
"Andra, apa yang harus kita lakukan? Jelas mereka mengincar perusahaan kita. Rumah sakit akan terkena imbasnya!" Ujar Fariz cemas, Andra termenung. Kedua tangannya menopang dagu, seolah sedang berpikir keras.
"Menghadapi dengan tegak, hanya itu satu-satunya cara. Kita harus bersiap dengan konsekuensi apapun? Namun takkan kubiarkan mereka menyentuh rumah sakit!" Sahut Andra tegas, Fariz hanya diam membisu. Tak ada lagi jalan yang mungkin mereka tempuh. Melawan seolah tak lagi mungkin. Menunggu keputusan sang penguasa, satu hal yang bisa membantu mereka.
"Mungkinkah Farah dibalik semua ini!"
"Kamu jangan bodoh Fariz. Dia hanya anak kecil, kemampuannya takkan sehebat itu. Jangankan menghancurkan perusahaan kita. Menjadi karyawan di perusahaan kita, dia belum tentu mampu. Kakinya terlalu lemah untuk melangkah masuk ke dalam gedung tinggi perusahaan kita. Usianya jauh dibawah Bima, jelas dia masih anak kemarin sore!" Tutur Andra percaya diri, Fariz menggelengkan kepalanya lemah.
Fariz mengingat setiap kata penuh amarah Farah. Tiap kata yang tegas penuh kepastian. Selain itu, peringatan yang dikatakan Dimas. Semakin membuat Fariz percaya, jika Farah bukan hanya anak kecil yang tak berdaya. Ketegasan Farah dan keberaniannya menatap mata Arka Dwi Atmaja, yang notabene kakek Fariz. Bukan hal sepele, karena Arka bukan orang yang mudah ditaklukkan di usia senjanya. Jelas menjadi bukti, Farah siap melawan kekuatan keluarga Atmaja. Pandangan yang menyakinkan Fariz, jika Farah takkan mudah dilawan.
"Kamu tidak mengenal Farah. Tatapannya matanya tajam, bak elang yang siap memburu mangsangnya. Keberanian Farah laksana prajurit yang siap bertempur dengan musuh-musuhnya. Ketajaman lidah Farah, bak betati tajam yang menghunus jantung para lawannya. Mungkin dia hanyalah anak kecil, tapi sesungguhnya keyakinan Farah mampu menghancurkan keangkuhan kita!"
"Kamu sedang memujinya!" Ujar Andra, Fariz menggelengkan kepalanya. Sejenak Fariz menyandarkan kepalanya di sofa. Fariz menatap langit kantornya. Berharap waktu berhenti, setidaknya sampai rasa cemas dan ketakutannya menghilang.
"Lantas, apa maksud perkataanmu?" Sahut Andra, tepat setelah melihat gelengan kepala Fariz.
"Aku mencoba menutupi ketakutanku. Berharap apa yang kudengar dan kulihat hanyalah mimpi? Aku tak ingin melawan Farah, keponakan sekaligus putri Vira Azza Ifatunnisa!"
"Kamu masih menyimpan rasa pada Vira?" Tanya Andra.
"Bodoh jika aku menyimpan rasa yang jelas tak terbalas. Aku hanya tak rela, kelembutan dan kebaikan Vira ternoda dengan sifat kasar Farah. Aku mengenal keluarga Vira sejak kecil. Betapa mereka keluarga yang sangat baik. Jika Farah putri Vira, mampu berbuat keji pada keluarganya. Bukankah itu akan menghancurkan harkat dan martabat Vira!" Tutur Fariz lirih, Andra menghela napas panjang. Seolah dia tak mengerti arah perkataan Andra.
"Terserah padamu!" Sahut Andra pasrah, Fariz diam membisu.
