ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 117


__ADS_3

Malam harinya, pukul 23.40 malam.


Jazira yang baru tersadar dari namanya pun mulai membuka matanya dengan perlahan. Yang Jazira lihat kali ini hanyalah langit-langit sebuah ruangan yang berwarna putih dengan aroma obat-obatan yang menyeruak.


Jazira menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati sang suami yang telah terlelap dengan sebelah tangannya yang ada di genggaman tangan sang suami. Sejenak wanita itu lupa dengan apa yang terjadi, hingga tiba dimana Jazira merasa ada sebuah suara yang mentrigger Jazira akan sesuatu hal.


"Suara bayi siapa itu? Apakah itu Arasa?" lirih Jazira saat mendengar salah seorang perawat yang baru saja melewati ruang rawat milik Jazira menuju ke ruang anak. Ya, belum beberapa lama ada seorang wanita yang melahirkan.


Dengan perlahan Jazira pun menarik tangannya dari sang suami dan mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. Jazira terduduk sejenak sebelum akhirnya Jazira teringat bahwa sang putri telah dimakamkan.


"Itu bukan Arasa, Arasa sudah tenang disana. Mama ikhlas kamu pergi, Nak." Jazira menghela napasnya panjang. Jazira menghirup napasnya panjang-panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Dirinya melakukan hak seperti itu selama beberapa kali.


Setelah merasa sedikit tenang dan dapat mengontrol air matanya yang telah ada di ujung, Jazira pun mulai menurunkan kedua kakinya. Kali ini Jazira baru merasakan ngilu ketika bagian dada dan perutnya terasa sakit secara bersamaan.


Meskipun sedikit kesulitan Jazira mencoba memaksakan dirinya untuk bisa duduk dengan benar. Setelah memantapkan dirinya Jazira pun mencoba berdiri dengan bantuan brangkar yang ada di belakangnya serta tiang infus yang masih tersambung dengan tangan Jazira.


Sejenak Jazira menatap sang suami yang masih tertidur lalu memutuskan untuk berjalan keluar dari ruang rawat inapnya, mengikuti kemana hatinya ingin berjalan. Entahlah mengapa kali ini Jazira ingin mencari ketenangan di luar sana.


Jazira terus melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit yang telah kosong dan tak lewat satu orang pun, selain beberapa petugas yang memang memiliki keperluan untuk mendatangi kamar pasien.


Langkah Jazira terhenti di sebuah kaca besar yang menghadap langsung ke ruang bayi, di mana bayi tersebut baru saja lahir. Ibu yang baru saja kehilangan bayinya itu menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya langsung ke kaca transparan yang ada di depannya.


Tiba-tiba air mata Jazira kembali mengalir saat mendengar tangisan dari bayi-bayi mungil itu. Jazira sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata, dia hanya bisa menangis dalam diam nya sembari mengamati tubuh kecil milik bayi-bayi yang ada dihadapannya itu.


Setelah puas mengamati bayi-bayi menggemaskan itu, Jazira pun menghela napasnya perlahan lalu berjalan meninggalkan ruang bayi itu. Jazira terus berjalan dengan tatapan kosongnya.


Kaki mungil milik wanita itu berjalan menuju ujung koridor dimana lift rumah sakit berada. Jemari mungil milik Jazira menekan tombol open yang ada di pinggiran lift itu. Tak menunggu lama, pintu lift itu pun terbuka dan Jazira langsung melangkahkan kakinya ke dalam lift dengan tiang infus yang masih berada di genggamannya.


Jazira membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu lift yang masih terbuka dan tatapannya teralih pada tombol angka yang berada di dinding lift. Entah mengapa, jari Jazira menekan angka paling besar yang ada di urutan lantai itu.


Hingga tak lama setelah itu pintu lift pin tertutup dan langsung membawa dirinya ke lantai paling tinggi yang ada di gedung rumah sakit itu. Jazira kembali menundukkan kepalanya dan tak lagi mengeluarkan suara.

__ADS_1


Tak berselang lama, pintu lift tersebut pun terbuka dan Jazira langsung disuguhkan oleh koridor yang bercahaya remang-remang serta sepi. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Jazira pun melangkahkan kakinya keluar dari lift.


"Everything will be okay," lirih Jazira lalu berjalan maju menuju tangga yang tak terlalu tinggi. Karena kesulitan berjalan, Jazira pun melepas infusnya dengan sedikit paksa. Meskipun sempat meringis kesakitan, Jazira tetap berjalan menaiki tangga dengan berpegangan pada pegangan tangganya.


Terakhir, Jazira pun membuka pintu di roof top itu dan langsung disambut oleh terpaan angin malam. Wanita itu terus berjalan menuju tengah-tengah roof top dan terpana melihat keindahan pusat kota dari atas gedung itu. Langkahnya kian mendekat pada pembatas roof top yang langsung menghadap ke jalanan pusat kota.


Jazira pun memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya terbawa oleh angin malam. Jazira mengatakan kepalanya keatas dan membiarkan sisa air matanya mengalir jatuh.


