
"Bener kan apa yang Gue bilang?! Gue cuma mau peluk Zizi kecil Gue!" Ucap Marcel dengan tegas sambil menerik Jazira kedalam dekapannya. Jazira yang dipeluk oleh Marcel pun seketika badannya menegang.
Albirru yang melihat hal tersebut pun hendak memukul Marcel namun dicegah oleh Larina dan Johan.
"Tuan, Anda harus menahan emosi mu. Disini penuh dengan relasi bisnis Anda. Mereka semua pun sudah tahu bahwa Pak Marcel merupakan Kakak tiri dari Nona Jazira." Ucap Johan mendekat sambil menahan agar Albirru tak memukul Jazira.
"Sayang! Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau terlihat marah ketika Jazira dipeluk oleh lelaki lain?! Hal tersebut hanya dilakukan oleh orang yang saling mencintai! Jangan bilang kalau kamu mulai suka sama Jazira, ya?!" Ucap Larina penuh emosi sambil menatap tajam netra Albirru.
Albirru tersentak dengan ucapan dari sang kekasih. Dia pun bingung dengan keadaan hatinya yang tak rela jika Jazira dipeluk oleh pria lain. Dirinya tak boleh egois, seolah-olah Jazira hanyalah miliknya.
"Aku akan tunggu sampai laki-laki bren**k itu ceraikan kamu. Dalam keadaan apapun itu, aku akan menerima kamu." Ucap Marcel tulus sambil menatap tajam Albirru yang sedang menatapnya dengan tatapan marah.
Dengan sengaja, Marcel mengelus punggung kecil milik Jazira. Marcel melebih-lebihkan apa yang sedang dia perbuat saat ini. Tangan sebelahnya ikut melingkar di pinggang ramping milik Jazira.
Dan benar saja, kali ini Albirru tak bisa menahan gemuruh didadanya yang sedari tadi minta dikeluarkan. Dengan kasar dia menarik lengan Jazira dan membawa Jazira kepelukannya.
Jazira terkejut bukan main karena sekarang dia sudah berada di dekapan Albirru. Albirru mengeratkan pelukannya dipinggang Jazira posesif lalu menatap Marcel.
"Gue udah cukup bersabar karena Lo peluk istri Gue, tapi untuk hal yang lain nggak sama sekali! Gue peringatin sama Lo! Jangan pernah deketin Maira lagi. DIA ISTRI GUE!" Ucap Albirru dengan tegasnya yang membuat Jazira terpaku.
"Anda tidak boleh egois Tuan. Ingatlah apa yang kau ucapkan pada saya tempo hari. Aku, Jazira Altamaira hanyalah istri bayaranmu. Istri kontrak yang kau bayar untuk menjadi istrimu selama sepuluh bulan. Apakah kau lupa?" Lirih Jazira sambil menatap lurus ke dada Albirru.
"Biarkan saja aku egois. Jika aku mau kamu menjadi istriku, entah itu kontrak atau tidak maka kau tak bisa menolaknya. Tak boleh ada seorangpun yang menyentuh milikku. Kau paham?!" Ucap Albirru lirih tepat disamping telinga Jazira.
__ADS_1
Jantung Jazira berdegub dengan kencang, mendengar pengakuan dari Albirru. Dia meletakkan tangannya di perut milik Albirru dan mulai menjauhkan tubuhnya dari Albirru.
Namun belum sempat dia menjauh, Albirru semakin mengeratkan pelukannya kepada Jazira.
"Sekarang Lo boleh pergi dari acara pernikahan Gue. Gue nggak butuh tamu undangan yang dengan percaya dirinya memeluk calon istri orang lain. Lo tau jalan keluarnya kan? Gue yakin kalo Lo tahu! Kecuali kalo Lo budeg atau buta!" Tegas Albirru sambil berjalan menjauhi kerumunan.
Tangan kanannya masih setia mencengkeram erat lengan kecil milik Jazira dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Dia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras lalu menguncinya.
Jazira pun terkejut bukan main dengan perilaku Albirru. Sekujur badan milik Jazira pun bergetar dengan hebat. Tanpa aba-aba, Albirru pun memojokkan Jazira ke tembok yang berada di belakangnya.