Sekilas nampak raut wajah pias Fariz. Dalam benaknya dipenuhi rasa takut akan peringatan Dimas. Jelas Fariz terusik dengan perkataan Dimas. Ancaman Farah semalam di pesta ulang tahun Nafisa. Bukan hanya isapan jempol semata. Fariz merasa Farah mampu melakukan apapun demi kehancuran keluarga Atmaja. Fariz pernah berpikir, sekeji apa perbuatan keluarganya pada Vira dan Farah? Sampai Farah begitu sakit hati dan ingin menghancurkan pondasi keluarga Atmaja. Bahkan tak ada rasa takut, ketika Farah harus melawan Arka dan Angga. Tuan besar keluarga Atmaja yang tak mudah dihadapi.
"Aku juga bingung Andra. Jika ada satu kesempatan, ingin aku menghapus dendam di hati Farah. Namun semua sudah sangat terlambat. Penerus keluarga Atmaja yang terbuang telah kembali. Hanya kehancuran keluarga Atmaja yang dia harapkan!" Ujar Fariz final, Andra mengangguk setuju.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Sahut Fariz.
"Permisi pak, perwakilan dari FVF group sudah datang. Mereka sudah menunggu di ruang rapat!" Ujar sekretaris Fariz, sontak Fariz mengangguk pelan.
Fariz meminta sekretarisnya pergi dulu. Sedangkan Fariz akan datang bersama Andra. Nampak kecemasan Fariz semakin besar. Entah kenapa jantungnya berdegub hebat? Dia merasa akan terjadi sesuatu yang tak biasa. Andra menepuk pelan pundak Fariz, memberikan dukungan pada Fariz. Seakan Andra mengatakan semuanya baik-baik saja. Namun jelas dukungan Andra tak membuat Fariz tenang. Nampak dari langkah kaki Fariz yang lemah, seolah tak mampu berjalan menuju ruang rapat.
"Pa!"
"Kamu sudah datang!" Ujar Andra pada Bima, dengan anggukan kepala.
Bima menyahuti perkataan Andra. Fariz heran melihat Bima datang ke kantornya. Sepengetahuan Fariz, Bima tidak ada urusan dengan masalah perusahaan. Memang Bima menjadi kepala rumah sakit. Namun Bima tidak perlu datang, karena Bima tidak pernah mengetahui masalah perusahaan. Bima tidak pernah mengetahui seluk beluk perumahan.
"Kenapa kamu datang?"
"Aku yang memintanya, Bima menjadi kepala rumah sakit. Dia yang mengetahui masalah rumah sakit. Bima juga yang harus menjelaskan prospek rumah sakit. Agar kita bisa menyelamatkan rumah sakit!" Sahut Andra, Fariz mengangguk mengerti. Bima membungkuk menyapa Fariz. Sedangkan Fariz tersenyum menyahuti sapaan Bima.
"Mari kita masuk, mereka sudah lama menunggu!" Ajak Fariz, lalu berjalan menuju ruang rapat.
Deg Deg Deg
"Kenapa jantungku berdegub kecang? Apa yang akan terjadi? Siapa sebenarnya pemilik FVF group? Mungkinkah itu Farah?" Batin Fariz penuh kegelisahan.
Tok Tok Tok
"Maaf kami telat!" Ujar Fariz, tepat setelah dia mengetuk pintu.
Fariz terperanjat, ketika dia melihat Farah duduk di salah satu kursi. Farah berada paling depan, di samping kanannya duduk beberapa orang yang kemungkinan besar asisten Farah. Fariz terdiam mematung, menyadari Farah benar-benar ada di kantornya. Ketakutan yang sejak tadi menghantuinya, semakin nyata memenuhi benaknya.
"Farah, sedang apa dia disini? Dia terlihat begitu berbeda. Cantik penuh wibawa, aku hampir tak mengenalinya. Farah, siapa sebenarnya dirimu? Kadang aku melihatmu lemah tak berdaya. Hari ini aku melihatmu begitu kuat. Semakin aku mengenalmu, semakin aku sulit menggapaimu. Sayapmu yang terlalu kuat terbang? Atau lenganku yang lemah tak mampu menggapaimu? Farah Nada Maulida, pribadimu saat ini. Jelas mengatakan, pundakku tak pantas menjadi sandaranmu!" Batin Bima dengan perasaan yang campur aduk.
"Farah!" Ujar Fariz spontan, keterkejutannya benar-benar membuat Fariz kikuk.
