ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 106


__ADS_3

Marcel, laki-laki tampan dengan pakaian casual itu berjalan mendekati brangkar dimana keponakan cantiknya telah terbaring tanpa nyawa. Tatapannya sempat tertuju pada sang adik serta Jingga yang tengah menangis diatas lantai.


Dengan berbesar hatinya laki-laki itu berjalan melewati dua wanita yang selalu dia jaga itu dan dengan tatapan yang masih tertuju pada Arasa, keponakan kecilnya yang terlihat sangat cantik meskipun kini telah tak bernafas.


Perlahan kedua tangan kekar laki-laki itu terulur menuju tubuh mungil milik Arasa dan menggendongnya dengan perasaan yang sungguh sangat berat.


Iris mata yang indah milik laki-laki tampan itu menelisik wajah ayu milik Arasa yang kini mulai memucat. Sembari memejamkan matanya, laki-laki itu memajukan wajahnya mendekat kepada Arasa lalu mengecup pipi milik Arasa dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih karena sempat bertahan sayangnya uncle, selamat jalan. Tenang disana ya, Nak," bisik Marcel kepada sang keponakan yang membuat kedua wanita yang masih menangis itu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah pria yang tengah berduka itu.


Jazira pun melepaskan pelukan nya dari sang adik ipar yang membuat gadis cantik yang baru saja sembuh dari sakitnya itu menatap wajah ayu milik sang kakak ipar.


Tangan mungil milik Jazira pun terulur menuju pipi putih milik Jazira dan mengelusnya dengan perlahan untuk menghapus air mata milik sang kakak yang masih saja mengalir.


"Ikhlaskan Arasa ya, Kak. Biarkan dia pergi dengan tenang, bahkan Tuhan pun lebih menyayanginya. Sekarang pun Arasa tak lagi merasa kesakitan, sakitnya telah pergi beriringan dengan dirinya yang kembali ke pangkuan pemiliknya," ujar Jingga sembari menatap lurus kepada sang kakak.


Dengan tatapan kosongnya, Jazira mengalihkan pandangannya dari sang kakak tiri kepada sang adik ipar. Air matanya kembali menetes saat menatap wajah milik Jingga yang sangat mirip dengan Albirru itu.


"Maafin Kak Zizi, Ngga. Semua ini terjadi karena salah Kak Zizi. Bahkan Arasa pergi pun semua itu karena Kak Zizi," ujar Jazira dengan berlinang air mata kepada sang adik yang membuat Jingga segera menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini semua bukan salah Kak Zizi, ini semua sudah menjadi takdir yang harus Kak Zizi jalani. Yang harus Kak Zizi lakukan sekarang adalah berusaha ikhlas dan menerima apa yang telah menjadi jalan hidup nya Kak Zizi. Berterima Kasih lah kepada Arasa karena dengan adanya Arasa Kak Zizi bisa merasakan bagaimana sakitnya saat mengandung dan melahirkan," ujar Jingga sembari menatap penuh harap kepada kakak iparnya yang telah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.


"Kak Zizi takut," ujar Jazira lirih sembari menatap penuh ragu kepada sang adik ipar. Jingga pun mengernyitkan dahinya bingung sembari menggenggam tangan milik kakak iparnya.


"Takut apa, Kak? Cerita sama Jingga," tanya Jingga karena merasa penasaran dengan apa yang ditakutkan oleh sang kakak ipar. Jazira kembali menggelengkan kepalanya saat menatap jenazah sang anak yang masih berada dalam gendongan sang kakak tiri.


"Nyonya, lebih baik kita segera bersihkan jenazah baby Arasa ya? Supaya proses pemakamannya segera terlaksana," ujar salah satu perawat yang tadi membantu dokter untuk memberikan pertolongan darurat pada Arasa.


Jazira pun menatap jenazah sang putri dengan tatapan tak rela nya. Namun, Jingga yang tahu bahwa apa yang sang suster ucapkan adalah benar pun segera menganggukkan kepalanya dan mulai membantu agar wanita yang masih mengenakan pakaian rumah sakit itu berdiri.


