
Dengan tangisnya, Jazira berjalan cepat menuju sang suami yang mulai menjauh. Jingga yang menggandeng tangan sang kakak pun sampai kewalahan karena Jazira yang berjalan dengan tergesa. Langkah Jazira terhenti karena sang suami yang juga telah berhenti tepat di depan sebuah galian yang mana akan menjadi tepat peristirahatan untuk sang putri.
"Biarkan aku memeluk putriku terlebih dahulu," lirih Jazira dengan tangis tersedu tepat di sebelah sang suami. Albirru yang masih menundukkan kepalanya untuk menatap wajah cantik sang putri yang sangat mirip dengan dirinya pun menolehkan kepalanya.
"Maafkan Zizi," ujar Jazira tulus sembari menatap wajah tampan sang suami. Jazira memeluk erat laki-laki yang tengah menggendong putri kecilnya itu. Tangis Jazira kembali pecah saat Albirru membalas pelukannya. Di tatapnya kedua wanita yang kini bersandar di dadanya.
"Maafkan Mama, Sa. Mama tidak pernah meminta kamu menjadi seperti ini, tidak juga dengan Papa mu. Maafkan Mama yang belum bisa menjadi Mama mu di kehidupan ini. Yakinlah, nama mu akan selalu ada di hati Mama sampai kapan pun itu. Mama mencintai mu, Nak," ujar Jazira dengan sesenggukan di dalam pelukan sang suami.
Entah sejak kapan, pipi milik laki-laki tampan itu mulai basah oleh air mata. Albirru mengecup kening milik sang istri, bergantian dengan sang putri yang telah wafat sejak beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Mama benar, Nak. Papa berjanji tak akan pernah menggantikan posisi mu sebagai cinta pertama Papa di dunia ini. Maafkan Papa yang dulu menyia-nyiakan kamu. Papa benar-benar menyesal," imbuh Albirru sembari mengeratkan pelukannya pada Jazira dan kembali mengecup wajah cantik milik sang putri.
"Tenang di sana ya, Sa. Jangan pernah marah dengan Mama mu ini, kamu tahu bukan? Kamu lah satu-satunya harga berharga yang Mama punya, tapi kamu lebih memilih Tuhanmu yang sempat menitipkanmu padaku," ujar Jazira sembari mengecup pipi milik Arasa.
Wanita itu kembali memeluk bayi mungilnya serta sang suami. Jazira mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang suami sedikit lama.
"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena sudi menjaga benihmu tanpa diriku. Aku tidak pernah menyempatkan untuk hanya hadir dalam ceritamu, tapi aku akan selalu ada dalam setiap ceritamu. Kau tidak gagal Ra, kau berhasil dalam ujian ini. Kita akan melewati semua ini bersama-sama," ujar Albirru lalu mengecup singkat bibir milik sang istri yang membuat Jazira memejamkan matanya dan meneteskan air matanya.
"Hal ini adalah kenangan terindah yang akan Arasa bawa sebelum dia pergi. Selama ini dia menunggu kedua orang tuanya berdamai dan bersatu. Dengan seperti ini, Jingga yakin Arasa akan pergi dengan tenang," ujar Jingga yang berdiri di belakang kedua kakaknya.
__ADS_1
Sementara Marcel, laki-laki itu mulai turun ke bawah dan bersiap untuk menerima Arasa. Albirru pun menarik wajahnya sembari menghirup nafasnya dengan panjang. Perlahan Jazira pun mulai membuka matanya dan menatap sang putri.
Albirru menghadapkan Arasa kepada sang istri dan membiarkan Jazira memeluk Arasa untuk yang terakhir kalinya. Laki-laki itu masih berdiri di hadapan sang istri sembari menopang tubuh kedua wanitanya.
"Mama ikhlas Arasa pergi. Ingat satu pesan Mama Sa, jangan pernah benci Mama dan Papa ya? Kita semua sayang Arasa sampai kapan pun itu. Pergi dan temui kedua nenekmu ya, Sa. Kamu akan aman bersama mereka di sisi Tuhanmu," bisik Jazira telat di telinga sang putri lalu memeluknya dengan erat.
Albirru pun mengecup puncak kepala milik sang istri sembari memejamkan matanya. Air mata kedua insan itu semakin tumpah saat mengingat bahwa setelah ini mereka tak akan bisa bertemu lagi dengan Arasa.
"Kak, lebih cepet dikit ya. Takut makin banyak orang," ujar Jingga kepada Albirru yang masih memeluk kedua wanitanya tatkala melihat 3 siluet orang yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1