"Maaf pak Fariz, beliau bu Farah pemilik FVF group!" Ujar sekretaris Fariz, Seketika Andra mendongak tak percaya.
"Apa kabar pak Fariz? Akhirnya kita bertemu!" Sapa Farah, Fariz benar-benar tak percaya mendengar sapaan Farah.
__ADS_1
Fariz duduk tepat di depan Farah. Mereka saling menatap, sedetik Fariz melihat tatapan tajam Farah. Tatapan yang sama dengan Azzam kakaknya, aura Farah benar-benar menakutkan. Sikap dingin, bahkan Farah menampakkan aura dingin. Kekejian tuan besar Atmaja jelas terlihat dalam gestur Farah.
"Kamu benar-benar datang, aku pikir ucapanmu hanya isapan jempol. Ternyata kamu benar-benar ingin menghancurkan perusahaanku!" Ujar Fariz sinis, Farah tersenyum menanggapi perkataan Fariz.
Farah merasa lucu, melihat Fariz yang gelisah tapi berpura-pura tenang. Namun bukan Farah, jika dia terbawa perasaan dengan sikap Fariz. Farah tetap tenang, dia mengikuti alur yang diarahkan Fariz. Farah ingin bermain, sebelum melihat Fariz menghiba. Farah benar-benar dingin, tak ada rasa kasihan sedikitpun dimata Farah.
"Tidak ada alasan untukku mundur!" Sahut Farah dingin, Fariz dan Andra tak mampu menutupi kegelisahan di hati masing-masing.
"Apa kabar dokter Bima? Lama tidak bertemu, aku harap anda baik-baik saja!" Sapa Farah ramah, Bima mengangguk seraya mengutas senyum simpul. Farah mengangguk mengerti jawaban Bima.
"Baiklah, aku rasa semuanya sudah siap!"
"Katakan terus terang, tidak perlu berbelit-belit!" Sahut Fariz dingin, Farah diam seolah tak peduli akan pendapat Fariz.
"Arya, mana berkasnya!"
"Silahkan bu!" Sahut Arya, Farah menerima berkas dari Arya.
Braaakkk
"Silahkan anda pelajari, setelah itu katakan pendapat anda. Waktu saya cukup banyak, untuk menunggu!" Ujar Farah, sesaat setelah melempar berkas di hadapan Fariz dan Andra.
Fariz dan Andra memeriksa berkas yang diberikan Farah. Bima diam duduk di samping Andra. Tak ada yang bisa dikatakan Bima, dia hanya pelengkap. Bima tak mampu menyamai kemampuan Farah. Di saat Fariz dan Andra serius memeriksa berkas yang diberikannya. Farah malah fokus pada layar laptopnya. Entah apa yang sedang diperiksanya? Namun satu hal yang pasti, nampak perhatian Farah tersita pada layar laptopnya.
"Kamu menganggumkan, sekaligus menakutkan!" Batin Bima, ketika melihat raut wajah Farah yang serius.
Waktu terus berjalan, jam semakin larut. Kala detik berubah menjadi menit, sedangkan menit menjadi jam. Tanpa terasa hampir satu jam lebih Farah menunggu keputusan Fariz dan Andra. Namun seolah mereka tak menemukan titik temu. Jelas ada kebingungan dan rasa tak percaya di mata Fariz dan Andra. Mereka merasa bodoh di hadapan Farah yang hanya seorang anak kecil.
"Arya, siapkan mobil. Aku harus menemui seseorang!"
"Tapi bu!" Sahut Arya, tapi terhenti ketika tatapan tajam Farah yang menyahutinya. Fariz dan Andra seketikan menoleh ke arah Farah. Nampak Farah berdiri dari duduknya, Fariz jelas mengerti isyarat yang hendak dikatakan Farah.
"Mereka tidak menemukan solusi, walau kita menunggu sampai besok. Satu yang harus kamu lakukan, bawa tim kita ke sini. Ambil alih perusahaan atau biarkan mereka membayar pinalti kerugian kita!" Titah Farah tegas, Arya mengangguk tanpa berani menatap Farah.
