Ikhlas

Ikhlas
Sarapan bersama


__ADS_3

"Farah, kenapa kamu ada di dapur?" Ujar Vika heran, Farah menoleh lalu kembali fokus pada masakannya.


Farah terus sibuk dengan peralatan memasak. Vika tak percaya melihat Farah berada di dapur. Farah berdiri tanpa tongkat penyangga. Nampak Farah lihai dalam memasak. Sesuatu yang baru disadari Vika. Selama ini Vika hanya melihat Farah diam di dalam kamar. Tak pernah Vika berpikir, Farah mampu melakukan tugas rumah tangga.


"Selamat pagi Vika!"


"Pagi kak!" Sahut Vika, lalu dengan siku Vika menyenggol pinggang Vira. Seakan ingin bertanya, apa yang sedang dilakukan Farah? Vira yang menyadari maksud Vika, membalas dengan senyuman. Vira tak mengatakan apa-apa? Seolah Farah memang benar-benar mampu memasak.


"Farah!" Sapa Vika ramah, Farah menoleh ke arah Vika.


"Ada apa tante?"


"Tante yang seharusnya bertanya, apa yang sedang kamu lakukan? Sejak kapan kamu bisa memasak? Jangankan memasak, membuat teh saja, kamu tidak pernah!" Ujar Vika heran, Farah diam tak menyahuti.


"Mungkin tante tak percaya aku bisa memasak, tapi tante pasti mengenal siapa mama? Mungkinkah mama memanjakanku. Mama selalu mendidikku dengan kodrat sebagai wanita. Agar kelak aku bisa melakukan semua tugasku!" Ujar Farah, Vika seketika menunduk.


Vika merasa bersalah telah meragukan Farah. Vika merasa malu dengan pikiran kotornya. Vika sempat berpikir, Farah takkan bisa melakukan tugasnya sebagai seorang wanita. Dengan lemah yang ada pada diri Farah. Sangat tidak mungkin Farah melakukan pekerjaan seorang wanita.


"Kenapa tante diam? Tante tak percaya dengan kemampuanku. Tante merasa heran, karena aku bisa melakukan semua ini!"


"Maafkan tante, maaf!" Ujar Vika lirih, Farah menggeleng lemah.


Farah berjalan menuju meja makan. Dengan tertatih dan menahan sakit. Farah meletakkan masakannya di atas meja makan. Farah menyiapkan meja makan. Farah sengaja tidak tidur setelah sholat tahajud. Farah berencana menyiapkan sarapan untuk semua orang. Terutama Vira sang ibu yang selalu mendukung dan percaya akan kemampuan Farah sebagai seorang wanita.


"Silahkan duduk tante Vika!" Pinta Farah, sembari menggeser kursi untuk Vika.


Farah duduk tepat di depan Vika. Setelah mengambilkan makanan untuk Vika. Farah mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Farah dan Vika hanya berdua di atas meja makan. Semua orang belum turun untuk sarapan. Namun Farah sudah meminta bik Inah memanggil semua orang, termasuk Bayu yang menginap. Farah tak mengetahui, jika Bayu tengah menginap di rumahnya.


"Maafkan tante!" Ujar Vika lirih, kepalanya menunduk malu. Vika merasa bersalah telah berpikir Farah lemah tak berdaya.


"Tante tidak perlu meminta maaf. Bukan hanya tante yang meragukanku. Semua orang akan berpikir sama tentangku. Fisik yang lemah, kaki yang lumpuh. Jelas takkan mampu menjadi wanita sempurna. Namun mereka lupa, jika aku memiliki ibu yang sempurna. Dia yang menjadi kaki untukku melangkah, tangan untuk menggenggap, mata untuk menatap dunia, telinga untuk mengerti arti hidup. Mama yang mengajarkan semua hal padaku!"


"Farah, maaf!"


"Tante tidak salah, seandainya tanpa mama aku akan tiada. Bukankah om Arif sudah mengatakannya semalam. Aku harus kuat, aku tidak boleh menjadi beban orang tua. Alasan itu yang membuatku menunjukkan semua ini. Bukan untuk membenarkan diri, jika aku mampu dan tak selemah itu. Namun aku melakukan semua ini. Agar kalian yang meragukanku melihat, mama tidak gagal mendidikku. Dia mampu menopang tubuhku tanpa seorang suami. Mama membesarkanku tanpa keluarga. Mama membuatku bangkit, setidaknya aku ikhlas menerima semua ini!" Ujar Farah lantang, Vika semakin menunduk.


