
"Tuan Albirru lebih memilih bangkrut karena relasinya pergi daripada dia harus menikahi wanita yang tidak mengandung anaknya. Bahkan Tuan Albirru bersikukuh mengatakan bahwa itu bukan anaknya." Jazira menghembuskan nafasnya perlahan setelah dirinya duduk.
Dokter tersebut pun kembali duduk di tempat duduknya. Lalu mengatakan hal yang membuat Jazira sedikit terkejut, "Kembalilah pada Tuan Albirru, Nyonya. Anak kalian membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya. Terlebih lagi bayi cantik ini akan menjadikan Tuan Albirru sebagai cinta pertamanya."
Jazira mengalihkan pandangannya dari sang dokter. Dirinya tak ingin pertahanannya selama ini runtuh seketika.
"Oh iya dok, kenapa selama mengandung ini aku tak merasakan gejala seperti ibu hamil yang lainnya? Ada temanku yang mengandung tak jauh berbeda usianya, tetapi dia sudah beberapa kali mengatakan bahwa anak yang ada di dalam kandungannya menendang. Tapi kenapa aku tidak? Apakah karena kandunganku lemah, jadi bayiku tak menendang?" tanya Jazira mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Dokter muda itu pun tersenyum saat mengetahui maksud Jazira.
"Mungkin saja itu sudah terjadi, tetapi Anda kurang peka jadi Anda tak merasakannya. Karena biasanya fase quickening terjadi mulai usia 17 minggu hingga bulan ke sembilan. Bisa saja faktor yang mempengaruhinya adalah lemak yang menumpuk di bagian perut sehingga tendangan si kecil kurang terasa," jawab sang dokter yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
"Itu untuk kandungan normal bukan? Mungkin hal itu tak berlaku untukku. Oh iya, apa ada obat yang harus kutebus sebelum pergi?" tanya Jazira karena dirinya mengingat perkataan sang kakak yang akan mengajaknya ke sang ayah tiri.
"Mungkin aku hanya akan memberikanmu obat penguat rahim saja. Overall tidak terjadi apa-apa. Perbanyaklah istirahat serta makanan yang mengandung banyak nutrisi," jawab dokter tersebut yang membuat Jazira menganggukan kepalanya lalu mulai berdiri.
Wanita itu keluar dari ruangan sang dokter setelah berpamitan dengan dokter muda tersebut. Setibanya Jazira di depan pintu ruangan dokter tadi, dirinya mencoba menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri takut jika Albirru masih berada di sana.
Setelah memastikan bahwa Albirru telah pergi, Jazira pun segera berjalan ke ruang VIP tempat di mana Ayah Tirinya di rawat. Jazira terus berjalan dengan kepala yang ditudukkan serta penutup hoddie yang menutup kepalanya. Jazira berjalan cepat, takut jika Albirru menghadangnya lagi.
__ADS_1
Setelah tiba di ruangan milik ayah trinya, Jazira pun membuka pintu ruangan tersebut dan menampilkan Jingga, Marcel, serta Veno yang berdiri di sekitar brankar milik ayah tirinya. Marco yang melihat Jazira telah tiba pun meminta kepada Marcel untuk menaikkan brangkarnya agar dirinya bisa duduk.
Jazira sempat berdiri mematung ketika melihat aura tegas milik Marco yang menguar. Gadis itu masih mengingat bagaimana ayah tirinya tersebut mengangkatkan senjata kepadanya, sehingga membuat rasa takut yang menyelimuti diri Jazira mengingat siapa Marco selama ini.
"Mendekatlah putri Ayah," ujar Marco dengan sebuah alat yang menutupi mulutnya. Jazira yang mendengar ucapan dari Marco pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati brankar dengan sebelah tangan yang menyangga perut bagian bawahnya.
"Apa kabar?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan nada tersendat sembari menatap perut buncit milik Jazira. Jazira menganggukan kepalanya dengan senyuman manis yang terpancar di wajahnya.
"Jazira baik, A ... ayah," ujar Jazira dengan ragu yang membuat laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya. Dengan sedikit susah, Marco pun merentangkan kedua tangannya meminta agar Jazira segera memeluk dirinya.
