ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 83


__ADS_3

Jazira yang baru saja bangun karena obat biusnya telah hilang pun perlahan membuka matanya. Jazira menghela nafasnya berulang kali untuk mengembalikan ingatannya segera sempurna.


Jazira mengalihkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Mencoba mencari seseorang yang dapat dia minta pertolongan. Entah mengapa Jazira merasakan sakit yang mendera bagian perutnya.


Bagaimana tidak? Dirinya baru saja melaksanakan operasi caesar untuk melahirkan putri kecilnya. Tiba-tiba saja, Jazira terkejut karena melihat bahwa perutnya yang sudah mengecil. Jazira yang panik pun segera mencoba untuk bangun, tetapi dirinya kembali merasa sakit pada bagian bawah perutnya.


"Jingga!" teriak Jazira dengan hidung yang masih tertutup oleh alat nebulizer.


"Dimana anakku! Aakh!" pekik Jazira kesakitan dengan air mata yang telah membanjiri wajahnya. Wanita itu benar-benar ketakutan jika terjadi sesuatu pada sang anak.


Sementara Jingga yang baru saja hendak masuk ke ruangan milik Jazira pun terkejut bukan main. Dia meminta kepada Marcel untuk mendorong kursi rodanya memasuki kamar rawat milik Jazira.


"Astaga! Kamu kenapa, Zi?" tanya Marcel penuh kekhawatiran setelah menempatkan kursi roda milik Jingga di sebelah brangkar milik Jazira.


"Dimana putriku?! Apakah dia baik-baik saja?!Tolong cepat katakan di mana putri ku berada!" bentak Jazira dengan air mata yang terus mengalir deras yang membuat Jingga sedikit rasa khawatir dengan keadaan sang kakak. Marcel pun mencoba untuk menenangkan Jazira.


Namun semua usahanya sia-sia karena Jazira yang masih menangis dengan tangisan pilu nya sembari menanyakan dimana keberadaan sang putri. Pikiran negatif mulai menyelimuti diri Jazira ketika membayangkan betapa lemahnya sang anak selama berada di dalam perutnya.


"Dengerin Kak Marcel dulu, Zi. Putrimu baik-baik saja, dirinya lahir prematur dengan operasi caesar. Pada awalnya dokter meminta Albirru untuk memilih antara kau atau putri mu yang diselamatkan, tetapi akhirnya putri mu dan kau sendiri terselamatkan. Jadi tenang terlebih dahulu," ujar Marcel yang membuat Jazira terkejut. Putrinya lahir prematur? Batin Jazira dalam hatinya.


"Di mana putriku sekarang? Aku ingin menemuinya," ucap Jazira dengan nada yang sedikit tenang yang membuat Marcel merasa tenang.


"Tapi Kak Zizi baru saja operasi caesar. Perut Kak Zizi baru selesai dijahit loh, Jingga takut perut Kak Zizi kenapa-napa. Kita minta sama susternya buat bawa si kecil ke sini ya?" ujar Jingga yang membuat Jazira teringat bahwa dirinya sedang tak baik-baik saja sekarang.


"Bawa dia kemari, Ngga. Kak Zizi bersalah, Kak Zizi nggak pantas jadi ibu," ujar Jazira dengan air mata yang masih mengalir. Dirinya tak membayangkan bagaimana perjuangan sang anak ketika dirinya masih dalam pengaruh obat bius tadi.

__ADS_1


"Ngga, kamu tunggu Kak Zizi disini dulu ya? Kak Marcel mau minta sama susternya buat bawa si kecil kesini," ujar Marcel yang langsung diangguki oleh Jingga. Marcel pun segera berjalan keluar dari ruang rawat milik Jazira.


Jingga membawa kursi rodanya mendekati sang kakak yang membuat Jazira menolehkan kepalanya. Jingga mengelus lengan milik Jazira yang membuat Jazira sedikit tersenyum.


"Maafin Kak Zizi ya, Ngga. Gara-gara Kak Zizi kamu jadi gini," Jazira kembali mengingat bagaimana tragisnya Jessica ketika memperlakukan dirinya dan Jingga dengan seenak hatinya.


"Ini semua musibah, Kak. Yang penting sekarang kita semua baik-baik aja," jawab Jingga sembari menatap netra milik sang kakak. Keduanya pun menunggu kedatangan anak dari Jazira.


Lama mereka berdua menunggu kedatangan si kecil, akhirnya Marcel berjalan membukakan pintu kepada seorang perawat yang telah mendorong sebuah tabung inkubator transparan yang membuat Jazira kembali menyadari kesalahannya.


Jantung Jazira berdegub dengan kencang tatkala perawat tersebut berjalan semakin mendekati brangkarnya. Seketika tangis Jazira kembali pecah saat melihat tubuh merah sang anak.