Cup


Satu kecupan manis mendarat di puncak kepala Farah. Vira mencium lembut dan hangat puncak kepala Farah. Vira merasa bangga, mendengar putrinya begitu menghormatinya. Vira merasa beruntung bertemu dengan Farah. Alasan hidup dan semangat Vira dalam melangkah. Pelita dalam gelap dan sunyi hatinya.


"Mama sayang Farah!" Ujar Vira sesaat setelah mengecup lembut puncak kepala Farah.


"Aku juga!" sahut Farah lembut.


Vika semakin menunduk, sendok yang dipegangnya terlepas. Suara nyaring sendok, seketika mengalihkan perhatian Vira dan Farah. Vira menoleh ke arah Vika. Nampak Vika menunduk, suara isak tangis yang tertahan. Semakin membuat Vira heran, Farah menatap Vika dengan ketulusan seorang keponakan. Vira mendekati Vika, dengan lembut Vira menggenggam tangan Vika.


"Ada apa? Katakan pada kakak?"

__ADS_1


"Maaf, maafkan Vira dan kak Arif!"


"Untuk!" Ujar Vira berpura-pura tak mengerti.


Vira jelas mengetahui alasan diam Vika. Kata maaf yang terucap dari bibir Vika keluar bukan tanpa sebab. Vika menangis, tetesan air matanya jatuh membasahi makanan di depannya. Vira menghampiri Vika, dengan lembut Vira mendekap kepala Vika. Vira membelai lembut kepala Vika yang tertutup hijab. Vira membiarkan Vira menangis dalam dekapannya. Vira mengingat kejadian semalam, perdebatan yang terjadi tanpa bisa dihalangi. Ketidaksengajaan Arif, menjadi pemicu pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi.


FLASH BACK


"Vika, maafkan aku. Tak ada maksudku menghina atau merendahkan Farah. Entah kenapa aku merasa marah? Ketika melihat sikap dingin Farah pada tante Melda. Percayalah, aku tak pernah terbebani dengan kehadiran Farah!" Ujar Arif menjelaskan, Vika diam menatap punggung Bayu yang menjauh.


"Vika, jangan salahkan Arif. Dia hanya emosi sesaat. Arif merasa marah, karena melihat mama yang lemah. Kasih sayangnya yang akhirnya membuat Arif menyalahkan Farah!" Ujar Fariz lirih.


"Kasih sayang yang sama pada Farah. Alasanku kecewa pada kak Arif. Sejak dulu bahkan jauh sebelum pernikahan kami. Dia mengetahui, betapa kejinya keluarga kakak. Mereka menghancurkan ketenangan dan kebahagian keluarga kecilku. Hanya demi ambisi memiliki mendapatkan menantu yang sempurna. Jika malam ini kak Arif marah melihat sakit tante Melda. Lalu bagaimana denganku yang terpisah bertahun-tahun dengan kak Vira? Apa kak Arif buta? Sampai dia tak melihat air mataku. Apa telinganya tuli? Sehingga dia tak mendengar isak tangisku. Mungkinkah hatinya mati? Sehingga dia tak merasakan sakit hatiku. Sekarang jika aku boleh bertanya, siapa yang jauh lebih terluka dan pantas marah? Aku yang bertahun-tahun terpisah dan melihat sakit kak Vira? Atau kak Arif yang baru sekali melihat luka tante Melda? Tanyakan itu pada hati kalian, agar kalian menyadari keluargaku yang lemah atau keluarga kalian yang terlalu keji!" Tutur Vika.


"Sayang!" Ujar Arif penuh rasa bersalah, Vika menggeleng lemah.


"Kak Arif, jangan pernah salah menilai diamku!" Ujar Vika dingin.


Vika berjalan menghampiri Fatih yang tengah berdiri mematung menatap punggung Bayu. Tatapan Fatih seolah mengantar sahabatnya mengantar Farah menuju kamarnya. Fatih hanya bisa terdiam. Bukan tak ingin membela Farah, tapi hatinya terlalu sakit. Ketika menyadari, Arif menjadi orang pertama yang menganggap Farah beban. Seorang paman yang dianggapnya seperti seorang ayah. Dengan lugas mengatakan, lemah adiknya tak harus bergantung padamu. Fatih kecewa pada Arif. Dia marah, Fatih terluka mendengar tiap kata yang keluar dari bibir Arif.


