti kuliah. Aku harus menyalin satu per satu. Besok pagi laptop Abil harus dikembalikan. Maaf aku tidak bisa menemani kakak!" ujar Vira santai, Azzam seketika kesal mendengar nama Abil. Azzam mendekat dan tidur dipangkuan Vira.
Azzam menjauhkan laptop dari tangan Vira. Dengan raut wajah kesal, Azzam meringkuk di pangkuan Vira. Azzam menenggelamkan kepalanya menghadap ke arah perut datar Vira. Azzam kesal ketika mendengar Vira menyebut nama Abil. Darah Azzam mendidih, mengetahui Vira masih bergantung pada Abil. Tak sedikitpun Vira bergantung padanya. Bahkan hanya untuk masalah laptop. Sebuah barang yang sangat mudah dibeli oleh Azzam suaminya.
"Kak Azzam, kenapa tidak bersiap? Katanya ada acara makan malam. Jangan sampai kakak terlambat. Kakak harus bertanggungjawab akan pekerjaan!" ujar Vira lirih, Azzam diam tak bergeming.
__ADS_1
Azzam menenggelamkan kepalanya di pangkuan Vira. Azzam tak peduli akan perkataan Vira. Tangan Azzam memeluk erat tubuh mungil Vira. Dia cemburu akan kedekatan Vira dan Abil yang masih terjalin erat. Vira menghela napas panjang. Sikap diam dan manja Azzam tak mudah dikendalikan.
"Kak Azzam, bersiaplah sekarang. Aku harus mengerjakan tugas-tugas kuliah. Besok pagi semuanya harus selesai!" ujar Vira, Azzam tak menggubris perkataan Vira.
Azzam semakin menenggelamkan kepalanya. Bahkan Azzam mencium perut rata Vira. Azzam tak ingin menjauh dari tubuh Vira. Sebaliknya Vira bergidik geli, saat Azzam mencium perut ratanya. Desiran-desiran hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Vira tak bisa melepaskan diri dari pelukan Azzam. Hak sepenuhnya Azzam akan dirinya.
"Kak Azzam sayang, pergilah sekarang. Jika tidak, kakak akan terlambat!" ujar Vira mesra sembari mengusap lembut rambut hitam legam Azzam. Vira berusaha membujuk Azzam agar bersedia pergi. Dia tidak ingin menjadi alasan Azzam membatalkan acaranya. Vira tidak terlalu percaya diri untuk ikut bersama Azzam. Namun Vira tidak ingin, Azzam membatalkan acara penting hanya karena penolakannya.
"Kak Azzam, aku mohon!" ujar Vira lirih, sembari membungkuk mencium puncak kepala Azzam.
Sontak Azzam membuka kedua mata elangnya. Azzam terhenyak kaget, merasakan sentuhan bibir Vira. Azzam merasa bergairah, hasrat Azzam akan memiliki Vira sepenuhnya. Muncul tanpa bisa dikendalikan. Seketika tangan Azzam menahan tengkuk Vira.
Azzam merasakan hasrat yang tak biasa. Seolah setiap sentuhan yang dilakukan pada tubuh Vira. Mengalirkan hawa panas yang membakar tubuhnya. Azzam larut dalam napsu menggebu memiliki Vira. Azzam tak ingin melepaskan Vira dengan mudah. Sebaliknya Vira mulai merasa lelah. Kepala Vira mulai terasa sakit, karena membungkuk menerima ciuman dari Azzam. Terdengar napas memburu Vira yang akhirnya menyadarkan Azzam.
Dengan perlahan Azzam melepaskan Vira. Seketika Vira merasa lega. Namun tak berapa lama, Azzam memutar tubuh Vira. Azzam membaringkan Vira di tempat tidur. Azzam menatap lekat setiap inci wajah Vira. Azzam mencium seluruh bagian di wajah Vira. Azzam tak lagi mampu mengendalikan hasratnya. Azzam lupa akan dunia yang berputar di sekelilingnya. Tangan Azzam mulai bergerilya di setiap inci tubuh Vira. Sedangkan Vira hanya bisa pasrah menerima perlakuan Azzam. Sejatinya apa yang dilakukan Azzam telah halal untuknya?
"Sayang, bisakah aku meminta hakku sekarang. Aku tidak bisa mengendalikan hasrat ini. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya!" bisik Azzam lirih tepat di telinga Vira. Azzam mencium lembut telinga Vira yang tertutup hijab. Vira merasakan panas tubuh yang meningkat. Vira merasa terbakar oleh hasrat cinta yang diberikan Azzam.
__ADS_1
Azzam menyalurkan hasrat cintanya. Azzam tak memberikan Vira kesempatan menolak atau mengiyakan. Hanya pasrah akan perlakuan Azzam. Menyerahkan mahkota yang selama ini dia jaga. Menjadikan Azzam satu-satunya laki-laki dalam hidupnya. Laki-laki perebut kehormatannya. Sunyi malam tak terasa oleh Azzam dan Vira. Suara hembusan napas penuh hasrat terdengar nyata memecah kesunyian malam.
Drrrrrttt Drrtttt Drrttt
Terdengar suara ponsel Azzam berdering. Sontak Vira mendorong tubuh Azzam. Vira teringat acara yang akan dihadiri oleh Azzam. Vira menarik selimutnya, menutupi tubuhnya yang hampir terbuka sepenuhnya. Vira berdiri menuju kamar mandi. Dia harus segera membersihkan diri. Menghilangkan hasrat cinta yang tak tersalurkan.
Azzam marah dan kecewa melihat Vira menjauh. Dia mengambil ponsel yang ada di dekatnya. Azzam membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan kesal Azzam menerima panggilan di ponselnya. Azzam sangat marah, tapi Azzam tak bisa berbuat apa-apa?
"Sayang!" sapa Azzam, sesaat setelah Vira keluar dari kamar mandi. Azzam menelan ludahnya kasar, melihat rambut Vira yang tergerai dan basah. Vira menoleh seraya merentangkan tangan ke depan. Seakan isyarat agar Azzam tidak mendekat.
Vira baru saja menyucikan diri dan berwudhu. Vira tidak ingin Azzam mendekat. Sebab Vira dalam kondisi memiliki wudhu dan suci. Vira tidak ingin batal dan menunda untuk sholat isya. Azzam gusar melihat penolakan Vira. Jelas Azzam melihat rasa kecewa di wajah Vira. Bukan sekali Vira kecewa, tapi dua kali dia kecewa. Bahkan di malam kedua dia menjadi istri Azzam.
"Maaf kak Azzam, aku sudah punya wudhu. Jika kakak mendekat, takutnya akan membatalkan wudhuku. Lebih baik kak Azzam membersihkan diri. Tidak baik bertemu orang dengan penampilan yang berantakan!" ujar Vira, lalu berjalan melewati Azzam. Vira harus segera sholat sebelum wudhunya batal.
"Aku tidak pergi, bila kamu tidak ikut!"
"Baiklah aku ikut, tapi aku akan menunggu kakak di mobil. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku!" ujar Vira final, lalu memulai sholat.
__ADS_1
"Sayang, kamu istriku bukan asistenku yang pantas aku tinggal di dalam mobil!" sahut Azzam tak kalah dingin dan tegas.