"Maafkan Mama, Nak," ujar Jazira dengan tangisnya ketika sang suster tengah mengangkat tubuh sang buah hati dari dalam tabung tersebut.


"Bisakah Anda membuka sedikit pakaian Anda, Nyonya? Biarkan putri Anda melakukan skin to skin bersama ibunya," pinta sang suster yang langsung diangguki oleh Jazira. Gadis itu segera membuka baju bagian atasnya setelah Marcel duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Maafkan Mama," lirih Jazira karena tak ingin mengganggu tidur sang buah hati. Jingga yang melihat hal tersebut pun merasakan panas yang menyerang matanya. Jingga meminta kepada Marcel untuk membawanya keluar dari ruang rawat milik Jazira.


Dengan senang hati Marcel pun mengikuti permintaan Jingga. Toh jika dirinya berada di ruangan itu, apa yang bisa dia lakukan? Sang suster pun memberi instruksi kepada Jazira untuk menekan tombol yang ada di sebelah brangkarnya jika terjadi sesuatu.


Jazira hanya menganggukkan kepalanya sembari mengeratkan pelukannya kepada sang buah hati. Tangisannya belum mereda, terlebih lagi ketika dirinya tak sengaja mendengar dengan kecil dari bayinya itu.


"Kau mau apa, hmm? Mama ada disini, Mama akan selalu menyayangi kamu putri kecilku," ujar Jazira sembari mengelus tubuh mungil milik sang anak. Dia banyak berbicara dengan putri kecilnya.


Hingga suara pintu terbuka membuat Jazira mekirikkan matanya yang sedari tadi menatap wajah cantik sang putri. Wajah Jazira seketika memerah, dirinya menata tajam laki-laki yang tengah berjalan mendekati dirinya dan sang anak.

__ADS_1


"Dia bersama mu?" tanya Albirru sembari berdiri tegap di samping brangkar milik Jazira. Jazira masih menatap Albirru dengan tatapan tajamnya. Saat tangan besar Albirru hendak menyentuh tubuh sang putri, lebih dahulu Jazira menangkis tangan sang suami agar tak menyentuh tubuh sang anak.


"Jangan sentuh anakku. Kau tak berhak untuk menyentuh walau seujung kuku saja. Kau belum pikun bukan? Bahkan kau telah merendahkan ku ketika kau baru saja merenggut mahkotaku bukan? Kau tak melupakannya bukan?" tanya Jazira sembari mengalihkan tatapannya dari Albirru.


Hening, tak ada percakapan di antara mereka. Albirru menatap kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Tangan Albirru terangkat untuk mengelus kening milik sang istri.


"Jangan sentuh aku! Singkirkan tangan kotornya itu dari keningku! Aku tak sudi jika harus disentuh oleh laki-laki seperti dirimu!" bentak Jazira dengan nada tingginya yang membuat Albirru sedikit tertegun dengan perkataan sang istri.


"Maafkan aku, Ra," pinta Albirru yang langsung disambut oleh gelengan dari Jazira. Jazira mengangkat tangannya dengan susah ayah untuk menurunkan tangan Albirru dari keningnya.


"Aku bilang pergi! Cepat kau pergi dari sini!" bentak Jazira yang sama sekali tak digubris oleh Albirru.


"PERGI!!!" seru Jazira dengan marahnya yang membuat Albirru terkejut. Berbarengan dengan saat itu pula, sang putri kecilnya menangis. Jazira terkejut karena teriakannya membuat sang buah hati terkejut.


"Aku ulangi sekali lagi, cepat pergi dari sini!" tegas Jazira yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya. Dan nyatanya hal itu kembali membuat tangisan sang anak semakin membesar.


"Sst, sayang. Jangan nangis ya, Nak. Maafkan Mama mu ini," bujuk wanita berusia dua puluh tahun yang kini telah menjadi seorang ibu itu. Namun, usahanya tak membuahkan hasil.


Jazira masih berusaha menenangkan sang anak. Melupakan Albirru yang masih berada di dalam ruangan yang sama dengannya.


"Alina sayang, jangan nangis lagi ya Nak. Sini peluk Papa," ujar Albirru tiba-tiba sambil mengangkat tubuh mungil sang putri dari gendongan sang anak yang langsung menyentuh kulit sang istri.


Jazira mematung, Alina? Nama putri kecilnya Alina? Dan yang lebih membuat Jazira mematung karena bayi kecil itu seketika terdiam saat bera da di dalam pelukan sang papa.


__ADS_1


Terimakasih pada Mam Wina karena masih menunggu cerita ini up. Satu2nya pembaca yang nanyain kenapa cerita ini nggak up. Karena pada awalnya Kayenna nggak mau up, eh liat komen Mam Wina langsung ngetik cepet. Peluk jauh dari Kayenna buat Mam Wina😘


__ADS_2