
Jazira menatap sang suami dengan tatapan yang sulit di artikan. Albirru pun menatap dengan hal yang sama kepada sang istri.
"Mas Birru tau? Ini semua salah Mas Birru! Andai aja Mas Birru bisa instrospeksi diri, cari dimana kesalahan Mas Birru selama ini pasti keadaan nggak akan seperti ini! Sesekali turunin ego Mas Birru, supaya apa? Supaya orang yang ada di sisi Mas Birru nggak jengah!" bentak Jazira sambil berjalan naik menuju kamar adiknya.
Jazira langsung memasuki kamar Jingga yang tak terkunci. Dia melihat adik iparnya sedang menangis diatas ranjang. Jingga memeluk lututnya erat sambil berusaha menahan agar tangisannya tak bersuara.
"Jingga. Maafin Kak Zizi ya. Jingga pastinya udah tau apa alasan Kak Zizi ingin berpisah dari Kak Albi bukan?" ucap Jazira sambil mengelus surai Jingga yang sedang menangis tersedu-sedu tanpa suara.
"Ji... Jingga tau. Tapi seenggaknya beri Kak Albi satu kesempatan. Satu aja Kak Zi. Bukankah setiap manusia masih bisa mendapatkan kesempatan kedua jika berbuat kesalahan? Jika kesempatan kedua yang Kak Zizi berikan ke Kak Albi sia-sia, maka Jingga akan setuju dengan apapun yang akan dipilih sama Kak Zizi." jawab Jingga disela tangisnya.
"Dari Jingga kecil, Jingga nggak pernah ngerasain bisa jalan-jalan bareng Mama sama almarhum Papa. Karena apa? Karena Mama punya laki-laki lain. Ketika Jingga mau masuk SMA pun Jingga memilih untuk menjauh, Jingga jengah dengerin kata cerai, cerai, dan cerai yang keluar dari mulut Mama." ucap Jingga lirih sambil mengusap air matanya kasar.
"Jingga nggak mau Kak Zizi cerai sama Kak Albi." ujar Jingga sambil kembali menangis.
Sedari tadi Jazira mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jingga. Tangannya terulur untuk mengelus kepala sang adik. Betapa terkejutnya Jingga ketika tahu suhu badan Jingga yang bertambah tinggi.
"Ngga, badan kamu tambah panas. Kamu minum obat dulu ya? Kalau sampai besok pagi masih belum turun demamnya, kita pergi ke dokter." ujar Jazira dengan nada khawatirnya.
"Jingga nggak mau makan sebelum Kak Zizi putusin mau gimanna kedepannya. Jingga mau tidur aja." tolak Jingga sambil merebahkan dirinya. Jazira tak dapat memaksa kepada Jingga untuk menurut padanya.
Ia berjalan menuju lemari Jingga dan mengeluarkan selimut. Jazira menutupi badan Jingga dengan selimut hingga sebatas leher. Setelah itu, dia berjalan keluar dari kamar Jingga.
Tujuan Jazira sekarang adalah menuju dapur. Dia mengambilkan bubur buatannya serta obat penurun panas yang tersedia di rumah suaminya.
Ketika dirinya hendak menaiki tangga, dia berpapasan dengan Albirru yang baru keluar dari kamar nya. Jazira pun mengalihkan pandangannya dari sang suami lalu meneruskan langkahnya.
Dengan penuh kehati-hatian, Jazira melangkahkan kaki mungilnya menapaki anak tangga yang akan membawanya menuju kamar Jingga.
Setibanya dia disana, Jingga masih tidur dengan posisi yang sama. Zizi pun berjalan menuju nakas yang ada dihadapan Jingga lalu meletakkan nampan berisi bubur serta obat milik Jingga.
"Makan dulu yuk, Ngga. Kak Zizi udah bawain obat sama buburnya. Yuk bangun dulu." bisik Jazira sambil mengelus kepala milik Jingga. Jingga sedikit bergerak, supaya tangan kakak iparnya menjauh dari tubuhnya.
"Jingga udah ngomong sama Kak Zizi. Jingga nggak mau makan sebelum Kak Zizi bilang, apa keputusan Kak Zizi." jawab Jingga dengan nada kecilnya sambil melirik kearah kakaknya.
Jazira menghembuskan nafasnya panjang lalu menutup matanya sejenak.
"Demi kamu Kak Zizi akan mencoba beri Kak Albi kesempatan. Kamu bisa pegang omongan kamu soal pilihan Kak Zizi jika Kak Albi nggak berubah?" ujar Jazira setelah memikirkan apa yang dia kehendaki.
