
Senja menyapa kala matahari tenggelam diparaduan. Senja memancarkan guratan tinta emas penuh makna. Tenang tak bersuara, tapi senja seakan menenangkan hati yang gelisah. Senja bagai air dalam dahaga kehausan. Melegakan hati insan yang penuh dengan dilema. Menghapus sejenak beban hati yang tak mudah.
Sama halnya senja yang selalu dirindukan Vira. Kala hati dan benaknya dipenuhi dengan beban yang tak ada habisnya. Senja satu-satunya sahabat yang takkan pernah mengkhianati Vira. Senja pendamping yang takkan berpikir melupakan Vira. Sebentar senja mampu membahagiakan Vira. Cara Vira melupakan rasa sakit dan pengkhianatan orang-orang yang disayanginya.
"Akhirnya kamu datang menemuiku. Aku butuh dirimu. Pancaran sinar jinggamu menerangi hatiku yang gelap dan dingin. Hatiku penuh dengan kebencian yang menghancurkan diriku. Hati nuraniku menjerit menolak amarah ini. Tapi benakku seakan terus mengingat air mata ibu. Tetesan bening air mata yang tak pernah mampu aku hapus. Ingin aku menjerit sekeras-kerasnya. Menyesali pertemuan yang tak seharusnya ada. Cinta yang nyata terkhianati, semakin membuatku tak berarah. Aku hancur dan tersakiti, semua tak lain karena cinta tulusku pada keturunan Atmaja. Cinta yang kusesali dalam setiap hembusan napasku. Cinta yang tak mampu kulupakan, meski sekuat tenaga aku ingin melupakannya. Cinta yang menyiksakan luka dalam hatiku, tapi senyum bahagia Fatih putraku. Senja, seandainya aku mampu memelukmu. Ingin kusandarkan tubuh ini lemah ini dipangkuanmu. Kuletakkan benci ini diperaduanmu. Agar aku melangkah tegap tanpa menyimpan dendam. Hidup sederhana yang mulai aku rinduku. Vira Azza Ifatunnisa yang tak berharta, tapi berhati. Bukan Vira yang ambisius dan penuh luka. Senja, jika aku bisa memohon. Jangan pergi begitu cepat, temani aku yang sepi tanpa siapapun? Dirimu yang mampu menenangkan gelisah dan hancur hatiku!" batin Vira sembari mendekap tubuhnya.
Suara gemuruh ombak memecah keheningan hari yang beranjak petang. Langit tertutup warna jingga senja yang indah. Angin laut bertiup begitu kencangnya. Menyentuh tubuh lemah Vira yang mulai kedinginan. Suara kicauan burung yang bergantian. Terbang kembali ke sarang. Meninggalkan hari terang menyongsong malam yang gelap.
Byuuuuurrrr Wuuuuusshhhh
Suara angin dan ombak bergantian, terdengar nyata di telinga Vira. Hijab panjangnya tertiup angin melambai. Tangannya mendekap erat tubuh yang kedinginan. Dingin dan sepi menyergap tubuh serta jiwa Vira. Hamparan laut biru menenangkan hati Vira yang bergemuruh.
"Tanganmu tidak akan sanggup menghangatkan tubuhmu. Dingin angin laut tidak akan membekukan tubuhmu. Dingin hatimu yang akan membuatmu beku!" ujar Dimas lirih, sesaat setelah memakaikan jasnya ke tubuh Vira.
Sontak Vira menoleh, dia melihat Dimas tengah berdiri tepat di sampingnya. Vira terkejut mendengar suara berat Dimas. Suara yang menemani hari-harinya beberapa tahun terakhir. Sosok keturunan keluarga Atmaja yang setia ada di sampingnya. Vira merasa nyaman berada di dekat Dimas. Vira merasakan bijak seorang ayah, hangat kasih sayang seorang kakak. Kesempurnaan cinta yang tak pernah Vira rasakan selama ini.
"Kakak, sejak kapan ada disini?"
"Sejak kamu menatap nanar senja, aku diam terpaku manatap punggung tegapmu. Ketika kedua matamu menunduk menatap jingga senja. Kedua mataku menatap dirimu, benakku manahan hasrat memeluk dirimu. Lama aku diam menunggu lemahmu. Namun lagi dan lagi teguhku kalah, saat melihat dingin tubuhmu. Kenapa harus senja yang kamu datangi?"
__ADS_1
"Apa maksud kakak? Aku ada disini tanpa sengaja. Aku baru saja pulang dari proyek. Melihat senja di tepi laut, seketika aku menghentikan mobil!" ujar Vira mengelak perkataan Dimas.
"Jika aku Azzam, mungkin aku akan percaya tanpa bertanya lagi. Seandainya aku Fariz, mungkin dengan mudahnya aku setuju akan alasanmu. Mengikuti keputusanmu tanpa berpikir ada air mata yang tersimpan!" ujar Dimas, sembari menatap jingga senja yang indah.
