
Johan yang melihat Albirru hendak meninggalkan ruangan pun bergegas mendekati sang atasan.
"Maaf, Tuan. Karena pertemuan ini diadakan secara dadakan dan di jam kerja, mungkin saja mereka sedang menyelesaikan tugas mereka tadi. Tolong beri mereka kesempatan sekali saja, Tuan." Ucap Johan berusaha mempertahankan karyawan terbaik di perusahaannya.
Albirru hanya menatap tajam Johan, lalu mengalihkan pandangannya kepada semua karyawannya.
"Kejadian ini hanya untuk sekali ini saja! Tidak ada yang kedua kalinya. Kalian semua paham?!" Ucap Albirru dengan tegas sambil menatap semua karyawannya yang masih menunduk.
"Bawa orang itu, masuk sekarang!" Ucap Albirru kepada Johan, lalu dirinya pun kembali duduk. Semua orang yang melihat Albirru duduk pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Albirru.
Johan segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang atasan, lalu segera kembali setelah memanggil tersangka. Albirru menatap dengan intens seorang pria berjas hitam yang berjalan mendekatinya.
Orang yang sudah dapat menebak apa yang akan terjadi padanya pun berjalan cepat mendekati Albirru dan hendak bersimpuh di kaki Albirru. Belum sempat dia berlutut, Albirru sudah mengangkat sebelah tangannya dan memundurkan kursinya.
"Jabarkan semua data seharusnya dan apa saja kesalahannya!" Nada bariton Albirru sudah menggema di ruangan tersebut. Dengan segera, Johan memberi kode kepada karyawannya untuk segera melaksanakan apa yang Albirru katakan.
Terdengar seorang perempuan berwajah tegas membacakan apa yang Albirru perintah, mata tajam Albirru sedari tadi hanyalah menatap seorang laki-laki yang masih setia duduk dilantai dengan pandangan tertunduk itu.
Pertemuan yang Albirru kira akan sebentar pun terganti dengan pertemuan yang sangat lama. Tak terhitung berapa kali laki-laki yang menjadi tersangka menyangkal apa yang sang wanita katakan.
Tak ayal, semua karyawan yang berada di ruangan tersebut pun ikut menimpali apa yang seharusnya laki-laki tersebut dapatkan. Terjadi saling salah menyalahkan antara mereka.
Sampai tak terasa, satu jam pun telah berlalu.
__ADS_1
Jazira yang masih terpejam pun terbangun karena dia merasakan hawa panas disekujur tubuhnya. Keringat menetes di dahi serta lehernya. Jazira mengipaskan tangannya ke bagian wajahnya.
Dengan cepat, Jazira pun membuka matanya dan mulai bangun dari posisi tidurnya. Jazira meyibakkan rambutnya kebelakang dan kembali mengipasi badannya. Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu yang dapat mendinginkan badannya.
Jazira yang melihat remote AC pun berjalan cepat mendekati nakas yang berada disebelah lemari berbahan dasar jati tersebut. Dengan tangan kirinya, Jazira menekan tombol on di remote tersebut dan memilih suhu terdingin yang tertera di remote AC tersebut.
Setelah mulai merasakan dinginnya AC, Jazira mulai bernapas dengan lega dan mengelap keringat yang berada di pelipis dan lehernya.
"Mengapa ruangan ini tak memiliki jendela? Ada ventilasi pun ditutup. Hah, kenapa ini masih panas!" Ucap Jazira sambil mengipaskan tangannya dibagian leher serta wajahnya. Dia berjalan kesana kemari seperti setrikaan untuk mendinginkan suhu tubuhnya.
Jazira pun berjalan mengelilingi kamar istirahat milik Albirru. Perlahan dia mulai membuka pintu tinggi yang berada di sudut ruangan, ternyata itu adalah sebuah kamar mandi.
Seketika Jazira pun tersenyum senang lalu mengalihkan pandangannya menuju lemari pakaian milik Albirru. Setelah membuka kuncinya, Jazira pun membuka lemari tersebut.