"Lihatlah dia kak, Fatih putra yang telah kita besarkan selama ini. Dia bukan hanya keponakan bagi kita. Dia sudah seperti putra yang lahir dari rahimku. Dia bak pelita dalam gelap tahun-tahun pertama pernikahan kita. Setiap tangisnya dulu, bak belati tajam yang menusuk hati kita. Setiap tawanya, menjadi pelita yang menerangi hari kita. Kini lihat dengan hatimu, dia hancur mendengar perkataanmu. Sadarilah tiap katamu membuat sayatan tipis di hatinya. Adik kandungnya begitu hina dalam pikirmu!" Ujar Vika, tangan Vika menggenggam erat tangan Fatih. Wajah Fatih tertunduk, sakit hatinya tak lagi bisa disembuyikan. Vika mencoba menenangkan Fatih.


"Aku tak bermaksud melukai Fatih. Sumpah Vika, aku tidak sengaja mengatakan semua itu!" Ujar Arif lantang, Vika menunduk. Seakan tak ada kata yang mampu membenarkan sikap Arif. Vika merasa tak pantas memaafkan, tapi menganggap Arif tak bersalah. Sungguh akan melukai hati Vika.


"Sejak awal kamu tak berniat melukai Fatih. Namun perkataan tak sengajamu, seolah ingin menunjukkan kejujuran hatimu. Jika sampai kapanpun? Kakak keturunan keluarga Atmaja yang akan selalu merendahkan keluargaku!" Ujar Vika lugas, Arif mendekat ke arah Vika. Dengan tatapan sendu, Arif mengunci wajah Vika yang terluka. Vika benar-benar tersakiti dengan perkataan Arif. Vika merasa tak mampu membalas tatapan Arif dengan kehangatan dan cinta tulusnya.


"Aku memang salah, berpikir kakak akan menganggap keluargaku bagian dari hidupmu. Namun tetap saja, kakak akan membela mereka. Sejujurnya sikap yang sama bisa dilakukan Fatih demi adiknya. Namun lihatlah Fatihku hanya diam melihat Farah terhina. Bukan Fatih tak mampu membela Farah, tapi Fatih menghormati dirimu. Fatih putra kak Vira, dia tidak akan bersikap tak pantas pada orang yang lebih tua!" Ujar Vika dingin, Arif diam lesu. Fatih berjalan menjauh dari Vika.


"Fatih, kamu tidak ingin menyapa oma!" Panggil Melda, Fatih menghentikan langkahnya. Fatih diam mematung, Melda mulai merasakan sepi tanpa Fatih dan Farah. Wajah kedua cucu yang mengingatnya akan ketampanan Azzam putra kebanggannya.


"Sejak kapan anda ingin bertemu denganku? Bukankah selama ini anda baik-baik saja tanpa mengenalku!" Ujar Fatih dingin tanpa menoleh ke arah Melda. Fatih berjalan menuju kamarnya. Arif menatap nanar Fatih, sikapnya benar-benar melukai Fatih putranya.


"Fatih, ini oma Melda!" Teriak Melda, Fatih tak menggubris. Dia tetap melangkah tegap menuju kamarnya. Fatih meninggalkan Bayu bersama Vika. Sejenak Fatih lupa akan kehadiran sahabatnya. Bayu menyadari alasan sikap acuh Fatih sahabatnya.


"Tante Vika, Bayu pamit pulang!" Ujar Bayu ramah, Vika menoleh seraya menggelengkan kepala lemah.


"Bayu tinggallah, temani Fatih. Hatinya hancur, dia butuh teman untuk bercerita!" Ujar Vika, Bayu mengangguk lalu meninggalkan Vika bersama para tamunya.


FLASH BACK OFF


"Menangislah Vika, kakak ada untukmu!" Ujar Vira lirih, Vika memeluk erat tubuh sang kakak.


Pertengkaran Vika dan Arif tak dapat dielak. Keraguan Arif akan Farah, memicu rasa kecewa Vika. Pertama kalinya Vika begitu kecewa dengan Arif. Seolah tak ada lagi kata maaf untuk Arif. Apalagi pagi ini Farah membuktikan pada semua orang. Jika Farah tak selemah itu. Farah mampu mandiri di atas kedua kakinya sendiri. Vika semakin tertekan dengan kenyataan, bahkan Arif telah salah menilai Farah. Sejak semalam, Vika dan Arif tak saling bertemu. Vika meminta waktu pada Arif untuk sendiri. Alasan yang membuat Vika semakin hancur.