Vira menunduk menatap pasir laut yang menyentuh lembut kakinya. Tangannya mendekap jas yang dipakaikan Dimas. Seakan dekapan Dimas yang menghangatkan tubuh Vira. Menghalau angin yang menusuk ke tubuh lemahnya. Dimas layaknya ayah yang ada membelai lembut kepala Vira. Ketika dia tak lagi bisa menahan air matanya. Vira merasa tenang setiap kali Dimas berada di dekatnya. Namun ada satu ganjalan yang takkan pernah terhapus dengan mudah. Darah keluarga Atmaja yang mengalir dalam diri Dimas. Menjadi alasan jarak akan selalu ada diantara keduanya.
"Sampai kapan kamu menghindar dariku? Kamu menjauh dariku, seakan aku yang bersalah padamu. Jelas aku yang terluka, karena cintaku hanya menjadi pelampiasan dan amarahmu kepada keluargaku!" ujar Dimas lirih, Vira menggeleng lemah.
Vira tak pernah berpikir ingin mempermainkan hati Dimas. Namun kenyataan hatinya tetap menyimpan benci yang begitu besar pada keluarga Atmaja. Membuat Vira tega mengkhianati cinta Dimas. Menganggap cinta tulus Dimas hanya permainan semata. Menghancurkan hati suci yang tak pernah berpikir ingin melukainya. Sikap kejam yang mampu dilakukan Vira. Demi balas dendam yang tak pernah ada habisnya.
"Aku jahat bukan! Kenapa kakak masih setia menemaniku? Menjauhlah dariku, hatiku gelap dan dingin. Hanya benci yang ada di dalamnya. Tak ada lagi cinta dan hangat kasih sayang. Semua musnah beberapa tahun lalu!" sahut Vira lirih. Dimas menoleh menatap Vira lekat.
"Aku tak pernah keberatan menjadi alat balas dendammu. Hatiku kuat menahan sakit, ketika kedua mata indahmu menatap Azzam penuh cinta. Jiwaku teguh menyimpan cinta ini. Meski aku sadar, cintamu bukan untukku. Namun aku berharap, kelak ada celah dihatimu. Agar hatiku bisa ada di dalamnya. Mengisi celah kosong itu!"
"Kenapa kakak berkorban sebesar ini? Aku bukan wanita baik-baik yang pantas diperjuangkan. Aku jahat kak, aku kejam. Hatiku penuh dendam!"
"Karena hatiku memilihmu seutuhnya, tanpa syarat untuk berubah. Aku akan ada di belakangmu, ketika kamu bahagia. Tanpa ada rasa cemburu atau menghujat, karena bukan aku alasan bahagiamu. Sebaliknya aku akan ada di depanmu, kala kamu bersediah. Menghapus air mata dan menghalau badai yang akan menerpamu!" ujar Dimas tegas, Vira menggeleng lemah tak percaya.
"Vira, aku tahu jika kamu akan menolaknya. Kenapa Vira? Aku tidak keberatan menjadi sandaran tubuhmu. Walau hanya saat kamu lemah. Aku tidak akan marah, meski cintaku hanya pelampiasan kebencianmu. Aku tidak akan mengeluh, seandainya kamu memanggilku hanya saat kamu butuh. Karena aku sadar cinta tak bisa dipaksakan. Namun sekali saja kamu menganggapku ada. Hanya agar aku merasa hidupku berarti untukmu!" batin Dimas.
__ADS_1
"Kakak pantas bahagia!" ujar Vira lirih, sembari menunduk. Dimas menggeleng seraya mengutas senyum simpul.
"Aku bahagia bila bersamamu!" sahut Dimas tegas, Vira menggeleng lemah.
"Vira, jadikan aku senja dalam hidupmu. Jika senja tidak pernah nyata, maka aku nyata ada disampingmu. Kamu menatap senja, hanya saat kamu gelisah. Maka datangi aku hanya, ketika kamu menangis. Tinggalkan aku, saat kamu baik-baik saja. Setidaknya menjadi senja bagimu. Akan membuatku selalu berada di dekatmu. Dalam hati dan benakmu!"
"Kak Dimas, sejujurnya aku merasa nyaman dan tenang kala bersamamu. Namun hatiku tak pantas untuk mencintai. Hati yang penuh dendam, takkan pernah bisa menghangatkan hati orang lain!" ujar Vira dingin.
"Tapi hati penuh cinta. Buktinya kamu meminta Azzam mencari cinta sejatinya. Dengan segala cara kamu menyatukan Fariz dengan Cecil. Lalu kapan kamu akan menyambut cintaku? Agar aku bisa merasakan bahagia bersamamu!"
"Kak Dimas keras kepala. Aku percaya akan ada wanita yang jauh lebih baik dariku!"
"Aku keras kepala, karena kamu terlalu istimewa. Buktinya keturunan Atmaja luluh dalam cintamu!" ujar Dimas, sontak.Vira tertawa.
"Tertawalah Vira, tawamu yang selalu aku rindukan!" ujar Dimas lirih.
"Entahlah kak? Kapan lagi aku bisa tertawa? Aku takut lupa akan cara tertawa, karena hatiku penuh kebencian!"
"Kamu akan terus tertawa, karena aku yang akan membuatmu tertawa!" sahut Dimas mantap.
__ADS_1