Jazira sejenak menatap Jingga, Veno, serta Marcel yang berbaris di hadapannya. Mereka semua menganggukan kepalanya yang membuat Jazira langsung masuk ke dalam rangkuhan laki-laki yang selama ini memang menunggu kehadiran Jazira.
Entahlah seketika perasaan rindu kepada sang ayah yang telah tiada, muncul ke permukaan. Ayah Jazira tak pernah memeluknya setelah menikah itu, membuat Jazira meneteskan air matanya.
Kali ini adalah pelukan tulus yang datang dari laki-laki selain suaminya, Albirru. Entahlah mengapa ketika dia memikirkan Albirru, tangisnya kembali turun semakin deras yang membuat Jingga khawatir. Gadis itu berjalan mendekati Jazira dan mengelus punggung milik kakaknya itu.
"Kau wanita hebat. Kau pasti bisa menjalani semua ini, Ayah bangga padamu. Ayah mohon maafkan Ayah," ujar Marco yang membuat Jazira segera menganggukkan kepalanya berulang kali di pelukan laki-laki yang telah ringkih itu.
"Ayah bangga sama kalian berdua, kalian berdua bisa kembalikan Marcel seperti Marcel yang dulu. Anak laki-laki yang dulu sangat Ayah sayangi telah hilang. Tapi kini, telah kalian kembalikam laki-laki itu lagi," ucap Marco sembari melepas pelukannya. Tatapan Marco beralih pada Jingga yang berdiri di sebelah Jazira.
__ADS_1
"Jingga, Ayah yakin kamu pasti bisa jaga Marcel. Laki-laki manja itu, berubah seperti ini karena salah ayah. Ayah yang membawanya di dunia bawah, sehingga dia seperti ini. Tolong kembalikan dia seperti Marcel yang dulu ya, Nak? Jangan pernah tinggalkan dia meskipun dia membuat kesalahan padamu," ujar Marco memberi amanah kepada Jingga. Jingga menatap Marcel sejenak lalu menganggukkan kepalanya.
"Jingga pasti akan jaga Kak Marcel, Yah. Dia laki-laki yang sangat berarti untuk Jingga dalam hidup Jingga," ucap Jingga kembali menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya. Marco pun menganggukkan kepalanya lalu mencoba memejamkan matanya.
"Marcel, Ayah mau istirahat dulu ya. Jangan bangunin Ayah dulu. Ayah titipkan Jazira dan Jingga padamu. Ayah yakin kamu pasti bisa. Bukankah kau putra terbaik Ayah?" tanya Marco yang entah mengapa memberikan sinyal kepada keempatnya bahwa Marco akan pergi.
"Terima kasih untuk segalanya dan maafkan Ayah yang belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kalian. Ayah pergi dulu," ujar Marco sebelum akhirnya dirinya memejamkan matanya kembali. Laki-laki tersebut mulai tenang dalam tidurnya setelah beberapa saat.
Bahkan saking tenangnya, laki-laki tersebut pun mulai menghembuskan nafas terakhirnya yang membuat Marcel diam mematung. Laki-laki tersebut terus menatap dada sang ayah, apakah masih bernafas atau tidak.
Hingga tiba-tiba tangisannya pecah ketika dirinya mendengar alat pendeteksi jantung milik sang ayah berbunyi nyaring serta dada milik sang ayah yang tak lagi naik turun untuk bernafas. Laki-laki tersebut berjalan cepat mendekati sang ayah lalu menangis sembari menekuk kedua lututnya.
"Maafkan Marcel, Yah! Marcel belum bisa jadi anak yang baik untuk Ayah!" ujar laki-laki tersebut dengan air mata yang membuat Jingga mendekati Marcel. Gadis itu mengelus perlahan punggung milik Marcel.
"Ikhlas kan Ayah, Kak Ayah sudah tenang di sana." Jingga mencoba menenangkan laki-laki itu.
Sedangkan Veno yang melihat hal tersebut pun segera keluar dari ruangan untuk memanggil dokter setelah Jazira menekan tombol bantuan di atas brankar milik Marco.
Tinggalkan jejak biar Kayenna tambah semangat ngetik ya Mam😁 Demi Mam semua, Kayenna sampai lembur dan tidur setelah jam dua belas loh. Minimal like saja, itu membuat Kayenna senang😊
__ADS_1