ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 39


__ADS_3

Mau cerita ini tetep LANJUT dan TAMAT DISINI nggak? Kalau iya, tulis kesan pesan serta harapan Mam Mam semua supaya tulisan ini nggak jadi dipindah ya.


Semakin banyak yang komen dan menginginkan cerita ini nggak jadi dipindah, Kayenna akan lanjut disini. SAMPAI TAMAT.


"Lepaskan aku! Dasar pria bre*gsek!" teriak Jazira sambil mendorong keras tubuh kekar sang suami.


"Jangan sekalipun kau sentuh tubuhku dengan tangamu itu! Aku membencimu!" bentak Jazira sambil melemparkan testpack serta foto hasil USG milik Larina.


Jazira bangkit dari jatuhnya dan berjalan cepat meninggalkan lelaki yang telah gagal membuktikan perkataannya serta wanita licik yang selalu berusaha memisahkan dirinya dan sang suami.


"Maira!" teriak Albirru lalu berjalan cepat mengikuti sang istri yang memasuki kamar yang berada di lantai bawah rumah mereka.


Albirru terlambat, Jazira lebih dulu mengunci pintunya dari dalam. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa menekuk kedua lututnya di depan pintu kamarnya, mengharap agar Jazira membukakan pintu untuk dirinya.


"Buka pintunya, Ra! Aku bisa jelasin semua ke kamu. Kita juga bisa bawa wanita licik itu ke dokter. Aku bisa pastiin kalau itu bukan anakku, Ra!" teriak Albirru sambil memukul pintu kamarnya beberapa kali.


Sakit! Itulah yang tengah Jazira rasakan. Puluhan belati tajam menusuk dadanya secara serempak ketika tahu bahwa sang suami akan memiliki anak dari rahim wanita lain.


Apakah dirinya tak pantas bahagia? Bahkan belum puas Jazira merasakan kebahagiannya, kini dia harus menelan pil pahit karena pernyataan Larina? Seberapa tak beruntungnya dirinya, hingga dia merasa bahwa hidup tak adil pada dirinya.


"Kamu ingkar janji, Mas. Kau bilang akan memperbaiki hubungan kita dari awal bukan?! Kau juga yang memintaku untuk tak meninggalkanmu! Tapi kenapa sekarang seolah olah kau menginginkan aku agar pergi dari hidupmu dan Larina?! Kenapa!" teriak Jazira dengan nada frustasinya sambil meluruhkan badannya ke lantai.


"Aku mohon jangan tinggalin aku, Ra. Aku butuh kamu. Aku butuh support kamu untuk buktiin bahwa itu bukan anak aku, sayang. Percaya sama aku, Ra." imbuh Albirru menambahi perkataan sang istri.


"Mas! Ini adalah benih kamu! Ini anak kita berdua! Kau lupa?! Kita melakukannya atas dasar suka sama suka! Jangan memohon pada wanita tak tahu diuntung seperti dia! Bangun Mas." ucap Larina ikut campur dengan nada sok berkuasanya. Dia menarik lengan kekar milik Albirru yang langsung ditatap tajam oleh Albirru.


Albirru berdiri dengan tegak lalu menampar wajah sombing milik Larina.


"Dasar jal*ng tak tahu diri! Kau lah penyebab istriku seperti ini! Pergi kau dari sini! " bentak Albirru dengan nada tingginya yang membuat Larina terkejut. Jangankan Larina, Jazira pun bahkan ikut terkejut.

__ADS_1


"Jangan pernah tunjukan wajah lo dihadapan gue!" bentak Albirru lagi lalu menyeret dengan kasar Larina hingga keluar dari rumahnya. Jazira sama sekali tak bergerak dari posisinya.


Jazira menggelengkan kepalanya disertai air mata yang terus menetes membasahi pipi putihnya. Albirru yang telah selesai mengeluarkan Larina dari dalam rumahnya pun segera kembali ke depan pintu kamarnya dan sang istri.


"Apakah aku harus menyerah secepat ini? Apa aku salah jika ingin mempertahankan pernikahan kontrak ini? Kau tahu bukan, jika aku mulai membuka hati untukmu? " ucap Jazira dengan tangisannya.


"Kamu nggak salah, sayang. Aku mohon sama kamu, Ra. Kita bertahan dulu ya? Sampai tiba dimana wanita jal*ng itu melahirkan anaknya dan kita tes DNA." jawab Albirru diluar kamar mereka berdua.


"Kau bilang aku harus bertahan selama sembilan bulan kedepan untuk menunggu anakmu dan Larina lahir ke dunia? Jika kau berada di posisiku, apakah kau akan bertahan?!" teriak Jazira dengan suara paraunya.


"Aku tahu akal busukmu itu! Aku yakin setelah anak kalian lahir, kau bisa membuangku begitu saja! Benar bukan?!" bentak Jazira yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya.


"Nggak Ra! Kamu salah paham sama aku. Bukankah aku telah berjanji padamu akan berusaha untuk memperbaiki diriku bukan? Aku tak akan meninggalkanmu, Ra. Aku mencintaimu." tutur Albirru dengan perasaan yang membuncah di dadanya ketika mengatakan bahwa dirinya mencintai sang istri.


Seketika Jazira berhenti menangis, tatapannya tertuju pada pintu yang ada dihadapannya.


