
Seorang wanita yang masih terduduk di kursi roda itu belum memiliki keinginan untuk beranjak dari posisinya. Tangan mungilnya masih bergerak untuk mengelus perutnya yang telah besar dengan air mata yang membasahi perut bagian atasnya.
Perkataan dokter yang menanganinya tadi membuat ibu hamil tersebut semakin meneteskan air matanya. Dirinya benar-benar merasa bahwa takdir sama sekali tak memihak pada dirinya.
Setelah tahu bahwa bayi yang dia kandung ini merupakan bayi istimewa yang masih Tuhan berikan kekuatan hingga saat ini harus menerima cobaan lagi. Entahlah apa lagi yang harus Jazira lakukan untuk hidupnya ini.
Saat bayangan hidupnya yang akan hancur di masa depan, tiba-tiba tangisannya terhenti karena sesuatu hal.
Cupp!
Satu kecupan singkat hadir di puncak kepalanya. Jazira yang terkejut pun segera mengalihkan atensinta dari keindahan bulan yang dapat dia lihat dengan jelas melalui kaca besar yang ada di hadapannya menuju seseorang yang membuat Jazira terkejut.
Laki-laki yang mengecil singkat puncak kepala milik Jazira itu duduk di kursi yang ada di sebelah kursi roda milik Jazira. Wajah tampannya yang di penuhi oleh lebam serta darah kering yang ada di sudut bibirnya membuat Jazira tak dapat berpaling.
"Maafkan Mas, Ra," lirih laki-laki tersebut sembari menatap bulan yang ada di hadapannya dan Jazira. Jazira yang mendengar permintaan maaf dari Albirru pun mengalihkan pandangannya untuk menatap bulan yang sama, yang kali ini juga tengah sang suami tatap.
"Pergi dari sini! Kenapa kau datang kemari, hah?!" ucap Jazira tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari sinar bulan yang menyinari dirinya dan Albirru.
"Percuma saja kau datang kemari. Tak ada lagi maaf untuk laki-laki seperti dirimu!" imbuh Jazira dengan tangan yang mengelus perut bagian bawahnya yang terasa sedikit kram.
Albirru hanya diam, lidahnya terasa sangat kelu saat mendengar usiran dari Jazira. Laki-laki itu mencoba untuk lebih sabar lagi dalam menghadapi sang istri.
Seketika keheningan menyapa keduanya. Tangan mungil itu semakin mencengkeram erat dress tipis milik rumah sakit itu dengan air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
Perkataan sang suami yang mengatakan bahwa dirinya seorang wanita murahan dan sampah masih terus terngiang di pikirannya. Hatinya terasa kembali dipukul oleh kenyataan takdir yang kembali mempertemukan dirinya dengan sang suami.
"Bagaiman keadaan anak kita?" tanya Albirru begitu saja yang membuat Jazira langsung menolehkan kepalanya kepada sang suami secepat mungkin. Jantungnya berdegub dengan kencang tatkala sang suami memanggil anak mereka dengan sebutan anak kita.
"Dia baik-baik saja bersama ibunya. Dan perlu aku tegaskan lagi, bahwa ini adalah anakku. Hanya anakku!" ucap Jazira tegas dengan nada bergetarnya disertai air mata yang menetes dari kedua matanya.
Albirru yang mendengar jawaban dari Jazira pun segera menolehkan kepalanya dan menatap dalam netra milik istrinya. Dia benar-benar merindukan netra indah itu.
"Dia anak kita, Ra! Anak yang hadir karena kesalahanku, anak yang hadir karena kecerobohanku yang membuatku tersiksa selama ini. Aku mohon kepadamu untuk memaafkan aku," ucap Albirru dengan nada memohon nya.
Jazira pun menggelengkan kepalanya. Air matanya tak dapat berhenti ketika dirinya dapat melihat wajah sang suami sedekat ini. Wajah yang selama ini menjadi objek ngidamnya ketika sang anak tengah rewel.
