ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 61


__ADS_3

Jingga yang panik pun berjalan cepat menuju apartemen sebelah tempat dimana Marcel tinggal. Dengan raut wajah khawatir serta gugupnya, Jingga langsung masuk ke dalam dan segera mencari keberadaan Marcel.


Wajah lega Jingga terlihat ketika dirinya bertemu dengan Marcel yang hendak keluar dari kamar. Dengan cepat, Jingga pun menarik tangan milik Marcel dengan paksa yang membuat sang empu tangan sedikit terkejut.


Namun dirinya sama sekali tak melakukan penolakan ketika gadis yang sangat dia cintai itu menarik tangannya. Marcel telah sedikit curiga karena melihat raut wajah khawatir dari Jingga. Fia terus mengikuti Jingga yang menarik tangannya, Jingga membawanya masuk ke dalam apartemen milik Jazira dan memperlihatkan dirinya kepada Jazira yang telah terkapar lemas di atas lantai.


"Cepat angkat Kak Zizi! Kak Zizi harus dibawa ke rumah sakit," seru Jingga dengan nada khawatirnya yang langsung diangguki oleh Marcel. Marcel segera berjalan cepat mendekati adik tirinya tersebut dan langsung menggendong tubuh mungil milik Jazira.


Jingga yang melihat hal tersebut pun segera mengambil tas miliknya dan segera berjalan keluar dari apartemen miliknya serta Jazira, mengikuti Marcel yang lebih dulu menggendong tubuh Jazira keluar dari apartemen.


"Kenapa dengan Zizi? Apakah ada sesuatu yang dia lakukan sebelum dirinya seperti ini?" tanya Marcel kepada Jingga ketika mereka berdua ada di dalam lift.


Jingga pun menggelengkan kepalanya dengan bingung sembari menatap tubuh Jazira yang telah pucat. Setelah itu, mereka berdua pun segera keluar dari lift ketika mereka telah tiba di basement. Jingga segera berlari mendekati mobilnya dan membukakan pintu belakangnya untuk Marcel.


"Kamu di belakang buat jagain Jazira ya, Ngga? Kak Marcel yang bawa mobilnya," ujar Marcel yang langsung diangguki oleh Jingga. Keduanya pun segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jingga pun berharap supaya tak terjadi sesuatu hal kepada Jazira. perasaannya yang benar-benar kalut saat ini membuat Jingga mengeluarkan sikap keibuannya yang membuat Marcel takjub.


Setelah melewati perjalanan selama beberapa saat, akhirnya mereka bertiga telah tiba di depan rumah sakit. Marcel pun langsung bergegas untuk keluar dari mobilnya dan berjalan cepat untuk membuka pintu yang memudahkan dirinya untuk membopong Jazira.


Jingga pun segera membantu Marcel untuk menurunkan Jazira dari dalam mobil. Setelah Jazira berhasil keluar, Jingga pun segera menutup pintu mobilnya dan berjalan cepat mengikuti Marcel.

__ADS_1


Marcel meminta bantuan kepada beberapa perawat yang memang baru melewati lobi rumah sakit. Para perawat yang melihat tubuh lemas Jazira di gendongan Marcel pun segera membawakan brangkar kepada Marcel agar dirinya meletakkan Jazira di atasnya.


Dengan segera, Marcel pun meletakkan Jazira di atas brankar dan mengikuti para perawat yang mendorong brangkar milik Jazira menuju ruangan UGD. Tangan besar Marcel menggenggam erat tangan mungil milik Jingga yang telah dingin karena ketakutan.


Marcel pun mengelus perlahan tangan kecil milik Jingga dan menciumnya perlahan sembari terus mengikuti langkah para perawat tersebut. Setelah akhirnya Jazira masuk ke sebuah ruangan, Jingga dan Marcel pun duduk di sebuah bangku yang ada di depan ruangan tersebut.


Jingga memeluk erat tubuh Marcel dengan air mata yang mulai keluar. Dirinya benar-benar ketakutan jika sesuatu terjadi pada kakaknya itu.


"Jingga benar-benar takut. Jingga cuma punya Kak Zizi, sekarang," ujar Jingga dengan nada bergetarnya yang membuat Marcel semakin mengeratkan pelukannya pada sang gadis. Marcel pun mengecup perlahan puncak kepala milik Jingga lalu mengelus punggung kecil milik gadis tersebut.


"Jingga nggak sendiri. Kata siapa Jingga cuma sendiri? Masih ada Kak Marcel, Kak Veno, dan Kak Zizi," ujar Marcel yang diangkuti oleh Jingga dalam rengkuhan laki-laki hebat tersebut.


