ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 60


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu, tak terasa hampir satu bulan lebih Jazira pergi meninggalkan Albirru. Tak terasa pula, satu bulan lebih lamanya Jazira memulai hidup baru tanpa sang suami.


Selama satu bulan itulah Jazira menjelma menjadi seorang wanita karir yang selalu profesional dalam bekerja. Tak ada lagi Jazira yang mudah dibodohi dan selalu mengalah.


Dia benar-benar hidup teratur dengan mengubah seluruh pola pikirnya. Kecuali pada Jingga, dia sama sekali tak mengurangi rasa memanjakan untuk adiknya itu.


Meskipun di setiap malamnya dia akan terdiam menatap bentangan awan untuk memikirkan suaminya, tetapi dirinya tak akan pernah goyah lagi. Apa yang telah dia pikirkan akan segera terealisasikan.


Kali ini, di sebuah kamar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk kota London itu masih terbaring seorang wanita dengan wajah lelahnya karena pagi tadi sebelum fajar tiba, dirinya telah muntah berkali-kali.


Wanita tersebut mulai menggeliatkan tubuhnya hingga tiba di mana dia merasa hawa dingin menusuk kulit mulusnya. Dengan cepat, tangan mungil wanita tersebut meraih selimut tebalnya dan menutupi tubuh mungilnya lalu kembali bersarang di bawah selimutnya.


Entahlah satu hari belakangan ini dirinya merasa bahwa badanya sedikit kurang enak badan. Dan puncaknya pada hari ini, hampir sentengah jam dirinya terduduk lemas di dalam kamar mandi karena muntah.


Padahal hari ini adalah hari yang sangat penting bagi dirinya. Karena hari ini dirinya hendak ke Kedutaan Besar Indonesia yang ada di London, untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya.


Ya wanita itu adalah Jazira. Setelah memikirkan secara matang-matang selama satu bulan lamanya, Jazira telah memutuskan untuk berpisah dengan Albirru. Dirinya tak ingin semakin larut dalam kesedihannya karena kesalahan laki-laki tersebut.


Akhirnya pernikahan yang dia jalin bersama Albirru hanya berlangsung selama satu setengah bulan lamanya. Meski begitu, Jazira sama sekali tak menyesali pernikahan singkatnya bersama Albirru.


Ketika Jazira yang hendak memejamkan matanya lagi pun mengurunkan niatnya karena mendengar suara pintu terbuka di kamarnya yang membuat Jazira membuka matanya. Terlihat Jingga yang baru saja selesai mandi pun berjalan mendekati Jazira yang masih bergelung manja di atas kasur.


"Jadi hari ini, Kak?" tanya Jingga sembari naik di atas kasur milik Jazira dan mengelus perlahan lengan milik Jazira yang membuat sang empu mendongakan kepalanya kepada Jingga. Jazira pun menganggukan kepalanya dengan wajah sayunya.

__ADS_1


"Jadi, Ngga. Kak Zizi ngerasa kurang enak badan. Nanti setelah dari Kedubes, kita langsung ke dokter ya, Ngga?" ucap Jazira kepada Jingga yang membuat Jingga mengernyitkan dahinya bingung.


"Apa yang Kak Zizi rasakan? Pusing, batuk, panas, atau apa?" tanya Jingga merinci dengan nada khawatirnya yang membuat Jazira tersenyum tipis.


"Dari tadi pagi, Kak Zizi tiba-tiba bangun karena perut Kak Zizi seperti diaduk-aduk Ngga. Nggak lama setelah itu eh mual-mual. Bahkan hampir setengah jam duduk di kamar mandi karena masih muntah aja," jawab Jazira yang membuat Jingga sedikit terkejut.


"Kak Zizi hamil?" seketika pemikiran itu yang terlintas di benak Jingga. Namun dengan cepat Jazira menggelengkan kepalanya bahkan tak ada sedikitpun pemikiran bahwa dirinya tengah mengandung, pikir Jazira.


"Tapi bisa aja Kak Zizi hamil. Kak Zizi udah telat haid, belum?" tanya Jingga yang membuat Jazira segera menolehkan kepalanya pada kalender yang tertempel di dinding kamarnya. Seketika jantung Jazira berdegup dengan kencang, bahkan dua kali lebih cepat dari normalnya.