Sontak Jingga pun segera membuka matanya dan menatap sang kakak. Jingga segera bangun dari tidurnya dan duduk menghadap sang kakak.
"Bener Kak Zi? Jingga janji bakal support apapun pilihan Kak Zizi nanti. Jingga berharap semoga Kak Albi mau berubah." ujar Jingga sambil memeluk kakak iparnya dengan perasaan haru.
"Sebenernya Jingga nggak mau Kak Zizi menderita karena jadi istri Kak Albi. Tapi Jingga berusaha mempertahankan pernikahan kalian. Buat apa menikah jika dalam beberapa hari kalian sudah bercerai? Kak Zizi tau kan, kalau Allah paling membenci perceraian? Jingga nggak mau kalian terjerumus hanya karena ego dan nafsu semata. Semoga Kak Zizi bisa kuat ya." ucap Jingga sembari mengelus punggung Jazira.
__ADS_1
"Ini bukan ego, Ngga. Tapi ini realita. Wanita mana yang masih ingin bertahan dengan suami yang dengan percaya dirinya menunjukkan bahwa dia berselingkuh? Tidak ada bukan?" jawab Jazira yang merasa bahwa ucapan Jingga kurang tepat.
"Jingga tau itu. Maka dari itu, cobalah Kak Zizi kuatkan hati Kak Zizi. Nggak akan ada salahnya jika Kak Zizi berjuang untuk ikatan suci ini. Ingat Kak, sebagai istri sah yang halal Dimata agama dan hukum, Kak Zizi nggak boleh kalah hanya karena wanita yang tak memiliki ikatan sama sekali dengan Kak Albi." papar Jingga sembari memakan bubur yang Jazira bawakan.
Jazira kembali memikirkan apa yang Jingga katakan padanya. Benar bukan apa yang dikatakan oleh Jingga? Jangan kalah dari wanita pengganggu yang datang di bahtera yang baru saja dia mulai.
Hampir 15 menit Jazira hanya diam melamun. Dia tersadar ketika Jingga memanggilnya.
"Kak Zi. Mikirin apa sih dari tadi Jingga panggil nggak nyahut-nyahut." tanya Jingga sembari meletakkan gelas berisi air putih yang tinggal seperempat itu.
Jazira hanya menggelengkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya.
"Makannya udah selesai kan? Tunggu beberapa menit baru tidur ya? Sekarang Jingga mau apa?" jawab Jazira sambil mengambil nampan yang berada diatas nakas.
Jingga hanya menggelengkan kepalanya lalu mulai menyenderkan kepalanya di kepala ranjang.
"Jingga nggak mau apa-apa Kak. Jingga mau istirahat aja. Kak Zizi tidur aja, udah malem soalnya." ucap Jingga sembari memejamkan matanya.
"Yaudah Kak Zizi balik ke kamar ya? Kalau ada apa-apa panggil aja. Telepon Kak Albi juga boleh." ujar Jazira sebelum keluar dari kamar adiknya. Jingga hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang terpejam.
Jazira pun segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Sejujurnya Jazira sedikit merasakan kantuk yang menyerang matanya.
Setelah meletakkan piring bekas milik Jingga di dapur, Jazira segera melangkahkan kakinya menuju kamar Albirru. Dengan perasaan yang nano-nano, Jazira membuka pintu kamar milik suaminya.
Jazira dapat menebak bahwa suaminya sedang berada di teras samping rumah yang langsung tertuju pada taman. Jazira hanya mengendikkan bahunya acuh lalu segera merebahkan tubuhnya diatas kasur milik Albirru.
Dengan percaya dirinya, seolah-olah itu adalah kamarnya, Jazira menarik selimut hingga sebatas dadanya lalu mulai memejamkan matanya. Belum genap lima menit dia tertidur, ucapan Albirru membuatnya urung untuk tidur.
"Kau tidur disini? Bagaimana dengan keadaan Jingga?" tanya Albirru sambil mengunci pintu samping kamarnya. Jazira hanya membuka sebelah matanya dan menatap sang suami yang sedang berjalan mendekatinya.
"Hmm, aku tidur disini karena kamarku dikunci oleh Jingga. Mau tidur dikamar tamu pun belum dibersihkan, jadi aku tidur disini. Jingga sudah minum obat." Jawab Jazira sekenanya sambil memejamkan matanya.