"Mama berjanji akan selalu ada untukmu dalam keadaan apapun itu,"


Samar-samar Jazira mendengar suaranya sendiri yang masih dia ingat kapan dirinya mengatakan hal tersebut. Ya, itu adalah janji yang dia ucapkan kepada sang putri sebelum dirinya memasuki ruang laktasi. Jazira terkejut. Perempuan itu segera membuka matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Mama berjanji akan selalu ada di sisi Asa dalam kondisi apapun,"


Lagi dan lagi Jazira mendengar suara tersebut yang membuat wanita itu semakin kencang menggelengkan kepalanya dengan air mata yang kembali menetes.


"Maafkan Mama!" seru Jazira ketakutan sembari menjatuhkan tubuhnya diatas lantai roof top. Air mata Jazira mengucur semakin deras saat mengingat wajah sang putri yang sama sekali tak berdosa itu.


"Kamu bodoh Zi," lirih Jazira ketakutan sembari membenturkan perlahan ke tembok yang ada di belakangnya. Jazira terus menangis karena merasa bersalah.


"Jika Arasa ada, maka Mama pun akan ada. Tapi jika Asa tiada, maka Mama pun akan tiada."


Jazira berteriak semakin gelisah dengan tubuh yang bergetar hebat. Tak hanya mendengar bisikan-bisikan hal tersebut, Jazira juga mendengar suara yang meminta agar dirinya melompat.


"Mama minta maaf, Sa. Mama benar-benar menyesal!" teriak Jazira sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. Jazira pun seketika menatap kosong kepada tatapan lurusnya. Seketika Jazira merasa bahwa dirinya membenci dirinya sendiri.


"Kamu bener-bener nggak berguna, Zi!" maki Jazira kepada dirinya sendiri dengan rasa marahnya. Jazira bernapas dengan sedikit tersengal lalu mengepalkan tangannya erat-erat.


"Jika Engkau ambil dia, maka ambil lah Zizi juga. Zizi sangat sayang Arasa, Tuhan."


Doa itu, masih teringat jelas doa yang dia panjatkan kepada Tuhannya. Masih teringat jelas juga harapannya agar sang putri tetap hidup bersama dengan dirinya. Entah kemana Jazira yang dahulu, kini wanita yang mulai membenci dirinya sendiri pun bangkit dari posisinya.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Jazira segera mendekati pembatas roof top dan mulai naik ke atasnya. Tak terlihat sedikitpun rasa takut yang menghinggapi diri wanita itu. Sejenak Jazira mengamati semua yang dapat dia lihat dari posisinya saat ini.


Hembusan angin malam itu menerpa uraian rambut milik Jazira. Wanita itu memejamkan matanya karena berulang kali mendengar suara yang sama. Tak hanya merasa menyesal, dirinya benar-benar merasa tak layak untuk bertahan tanpa sang putri.


Dalam kegelapan netranya Jazira masih mendengarkan suara yang memerintahkan dirinya untuk segera melompat dari ketinggian dirinya saat ini. Wanita itu membuka kedua matanya dan menatap hingar-bingar kota yang masih ramai dari atas gedung rumah sakit.


"Maafkan mama, Sa," lirih Jazira sembari menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar. Jazira segera menyeka air matanya dan mulai melangkahkan kakinya hendak maju.


Setelah tak ada jarak lagi antara ujung kasur nya dengan pinggiran pembatas rooftop, Jazira merentangkan kedua tangannya dan kembali memejamkan matanya.


"Everything will end," lirih Jazira dengan senyum lebar seolah semua masalah yang tengah dia pikul menguap begitu saja.


......TAMAT......


Alhamdulillah cerita ini tamat juga. Rasanya lega sekali. Terimakasih atas kebersamaanya selama berbulan-bulan ini ya Mam. Maafkan jika endingnya tak sesuai dengan yang Mama semua inginkan.


Lah kok nggantung? Lah nggak jelas banget endingnya! Lah kok cuma segini? Loh kok nggak ada bahagia-bahagianya sama sekali? Kok nggak ada kelanjutannya? Bener-bener cerita yang membosankan.


Nah, Kayenna udah tulis kemungkinan yang Mam semua pikirkan. Ya, Kayenna memilih ending dengan jenis Cliffhanger Ending/Open Ending yaa. Jadi pembaca boleh berspekulasi tentang apa yang akan terjadi setelah tamat ini.


Untuk sekuel yang rencananya akan Kayenna luncurkan di bulan ini sepertinya akan Kayenna tunda terlebih dahulu ya Mam. Karena ada masalah yang tidak bisa Kayenna jelaskan disini. Entah bulan depan atau depan nya lagi Kayenna masih belum ada gambaran.


Beri masukan atau kritik Kayenna ke kolom komentar dengan bahasa yang sopan. Sekali lagi Kayenna ucapkan terimakasih banyak sudah menemani cerita amburadul ini hingga tamat. Sayang banyak-banyak buat Mam semua.


Selagi nunggu Kayenna kembali dengan cerita yang lebih seru, mampir ke rekomendasi yang Kayenna bawakan ya Mam. Dijamin bakal suka sama ceritanya.




__ADS_1




__ADS_2