"Siska, pesan tiket untukku. Aku harus ke luar kota!" Ujar Farah pada asisten pribadinya yang lain.
Arya asisten yang dipercaya Farah menangani masalahnya dengan keluarga Atmaja. Sedangkan Siska asisten yang dia percayakan dalam hal pribadi saat bekerja. Siska tidak pernah ikut campur dalam masalah pekerjaan. Farah benar-benar teratur dan teliti dalam bekerja. Sifat yang membuat para bawahannya kagum dan respek pada Farah. Mereka menjadikan Farah teladan, jika ingin menjadi orang sukses.
"Tunggu bu Farah, kita harus membahas masalah ini!"
"Bukankah sejak tadi aku menunggu keputusan kalian. Bukan satu jam, aku menunggu kebimbangan kalian selama hampir dua jam!" Ujar Farah tegas dan lantang, Fariz dan Andra membisu. Mereka merasa dilucuti oleh Farah. Gadis kecil yang mereka remehkan, nyatanya menakutkan.
"Bisa saya minta waktu anda lima belas menit lagi. Banyak yang harus kita bicarakan!" Pinta Andra, Farah diam membisu. Farah jelas ingin mempermainkan Fariz yang gelisah. Sekilas nampak Fariz meremas tangannya. Tanda Fariz benar-benar ketakutan. Bayangan kehilangan perusahaan yang dibangun dengan jerih payahnya. Nyata terpampang di depan matanya.
"Siska, jam berapa keberangkatku!"
"Satu jam lagi ibu harus sudah tiba di bandara!" Sahut Siska ramah, Farah mengangguk pelan.
"Tuan Andra, waktuku tidak banyak. Jika anda ingin berunding, lima belas menit waktu yang aku berikan. Jika tidak ada kata berunding, besok pagi timku akan datang. Anda bisa menyelesaikan dengan mereka!" Ujar Farah, Andra mengangguk pasrah.
Farah kembali duduk di depan Fariz yang terus menunduk. Nampak Fariz lemah tak berdaya, tak ada kemampuan Fariz melawan wibawa Farah. Kehidupan Fariz kini ada di tangan Farah. Keponakan yang dengan sengaja dibuang oleh kakek dan ayahnya. Seorang anak yang kini menjadi bom atom yang siap meledak. Farah menjadi sosok yang menakutkan. Aura ketegasan Arka sang kakek menurun pada Farah. Fariz benar-benar kalah hanya dengan satu hentakan kaki Farah.
"Sekarang katakan apa keputusan kalian? Ingat lima belas menit itu cepat, 900 detik anda dimulai dari sekarang!" Ujar Farah tegas, Bima menggelengkan kepalanya lemah.
Bima tak lagi melihat sosok Farah yang lemah. Farah benar-benar berbeda, kuat serta tangguh tak terkalahkan. Bima merasa bangga mencintai Farah. Namun ada sisi, dimana dia merasa menyesal telah merendahkan Farah. Pendapatnya tentang Farah yang lemah, sikap penurutnya pada Andra untuk menjauhi Farah. Bima merasa bodoh telah menjauh dari Farah. Penyesalan yang tak lagi pantas ada di hatinya.
"Tidak bisakah kamu memberikan waktu pada kami. Setidaknya kami bisa berjuang memperbaiki diri!"
"Anda terlalu polos tuan Andra, proyek yang anda kerjakan sudah berlangsung lama. Sebagai seorang pembisnis yang sudah berpenglaman. Anda pasti pernah mendengar, waktu adalah uang. Investasi yang aku tanamkan pada perusahaanmu. Akan jauh lebih berharga bagi perusahaan lain. Jadi katakan padaku, kembalikan investasiku dan bayar pinaltinya, atau serahkan perusahaanmu padaku!"
"Tidak mungkin!" Sahut Fariz lemah, Farah tersenyum sinis.
"Jika begitu, biarkan timku mengambil alih. Kita akan lelang perusahaanmu!" Sahut Farah final.
