ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 58


__ADS_3

Setelah mengatakan hal tersebut, Albirru pun segera keluar dari ruangan tersebut dan berjalan kembali ke kamar milik Jazira. Dengan nafas yang memburu, Albirru menggenggam erat tangannya agar tak meluapkan emosinya.


Sedangkan Larina, wanita itu menatap kepergian Albirru dengan mata yang merah dan hampir meneteskan air matanya. Larina mengepalkan tangannya erat-erat dengan satu nama yang Larina incar dalam hatinya. Yaitu Jazira, tak ada wanita yang lain selain wanita yang menjadi cinta mati milik kekasihnya tersebut.


Albirru yang telah tiba di kamar sang istri pun segera menutup pintu berwarna putih tersebut. Tak lupa untuk mengunci nya, dia tak ingin jika wanita licik itu datang mengikuti dirinya ke kamar milik istrinya.


Albirru benar-benar tak sudi jika kamar milik istrinya tersebut terjamah oleh kaki kotor milik wanita licik seperti Larina. Albirru pun berjalan mendekati jendela besar dan duduk di sofa yang menjadi tempat favorit Jazira untuk menghabiskan waktunya menikmati senja dan fajar.


Laki-laki tersebut menerawang jauh langit yang tidak memiliki batas itu. Pikirannya kembali teringat pada sang istri yang entah sekarang ada dimana dan sedang melakukan apa.


"Cepet pulang, Ra. Ku yakin, ketika kau pulang nanti kau akan merasakan perubahan seorang Albirrumu. Aku berharap semoga kau segera ingin menemui suamimu ini," lirih Albirru sambil menyandarkan kepalanya di batasan sofa berwarna putih itu.


Sedangkan Jazira yang baru saja pulang dari jalan-jalan bersama Marcel, Jingga dan Veno pun tengah berganti pakaian. Tak lupa dia membereskan beberapa belanjaannya yang dia dapat dari traktiran Veno.


Setelah berganti pakaian, Jazira pun berjalan keluar dari kamarnya dan langsung bergabung dengan tiga orang yang tengah berbincang santai tersebut. Jazira menggelengkan kepalanya melihat Marcel yang tengah menyenderkan kepalanya di dada milik Jingga dengan kedua lengan kekarnya yang memeluk pinggang milik Jingga.


"Waduh romantisnya" ujar Jazira sedikit mendayu-dayu yang membuat Marcel melirikan matanya tajam pada adik tirinya tersebut. Dengan tak tahu malunya, Marcel semakin mengeratkan pelukannya dan malah menenggelamkan wajahnya tampannya di ceruk leher milik Jingga.


Veno yang melihat hal tersebut pun segera menolehkan kepalanya dengan mata yang terbelalak lebar. Sedangkan Jazira yang melihat hal tersebut pun tertawa geli lalu duduk di hadapan mereka bertiga.

__ADS_1


"Makanya cari cewek, jangan cari uang mulu. Udah kaya juga," ucap Jazira sebelum menjatuhkan dirinya di sofa dengan tangan yang menggeplak perlahan lengan milik lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Heh Jazirah Arab! Mentang-mentang udah nikah, terus gitu sama sahabat sendiri," jawab Veno tak bisa santai sembaru melirikkan matanya kepada dua sejoli yang belum berubah dari posisi mereka.


"Percuma udah punya suami tapi disakitin terus," ejek Marcel yang membuat Jingga membelakkan matanya. Jazira yang mendengar ejekan sang kakak tiri pun hendak bangun dari duduknya.


Namun dia mengurungkan niatnya karena didahului oleh Jingga yang lebih dulu menampar kecil pipi milik laki-laki yang tengah menempelkan pipi sebelahnya di dadanya itu.


"Awas aja sampai ngejek Kak Zizi sekali lagi. Mau gimana-gimana juga suaminya kak Zizi tuh kakak kandungnya Jingga! Kalo Jingga denger lagi, tinggal jambak nih rambutnya!" bela Jingga kepada sang kakak yang membuat Jazira tersenyum lebar.


Marcel sama sekali tak berkutik ketika wanita yang dicintai tersebut telah turun tangan. Marcel pun kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher milik Jingga yang membuat Veno mengerang lebay.


