
"Jingga," panggil Marcel kepada gadis yang masih menyuapinya tersebut. Jingga mengalihkan tatapannya menuju Marcel dan menurunkan sendok nya.
Jingga mulai beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan Marcel yang tengah menatap kepergiannya menuju dapur. Marcel mengikuti langkah Jingga dan berdiri tepat dibelakang wanita yang hampir dua Minggu ini selalu menemani hari harinya.
Marcel menghembuskan nafasnya perlahan dan masih menyimak apa yang dilakukan oleh Jingga. Jingga pun tahu jika Marcel berada dibelakangnya. Namun Jingga belum berniat untuk menjawab pernyataan Marcel.
Marcel mendekatkan tubuhnya dengan Jingga dan mengikis jarak antara keduanya. Lengan kekar milik Marcel pun telah melingkar sempurna di pinggang kecil milik Jingga.
Marcel menyenderkan kepalanya di bahu kanan milik Jingga. Dia menghirup nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Bayangan ketika dirinya mengatakan kepada Jingga tentang perasaannya kepada Jazira beberapa waktu lalu membuatnya mengeratkan pelukannya pada Jingga.
"Jangan marah sama gue, Ngga. Itu perasaan gue ke Zizi sebelum kita bertemu. Tapi Lo harus yakin sama gue, rasa gue ke Zizi udah hilang." ucap Marcel lirih mencoba membujuk Jingga agar tak marah padanya.
Mengapa diri ya harus membujuk Jingga agar tak marah padanya? Siapa dirinya bagi Jingga? Apakah ada hubungan antara keduanya selain atasan dan bawahan ketika di kantor? Tidak ada bukan? Lantas mengapa Marcel sangat takut jika satu satunya wanita yang kini berada dalam hidupnya itu marah?
"Terserah, mau dibawa kemana perasaan Lo. Bahkan Lo sendiri pun nggak bisa bawa kemana perginya rasa cinta Lo ke orang lain. Mungkin kalo Kak Zizi belum ketemu sama Kak Albi, Lo berhak buat kejar cintanya Kak Zizi. Tapi sorry, untuk sekarang ini dan seterusnya Lo nggak bisa deketin Kak Zizi lagi. Dia punya kakak gue." jawab Jingga setalah terdiam cukup lama.
Marcel menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Jingga. Marcel menghirup aroma tubuh milik Jingga dalam dalam lalu menarik kepalanya dari bahu milik Jingga.
Marcel membalikkan tubuh milik Jingga sehingga menatap dirinya. Marcel mengurung tubuh mungil milik Jingga dengan dua lengan kokohnya yang menjadi tumpuan untuk berat badannya.
Jingga mendongakkan kepalanya menatap netra indah milik Marcel.
"Gue udah lupain rasa gue ke dia, sejak Lo ada dideket gue. Lo harus percaya sama gue." ucap Marcel yang membuat Jingga mengangkat sebelah alisnya. Jingga melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan yang masih tertuju pada lelaki yang telah berhasil mencuri hatinya.
"Kasih satu alasan, kenapa gue harus percaya sama Lo. Toh gue percaya atau enggak soal perasaan Lo, nggak akan ngaruh juga kan sama gue?" tanya Jingga yang membuat Marcel diam membisu.
Marcel sama sekali tak menjawab pertanyaan Jingga. Dia masih menatap wajah cantik milik asisten pribadinya tersebut. Hingga akhirnya Jingga pun menggeser lengan kekar milik Marcel, sehingga dirinya dapat kelluar dari kungkungan Marcel.
Langkah Jingga terhenti karena tangannya dicekal lalu ditarik oleh Marcel sehingga dirinya menubruk dada bidang milik Marcel. Jingga yang terkejut pun mendongakkan kepalanya dengan kedua tangannya di dada milik Marcel.
"Karena gue suka sama Lo!" ucap Marcel dengan tegasnya lalu mencium singkat bibir Jingga yang membuat sang empu diam mematung. Jingga tersadar setelah Marcel menarik kembali wajah tampannya dari dirinya.
"Are you kidding me?" tanya Jingga dengan nada terkejutnya yang langsung digelengi oleh Marcel.
Sementara Jazira yang telah bersiap untuk pergi bersama dengan Mbok Sum pun terkejut karena sang suami telah tiba di rumah.
"Loh, Mas?! Kok balik lagi? Ada yang tertinggal kah?" tanya Jazira sambil berjalan mendekati Albirru yang datang dengan wajah lelahnya.