"Kenapa Farah? Kenapa kamu sekeji ini padaku? Nampak dari data yang kamu berikan. Kamu sudah merencanakan semua ini dengan sangat matang. Kamu memberi kami investasi di saat perusahaanku diambang kehancuran. Kamu sengaja membuat kami menghiba, tapi saat waktunya tepat. Kamu menenggelamkan kami, menginjak harga diri. Kamu membuat kami tak berdaya, sehingga kami memberikan perusahaan ini!" Tutur Fariz, Farah menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
"Anda pintar dalam bicara, seharusnya anda menjadi pembicara bukan pembisnis. Salah satu kebiasaan keluarga Atmaja, menyalahkan orang lain atas kebodohannya sendiri!"
"Jaga bicaramu!" Ujar Andra emosi.
"Sebagai seorang pembisnis, seharusnya anda terjun langsung ke lapangan. Jangan hanya mengandalkan kemampuan bawahan. Menganggap mereka layaknya budak, bekerja keras dan anda yang menikmati hasilnya. Seharusnya anda mencari tahu, siapa yang mendatangi siapa? Sejak awal bukan aku yang menghiba pada kalian. Namun kalian yang datang padaku. Berharap suntikan dana, agar perusahaan kalian bangkit. Namun kemudahan yang aku berikan, malah menjadi bom bagi perusahaan ini. Kalian merasa lalai dengan kemudahan itu. Keangkuhan keluarga Atmaja yang membuat mereka hancur dalam kesombongan!"
"Cukup Farah, kamu tidak berhak menilai keluargaku!"
"Kenapa tuan Fariz? Apa yang kukatakan benar adanya? Sifat dasar keluarga Atmaja yang akan terus menurun pada penerusnya!"
"Termasuk padamu!" Sahut Bima lantang, Farah mengangguk tanpa ragu.
"Sebab itu aku ada di depan anda dokter Bima. Aku bukan pasienmu, aku musuh besar kerabat terdekatmu!" Ujar Farah lantang, Bima seketika terdiam.
"Hentikan Farah, sampai kapanpun aku tidak bisa memberikan perusahaan ini? Sejak awal berdiri, aku dan Andra bekerja keras membangun perusahaan ini. Tak ada sangkut pautnya dengan keluarga Atmaja. Semua ini murni keringat kami. Tidak sepantasnya kamu menghancurkan kami!"
"Mungkin perusahaan ini murni milikmu, tapi tanah yang dibangun rumah sakit. Itu milik mama Vira yang kalian ambil!" Ujar Farah emosi, Fariz menggeleng lemah.
"Tanah itu satu-satunya peninggalan kakek untuk nenek. Harta terakhir kakek yang dibeli tuan Arka dengan harga murah. Saat dia tahu, kakek butuh dana untuk kelahiran mama. Tanah yang semula digadai, akhirnya terjual bersamaan dengan tangis nenekku. Arka Dwi Atmaja, satu-satunya orang yang membuatku ingin menghancurkan kesombongan kalian!"
"Kamu bohong Farah, tanah itu dibeli papa dari orang lain!"
"Arya, mana surat yang aku minta!" Ujar Farah, Arya memberikan sebuah kertas lusuh. Warnanya tak lagi putih, kusam bahkan tulisannya sedikit kabur.
"Bacalah tuan Fariz Atmaja, siapa nama pemilik tanah itu sebenarnya? Lihat tahun pembuatan sertifikat itu, bandingkan dengan sertifikat tanah yang kamu miliki. Luas tanah dan wilayahnya, periksa baik-baik. Agar anda bisa melihat kebenaran perkataanku!"
"Bagaimana mungkin kamu mengetahui semua ini? Tidak mungkin kakek sejahat itu!"
"Dia tidak hanya jahat, tapi kejam!" Teriak Farah.
Braaakk
"Arka Atmaja tak pernah puas, dia selalu ingin menghancurkan keluaga mama!"
"Jika memang kakek jahat, kenapa dia tak pernah menyentuh Vika dan Rayyan!"
"Karena mama bersumpah, akan bertarung dengan Angga Atmaja. Jika mereka menyentuh kulit tante Vika dan om Rayyan!"