"Nggak mungkin, Ngga. Mungkin Kak Zizi cuman kecapean atau cuma mual biasa," sanggah Jazira yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya perlahan. Gadis itu menatap datar kepada kakaknya lalu segera turun dari ranjang.


"Ya udah Kak Zizi sekarang mandi aja atau ganti baju. Terus kita berangkat ya, Jingga udah selesai masak tadi," ujar Jingga yang langsung diangguki oleh Jazira.


Setelah memasuki kamar mandi, Jazira berdiri di sebuah cermin besar yang ada di atas washtafel. Setelahnya, Jazira sedikit membuka piyama bagian atasnya hingga memperlihatkan perutnya masih rata. Tangan mungilnya bergerak untuk mengelus perlahan perutnya.


"Apakah kau benar hadir di dalam sana? Jika kau benar-benar hadir, maka Mama akan merawatmu dengan baik," ujar Jazira dengan nada sendunya sembari melihat pantulan perutnya yang masih rata.


Setelah puas mengelus perutnya, Jazira pun segera mandi dan bergegas untuk menyelesaikan ritual paginya. Takut jika Jingga telah menunggu dirinya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian serta menyiapkan semua dokumen-dokumen yang hendak dibawa ke kedutaan besar Jazira, pun membawa map berisi dokumen pribadinya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Jingga yang sudah menunggu Jazira di meja makan pun tersenyum melihat sang kakak yang telah berganti pakaian, lengkap dengan tas kulit serta sebuah map yang Jingga yakini berisi tentang persyaratan pengajuan perceraian kepada kakak kandungnya.

__ADS_1


"Sarapan dulu Kak Zi," ucap Jingga yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya. Wanita yang badannya terlihat lemas itu berjalan mendekati Jingga dan duduk di hadapan adiknya tersebut.


Sebelum tubuhnya benar-benar bertumpu pada kursi makan, tatapan Jazira tertuju pada masakan udang yang Jingga masak. Entah mengapa perutnya terasa seperti diobrak-abrik dan hendak mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Jingga yang melihat raut wajah Jazira pun langsung bertanya mengapa raut wajah Jazirah terlihat seperti jijik dan berniat untuk memasakkan Jazira masakan yang lain.


"Kak Zizi mau masakan yang lain? Kalau Kak Zizi mau, Jingga bakal masakin sekarang," tanya Jingga dengan nada tak enaknya yang langsung membuatnya Jazira tersadar.


Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya cepat dan duduk di hadapan Jingga.


"Nggak usah, Ngga. Kak Zizi cuma kaget aja kamu masakin makanan kesukaan Kak Zizi," jawab Jazira sambil menyendok beberapa ekor udang ke piring nya yang telah terisi dengan nasi putih.


Jingga pun sedikit menganggukkan kepalanya lalu menatap sang kakak yang tengah menyuapkan nasi beserta udang masakannya ke dalam mulut. Jingga tahu jika sang kakak terlihat tak berselera saat memakan udang masakannya.


Hingga setelah Jazira mulai mengunyah makanannya, Jingga pun sedikit tenang dan mulai ikut menyuapkan sarapannya ke dalam mulut. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti ketika Jazira langsung bangun dari duduknya dan berjalan cepat mendekati wastafel.


Terdengar suara muntahan yang berasal dari Jazira. Bahkan bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Sontak Jingga pun bergerak cepat mendekati sang kakak dan mengurut tengkuk milik Jazira.


Dengan khawatirnya, Jingga terus saja mengelus punggung milik Jazira yang mulai bergetar karena wanita tersebut menangis. Terdengar sangat aneh di telinga Jingga ketika mendengar suara muntahan dari Jazira kali ini. Sangat-sangat berbeda ketika dirinya sakit beberapa hari yang lalu.


Setelah lama Jazira berdiri di depan wastafel karena muntahannya belum juga selesai, tiba-tiba tubuh Jazira terkulai lemas dan jatuh ke atas lantai yang membuat Jingga terkejut.


Ditunggu untuk dua bab selanjutnya ya Mam🙏

__ADS_1


__ADS_2