ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 75


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian yang membuat Jazira bahagia, kali ini Jazira tengah berada di dalam mobil bersama Veno, Jingga, dan Marcel menuju gedung pengadilan negeri untuk menghadiri proses hukum Larina.


Ibu hamil itu sering tersenyum akhir-akhir ini. Pasalnya setelah rangsangan yang Albirru berikan kepada putri kecilnya beberapa hari yang lalu, kini dirinya bisa merasakan pergerakan lain yang datang dari putrinya beberapa kali sehari.


"Masih suka nendang ya Kak Zi?" tanya Jingga yang langsung diangguki oleh Jazira. Gadis mungil itu menyenderkan badannya kepada sang kakak lalu ikut mengelus perut sang kakak.


"Ngaruh banget ya sentuhan si brengs*k itu, Kak?" tanya Jingga sembari terus menatap perut besar milik sang kakak. Jazira pun mengelus puncak kepala milik sang adik lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, entah kenapa si cantik ini baru nendang tepat saat kakakku ngelus perut Kak Zizi. Nggak cuma sekali, tapi berkali-kali dia nendang pas kakak kamu ngelus lagi. Kak Zizi bersyukur aja," ucap Jazira sembari tersenyum tipis.


"Kenapa ponakan aunty Jingga nakal banget sih? Mungkin efek karena dia cewek, makanya dia lebih lengket sama papa nya kali ya?" ujar Jingga yang langsung disambut oleh anggukan kepala dari Jazira.


"Terus? Kalo si kecil lebih lengket ke papanya, itu berarti Zizi bisa balik gitu saja sama laki-laki brengs*k itu?! Sekalipun dia mau balik sama Zizi, itu pun atas izin dari Kak Marcel," ujar Marcel sambil menolehkan kepalanya ke belakang yang membuat Jingga tersenyum.


Jazira yang mendengarkan perkataan dari Marsha pun mengalihkan pandangannya kepada cincin emas yang ada di jari manisnya. Sementara Veno, dirinya tak ingin berkomentar masalah kehidupan sahabatnya itu.


Tak lama setelah itu akhirnya mobil yang mereka kendarai pun telah tiba di sebuah gedung besar dengan tulisan Pengadilan Negeri di pamflet putihnya.


Mereka semua pun berjalan turun dari mobil dan melangkahkan kaki mereka menuju lobi di gedung tersebut. Jazira yang masih sedikit takut dengan kondisi anaknya pun berjalan sembari memeluk lengan milik Veno. Sementara Veno pun sama sekali tak merasa keberatan ketika harus menjadi tumpuan sang sahabat.

__ADS_1


Mereka pun berjalan menuju ruangan tempat Larina akan mendapatkan semua balasan atas apa yang telah dia lakukan selama ini. Jazira sedikit merasa gugup karena dirinya hendak memasuki ruangan yang identik dengan hal menakutkan itu.


Ketika mereka tiba di depan ruangan tersebut, ada beberapa orang yang telah tiba di sana. Dengan segera mereka pun berjalan masuk dan segera duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap langsung ke meja hakim. Marcel duduk di sebelah Jingga dengan kursi sebelah tempat dimana Jazira yang duduk sendiri.


Jazirah meminta kepada Veno untuk meninggalkannya sendiri. Entahlah ibu hamil tersebut ingin duduk leluasa sembari mendengarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Tempat Jazira yang sangat strategis tersebut membuat Marcel sedikit tenang, karena Jazira duduk persis di depan pintu.


Sedangkan Veno duduk di depan Jazira. Dan tak lama setelah itu terdapat seorang gadis yang duduk tepat di sebelah Veno dengan pakaian serba hitamnya. Jingga yang melihat hal tersebut pun menolehkan kepalanya kepada Marcel karena melihat wanita bertopi hitam itu.


Namun jawaban dari Marcek membuat Jingga kembali menatap ke depan setelah menatap wanita berkuncir kuda yang sebagian wajahnya tertutup oleh topi nya.


Tak lama setelah itu, beberapa orang dengan jubah hitam serta Larina datang memasuki ruangan itu. Tatapan Larina tertuju pada seorang gadis yang duduk di sebelah Veno. Entahlah, pada gadis tersebut atau Jazira.