Jazira sama sekali tak menolak dengan apa yang dilakukan oleh Jingga. Jazira kembali melipat bibirnya kedalam saat merasakan bahwa area bekas operasinya terasa nyeri.


"Kak Zizi pasti kuat," ujar Jingga menyemangati sang kakak ipar yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya. Jingga pun menolehkan kepalanya menuju Marcel yang tengah menatap keduanya lengkap dengan Arasa yang telah tertidur tenang untuk selamanya di gendongannya.


Jingga memberi isyarat kepada laki-laki yang kini memenuhi ruang hatinya untuk mendekat kepada dirinya dan Jazira. Marcel yang paham pun segera menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati kedua wanita yang selalu dia jaga.


Tubuh Jazira kembali bergetar dengan hebat saat melihat jenazah sang putri yang berjalan kian mendekat. Tangis Jazira pun kembali pecah saat Marcel mulai mengulurkan tubuh mungil milik Arasa ke hadapannya.


"Kak Zizi nggak bisa, Ngga," lirih Jazira sembari menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari jenazah sang putri. Namun, Jingga segera meyakinkan sang kakak bahwa Jazira harus bisa melakukan hal tersebut. Karena mau dibuat seperti apa pun, Arasa harus segera dimakamkan.

__ADS_1


"Kasian Arasa, Kak. Dia layak dimakamkan dengan proper dan tepat waktu. Jangan buat Arasa kesusahan, Kak," jawab Jingga disertai permintaan agar sang kakak segera melakukan apa yang sang perawat minta.


Setelah memejamkan matanya sembari mencari kekuatan dari dalam dirinya, Jazira pun menganggukkan kepalanya dan kembali menatap sang putri. Perlahan Jingga pun mulai melepaskan pegangan tangannya dari sang kakak dan mengarahkan kedua lengan mungil milik sang kakak kearah datangnya Arasa.


"Kamu pasti bisa, Zi." Marcel memberikan support kepada sang adik yang dia tahu pasti kini sang adik tiri tengah terguncang perasaannya. Marcel pun memberikan Arasa ke dekapan sang adik tiri yang terlihat sangat ketakutan.


"Arasa," lirih Jazira dengan air mata yang kembali menetes. Wanita itu pun memeluk tubuh sang anak yang sangat kecil dengan tangis nya yang sesenggukan.


"Maafkan Mama, Nak. Semua ini salah Mama," ujar Jazira sembari mengecup puncak kepala milik sang putri. Wanita itu pun memejamkan matanya sembari memikirkan gambaran masa depannya yang mulai memudar.


"Kita mandi kan Arasa sekarang yuk, Kak? Kita semua ada di samping Kak Zizi," ujar Jingga yang membuat Jazira membuka matanya. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya dan mulai membawa Arasa ke gendongannya.


Jazira mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang UGD. Dirinya baru tersadar bahwa ada banyak orang sekarang. Dirinya juga baru tersadar bahwa masih banyak orang yang peduli dengan dirinya. Mata Jazira tak berhenti memyapukan pandangannya ke sekeliling ruang UGD, ya dirinya tengah mencari keberadaan sang suami.


Marcel masih menatap bayi yang ada di dalam gendongan Jazira itu hingga tiba dimana seorang perawat yang datang dari luar ruang UGD. Perawat tersebut berjalan mendekati Jazira yang masih berada di dekat Jingga dan membisikkan sesuatu yang membuat Jazira menolehkan kepalanya.


"Permisi Nyonya Jazira, ada Tuan Albirru yang tengah menanyakan dimana keberadaan Anda dan baby Arasa. Apakah beliau boleh masuk, Nyonya?" ujar sang perawat sembari menundukkan kepalanya disebelah Jazira yang terkejut saat mendengar ucapan dari sang perawat.


Jazira segera menolehkan kepalanya ke samping dan kembali menatap sang adik yang kini menganggukkan kepalanya seolah mengatakan bahwa sang suami harus tahu bahwa sang anak telah tiada. Bukankah memang harus seperti itu?

__ADS_1


"Biarkan saja dia masuk, Sus. Dia harus tahu bahwa putri nya telah tiada," ujar Jingga kepada sang suster yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.


__ADS_2