Hiks Hiks Hiks


"Kenapa kak?" Ujar Vika lirih, Vira diam tak menyahuti perkataan Vika. Dengan lembut penuh kasih sayang. Vira membelai kepala Vika, Vira mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Vika. Adik yang butuh dirinya sebagai sandaran.

__ADS_1


"Kenapa kita harus mencintai keturunan keluarga Atmaja? kenapa cinta ini ada dihatiku? Jika hanya terasa sakit!" Ujar Vika.


"Karena hatimu yang memilih. Baik Azzam atau Arif, tak pernah bisa memilih lahir dari keluarga Atmaja atau tidak. Seperti hati kita yang tak bisa mengelak akan rasa cinta pada mereka!"


"Bukankah cinta itu bahagia, kenapa sekarang aku menangis?"


"Vika, bahagia dalam cinta bukan hanya tawa. Namun terkadang bahagia itu ada saat kita menangis dan terluka. Saat itulah kita akan menyadari pertemuan. Katakan pada kakak, saat kamu terluka hari ini. Saat kamu menangis, karena hatimu terluka. Hanya satu yang selalu kamu ingat, nama dan tawa Arif!" Tutur Vira, Vika menunduk lemah. Vira tersenyum, lalu dengan penuh kasih sayang. Vira mengangkat wajah Vika yang penuh dengan air mata.


"Vika, rasa sakit dan air matamu. Akan membuatmu sadar, betapa Arif berarti dalam hidupmu? Sejahat apapun Arif, dia orang yang membuatmu selalu bahagia. Tangismu bukan kesedihan semata, tapi bahagia yang tertunda. Sebab dalam tangismu, kamu akan mengingat dalam cintamu pada Arif. Kamu hanya akan mengingat namanya. Kamu menangis, karena merindukannya. Jadi tangismu menjadi bahagiamu. Ketika pertengkaran menjadi pemisah!"


"Kak Arif jahat!"


"Dia tidak jahat Vika, hampir dua puluh tahun kalian bersama. Selama itu pula tak pernah sekalipun Arif menyakitimu. Dia yang selalu ada untukmu!"


"Tapi!"


"Pernikahan bukan ajang permaianan. Satu kata dalam ijab qobul, mengantarkan kalian pada masa saling menghargai!"


"Kakak!" Ujar Vika lalu memeluk Vira.


"Hadapi dengan kepala dingin, tak perlu emosi!" Ujar Vira final. Vika nampak mulai tenang, Farah hanya diam menyimak. Tak ada hak dan kewajiban Farah ikut campur urusan Vika.


"Pagi tante Vira!" Sapa Bayu ramah.


"Dia ada di rumahku. Jadi semalam dia menginap, artinya aku dan dia tinggal di bawah satu atap yang sama!" Batin Farah kesal, Farah cepat-cepat menghabiskan makananya. Farah ingin segera kembali ke kamarnya. Farah tak ingin melihat Bayu. Sejak semalam Farah kesal, apalagi saat Bayu memaksa menggendongnya sampai ke kamar.


"Bayu, sarapan bersama!"


"Terima kasih tante, Bayu ada rapat sebentar lagi. Bayu bisa sarapan di kantor!"


"Tunggu Bayu, Farah sudah memasak sarapan untuk semua orang. Mubazir kalau tidak habis. Tante akan meminta Farah membuatkan bekal untukmu!"


Gleekkkk


"Kenapa Farah?"


"Apa harus mama?" Sahut Vira, seketika Farah berjalan tertatih menuji dapur. Vira mengambil kotak makan untuk Bayu.


"Ini sarapanmu, kalau tidak suka. Berikan pada orang lain, jangan dibuang!" Ujar Farah dingin sembari memberikan kotak makan pada Farah.


"Terima kasih!"


"Hmmm!" Sahut Farah dingin.


"Tentu tidak akan dia buang, dimakan saja belum tentu dia rela!" Goda Fatih, Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Diam kamu Fatih!" Sahut Bayu malu.

__ADS_1


__ADS_2