"Nggak ada. Aku pulang karena kurang enak badan. Nggak tau, kenapa." ucap Albirru sambil memeluk tubuh kecil milik Jazira. Jazira pun mengernyitkan keningnya sambil menatap Mbok Sum yang hanya menahan senyumnya.
__ADS_1
"Yaudah kamu istirahat aja ya? Oh iya Mbok, Mbok Sum pergi belanjanya sama supir aja ya Mbok? Zizi mau ngurus Mas Birru dulu." ucap Jazira sambil melepaskan pelukan suaminya.
"Baik, Non. Mbok Sum pergi dulu ya." ucap Mbok Sum sambil berjalan meninggalkan Albirru dan Jazira. Jazira pun mengelus wajah lesu milik suaminya dan berjalan dengan menggandeng tangan suaminya.
Albirru hanya mengikuti apa yang sang istri lakukan pada dirinya. Hingga mereka tiba di dalam kamar, Jazira pun segera beranjak menuju lemari pakaian dan mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami.
"Mas Birru ganti baju dulu ya? Habis ini buat istirahat aja badannya. " ucap Jazira sambil menyerahkan celana rumahan beserta kaus oblong kepada suaminya tersebut. Albirru hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya.
Setelah kepergian sang suami, Jazira pun segera berjalan mendekati ranjang. Dia merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya perlahan. Entahlah, dirinya merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya.
Seolah olah dirinya memiliki firasat bahwa akan terjadi sesuatu hal yang tak ingin dia alami. Mata indahnya terbuka tatkala mendengar suara pintu kannar mandi terbuka.
Albirru segera berjalan mendekati ranjang dan merebahkan dirinya di samping sang istri. Albirru memeluk erat tubuh Jazira yang sedang menghadap ke langit langit kamar.
"Ra," panggil Albirru yang membuat Jazira memiringkan tubuhnya, sehingga dirinya berada di pelukan sang suami.
"Hmm, kenapa?" tanya Jazira sambil mendongakkan kepalanya. Jazira menatap netra milik sang suami, yang memancarkan kelelahan dimata berwarna hitam tersebut.
"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?" tanya Albirru sambil menenggelamkan wajahnya di puncak kepala milik Jazira. Jazira mengangkat kedua alisnya saat mendengar ucapan sang suami.
"Bahkan sejak kau mengucap janjimu kepada Allah dihari pernikahan kita, sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak meninggalkan mu. Meski pernikahan kita akan berakhir pada waktu yang telah kau tentukan. Tapi aku akan pergi ketika kamulah yang memintaku untuk pergi." jawab Jazira yang membuat kegelisahan seketika muncul dihati Albirru.
"Kau berjanji padaku? Apapun kesalahan ku itu, kau tak akan pergi meninggalkan aku kecuali akulah yang memintanya?" pinta Albirru sambil mendongakkan kepala milik Jazira. Jazira hanya menganggukkan kepalanya menjawab sang suami.
Jazira tersenyum singkat lalu memeluk erat sang suami. Albirru menundukkan kepalanya dan mencium singkat bibir milik sang istri. Jazira menyebikkan bibirnya ketika sang suami menciumnya dadakan.
Albirru mengulangi lagi apa yang dia lakukan baru saja. Jazira hanya menggelengkan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya. Albirru pun mengikuti apa yang dilakukan oleh sang istri.
Belum pulas mereka tertidur, seketika mata mereka berdua terbuka secara bersamaan ketika mendengar teriakan seseorang. Netra indah milik Jazira yang sedikit memerah karena menahan kantuk itu pun menatap dua iris mata yang selalu menemaninya selama dua minggu ini.
"Larina?!" pekik Jazira sambil bangun dari tidurnya. Albirru pun ikut terbangun seperti sang istri. Jazira menatap penuh kebingungan kepada sang suami.
"Kamu yang ngajak kesini?" tanya Jazira kepada sang suami. Sontak Albirru pun menggelengkan kepalanya dan segera turun dari ranjangnya. Jazira segera mengekori sang suami yang sedang berjalan mendekati pintu kamarnya.
Albirru menatap kelantai dasar rumahnya dan diikuti oleh Jazira. Jazira mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan Larina.
Dimana Larina yang biasanya memakai pakaian modis dan seksi? Jazira benar benar pangling dengan Larina yang sekarang. Tak ada riasan tebal diwajahnya. Apakah ini efek karena Albirru menjauhinya?
