Ikhlas

Ikhlas
Titik Terang


__ADS_3

"Kak Vira, acara akan segera dimulai. Kita keluar sekarang, kakak harus menemani Vika. Dia amanah terakhir ibu!" ujar Rayyan, Vira diam menatap keluar jendela kamarnya.


Kamar yang letaknya ada di lantai dua. Sejak semalam Vira sudah datang. Dia pulang menggunakan penerbangan terakhir. Vira datang tanpa menghubungi Fatih. Sejak seminggu terakhir, Fatih tinggal bersama Azzam. Vira yakin dia akan datang bersama Azzam menghadiri pernikahan Vika dan Arif.


Bahkan Vika sang adik, tidak menyadari kedatangan Vira. Hanya Rayyan yang menyadari kedatangan Vira. Sengaja Vira menutupi kehadirannya, Vira tidak ingin bertemu siapapun? Terutama keluarga besar Atmaja. Meski Rayyan bingung dengan sikap Vira. Namun Rayyan percaya, Vira memiliki alasan yang sangat tepat. Kedewasaan Vira tidak pernah diragukan oleh Rayyan. Dengan patuh Rayyan menutupi kedatangan Vira.


Sejak semalam Vira mengunci diri di kamar. Vira memilih menyendiri tanpa siapapun di dalam kamarnya? Layaknya pagi ini, Vira berdiri di depan jendela kaca kamarnya. Kedua tangannya memangku di depan dada. Vira menerawang jauh menatap langit biru. Vira mencari ketenangan di balik keramaian pernikahan Vika. Hiruk-pikuk orang di lantai satu rumahnya. Tak mampu menggerakkan hatinya yang sepi. Egois, mungkin itu sikap yang diambil Vira. Dia memilih diam dan tak ikut dalam kebahagian sang adik.


"Rayyan, turunlah sebelum ada yang curiga aku ada disini. Vika amanah terakhir ibu, kamu harus menyerahkan Vika pada imam yang tepat. Kakak akan mendoakan yang terbaik untuk Vika. Setidaknya satu beban kakak akan terangkat!" ujar Vira tegas, Rayyan diam menatap nanar sang kakak.


Terkadang Rayyan sedih melihat Vira. Hatinya menjerit menatap keteguhan hati yang sesungguhnya rapuh. Rayyan memahami kepedihan Vira melebihi siapapun? Alasan kepergian Vira lima tahun lalu, membawa serpihan hati yang hancur tak bersisa. Bukan ingin menjauh dari Azzam imam pilihannya. Namun kenyataan yang diketahuinya, nyata menyakiti hati dan cinta. Pengkhianatan Azzan akan suci cintanya, penyesalah Vira telah memilih Azzam. Menjadi sakit hati yang takkan pernah bisa Vira katakan. Fatih alasan diam Vira, air mata Fatih kala menanyakan Azzam. Meluluhkan hati Vira, menelah rasa sakit akan sikap Azzam. Rayyan saksi hidup luka hati sang kakak yang tak pernah bisa dikatakan Vira.


"Vika butuh kakak. Dia sedih mengetahui kakak tidak hadir di pernikahannya. Aku tahu seberapa besar luka hatimu, tapi biarkan semua itu tersimpan sementara. Sampai Vika keluar dari rumah ini!"


"Rayya, keluar sekarang. Antar Vika menyongsong hidup barunya. Aku akan keluar, ketika hatiku benar-benar siap. Aku yakin Azzam dan Fariz ada di antara undangan yang hadir!" ujar Vira tegas, seketika Rayyan mengangguk mengiyakan.


Rayyan selalu menghargai keputusan Vira. Tak pernah dia bertanya alasan dibalik keputusan Vira. Tanpa banyak bicara, Rayyan keluar dari kamar Vira. Dia berjalan perlahan menuju pintu. Tak berapa lama dia berjalan, Rayyan menoleh ke belakang. Dia melihat Vira menunduk, tubuh Vira bergetar. Rayyan melihat rapuh Vira, suara tangis Vira yang sengaja ditahan. Menyayat hati Rayyan pedih. Tak ada yang bisa dilakukan Rayyan. Selain mengiyakan keputusan Vira.


"Tutup pintunya!" ujar Vira dingin, sesaat setelah dia mendengar Rayyan membuka pintu. Rayyan menutup pintu kamar Vira. Tak lagi Rayyan mampu berdiri menatap duka sang kakak. Kini Rayyan harus tetap tegar, demi Vika dan melupakan air mata Vira.


Vira kembali menatap langit biru. Tatapan yang tak mudah diartikan. Vira kembali larut dalam lamunan panjang tak bertepi. Vira menenggelamkan jauh hati yang bergemuruh. Jauh ke dalam dingin dan beku sikapnya. Vira melupakan tanggungjawabnya akan Vika. Demi rasa sakit yang tak pernah berujung.

__ADS_1


Kreeeekkk


"Ada apa lagi Rayyan? Aku akan turun bila sudah siap!" ujar Vira tanpa menoleh. Suara pintu terbuka, tanpa menoleh Vira mengira itu Rayyan.


Vira mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Langkah kaki yang perlahan dan terasa berat. Vira merasa aneh, seketika Vira menoleh. Kedua bola matanya melotot, dia terkejut ketika melihat Azzam berjalan ke arahnya. Vira mundur beberapa langkah sampau tubuhnya membentur jendela. Azzam berjalan mendekat ke arahnya.


"Berhenti, jangan mendekat padaku!"