"Maira! Jangan berbuat macam-macam! Buka pintunya sekarang, Ra!" bentak Albirru ketika mendengar apa yang Jazira katakan. Jazira berjalan mendekati pintu kamar miliknya dan sang suami lalu membuka pintunya.


Albirru telah bahagia tak terbendung ketika sang istri menuruti perkataannya. Dia hendak mencekal tangan milik gadis dengan mata sembab dan wajah datar. Namun gerakan tangan Jazira menghentikannya.


Jazira segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. Benar bukan? Dia keluar kamar untuk pergi ke kamarnya, dan berniat membereskan pakaiannya. Dia mengalami dejavu kali ini. Bukankah dirinya juga pernah melakukan hal ini tempo hari?


Albirru pun dengan segera mengejar langkah cepat Jazira menuju kamar milik Jazira. Jazira yang tahu jika Albirru mengejarnya pun sama sekali tak menghiraukan suaminya tersebut.


Setibanya di depan pintu kamarnya, Jazira pun segera membuka pintunya dengan kasar lalu segera berjalan mendekati lemari bajunya. Dia mengeluarkan koper dari dalam lemarinya, disusul dengan pakaiannya.


Albirru yang baru tiba di kamar sang istri pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang istri. Albirru berjalan cepat menghampiri Jazira dan segera menarik tangan mungil Jazira yang tengah menata bajunya acak menuju tubuhnya.


Jazira yang tak siap pun jatuh dalam rengkuhan pria yang mengaku telah mencintainya tersebut. Albirru memeluk erat tubuh milik Jazira. Sontak Jazira pun memukul dada milik Albirru keras dan berusaha agar terlepas dari pelukan Albirru.

__ADS_1


"Lepasin Zizi! Jangan sentuh Zizi dengan tangan kotor Mas Birru yang entahlah sudah berapa kali menjamah tubuh Lar-" ucapan Jazira terhenti seketika karena Albirru langsung menyambar bibirnya. Jazira yang terkejut pun membelalakkan matanya.


Jazira menatap netra sang suami yang tertutup lengkap dengan bulu mata panjang yang sangat indah. Jazira masih menutup mulutnya rapat-rapat.


Namun setelah mengingat bahwa bibir yang kini tengah menciumnya tersebut juga pernah mencium bibir Larina membuat Jazira segera mendorong tubuh sang suami dengan kuat.


"Kau benar benar pria yang tak memiliki prinsip! Kenapa Mas memperlakukan Zizi seperti ini, hah?! Apa salah Zizi?! Jangan kau kira jika aku ini istri bayaranmu dan kau bebas melakukan apapun itu padaku! Pergi dan temui ibu dari anakmu itu! Dan biarkan aku pergi dari sini!" teriak Jazira sambil menunjuk sang suami dengan jari telunjuknya setelah Albirru mundur beberapa langkah karena dorongan Jazira.


"Maira, kau salah paham sayang. Jangan tinggalkan Mas sendiri. Kita bisa benahi semua dari awal, kita juga bisa mencari jalan tengah dari semua masalah ini." ucap Albirru mencoba mendekati Jazira.


"Stop! Sudah kubilang bukan?! Jangan dekati aku! Dan apa yang kau bilang? Benahi semua dari awal? Nggak! Aku lelah harus memulai semuanya dari awal lagi. Ingatlah Mas, ini kesempatan keduamu! Aku lelah, dan tak akan ada kesempatan lagi!" larang Jazira agar sang suami tak mendekat.


Albirru berdiri mematung mendengar ucapan sang istri. Tak ada kesempatan lagi untuk dirinya? Tidak! Albirru tak akan membiarkan sang istri pergi dari dirinya.


"Jangan katakan hal itu, Ra! Kau lupa? Kau telah berjanji tak akan meninggalkanku apapun kesalahan yang Mas lakukan! Jangan coba coba untuk mengingkari janjimu, Zi!" ucap Albirru tegas yang membuat Jazira mati kutu.


Sejak kecil, prinsipnya ialah tak akan mengingkari janjinya. Dalam bentuk apapun itu. Persis seperti yang sang Ibu katakann pada dirinya.


"Jadi kau menjebakku dengan janji yang kau ucapkan tadi? Kau sudah tahu jika kekasihmu itu tengah mengandung anakmu? Jadi kau berpura pura memintaku untuk selalu bersamamu dengan berjanji padamu?" tanya Jazira dengan nada datarnya dan tatapan tajam kepada sang suami.


"Bukan seperti itu, Ra. Aku sama sekali tak ingin menjebakmu. Jangan salah paham sama Mas Birru, Ra. Kita bicara baik baik dan memikirkan jalan tengahnya ya, Ra." ajak Albirru yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanar.


"Kau minta jalan tengah bukan? Baiklah akan kuberi solusi untuk masalah kita ini." ucap Jazira dengan senyuman manisnya yang membuat Albirru menghembuskan nafasnya lega.


"Terimakasih sayang, Mas berjanji tak akan membuatmu kecewa lagi. Aku benjanji padamu, Ra." ucap Albirru sambil menggenggam kedua tangan milik Jazira.


Jazira mendongakkan kepalanya dengn dengan setes air mata yang jatuh mengenai pipi putihnya.


"Ceraikan Zizi atau jadikan Larina sebagai istri kedua Mas Birru!"

__ADS_1


__ADS_2