Lama mereka berdua menunggu Jazira dengan ketakutan, hingga tiba dimana saat ruangan tersebut terbuka dan menampilkan beberapa perawat yang mendorong brangkar milik Jazira keluar ruangan. Jingga dan Marcel yang terkejut pun segera berdiri dari duduknya lalu mendekati dokter yang menangani Jazira.


"I have done a CT Scan all over the girl's body. But I did not find any symptoms of the disease. I asked all of them to take the girl to the expert," jawab sang dokter yang mengatakan bahwa dirinya telah melakukan CT Scan ke seluruh tubuh Jazira dan tak menemukan satupun penyakit. Akhirnya sang dokter pun meminta kepada para rekan kerjanya untuk membawa Jazira ke ahlinya yang semakin membuat Jingga bingung.


"If you're curious, just follow them all," imbuh sang dokter ketika melihat wajah penasaran dari Marcel dan Jingga. Mereka pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti para perawat yang membawa brangkar Jazira pergi.


Mereka berdua pun berjalan beriringan mengikuti para perawat yang pergi. Hingga diujung lorong Jazira masuk ke sebuah ruangan yang membuat Jingga serta Marcel terkejut. Mereka berdua pun saling berpandangan dan perasaan yang tak menentu.


"I hope this isn't a dream," pinta cinta kepada Marcel yang diangguki oleh laki-laki tersebut. Mereka berdua pun berjalan mendekati ruangan tersebut dan duduk di sebuah bangku yang ada di depan ruangan itu. Kali ini jemari keduanya saling bertautan satu sama lain.

__ADS_1


Ada rasa bahagia yang menjalari hati keduanya saat melihat Jazira memasuki ruangan itu. Tiba-tiba keduanya bangkit dari duduknya ketika seorang perawat keluar dari ruangan tadi.


"Are you the patient's family?" tanya sang perawat yang langsung diangguki oleh Jazira serta Marcel ketika perawat tersebut bertanya, apakah mereka berdua keluarga Jazira. Dengan segera sang perawat pun membuka pintu ruangan tersebut, mempersilahkan Jingga dan Marcel untuk masuk ke dalam.


Marcel dan Jingga pun berjalan mendekati seorang dokter yang duduk di sebelah brangkar milik Jazira yang masih menutup matanya. Sang dokter pun meminta agar Marcel dan Jingga duduk di hadapannya.


"Is it true that you are the patient's family? Can the two of you tell how chronologically it was before the girl finally arrived here?" tanya sang dokter yang menanyakan bagaimana kronologis sebelum akhirnya Jazira berada di tempat tersebut.


Jingga yang mengetahui hal tersebut pun segera menceritakan segalanya seperti apa yang dia dengar dari Jazira. Sang dokter pun tersenyum kecil lalu mulai berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Jazira yang belum membuka matanya lalu sedikit membuka baju bagian atas milik atas sehingga memperlihatkan perut mulus milik Jazira.


Marcel yang melihat hal tersebut pun mengalihkan pandangannya kepada Jingga yang membuat Jingga tersenyum manis. Tangan mungil Jingga terangkat untuk mengelus rahang tegas milik Marcel.


Selama sang dokter mengoleskan gel transparan ke atas perut milik Jazira, Marcel terus saja menatap gadis cantik yang ada di hadapannya dan tak berani menolehkan kepalanya kepada Jazira yang membuat Jingga tersanjung.


Jingga pun masih menyimak apa yang dilakukan oleh dokter tersebut, hingga tiba di mana sang dokter membawa sebuah alat minimalis dan digerakkan di atas perutnya milik Jazira.


"You can see the screen next to the bed. Don't you see that black dot? Yes, it is a fetus that will grow in its stomach," ujar sang dokter sembari melihat layar hitam itu yang membuat Jingga serta Marcel menolehkan kepalanya.


Benar kata sang dokter yang mengatakan bahwa ada satu titik hitam di layar tersebut yang menandakan ada sebuah kehidupan baru di perut Jazira.


"Congratulations, soon this girl will become a mother. My guess is that the fetus is four weeks old," imbuh sang dokter yang mengucapkan selamat serta mengatakan bahwa janin yang ada di perut Jazira berusia empat minggu.

__ADS_1


Maafkan cerita yang semakin nggak jelas ini ya Mam semua. Jangan marah atau benci sama authornya🙏😔


__ADS_2