ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 49


__ADS_3

Jazira menatap keduanya yang masih tertawa itu dengan wajah bingungnya.


"Kalian berdua kenapa ketawa sih? Ini aku tanyanya beneran loh. Tapi kenapa respon kalian malah ketawa ketawa gini?" tanya Jazira dengan nada bingung nya, yang membuat Marcel dan Jingga bertambah Tertawa lagi.


Jingga yang baru pertama kali melihat senyum lebar milik Marcel pun sempat terpana sejenak, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya kearah lain karena Marcel pun tengah menatapnya. Entahlah, mengapa setiap Marcel menatapnya Jingga selalu merasa bahwa jantungnya sedang sedang tak baik baik saja kala itu.


Sehingga sebisa mungkin dirinya akan memutus kontak mata di antara keduanya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sejak Marcel yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Jingga, mulai saat itulah Jingga mulai sedikit menjaga jarak dari laki-laki dengan tato di lengan kanannya itu.


Marcel yang menangkap basah Jingga tengah menatapnya pun berhenti tertawa dan sedikit menyunggingkan senyum tipisnya. Lalu dirinya kembali menatap Jazira yang masih saja menatap dirinya serta Jingga dengan tatapan bingungnya. Marcel pun berdehem sejenak lalu mencoba berbicara serius dengan Jazira, yang membuat Jingga berhenti dari tertawanya dan kembali ke keadaan serius.


"Kau ingat dengan perusahaan milik Ayahmu, Zi?" tanya Marcel yang langsung diangguki oleh Jazira. Wanita itu menatap Marcel dengan tatapan seriusnya ketika Marcel tengah menolehkan kepalanya untuk menatap Jingga.


"Bukannya perusahaan milik Ayah udah bangkrut karena kalah tender sama perusahaan punya Paman Marco ya? Setahu Zizi, Paman Marco bunuh Ayah karena Ayah yang nggak terima kalau dia kalah tender jadi dia suruh orang buat hancurin perusahaan Paman. Tapi, karena Ayah kurang strategi, jadi Paman tahu rencana busuk Ayah terus ..." Jazira sama sekali tak melanjutkan kata-katanya.


Jingga yang tahu bagaimana perasaan sang kakak pun segera memeluk Jazira dari samping. Jingga mengelus lengan milik kakak perempuannya dengan penuh kasih sayang. Jazira pun menyenderkan kepalanya kepada Jingga yang masih memeluknya.


"Lupain masa lalu, Zi. Kak Marcel pun sama sekali nggak memihak sama Ayah ataupun Ayahmu. Bahkan sekarangpun Ayah nggak tahu kalau lo ada sama gue," ujar Marcel yang dengan tegasnya yang diangguki setuju oleh Jingga.


"Pemilik JA Company nggak boleh sedih lagi ah. Perusahaan besar dan ribuan karyawan nunggu Kak Zizi disana. Jingga yakin kalau Kak Zizi bisa lebih sukses daripada laki-laki bejat itu. Ada Kak Marcel dan Jingga disisi Kak Zizi," ucap Jingga yang kembali membuat Jazira terkejut. JA Company? Perusahaan apa itu? Bahkan Jazira pun baru mendengarnya.

__ADS_1


"Sebenernya kalian lagi bahas apa sih? Kenapa bawa-bawa perusahaan besar dan ribuan karyawan segala? Jangan buat minder kenapa," ujar Jazira yang masih tak paham kemana arah percakapan antara dirinya, Marcel, dan Jingga.


Jingga menggelengkan kepalanya dengan perasaan yang jengkel karena sang kakak ipar tak kunjung paham maksud Marcel yang mengatakan bahwa dirinya memiliki perusahaan.


"Gini Zi, lo harus paham sama perkataan Kak Marcel kali ini. Kalau sampai enggak, gue getol kepala lo. Lihat nih si Jingga udah megap-megap buat makan lo yang nggak paham paham." Marcel lebih dulu berbicara kepada Jazira sebelum Jingga lah yang menyemprot kakak iparnya terlebih dahulu.


Jazira pun hanya menganggukkan kepalanya sembari menatap Jingga yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal. Marcel menghembuskan nafasnya perlahan sembari bersiap untuk menjelaskan segalanya kepada Jazira.


"Ya, perusahaan Ayah lo diambil alih sama bokap gue. Tapi sejak kelakuan bejat gue empat tahun lalu, gue bener bener nyesel setelah hampir ngelakuin hal paling keji di dunia ini ke lo. Maka sejak gue tau kalo Ayah ngambil alih perusahaan punya bokap lo, gue mati matian buat bilang sama Ayah supaya perusahaan Ayah lo jatuh ke tangan gue." Marcel mencoba membuka percakapan sembari menatap keluar jendela yang menunjukkan awan pekat berwarna hitam ditemani banyak lampu lampu yang ada dibawah mereka.


