
Jazira yang masih tertidur sedari tadi pun sedikit menggerakkan tubuhnya tatkala merasakan sesuatu di bagian dadanya. Perlahan Jazira pun mulai membuka kelopak mata yang sedari tadi terpejam itu.
Jazira yang baru saja terbangun pun terkejut karena melihat bayi mungil yang tengah asyik mencari dimana nip*le nya berada. Sontak Jazira pun segera menangkap tubuh mungil yang sangat ringkih itu dan membantu Arasa yang masih menangis lirih itu menemukan sumber ASI nya kelak.
"Eh, sayangnya Mama. Kau haus, Nak?" ujar Jazira lirih dengan suara seraknya sembari memeluk tubuh mungil milik sang putri. Albirru yang sedari tadi berdiri di samping brangkar milik Jazira pun segera menundukkan kepalanya untuk mengecup singkat puncak kepala milik istrinya.
"Maaf ya kamu jadi kebangun gini. Tadi Arasa nangis tiba-tiba, udah aku coba kasih susu formula tapi masih nggak mau diem. Kata perawatnya coba aja dibawa ke kamu, siapa tau Arasa diem. Dan syukurlah dia bisa tenang pas sama kamu," ujar Albirru kepada sang istri yang diangguki oleh Jazira.
Lama Jazira menatap sang buah hati yang seakan tengah meminum ASI langsung dari nip*le nya, memang pada hari sebelumnya dirinya merasakan sakit yang sangat hebat saat Arasa mencoba menyusu. Tetapi kali ini, rasa sakit yang menyerang nip*le nya tak sedikit saat kemarin.
__ADS_1
Entah mengapa, Jazira segera mengecek suhu tubuh sang putri yang menurutnya sangat berbeda drastis. Jazira memeriksa kening milik bayi mungilnya, lalu beralih pada leher milik Arasa hingga ke punggung mungil milik sang putri yang terbalut pakaian hangat berwarna merah muda itu.
"Kamu kenapa, Ra? Kenapa seperti kaget gitu?" tanya Albirru dengan khawatir sembari menundukkan tubuhnya sehingga lebih dekat dengan sang istri. Jazira mengernyitkan keningnya bingung lalu segera menatap sang suami serta seorang suster yang masih berada dalam ruang rawat nya.
"Mas, kenapa badannya Arasa jadi dingin gini ya? Perasaan tadi suhu tubuhnya normal-normal aja deh," ujar Jazira sembari mendongakkan kepalanya kepada sang suami yang membuat kedua orang tersebut menatap Jazira dengan tatapan yang sedikit kaget.
Karena tak ingin merasa kebingungan, Albirru pun segera menyentuh tubuh mungil milik sang putri yang masih berada dalam dekapan sang istri. Albirru mengecek semua bagian tubuh milik Arasa yang sedikit terbuka. Albirru mengernyitkan dahinya karena tak menemukan sesuatu yang janggal kepada sang putri.
"Coba deh Sus, bedain suhu tubuh milik saya sama Arasa. Ini dingin banget loh, saya takut terjadi sesuatu sama putri saya," ujar Jazira dengan sedikit panik yang langsung membuat sang perawat menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak ayal, sang perawat pun ikut panik karena nada bicara Jazira yang sangat ketakutan. Bagaimana dirinya tak ketakutan jika pasien yang dia tangani saat ini adalah putri pertama dari seorang pengusaha sukses yang terkenal itu.
Perawat tersebut pun mengambil dua termometer dari sebuah laci dan memberikan masing-masing kepada Jazira dan Arasa. Jazira masih berdiam sembari mengelus punggung kecil milik sang putri sembari mencoba menutupi tubuh sang putri dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Setelah beberapa menit, sang perawat pun mengambil dua termometer tersebut dan menatap angka yang tertera di kedua termometer itu. Sang perawat pun menggelengkan kepala menatap kedua angka yang ada.
"Suhu Anda dan baby Arasa sama Nyonya. Suhu baby Arasa normal dan sama seperti suhu tubuh Anda." Perawat itu menunjukkan angka yang hanya beda tipis itu kepada Jazira yang membuat ibu muda itu terkejut.
"Tapi dia dingin, Sus! Coba bedakan! Tubuh Arasa sangat dingin!" seru Jazira dengan nada yang seolah menegaskan bahwa apa yang dia katakan adalah benar adanya.
__ADS_1
Masih ada 3 bab lagi ya Mam. InsyaAllah malam ini akan up semuanya. Jangan lupa tekan tombol like nya Mam😘