"Kamu bohong, Vira tidak sepertimu!" Ujar Fariz tak percaya.
"Banyak kebohongan yang belum aku ungkap. Akan ada waktu, dimana seluruh aib keluarga Atmaja aku bongkar? Satu hal lagi, seekor semut tidak akan takut menggigit gajah. Jika gajah terus menginjaknya!" Ujar Farah dingin.
"Baiklah tuan Andra, waktu anda habis. Sepertinya keputusan tidak kita dapatkan. Persiapkan diri anda besok!" Ujar Farah, seraya berdiri. Farah merasa sudah cukup bicara. Dia harus keluar, sebelum semuanya semakin rumit.
"Tunggu Farah!" Teriak Fariz, Farah menoleh dengan lirikan tajam.
"Jika aku menerima penawaranmu. Apa yang akan terjadi pada perusahaan ini?"
"Aku akan mengambil alih kepemimpinan. Separuh bahkan sepenuhnya, tergantung penawaranmu!"
"Maksudmu!" Sahut Fariz. Farah menatap Fariz, dengan anggun Farah berjalan menghampiri Fariz.
Kedua matanya mengunci wajah Fariz, Farah bak harimau yang siap memangsa buruannya. Fariz melihat jelas tekad bulat Farah. Tak ada lagi kata maaf untuk keluarga Atmaja. Perlahan tapi pasti, satu per satu aset keluarga Atmaja akan jatuh ke tangan Farah. Tak bisa diragukan lagi, Farah benar-benar ingin menghancurkan keluarga Atmaja sampai tak bersisa.
"Aku hanya akan mengambil separuh dari perusahaanmu. Dengan cacatan, kembalikan tanah rumah sakit padaku!"
"Rumah sakit!" Ujar Bima tak percaya. Farah mengangguk tanpa ragu.
Sejak awal Farah hanya menginginkan rumah sakit yang berada di bawah naungan perusahaan Fariz. Rumah sakit yang dipimpin langsung oleh Bima. Rumah sakit yang baru Farah lihat, tapi memiliki kedekatan di masa lampau dengannya. Sebuah bangunan baru dan modern, tapi meninggalkan kenangan lama dan pahit. Sebuah kenangan indah dan mungkin hanya Farah yang mengetahuinya. Tak ada satupun yang menyadari nilai rumah sakit bagi Farah. Alasan Farah mengejar kepemilikan rumah sakit.
"Kenapa rumah sakit?" Sahut Andra heran, Farah menatap lurus ke luar jendela kantor Fariz. Sekilas terdengar helaan napas Farah. Seolah ada beban berat yang tengah ditanggung oleh Farah.
"Karena rumah sakit yang kalian kelola, tak lebih dari fasilitas pencari harta. Kalian mendirikan rumah sakit, seolah ingin membantu pasien. Namun nyatanya rumah sakit kalian, tak lebih dari rumah sakit bagi si kaya!" Sahut Farah lantang, Fariz menggelengkan kepalanya lemah. Fariz merasa tak percaya akan pendapat Farah. Apapun yang kini dikatakan Farah. Semua seperti racun yang siap membunuh keturunan keluarga Atmaja. Terutama tuan Angga Atmaja, seorang ayah yang tega melihat kehancuran putranya daripada kebahagiannya.
"Tidak mungkin, kamu tidak tahu apa-apa Farah?" Ujar Bima membela diri. Farah menggelengkan kepalanya lemah. Seutas senyum sinis nampak di wajah cantiknya.
__ADS_1
Bima merasa alasan Farah hanya dibuat-buat. Semua demi kepuasan hatinya yang ingin menghancurkan keluarga Atmaja. Bima melihat Farah sangat kejam, tak ada hati yang lembut. Cara bicara Farah tak lagi enak di dengar. Tiap kata yang keluar dari bibir Farah hanyalah tuduhan semata. Tanpa ada bukti nyata yang diberikan Farah. Bima benar tak mengenal Farah.
"Kamu berubah Farah!" Batin Bima tak percaya.