Albirru pun menggandeng tangan mungil milik sang istri dan membawanya turun kebawah. Jazira berjalan dengan tatapan yang masih tertuju pada Larina yang tengah menangis menunggu kedatangannya dan sang suami.
__ADS_1
Sesampainya Albirru dan Jazira dilantai satu rumah mereka, Jazira terkejut karena Larina langsung memeluk sang suami. Jazira pun segera melepaskan genggaman tangan Albirru pada dirinya.
Jazira memundurkan badannya beberapa langkah menjauhi sang suami yang tengah dipeluk oleh wanita lain. Albirru yang takut sang istri salah paham pun segera mendorong tubuh Larina hingga terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan hah?!" ucap Albirru tegas yang membuat dua wanita diantaranya terkesiap. Larina mendongakkan matanya dan air matanya kembali menangis.
"Kenapa kau jahat kepada kami, Mas?!" teriak Larina yang membuat Jazira bingung. Kami? Siapa satu orang lagi yang dimaksud oleh Larina? pikir Jazira dalam benaknya.
"Aku sama sekali tak peduli! Sekarang kau pergi dari rumahku!" ucap Albirru sambil membangunkan Larina dengan paksa dari jatuhnya. Tampak wajah ketakutan dari Larina ketika Albirru hendak membawanya keluar dari rumahnya.
"Kau tak bisa mengusir aku dan anak kita, Mas! Aku sedang mengandung anakmu!"
Deg!
Seketika jantung Jazira berhenti berdetak. Jazira menatap Albirru yang langsung berhenti menyeret Larina dengan tatapan kosongnya. Anak? Apakah berarti benih milik suaminya tumbuh di rahim Larina?
Jazira bernafas dengan tersengal sengal disertai air mata yang menetes dari kelopak matanya. Albirru segera melepaskan cekalan tangannya kepada Larina dan menatap Jazira yang tengah menatap mereka berdua.
"Ra, aku bisa jelasin semuanya sama kamu. Percaya sama aku ya, Ra." ucap Albirru ketar ketir sambil mendekati Jazira yang masih belum mengedipkan matanya.
Hampir saja Albirru menyentuh bahu kecil milik istrinya, namun tangan sang istri menghentikan langkahnya. Jazira masih menatap wanita yang tengahh menangis di depan pintu rumahnya.
Dengan langkah perlahan Jazira berjalan mendekati Larina yang tengah menundukkan wajahnya. Hingga akhirnya Larina mendongakkan kepalanya ketika melihat sepasang kaki putih mungil dilantai granit berwarna putih tulang itu.
"Bukti?" tanya Jazira singkat sambil menyodorkan tangan kanan kecilnya dihadapan Larina. Larina pun menatap penuh wajah cantik milik Jazira yang sedikit memerah.
Dengan segera, Larina pun mengeluarkan sebuah testpack dengan harga yang lumayan tinggi disertai foto USG yang memperlihatkan satu titik kecil sebesar kacang hijau tersebut.
"Aku pun terkejut ketika tadi pagi memeriksanya setelah beberapa hari mual. Aku segera membawanya ke dokter dan ternyata benar, dia hadir diantara aku dan Mas Birru." ucap Larina antusias sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
Jazira memejamkan matanya dengan sangat perlahan diiringi tarikan nafas yang luar biasa dalam dan penuh tekanan. Dan ketika Jazira mulai membuka matanya kembali, setitik bulir bening jatuh terjun ke pipinya.
Mereka bersitatap beberapa detik tanpa kata kata yang terlontar. Berdiri mematung seolah berusaha membaca pikiran satu sama lain.
Hingga tembok pertahanan yang Zizi bangun sedari tadi mulai runtuh. Wanita cantik tersebut meluruhkan tubuhnya ke lantai disertai air mata yang mengalir deras.
Sontak Albirru pun segera mendekati Jazira dan segera merengkuh tubuh mungil milik istrinya.
"Lepaskan aku! Dasar pria bre*gsek!" teriak Jazira sambil mendorong keras tubuh kekar sang suami.
__ADS_1
...• Devam Etti •...
Mampir ke cerita baru Kayenna yuk all. Judulnya KAKAK IPARKU SUAMIKU. Dijamin ceritanya seru dan menarik. Cerita Kayenna yang lain pun juga ada. Judulnya SEMUA SALAH IBU.