"Baiklah, kau tenang saja. Aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Tidurlah." ujar Albirru sambil membuka kaosnya, sehingga menampakkan erut sixpack serta tato di lengan kanannya. Jazira yang sedang membuka matanya pun seketika terkejut.
"Heh apa yang kau lakukan?! Kenapa kau buka baju?!" ujar Jazira dengan nada yang sedikit tinggi. Albirru sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Jazira.
Dia berjalan untuk mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang berada diatas nakas. Jazira masih mengintai pergerakan Albirru hingga dia tertidur disebelahnya.
Jazira sedikit menggeserkan tubuhnya menjauhi Albirru. Albirru yang melihat pergerakan Jazira pun segera angkat suara.
"Sudah kubilang bukan? Aku tak akan menyentuhmu, ini sudah menjadi kebiasaan ku sejak dua tahun terakhir. Jadi jangan mengganggu kebiasaan ku hanya karena kedatanganmu." ujar Albirru sembari memunggungi Jazira yang masih menganga karena ucapan Albirru.
Dih, sombong sekali. Siapa juga yang mau disentuh sama laki-laki yang udah nggak perjaka kek dia. Entahlah, ngidam apa ibu mertuaku dulu sampai-sampai memiliki anak seperti dia. Batin Jazira dalam hatinya sembari memunggungi suaminya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan posisi yang saling memunggungi satu sama lain.
************
Tepat tengah malam, Jazira yang sedang terlelap nyenyak dalam tidurnya sedikit terusik dengan suara yang tak asing bagi telinganya.
"Ra... bangun bentar." suara tersebut berulang kali menyapa pendengarannya. Lama dia mendiamkan suara tersebut, dirinya semakin terusik karena tepukan kecil di pipinya.
Ya, pemilik suara tersebut adalah Albirru. Dia telah memanggil sang istri berulang kali. Namun Jazira sama sekali tak menghiraukannya. Karena kesal,Albirru pun mengguncangkan tubuh Jazira ke kanan dan ke kiri.
"Jazira Altamaira, bangun!" ucap Albirru dengan nada yang sedikit tinggi. Dengan malas, Jazira pun membuka matanya sayup-sayup.
"Hmm, ada apa?" jawab Jazira sambil memejamkan matanya kembali.
"Tolong siapkan aku makanan. Aku sangat lapar, sekarang." ujar Albirru memohon sambil menahan laparnya. Jazira hanya diam tanpa menjawab perkataan suaminya. Ia kembali menggulingkan badannya memunggungi suaminya.
"Kau punya Larina bukan? Suruh dia untuk memasakkan mu. Kenapa kau meminta tolong padaku?" jawab Jazira santai sambil menaikkan selimutnya kembali.
"Apa kau bercanda? Ini tengah malam, Ra. Dan lagipula kau lah istriku, bukan dia. Kenapa aku harus meminta tolong padanya?" ujar Albirru dengan sedikit kesal.
"Kemana saja kau, kenapa baru sekarang kau mengakuiku sebagai istrimu?! Apakah kau tak berpikir ketika melakukan hal 'itu' bersama dengan Larina, jika akulah istrimu?! Minta tolonglah pada kekasih tercintamu itu." jelas Jazira dengan nada yang sedikit tinggi dengan mata yang masih terpejam.
"Lagipula sejak kau mendaftarkan pengajuan perceraian kita ke pengadilan agama, aku anggap kau tak lagi membutuhkan aku sebagai istrimu. Mudah saja, tinggal kau ceraikan aku lantas kau menikah dengan Lar-" ucapan Jazira terpotong karena Albirru tiba-tiba menindih tubuhnya.
Kayenna ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Mam dan Kakak yang telah memberi vote atau poin berharganya buat Zizi dan Albirru. Kayenna akan selalu ingat nama kalianš.
Dan ya, untuk Mam atau Kakak yang meminta agar Kayenna bisa up tiap hari mohon maaf sekali karena Kayenna tidak bisaš. Karena apa? Karena....
Kayenna harus mengerjakan tugas sekolah.
Kayenna harus bantu pekerjaan rumah.
Kayenna sedang kejar daily update di aplikasi pink.
So, Kayenna minta maaf jika Kayenna jarang sekali up. Kayenna juga minta maaf jika alur ceritanya tidak sesuai dengan harapan Mam dan Kakak semua.
Jazakumullahu Khairan Katsiran untuk semua. Peluk jauh dari Kayenna untuk kalianā¤ļø.
__ADS_1