"Vira, kita perlu bicara. Aku tidak sanggup lagi menyimpan rasa bersalah ini. Aku tahu kamu sudah mengetahui niatku!" ujar Azzam, Vira menggeleng lemah. Dia diam menatap lekat Azzam. Laki-laki yang tak pernah berpikir, Vira terluka dengan sikapnya.


"Aku tidak tahu maksud perkataanmu. Lebih baik sekarang kakak turun. Arif butuh kehadiranmu, biarkan aku sendirian!"


"Untuk apa penjelasan, jika hanya mengingatkan luka. Aku mencoba berdamai dengan kenyataan. Jika kamu tak pernah mencintaiku. Hanya dendam alasanmu menikah denganku!"


"Vira kamu salah sangka. Aku tidak sekejam itu!" sahut Azzam gelisah.


"Aku mendengar jelas, wanita miskin dan hina sepertiku bukan harapanmu. Sikap kasar Fariz yang mendasarimu ingin memilikimu. Dendamu pada tuan Angga, menjadi semangatmu mendapatkanku. Kamu ingin membuktikan diri pada Fariz. Jika aku lebih mencintaimu dan mengacuhkan cintanya yang dalam. Kamu ingin membuat keluargamu malu dengan pernikahan kita!" ujar Vira lirih, sembari memegang dadanya yang mulai terasa sakit.


"Vira tidak semua yang kamu dengar benar!"


"Tuan Azzam yang terhormat, anda benar ketika mengatakan aku mencintaimu melebihi Fariz. Jangankan Fariz, aku telah mengorbankan ibu yang melahirkanku. Aku menjadi alasan air mata ibuku menetes. Cinta suciku tak lebih permainan dalam hidupmu. Namun percayalah, aku tak pernah menyesal menikah denganmu. Setidaknya aku bahagia pernah bersama denganmu. Menyerahkan mahkota terindahku padamu. Imam yang kucintai dunia akhirat!" ujar Vira dengan suara parau. Sekuat tenaga Vira menahan air matanya.

__ADS_1


Vira mencoba tegar mendengar kenyataan. Jika bukan dia wanita yang dicintai Azzam. Vira tak lebih dari alat Azzam menghancurkan keangkuhan keluarganya. Azzam ingin membalas penghinaan Angga akan cintanya. Azzam kehilangan cinta sejatinya, kerena sikap angkuh keluarga Atmaja.


"Vira, itu dulu tapi sekarang aku sangat mencintaimu. Aku memang berpikir ingin menjadikanmu pionku. Namun hidup bersamamu, membuatku merasakan arti bahagia. Selama ini aku angkuh mengakui telah kalah oleh cintamu. Aku memang jahat dan keji, tapi percayalah itu Azzam dulu. Jauh sebelum hidup bersamamu. Luka karena cinta yang kandas. Perpisahan dengan wanita yang paling kucintai. Alasan yang membuat hatiku buta!" ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah.


"Sudahlah, lebih baik kita belajar menata hati. Fatih tidak salah, dia ada dengan cinta. Tak sepantasnya dia terluka dengan rasa sakit masa laluku!" ujar Vira tegas, mengakhiri perdebatan yang tak pernah ada ujungnya.


"Artinya kamu menerimaku kembali!" ujar Azzam, Vira menggeleng. Lalu nampak Vira membuka laci meja nakasnya. Vira mengeluarkan satu amplop berwarna coklat. Vira berjalan perlahan menghampiri Azzam.


"Temui dia sebelum kamu memintaku kembali. Dia ada di alamat yang tertera. Aku sudah bertemu dengannya. Dia sangat mencintaimu, wanita itu baik dan akan membahagiakanmu. Cintaku padamu tulus tanpa alasan. Aku tidak akan memaksamu berada di sampingku. Fatih butuh ayahnya, tapi aku ingin ayahnya bahagia. Gapai bahagiamu sebelum terlambat!" ujar Vira lirih.


Azzam menerima amplop yang diberikan Vira. Sekilas Vira mengusap air mata yang menetes di ujunng pelipisnya. Vira keluar dari kamarnya, meninggalkan Azzam yang termenung menatap amplop pemberiannya. Vira sudah menyiapkan hati untuk hari ini. Sepahit apapun akhir dari rasanya untuk Azzam. Ikhlas jalan terbaik melewati jalan hidupnya.


"Dia masa laluku, kamu masa depanku. Aku tidak akan menemuinya. Jika itu akan menjadi akhir hubungan kita. Aku tidak akan membela diri, karena nyata aku telah salah padamu. Aku akan mengejar cintamu kembali. Dengan niat tulus tanpa tuntutan. Aku telah menyiakan cintamu, kini aku akan memperjuangkannya. Aku tidak ingin kehilanganmu!" ujar Azzam tegas, Vira menggeleng lemah.


"Selesaikan hubunganmu, setelah itu temui aku. Seandainya cintamu memang untukku. Aku yakin kamu akan kembali pada keluarga kecil kita!" ujar Vira final.


"Satu hal lagi, aku sudah tahu Fariz laki-laki di masa laluku. Jadi tidak perlu kamu menutupinya dengan banyak kebohongan baru. Aku tidak pernah ingin mendekat pada Fariz. Karena sejak awal cintanya padaku menyakitinya. Dia menghancurkan diri demi wanita hina sepertiku!" ujar Vira sembari berjalan menjauh.


"Vira, maafkan aku!" ujar Fariz tepat di anak tangga teratas.


"Aku akan memaafkanmu, bila kamu kembali hidup. Lihatlah cinta tulus Cecil untukmu. Gapai bahagiamu agar tak ada rasa bersalah dihatiku. Sejujurnya, mengenal kalian membuatku merasa bahagia!" ujar Vira santai.

__ADS_1


__ADS_2