Ikhlas

Ikhlas
Percayalah


__ADS_3

"Ambil kartu ini, beli apapun yang kamu inginkan. Tidak perlu berpikir, pilih sesukamu. Aku akan pergi dengan Arif!" ujar Azzam dingin, Arif menggeleng tidak percaya. Sikap Azzam pada Nadya benar-benar kasar. Sedangkan Nadya hanya bisa melongo. Dia merasa terhina dengan sikap Azzam padanya.


Nadya merasa layaknya wanita bayaran. Wanita yang hanya peduli pada harta Azzam. Memang keluarga Nadya tak sekaya keluarga Azzam. Namun dia tidak pernah berpikir ingin mendapatkan kemewahan dari Azzam. Sikap Azzam yang memberikan kartu ATM. Seolah ingin mengatakan, jika dirinya hanya peduli pada harta Azzam.


"Aku pergi bersamamu bukan demi uangmu. Aku bisa membeli apa yang kuinginkan dengan uangku sendiri? Tak perlu kamu menghina diriku dengan hartamu. Aku tidak sekaya dirimu, tapi aku tidak semiskin Vira. Dia yang butuh dikasihani oleh dirimu. Hartamu alasan dia mendekatimu!" ujar Nadya kasar, sembari memberikan kartu ATM yang diberikan Azzam padanya.


Azzam tersenyum sinis mendengar perkataan Nadya. Azzam tidak peduli dengan sikap Nadya atau amarah Nadya. Meski sikap Azzam keterlaluan, Azzam tidak berpikir untuk meminta maaf. Azzam seakan tidak peduli akan tangis Nadya. Sikap kasar Azzam membuat Nadya terluka.


"Jaga bicaramu, kamu tidak berhak menghinanya. Vira salah menilaimu, sikapmu tak sebaik yang dia katakan. Selama ini tak pernah Vira menjelekkan dirimu. Sekarang dengan lantang kamu menghinanya. Sahabat macam apa kamu? Vira salah memilih persahabatannya denganmu!" ujar Azzam dingin, Nadya meradang mendengar Azzam membela Vira.


Arif merasa sesak berada diantara Azzam dan Nadya. Keduanya merasa benar dengan sikapnya. Azzam dengan pendapatnya, jika Nadya pribadi yang buruk. Sebaliknya Nadya yang berpikir Vira pribadi yang hina. Dua pendapat yang saling bertolak belakang. Lama Arif diam mendengarkan perdebatan Azzam dab Nadya.


Tak berapa lama, kedua bola matanya membulat sempurna. Dia melihat Vira berdiri di tengah-tengah keramaian pusat perbelajaan. Vira terlihat membagikan brosur sebuah kedai makan sederhana. Lama Arif mengamati, sampai akhirnya dia melihat Abil datang menghampiri Vira. Keduanya memakai pakaian yang sama dan membagikan brosur yang sama. Jelas keduanya sedang melaksanakan kegiatan yang sama di pusat perbelanjaan.


Arif berjalan mendekat ke arah Vira. Tanpa peduli lagi pada Azzam dan Nadya. Arif penasaran dengan kegiatan yang dilakukan Vira dan Abil. Melihat banyaknya orang yang mengelilingi mereka. Arif berpikir acara yang digelar Vira sangat menarik. Sebagai seorang dosen, dia ingin melihat kegiatan sang murid.


"Kalian sedang apa?" sapa Arif penasaran, Arif mengeryitkan dahi tidak mengerti. Melihat beberapa mahasiswanya berkumpul di tempat ini. Bukan hanya Vira dan Abil, ada beberapa mahasiswa dari kelas yang berbeda.


"Kami sedang melakukan penggalangan dana untuk korban banjir. Kami menawarkan makanan dan minuman secara cuma-cuma, tapi dengan catatan mereka menyumbang seikhlasnya!" sahut Abil antusias, Vira mengangguk setuju.


Arif meminta satu brosur dari Vira. Dia membaca menu yang ada di dalamnya. Ada rasa bangga di hati Arif. Melihat ketulusan hati para mahasiswanya. Tanpa banyak berpikir, Arif memesan beberapa makanan. Dia ingin menjadi bagian dari kegiatan mahasiswanya.


Abil dan Vira tersenyum bahagia. Melihat Arif bersedia menjadi bagian dari kegiatannya. Bahkan Vira dan Abil dibuat melongo. Ketika melihat nominal yang disumbangkan oleh Arif. Vira mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Arif. Dia menjadi bagian dari kegiatan yang digagas oleh Vira.

__ADS_1


"Vira, kenapa kamu tidak mencari dana di perusahaan-perusahaan besar? Semisal perusahaan Atmaja. Aku yakin CEO perusahaan Atmaja akan memberikan sumbangan yang tidak sedikit!" ujar Arif santai, Vira menggeleng perlahan. Dia tidak pernah berpikir mencari dana di perusahaan-perusahaan besar. Mengingat proposal yang harus diajukan pada mereka tidaklah mudah.


"Kenapa?" sahut Arif lirih, Abil mendekat lalu merangkul pundak Vira. Dengan perlahan Vira menepis tangan Abil. Namun bukan melepaskan, Abil malah tertawa bahagia. Arif tak berkedip melihat sikap Abil. Dia tidak percaya, Abil bisa melakukan hal seperti itu.


"Pak Arif, kami tidak sempat membuat proposal. Jadi penggalangan dana ini dilakukan mendadak. Salah satu anggota akan pergi tanpa pamit. Sebab itu kami adakan penggalangan dana tanpa persiapan!" ujar Abil santai, sembari merangkul pundak Vira.