"Setelah membujuk dan ngelakuin apapun permintaan bokap gue yang antimeanstrem itu, akhirnya gue bisa handle perusahaan milik bokap lo. Gue belajar dari bokap gue, gimana cara besaran perusahaan dan yang lainnya. Hingga akhirnya perusahaan milik lo bisa tembus go internasional. Dan sekarang, gue rasa lo berhak buat handle semua," imbuh Marcel sembari membayangkan bagaimana kerja kerasnya untuk meminta maaf kepada Jazira.


"Kak Marcel nggak perlu ngelakuin semua ini. Jazira nggak mau terima perusahaan yang Kak Marcel besarkan dengan pikiran dan tenaga Kak Marcel. Ini nggak adil, Kak." Jazira menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir.


Memang pada awalnya Jazira sempat terkejut bukan main dengan penuturan Marcel bahwa dirinya kini telah memiliki perusahaan yang Marcel bangun kembali. Jingga yang melihat hal tersebut pun menatap Marcel dengan tatapan menuntutnya agar Marcel kembali membujuk Jazira.


"Nggak adil dibagian Mana nya sih, Zi? Gue besaran dan membangun perusahaan lo buat apa? Itu sebagai permintaan maaf gue ke lo soal perlakuan nggak bermoral gue waktu itu. Dengan hal itu, secara tidak langsung gue udah buat mental lo down secara perlahan Zi. Dan apa lo bilang? Lo nggak mau nerima perusahaan yang selama ini udah gue buat supaya kelak ketika gue ketemu lagi sama lo, lo bakal bangga dan seneng banget Zi. Gue nggak mau tau Zi, lo harus pegang perusahaan ini dan kembangin lebih besar lagi dari apa yang gue capai. Titik!" ujar Marcel tegas yang membuat wanita yang berada Di hadapannya sedikit takut.


Marcel menatap Jazira yang tengah menundukkan kepalanya, tak berani menatap netra tajam milik kakak tirinya. Sedangkan tatapan teduh Jingga tertuju pada Marcel yang terlihat tengah menahan emosinya.

__ADS_1


Marcel mengalihkan pandangannya dari Jazira ke Jingga yang juga tengah menatapnya. Marcel dapat menangkap arti tatapan teduh dari Jingga padanya yang mengartikan bahwa jangan terlalu kasar kepada Jazira. Marcel pun menarik nafasnya dengan kasar lalu menghembuskannya dengan cepat.


"Lo mau jaga perusahaan lo kan, Zi? Minimal lo akan ngehargai apa yang selama ini gue perjuangin, Zi," ujar Marcel yang kembali membuat Jazira mendongakkan kepalanya sembari menggelengkan kepalanya.


"Zizi nggak bisa Kak, Zizi takut ...," ucapan Jazira terpotong karena Marcel mulai berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Jazira yang terkejut. Jingga yang melihat hal itu pun mengelus punggung mungil milik sang kakak lalu menganggukkan kepalanya, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Jingga yang melihat Marcel berpindah tempat duduk pun berniat untuk pergi menyusul Marcel. Setelah benar-benar memastikan bahwa Jazira merasa sedikit tenang, Jingga pun berjalan mendekati Marcel yang tengah duduk sembari menghadap ke jendela yang menayangkan keindahan ketika malam hari.


Gadis itu berdiri di sebelah Marcel lalu mengelus punggung kekar milik lelaki yang terlihat sangat lelah itu. Marcel pun sejenak mendongakkan kepalanya menatap Jingga yang tengah menundukkan kepalanya.


"Kak Zizi butuh waktu. Dia sangat tak terbiasa dengan hal ini, terlebih lagi suaminya baru saja mengkhianatinya di hadapannya sendiri," ujar Jingga mencoba memberi penjelasan pada Marcel.


Marcel pun menganggukkan kepalanya lalu memeluk pinggang ramping milik Jingga. Jingga pun menyugar rambut milik lelaki yang telah mengakui perasaannya pada dirinya itu. Marcel pun memejamkan matanya sembari menikmati elusan tangan mungil milik Jingga di puncak kepalanya.


Hingga akhirnya Jingga terkejut dengan apa yang Marcel lakukan.


Kayen kepo nih, adakah yang sudah mampir ke cerita Dua Jagoan Kecil Mas Duda? Gimana ceritanya? Mantul kan? Kayenna ucapkan banyak2 terimakasih buat yang sudah mampir, buat yang belum yuk langsung meluncur bareng sama Kayen. Kita berjumpa disana👌


Ada yang mau Kayen up lagi? Kalau ada komen yang banyak ya😁

__ADS_1


__ADS_2