ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 104


__ADS_3

Jazira yang sejak beberapa saat lalu telah berada di ruangan laktasi tersebut pun semakin tegang. Pasalnya setelah mendengarkan bagaimana penjelasan dokter perempuan yang menanganinya, dirinya sedikit ketakutan. Namun, ketika mengingat bahwa sang putri lebih membutuhkan pun membuatnya harus yakin.


Menurut Jazira, metode ini tak jauh berbeda seperti saat dirinya melakukan pompa ASI tempo hari. Tetapi dokter tersebut mengatakan bahwa alat ini merupakan alat terbaru dan yang paling berhasil di rumah sakit tersebut. Sontak Jazira pun tak ingin meragukan hasilnya.


Akhirnya Jazira pun mengikuti semua langkah yang sang dokter dan perawat berikan. Meskipun selama proses pengeluaran asi nya, Jazira merasa kesakitan dan tak ada yang dapat dia jadikan sebagai lampiasan kesakitannya selain kasur brangkarnya.


"Tahan ya Nyonya, saya yakin metode ini akan berhasil. Ada baby Arasa yang menunggu kabar bahagia ini," ujar sang dokter yang membuat semangat Jazira kembali muncul di permukaan. Jazira pun berusaha sekuat tenaga agar tak menyerah.


Hingga tak lama setelah proses yang sedikit menyakitkan untuk Jazira itu, dapat Jazira rasakan setetes air keluar dari bagian utama kedua buah dadanya itu. Dibarengi dengan air matanya, sang dokter dan beberapa perawat itu mengucap syukur tatkala melihat ASI milik Jazira telah keluar.


"Syukurlah, selamat Nyonya Jazira!" seru dokter yang sedari tadi membantu proses laktasi Jazira. Jazira yang mendengar ucapan dari sang dokter pun terkejut dengan jantung yang berdegub dengan sangat kencang.


Jazira sama sekali tak dapat berkata-kata. Wanita itu merasakan lidahnya sangat kelu saat ini, yang dia inginkan saat ini hanyalah sang putri. Air mata kebahagiaan yang selama ini dia tunggu pun luruh begitu saja membanjiri kedua pipinya yang mulai memerah.


"Saya mau Arasa, tolong bawa saya kepada Arasa," ujar Jazira dengan air mata yang belum kunjung reda. Ada rasa bahagia yang membuncah di hati ibu muda tersebut. Perawat yang emang sejak kemarin berada di sisi Jazira pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Dok. Saya akan membayar sangat mahal untuk hadiah terindah ini. Nanti sekertaris saya akan segera menghubungi Anda dan para perawat yang ada disini," ujar Jazira dengan haru yang membuat dokter tersebut sedikit terkejut. Tak hanya sang dokter, para perawat pun ikut terkejut.


Belum reda semua keterkejutan mereka yang ada di ruangan tersebut, bahkan ibu muda yang tengah merasakan kebahagiaannya untuk sang putr itu pun lebih dibuat terkejut oleh kabar yang diberikan oleh salah seorang perawat yang berbeda.


"Maaf Nyonya, keadaan Nona Arasa sedang kritis. Nona Arasa kini tengah berada di ruang UGD!" seru seorang perawat dengan cepol rambut bawahnya yang membuat Jazira membelalakkan matanya.


"Apa?! Tolong jangan bercanda! Bagaimana hal ini bisa terjadi?!" pekik Jazira dengan panik nya yang membuat para perawat yang berjaga sedikit terkejut. Tanpa aba-aba, ibu muda tersebut segera turun dari brangkar dan melepas selang infusnya dengan tiba-tiba.


"Nyonya Jazira!" seru seorang perawat yang berada tak jauh dari posisi Jazira yang membuat semua perawat serta dokter yang membantu Jazira mengeluarkan ASI nya itu terkejut bukan main.


Air mata Jazira terus menetes saat telinganya mendengar ucapan dari sang perawat yang mengatakan bahwa sang anak tengah kritis saat ini. Bahkan baru tadi dirinya meminta pada sang putri untuk baik-baik saja, tapi kini dirinya dibuat terkejut oleh kejutan yang dibuat oleh sang putri.


Perawat yang memang bertugas untuk menjaga Jazira pun terus mengikuti langkah random milik ibu muda yang terus saja berjalan menuju ruang UGD rumah sakit tersebut.


Hingga setelah melewati beberapa lorong dan turun ke lantai bawahnya menggunakan lift, akhirnya Jazira telah tiba di depan ruang UGD yang kini tengah tertutup rapat. Wanita itu mencoba berjinjit untuk melihat bagaimana kondisi di dalam dengan rasa sakit yang mendera bagian perutnya.

__ADS_1


"Arasa, jangan tinggalkan Mama, Nak. Mama bawakan ASI untuk Arasa," lirih Jazira dengan air mata yang terus menetes di kedua pipinya. Sementara perawat yang sedikit kewalahan dalam mengejar Jazira pun telah tiba di sisi Jazira.


"Nyonya Jazira, saya harap Anda tenang terlebih dahulu. Kita berdoa semoga saja baby Arasa akan baik-baik saja," ujar sang perawat yang berdiri tepat di sebelah Jazira.


"Kau hilang aku harus tenang?! Anak ku tengah berjuang sendirian di dalam sana, dan kau memintaku untuk tenang?! Wanita macam apa kau yang tak merasakan bagaimana khawatirnya seorang ibu pada anak yang membutuhkan perawatan intensif!" seru Jazira dengan amarahnya sembari mendorong tubuh sang perawat.


Jazira pun menggelengkan kepalanya sembari menekuk kedua lututnya, tubuh gadis itu luruh ke atas lantai dengan tangis yang tak kunjung reda. Tak hanya bagian bawah perut dan tangannya, kini Jazira merasakan sebuah hantaman besar yang datang menghampirinya saat tahu bahwa dunianya kini tengah tak baik-baik saja.


Hingga tiba-tiba pintu ruang UGD pun terbuka yang membuat Jazira mendongakkan kepalanya. Perawat tadi pun segera membantu Jazira untuk bangun dan mendengarkan apa yang sang dokter katakan.


Jazira telah berharap lebih dengan apa yang sang dokter akan katakan. Hingga tiba dimana dirinya merasakan pukulan hebat yang tak kasat mata menjauhi tubuhnya tatkala mendengar ucapan dari sang dokter.


Air mata Jazira kembali luruh dengan perasaan kecewa yang menyelimuti dirinya kali ini.


Setiap selesai mengetik, Kayenna akan segera up ya Mam semua. Jadi kalau ada notif baru lagi dari Jazira dapat dipastikan bahwa itu ada notifikasi bab baru🌹

__ADS_1


__ADS_2