Abil merangkul Vira tanpa rasa canggung. Bahkan Abil sempat menyadarkan kepalanya di bahu Vira. Berkali-kali Vira menepis sikap Vira. Arif terdiam tak percaya melihat kedekatan yang tak biasa. Meski Vira dan Abil sahabat, tapi sikap Abil telah melanggar batasan yang ada.


"Kamu tahu semua itu!" ujar Arif setenang mungkin. Dia tidak ingin Abil menyadari gelisahnya.


Selama ini Arif berusaha mengubur rasanya untuk Vira. Meski rasa itu tak sepenuhnya menghilang. Namun saat melihat kedekatan Vira dengan Abil. Ada rasa sakit yang sedikit mengusik hatinya. Arif mundur demi rasa diantara Vira dan Azzam. Tapi saat melihat Abil yang begitu dekat dengan Vira. Arif merasa sia-sia mundur tanpa berjuang.


"Hubungan kami bukan hanya sahabat. Aku dan Vira tumbuh bersama. Apa yang dipikirkan Vira? Akan dengan mudah aku ketahui. Seandainya mungkin, Vira bukan hanya sahabat melainkan istriku. Ayah Vira pernah memintaku menjaganya. Namun hubungan tanpa cinta tidak pernah aku inginkan. Sebab hanya akan menyakiti Vira. Aku memilih menjadi sahabat sekaligus kakak bagi Vira. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya!" ujar Abil tegas dan dingin, Arif membisu merasa bersalah. Tatapan Abil seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Tanganku akan selalu menggenggamnya. Akan kulepaskan tangan ini, saat ada tangan yang jauh lebih kuat untuknya. Tangan yang tidak akan menggenggam tangan lain di waktu yang sama!" ujar Abil tegas, lalu menarik tangan Vira.


Abil membawa Vira menjauh dari Arif. Vira mengangguk pelan, seolah berpamitan pada Arif. Dengan anggukan yang sama, Arif menyahuti Vira. Abil terus menarik tangan Vira. Tanpa Vira sadari, dia melewati Azzam dan Nadya. Arif mengangguk mengerti arti tatapan Abil. Isyarat yang tidak hanya ditujukan kepadanya. Lebih tepatnya tatapan yang sengaja ditujukan pada Azzam.


"Vira!" sapa Azzam, sembari menahan tangan Vira. Sontak Vira dan Abil berhenti, Nadya heran melihat sikap Azzam.


Sejak melihat kedekatan Abil dan Vira, raut wajah Azzam sangat marah. Nadya melihat amarah yang tak biasa dari Azzam. Amarah yang mampu membunuh siapapun yang ada di dekatnya? Nadya bergidik ngeri melihat Azzam menahan amarahnya.


"Tuan Azzam!"

__ADS_1


"Kita harus bicara, sudah cukup kegilaan ini. Jika terus seperti ini, aku dan kamu akan hancur bersama!"


"Abil, lepaskan tanganku. Aku harus menyelesaikan masalah yang belum selesai. Tunggu aku di rumahmu, aku akan datang berpamitan!" ujar Vira lirih, Abil mengangguk lalu melepaskan tangan Vira. Abil berjalan menghampiri Azzam.


Tatapan Abil mengunci Azzam, Arif berlari mendekat. Dia tidak ingin melihat perkelahian antara Abil dan Azzam. Namun ketakutan Arif salah, Abil hanya ingin mengatakan sesuatu pada Azzam. Bukan ingin berkelahi dengan Azzam.


"Tuan Azzam Atmaja yang terhormat. Hari ini aku melepaskan tangan Vira sahabatku. Hanya karena dia memintanya. Dia ingin memberikan kesempatan pada anda. Kelak aku tidak akan melepaskannya, bila anda telah melepasnya. Bahkan saat Vira memintanya. Aku bisa menjadi sahabat saat dukanya. Aku bisa menjadi kakak saat sepinya. Aku bisa menjadi suami saat sendirinya. Hari ini aku menjadi seorang kakak yang memberikan tangan adiknya padamu. Kelak aku akan menjadi laki-laki yang akan merebut tangannya darimu!" ujar Abil tegas dan dingin. Azzam menatap Abil lekat. Laki-laki yang begitu menghargai Vira. Laki-laki yang kelak mampu menjadi penghalang dirinya.


"Vira, aku melepasmu karena kamu memintanya. Aku harap keputusanmu tidak salah. Kamu berhak bahagia bersamanya. Seandainya dia laki-laki yang kamu sayangi. Jangan takut menggapai bahagiamu. Adakalanya kita harus berjuang mendapatkannya!" ujar Abil, lalu pergi.


"Kita harus bicara!" ujar Azzam sembari menggenggam tangan Vira erat. Azzam menoleh pada Arif, seolah mengatakan sesuatu.


"Aku akan mengantarnya pulang. Perjuangkan Vira sebelum semuanya terlambat!"


"Terima kasih!" sahut Azzam, lalu menarik tangan Vira. Azzam membawa Vira keluar dari pusat perbelanjaan.


"Tuan Azzam, kemana kita akan pergi?"


"Sekali saja kamu percaya padaku. Aku akan buktikan padamu. Aku bisa membahagiakanmu!" ujar Azzam lirih, Vira menunduk diam. Seketika Azzam menghentikan langkahnya. Azzam memutar tubuhnya 180° menghadap Vira. Dengan perlahan Azzam mengangkat dagu Vira.


Azzam menatap lekat dua bola mata Vira. Mata yang seakan lelah menatap dunia. Azzam hanyut dalam gairah cintanya. Hati Azzam bergejolak menatap wajah Vira, sangat dekat bahkan Azzam bisa merasakan hembusan napas Vira.


"Hari ini aku akan membuatmu halal untukku!"

__ADS_1


__ADS_2