Jazira tersenyum lebar ketika melihat handuk serta kemeja besar milik Albirru. Dengan cepat, Jazira pun mengambilnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Apakah Tuan Muda itu akan membiarkan aku memakai bajunya? Bagaimana jika aku harus mengganti pakaiannya? Ah sudahlah, lebih baik aku mandi sekarang. Mau bagaimana lagi? Baju ini sudah seperti kain tisu yang terkena air. Dasar baju rumah sakit!" Ucap Jazira dongkol sambil membuka baju dengan model daster tersebut.
"Akh! Aku lupa! Bahuku..." Ucap Jazira berteriak kesakitan lalu mengelus perlahan bahu sebelah kanannya. Jazira yang awalnya berniat untuk mandi pun seketika menghilangkan pikiran konyolnya itu.
"Hiks... hiks... hiks. Kenapa kau sangat bodoh, Zi?! Apakah kau lupa, bahwa bahumu sedang terluka?" Ucap Jazira memarahi dirinya sendiri.
Masih dengan isak tangisnya, Jazira segera membuka daster tersebut dan mulai memakai kemeja kedodoran milik Albirru. Setelah perjuangannya dalam memakai kemeja dengan susah payah, Jazira pun menghirup nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Apakah orang itu raksasa? Kemeja nya saja sudah sampai lututku. Apakah dia memang penyuka baju oversize? Haih, bersyukur saja karena ada baju untuk ganti Zi." Ucap Jazira sambil berjalan keluar kamar mandi.
Betapa terkejutnya dia karena suhu kamar milik Albirru sangatlah dingin, apalagi kaki jenjang nya yang terekspos bebas tanpa celana itu. Dengan cepat Jazira mendekati nakas dan mematikan AC nya. Karena tak ingin mati kedinginan, Jazira pun berjalan keluar kamar.
Jazira ternganga karena melihat ruangan rapi beraroma maskulin milik Albirru. Setelah menyibakkan rambutnya kebelakang, Jazira melangkah memutari ruang kerja milik Albirru.
"Apakah ini benar ruang kerja? Ini sangatlah mewah! Ruang kerja milik Ayah pun tak sebagus ini. Berapa uang milik Tuan Albirru? Pasti sangatlah banyak, Zi. Ku yakin, pasti lukisan ini jika dijual akan menghasilkan uang." Gumam Jazira sambil mendongakkan kepala untuk menatap lukisan milik Albirru.
Setelahnya, Jazira berjalan menuju tempat favorit milik Albirru. Ya, Albirru dan Jazira sama-sama menyukai jendela besar.
Jazira pun melongokkan kepalanya di depan jendela besar yang berada di belakang meja kerja milik Albirru. Jazira terperanga karena dia dapat melihat sebagian kota melalui jendela besar ini.
Jazira menarik nafanya panjang-panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Tiba-tiba saja dia teringat kepada sang Ibu.
"Zizi kangen sama Ibu, Ibu tahu? Mungkin sebentar lagi Ibu akan memiliki menantu. Ibu senang bukan? Tapi Zizi minta maaf, karena menantu Ibu hanya akan bertahan selama sepuluh bulan. Apakah ini sudah benar, Bu?" Gumam Jazira sambil membayangkan masa-masa indahnya bersama sang Ibu.
Tak ingin berlarut-larut, Jazira pun berjalan mendekati meja kerja milik Albirru.
Satu benda yang menjadi fokus utama dari Jazira. Dengan perlahan, Jazira mengambil bingkai dengan potret sepasang laki-laki dan perempuan itu. Entah mengapa, jantungnya berdebar dengan sangat cepat ketika melihat Albirru merangkul wanita didalam foto itu.
"Wanita ini sangatlah cantik. Apakah dia kekasih dari Tuan Albirru?" Ucap Jazira sambil berbalik badan, namun dirinya terkejut bukan main ketika dia menubruk badan seseorang.
Bugh!
__ADS_1
"Astaga! Kenapa kau datang tiba-tiba hah?!" Teriak Jazira sambil menutup mulutnya karena bingkai berkaca tersebut jatuh. Jazira masih tak menyadari siapa yang dia tabrak, dia masih memunguti kaca yang jatuh.
"Apa yang kau lakukan disini?!" Ucap Seseorang yang membuat Jazira menghentikan gerakan tangannya.