Deg!


Jazira terkejut ketika melihat sang suami yang telah duduk di sampingnya. Tatapan Jazira masih terpaku pada laki-laki yang sama sekali tak menolehkan kepalanya kepada dirinya itu. Jazira segera menolehkan kepalanya ke depan ketika Albirru tiba-tiba menolehkan kepalanya kepada dirinya.


Jazira yang hendak bangun dari duduknya dan berpindah pun digagalkan karena Albirru lebih dulu mencekal tangannya dan membawa Jazira untuk kembali duduk.


"Kau tak perlu berpindah, aku tak akan berbuat macam-macam kepada istri dan anakku." Jantung Jazira sejenak berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Albirru. Jazira pun segera melepaskan tangannya dari cekalan tangan sang suami karena merasa sedikit canggung.

__ADS_1


Albirru yang paham bagaimana perasaan sang istri pun melepaskan genggaman tangannya kepada Jazira dan membiarkan wanita hamil itu kembali duduk dengan nyaman.


Akhirnya mereka berdua pun duduk dengan jarak cukup lebar dengan perasaan canggung yang kembali menguasai diri mereka masing-masing. Mereka semua yang berada di ruangan itu pun menyimak jalannya persidangan dengan khidmat.


Hingga tiba di mana salah satu dari mereka yang berada di depan sana memberikan pertanyaan kepada Larina yang benar-benar dijawab oleh Larina dengan sejujurnya.


"Apa motivasi Anda untuk melakukan percobaan pembunuhan tersebut kepada Nona Jazira?" tanya seorang laki-laki yang duduk di hadapan semua orang, yang membuat Larina tertawa seperti orang gila.


"Kenapa aku melakukan semua ini? Aku melakukan semua ini karena aku benar-benar iri padanya, aku juga marah padanya karena dia mengambil perhatian kekasihku dan berhasil menjauhkan dia dari ku! Aku ingin dirinya dan anak yang sedang dia kandung itu mati! Seperti anakku!" ujar Larina dengan tawanya yang membuat semua orang menggelengkan kepalanya.


"Lantas mengapa Anda mengaku bahwa anak yang sempat Anda kandung itu adalah anak dari Tuan Albirru?" tanya orang itu lagi yang membuat Larina berhenti dari tertawanya. Larina menatap tajam laki-laki tersebut dengan mata yang memerah.


"Aku tak ingin anak yang aku kandung, tumbuh tanpa figur ayah. Kau tahu aku telah diperko*a di sebuah club malam tepat setelah kekasihku mengusir diriku dari rumahnya. Aku yang sedang mabuk berat pun tiba-tiba diper*osa oleh b*jingan itu hingga aku hamil! Aku yang tak ingin Jazira bahagia bersama Albirru pun mengaku bahwa anak yang tengah aku kandung adalah anak dari Albirru!" imbuh Larina dengan nada berapi-api yang membuat Albirru dan Jazira terkejut.


"Akhirnya aku berhasil merebut Albirru kembali dan membuat wanita itu pergi dari kehidupan ku! Tapi nyatanya hal itu tak berselang lama, beberapa hari setelah itu Albirru kembali mencampakanku dan sama sekali tak menyentuh diriku lagi! Bahkan untuk melihatku saja sepertinya dirinya tak sudi!" imbuh Larina yang membuat Jazira kembali terkejut, wanita itu menolehkan kepalanya ke samping menghadap sang suami yang masih menghadap ke depan.


"Dan karena wanita itulah anakku yang tak bersalah telah mati dalam kandungan! Aku stress karena Albirru sama sekali tak memperhatikanku hingga aku pergi ke club dan kembali ke kebiasaan burukku di awal. Hingga akhirnya bayi yang aku kandung mati tak berdaya!" ucap Larina dengan tawanya seperti orang gila yang membuat semua orang merasa iba pada dirinya.


Masih semangat baca? Otw konflik puncak nih, Semoga nggak ada konflik baru lagi lah ya...

__ADS_1


__ADS_2