"Aargh! Stop it! Are you kidding me and Jazira?!" teriak Veno yang membuat Marcel mengangkat wajahnya dari leher Jingga dan menatap sang asisten.


"Terus rencana kamu ke depannya gimana, Ar? Mungkin lo mau cerai sama si Albirru gila itu atau akan ngelakuin apa?" tanya Veno layaknya seorang detektif yang membuat Marcel menggelengkan kepalanya miris.


"Gue miris lihat kelakuan lo tiba-tiba jadi gini, Van. Gue bener-bener baru jumpain sifat lo ini setelah lo ketemu sama Jazira. Selama ini, lo hanya seorang asisten yang selalu bersikap profesional baik dalam jam kerja atau tidak," ujar Marcel yang membuat kedua wanita di hadapannya itu terkejut.


"Sst ... jangan ganggu dulu lah, Cel. Gue mau interogasi artis kita hari ini," sindir Veno tak menjawab pernyataan dari Marcel dan masih menatap kepada Jazira yang masih menatap bingung pada lelaki yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Heh Jazirah Arab! Jawab, cepet!" paksa Veno yang membuatku Jazira tersadar. Wanita tersebut menatap Veno dengan tatapan ogah-ogahannya lalu menatap Marcel dan Jingga yang masih betah dengan posisi mereka.


"Ya, belum ada rencana apa-apa sih. Termasuk buat minta cerai atau mungkin malah menggugat cerai. Dalam waktu dekat ini, mungkin Zizi bakal minta tolong sama Kak Marcel buat balikin semua uang yang pernah Mas Birru berikan sama Zizi. Bisa kan Kak?" ujar Jazira sembari menatap Marcel.


Marcel yang merasa namanya diseret dalam rencana besar Jazira pun berbangga diri. Dirinya langsung duduk tegap dan menarik badannya dari Jingga, yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap Marcel.


"Ngapain nggak ditransfer aja, Ar?" tanya Veno menyela yang membuat Marcel menatap datar pada asistennya tersebut.


"Gue kira lo pandai loh Ven. Tapi ternyata lu sama aja. Persis banget sama tukang parkir yang jaga di depan swalayan," ujar Marcel yang membuatkan Veno mebelalakan matanya.


"Bukan gimana-gimana sih, Kak. Cuman takut aja kalau Mas Birru bisa ngelacak di mana kita berada saat ini. Mas Birru bukan laki-laki biasa yang enggak tahu caranya melacak di mana istrinya berada. Dia bisa aja ngerahin semua anak buahnya buat cari kita. Maka dari itu, buat ngurangin resikonya Zizi minta tolong sama Kak Marcel aja," jawab Jazira gamblang yang membuat Veno menganggukkan kepalanya.


"Bisa aja Zi, nanti Kak Marcel minta tolong sama GM utama yang handle perusahaan Indonesia. Nanti lo tinggal bilang sama dia berapa nominalnya terus mereka bakal kirim sejumlah yang lo bilang. Kak Marcel pastiin, Albirru bakal kebingungan karena perusahaan Kak Marcel yang kirim," ujar Marcel yang membuat Jazira sedikit tenang.


"Iya Kak, soal itu nanti gampang. Jazira bakal langsung kabarin setelah Kak Marcel kasih nomornya. Sebelumnya Zizi ucapkan terimakasih banyak ya Kak," jawab Jazira yang hanya diangguki oleh Marcel.


Laki-laki itu pun kembali menyenderkan kepalanya di bahu milik Jingga. Jingga yang disendri oleh Marcel pun segera mengelus puncak kepala milik Marcel.


Veno yang kepanasan pun berpindah duduknya. Dia berjalan menuju dapur milik Jazira, entahlah apa yang akan di lakukan oleh Veno. Sementara Jazira yang melihat kakak tirinya semakin dekat dengan Jingga pun semakin senang.

__ADS_1


"Kalo serius, langsung aja Kak Cel." Jazira memberikan usul setelah netranya melihat Jingga yang mencium kening milik marcel dengan penuh cinta. Marcel yang mendengar ucapan Jazira pun mendongakkan kepalanya dan menatap adik tirinya itu.


"Bentar lagi juga Kak Marcel lamar," celetuk Marcel yang membuat Jingga terkejut. Nafas gadis itu tercekat di tenggorokan saat mendengar penuturan Marcel.


__ADS_2