Albirru pun mendekatkan tubuhnya kepada Jazira dan mengunci tubuh mungil milik Jazira dengan kedua lengan kekarnya. Dia mulai mengikis jarak antara wajahnya dengan Jazira.
Sontak Jazira pun menutup matanya dengan nafas yang tak beraturan. Dapat Jazira rasakan hembusan nafas segar milik Albirru menyapu wajahnya.
Sedangkan Jazira yang belum sama sekali membaca surat kontrak pernikahannya pun hanya menggeleng perlahan. Sontak Albirru yang melihat jawaban dari Jazira pun membawanya menuju meja kerjanya.
Tak tanggung-tanggung, Albirru menyeret Jazira menggunakan satu tangannya dengan kasar. Jazira pun hanya meringis sambil menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan rasa sakitnya.
Albirru menghempaskan tangan kecil milik Jazira dengan kasar lalu mengambil beberapa lembar kertas yang teronggok diatas meja kerjanya.
"Baca dan pahami apa yang tertulis di kertas itu! Setelah kau paham semua, tanda tangani surat kontrak ini. Kau paham?!" Bentak Albirru yang hanya diangguki oleh Jazira. Dengan segera, Jazira pun membacanya dan segera mamahaminya.
Mata Jazira terbelalak ketika membaca poin ketiga dan keempat di kertas tersebut. Bagaimana tidak? Pada poin ketiga, Albirru mengatakan bahwa Jazira tak boleh berhubungan atau bertemu dengan pria lain selain Albirru dan Johan.
__ADS_1
Dan yang lebih mengejutkan lagi, pada poin keempat Albirru mengatakan bahwa Jazira harus melayani Albirru kapanpun saat Albirru ingin meminta hak nya.
Jazira pun menggelengkan kepalanya dan mendongakkan kepalanya hendak protes. Namun Albirru yang telah tahu maksud dari Jazira pun segera memberikan pulpen kepada Jazira.
"Jangan berani-beraninya untuk protes! Jika kau berani protes, maka aku akan membatalkan pernikahan kontrak kita. Aku akan mengantarkanmu ke pria breng**k itu, supaya kau segera dinikahi olehnya!" Sergahnya sebelum Jazira protes padanya.
Tak ingin jika hal tersebut sampai terjadi, Jazira pun segera mengambil pulpen yang diserahkan oleh Albirru. Entahlah, apakah dia benar-benar tak ingin jika dirinya dikembalikan oleh Marcel atau tak ingin kehilangan Albirru.
Setelah menandatangani, Jazira pun mengangkat kertas tersebut dan menyerahkan kertas kontrak pernikahannya kepada Albirru.
"Aku berjanji, tidak akan pernah melanggar apa yang berada di kertas kontrak tersebut dan akan menjadi istrimu yang baik selama 10 bulan. Kau bisa pegang ucapanku." Ucap Jazira sambil berdiri dihadapan Albirru.
Albirru hanya menundukkan sedikit pandangannya menatap gadis kecil dihadapannya. Entahlah, tiba-tiba dia ingin memeluk tubuh mungil Jazira yang terbalut gaun mewah bewarna putih pilihannya.
Tanpa pikir panjang Albirru pun memeluk calon istrinya erat-erat. Albirru menghirup aroma tubuh Jazira yang menenangkannya.
"Aku berharap agar semuanya bisa berubah di tengah jalan." Bisik Albirru yang dia sendiri tak tahu darimana datangnya keinginan itu.
Lagi lagi dan lagi Jazira hanya termangu mendengar perkataan dari Albirru. Dapat Jazira rasakan, ada setetes air yang membawa harapan kecil dihati kecilnya.
'Apakah itu berarti dia ingin kontrak pernikahan kami berganti dengan pernikahan normal seperti yang lain?' Batin Jazira dalam hatinya. Tangannya terangkat hendak mengelus punggung kekar milik sang suami.
Namun belum sempat tangannya menyentuh punggung sang suami, Albirru lebih dulu mendorong tubuhnya agar menjauh dari Albirru. Entah keberapa kalinya, hati Jazira dibuat mencelos oleh perbuatan Albirru.
__ADS_1
Entahlah, mengapa Albirru sangat suka mempermainkan perasaannya.