
Setelah perdebatan panjang antara dirinya dan sang suami, Jazira kini tengah menatap langit-langit rumah sakit dengan keadaan yang terlentang di atas brangkar itu. Entah mengapa, brangkar yang sedari tadi di dorong oleh beberapa perawat itu berhenti di depan sebuah ruangan yang membuat Jazira menolehkan kepalanya.
"Nyonya Jazira, kita kini tengah berada di ruangan baby Arasa. Apakah Anda ingin bertemu dengan baby Arasa walau hanya sejenak? Karena ruangan untuk proses laktasi Anda berada sedikit lebih jauh dari ruang rawat baby Arasa," ujar sang perawat yang tadi membawa inkubator milik sang putri ke ruangan khusus yang dia pesan.
Tanpa berpikir panjang, Jazira pun segera menganggukkan kepalanya yang membuat sang perawat tersenyum. Perawat tersebut pun memberi isyarat kepada rekan nya yang lain yang langsung diangguki oleh semua rekan yang kini membawa Jazira menuju ruang laktasi.
Dengan antusias, Jazira menatap ruang rawat milik sang putri yang memiliki nuansa indah dengan berbagai macam karakter yang disukai oleh anak-anak. Tatapan indah Jazira tertuju pada sebuah inkubator transparan yang dimana di dalamnya terdapat putri mungilnya kini tengah tertidur lelap.
Sang perawat yang mengerti keinginan dari Jazira pun berinisiatif untuk menaikkan posisi brangkar milik Jazira sehingga posisi Jazira kini setengah terduduk. Jazira sempat meringis kesakitan karena rasa sakit yang kembali menyerang perutnya.
"Anda baik-baik saja, Nyonya? Apakah Anda menginginkan sesuatu?" tanya seorang perawat yang sedari tadi mengurus Jazira dan Arasa tatkala melihat Jazira tengah melipat bibirnya kedalam sembari memegangi perut bagian bawahnya.
__ADS_1
Jazira pun menggelengkan kepalanya sembari menekan perut bagian bawahnya. Jazira memberikan syaratnya kepada perawat pertama yang sejak kemarin mengurus dirinya agar sang perawat membawa Arasa pada dirinya.
Sang perawat pun dengan cepat membawa Arasa ke dalam delapan Jazira. Wanita yang sedari tadi memegangi perutnya itu pun segera melepaskan cengkeramannya tatkala sang putri kini berada di hadapannya.
"Kalian bisa meninggalkan saya sebentar sendirian? Saya ingin sendiri untuk sementara," ujar Jazira mencoba meminta sedikit waktu agar dirinya dapat meluapkan air mata yang sedari tadi dia tahan karena ucapan dari sang suami.
Para perawat pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan ruang rawat vvip milik Arasa, membiarkan sepasang ibu dan anak itu untuk saling berbagi.
"Kau tahu Nak? Mama sangat menyayangimu lebih dari apapun itu. Mama berjanji akan selalu ada untukmu dalam keadaan apapun itu, tidak seperti papa mu yang meragukan siapa kamu saat itu. Kau pun perlu tahu bahwa Mama sangat mengharapkan kehadiranmu di hidup mama yang sangat kejam ini. Kamu adalah harta berharga yang mama punya. Jangan tinggalkan Mama ya, Sa?" imbuh Jazira lagi dengan tangis yang semakin tersedu.
Air mata Jazira turun semakin deras tatkala melihat wajah polos sang putri yang kini tengah menatapnya. Terlihat wajah tanpa energi yang membuat hati Jazira seperti tersayat pisau tajam ketika menatap wajah ayu sang putri.
__ADS_1
"Maafkan mama, Nak. Mama belum bisa menjadi mama terbaik untukmu. Mama akan berjuang supaya kau dapat segera pulih, Mama ingin kamu sehat, Nak. Mama berjanji akan selalu ada di sisi Asa dalam kondisi apapun. Jika Arasa ada, maka Mama pun akan ada. Tapi jika Asa tiada, maka Mama pun akan tiada. Mama sayang Asa, Nak," lirih Jazira dengan tangisan yang terdengar semakin pilu.
Lama Jazira menangis sembari menatap wajah ayu sang putri yang hanya dapat terdiam sembari mengerjapkan mata indahnya itu. Jazira mengelus wajah mungil milik sang putri dengan dada yang bergemuruh hebat.
Saat jemari mungil milik Jazira tengah menyusuri wajah cantik milik sang putri, tiba-tiba dirinya menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk ruang rawat nya tatkala pintunya terbuka.
"Maaf Nyonya Jazira, dokter ahli laktasinya telah siap. Bisa kita ke ruangannya sekarang? Supaya baby Arasa dapat segera mendapatkan ASI pertamanya," ujar sang perawat yang membuat Jazira segera menganggukkan kepalanya.
"Sayang, Mama pergi dulu ya? Jangan tinggalkan Mama, Mama hanya pergi sebentar. Janji, cuma sebentar kok. Arasa jangan tinggalin mama ya? Biar mama aja yang pergi, Arasa jangan. Oke, Nak?" ujar Jazira lirih kepada sang anak.
Perawat itu pun segera mengambil Arasa dari gendongan Jazira dan kembali meletakkan nya di inkubator. Lalu Jazira pun mengikuti semua step yang perawat itu berikan hingga dirinya mulai memasuki ruang laktasi.
__ADS_1
"Ya Tuhan, berikan Zizi kemudahan. Zizi ingin Arasa tetap ada di sisi Zizi. Zizi mohon pada-Mu, jangan pernah ambil Arasa dari Zizi. Jika Engkau ambil dia, maka ambil lah Zizi juga. Zizi sangat sayang Arasa, Tuhan." Jazira memejamkan matanya sembari berdoa dalam hatinya.