"Aku benar-benar tak bisa memberikan kesempatan lagi untukmu, bukankah kau sudah berjanji padaku untuk menggunakan kesempatan terakhirmu dengan sebaik-baiknya? Jadi maafkan aku untuk kali ini. Tapi aku berjanji, aku takkan pernah memisahkan mu dari anakku ini," jawab Jazira dengan tangisnya yang membuat Albirru meneteskan air matanya. Entah ini kali keberapa Jazira melihat air mata yang keluar dari netra sang suami.
Akhirnya mereka berdua pun kembali berdiam diri dengan menatap bulan yang sama. Tiba-tiba Albirru pun menolehkan kepalanya dan menatap wajah cantik milik Jazira dari samping.
"Little boy or girl?" tanya Albirru dengan nada yang sedikit membaik, yang membuat Jazira menundukkan kepalanya untuk menatap perut besarnya sembari menghela nafasnya perlahan.
"She's girl," jawab Jazira dengan tangisnya ketika membayangkan putri kecilnya yang akan menghadapi masalah serumit ini bahkan sebelum dirinya lahir ke dunia.
"Benarkah?! Jadi anakku ini perempuan?" tanya Albirru memastikan apa yang dia dengar sembari bangun dari duduknya. Laki-laki tersebut menekuj kedua lututnya di hadapan Jazira lalu sedikit menundukkan kepalanya sehingga sejajar dengan perut milik Jazira.
"Baik-baik di dalan sana, Putri Papa. Papa akan berusaha untuk menjadi Papa yang terbaik untukmu," ucap Albirru sembari mengelus perut Jazira.
__ADS_1
Deg!
Seketika jantung Jazira berhenti berdetak sejenak, tatkala dia merasakan sebuah tendangan kecil dari perutnya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan hebat dengan air mata yang langsung mengucur deras.
Tak lama setelah itu akhirnya tangisnya kembali pecah ketika menyadari bahwa gerakan tadi adalah fase quickening pertama yang dia rasakan dari sang anak.
Begitu pula dengan Albirru. Albirru sangat terkejut ketika merasakan sebuah respon dari dalam sana. Ketika elusan tangannya dibalas dengan sebuah tendangan kecil yang membuat tangan besar Albirru seketika menegang. Apakah tadi tendangan dari putri kecilnya? Batin Albirru.
"Terima kasih," ucap Jazira dengan tulus sembari terus menangis. Wanita tersebut terlampau ini bahagia karena baru kali ini dia merasakan tendangan dari putrinya yang bahkan telah divonis sangat lemah itu.
Terlebih lagi dokter yang mengurusnya tadi mengatakan bahwa anaknya yang lemah tersebut mengalami edema paru. Kelainan menyebabkan oksigen yang mengalir dari darah Jazira memenuhi rongga paru-paru milik putrinya. Bahkan dokter tadi mengatakan bahwa kematian akan lebih besar mendatangi putrinya daripada kesempatan untuk menikmati hidup.
"Kau tahu? Ini adalah tendangan pertama yang dia berikan kepada mamanya ini. Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu atas hal ini. Bahkan putri kecilku yang lemah ini ini memiliki detak jantung lemah, tetapi kali ini dirinya bisa memandang pun sudah sangat luar biasa untukku. Hampir delapan bulan dia berada di dalam kandungan ku, dirinya tak pernah memberikan respon sedikitpun. Aku sempat berpikir bahwa mungkin dirinya," ucapan Jazira terpotong karena Albirru menggelengkan kepalanya.
Laki-laki itu segera mencium perut besar milik Jazira dan memeluk erat istrinya itu.
"Maafkan aku, Ra," bisik Albirru dengan tangisnya saat akhirnya dirinya bisa memeluk sang istri kembali. Tak ada jawaban dari Jazira. Wanita itu menempelkan tangan mungilnya di perutnya untuk merasakan tendangan dari sang putri.
Albirru yang tak kunjung mendapat respon pun segera menarik tubuhnya dari Jazira setelah mencium kening milik sang istri. Senyum Jazira terbit ketika berulang kali merasakan pergerakan dari dalam perutnya.
Pergerakan sang anak semakin menjadi ketika tangan Albirru ikut mengusap lembut perut milik Jazira.
Gimana? Kesel sama authornya? Yuk demo...
__ADS_1