ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 30


__ADS_3

Albirru yang mendengar ajakan cerai dari Jazira pun terkejut bukan main. Dia hendak maju mendekati Jazira namun tangan Zizi lah yang menunjukkan agar tak mendekat.


"Jika kau hendak mengatakan bahwa pernikahan kita masih dini, maka itu tidak akan mengubah keinginanku. Kau bisa mencari wanita lain. Aku yakin mereka tak akan menolak." Ucap Jazira yang tepat pada sasaran.


"Are you serious? Jangan gegabah dalam mengambil keputusan." Jawab Albirru mencoba menahan Jazira.


"Yes, i'am serious. Zizi udah capek. Tingkah Mas Birru selalu stuck disitu aja. Bukankah Mas Birru punya Larina? Maka menikahlah dengan Larina. Biar Zizi yang nyerah!" Ucap Zizi sebelum pergi dari kamar Albirru.


Jazira berjalan menuju kamarnya dan mengambil beberapa perlengkapannya. Dia sama sekali tak membawa pakaiannya pergi bersamanya. Karena apa? Tak ada satu pun pakaiannya sebelum menikah yang berada di rumah Albirru. Jadi semua pakaiannya murni milik Albirru.


Setelah mengambil semuanya, Jazira segera turun menuju lantai dasar. Dia mencari keberadaan Mbok Sum, dia ingin berpamitan.


"Mbok Sum, Zizi pamit ya? Terimakasih sudah menyambut Zizi selama beberapa hari ini. Zizi pergi dulu, Mbok." Ujar Jazira yang membuat Mbok Sum terkejut bukan main.


Ingin bertanya lebih pun Mbok Sum tak memiliki keberanian, pasalnya Albirru telah berdiri dibelakang Jazira. Setelah memeluk Mbok Sum, Jazira pun berbalik badan dan terkejut saat melihat Albirru.


Tatapan mata mereka bertemu. Bukan hanya satu detik atau dua detik. Namun hampir dua menit mereka saling bersitatap. Entahlah, tak ada orang yang tahu arti dari tatapan mereka.


"Kenapa kau tak membawa koper berisi baju?"


Deg


Pertanyaan Albirru baru saja membuat sebuah pisau menancap persis dijantungnya. Apakah dia memang mengharapkan perceraian ini? Batin Jazira dalam hati.


"Mengapa harus dibawa jika semua yang berada dikamarku bukanlah pakaian milikku? Kau tenang saja, aku hanya menggunakan beberapa pakaian saja." Jawab Jazira sambil menundukkan kepalanya.


"Kau bisa memberikannya pada kekasihmu, Larina." Ujar Jazira sambil tersenyum lalu berjalan keluar dari rumah Albirru.


Meskipun dalam hati Jazira telah tersemat nama suaminya, tetapi apa mau dikata. Jazira melangkahkan kakinya dengan mantap. Dia tak ingin ada penyesalan diakhir nanti.


Jazira berjalan menyusuri trotoar perumahan. Dia tak bodoh, dimana ada taksi yang melewati perumahan elite seperti rumah calon mantan suaminya? Dalam setiap langkahnya, pikirannya terlempar jauh dimana saat dirinya bersama dengan Albirru.

__ADS_1


Setelah keluar dari gerbang perumahan, Jazira memberhentikan taksi yang kebetulan lewat didepan perumahan. Setelah masuk, dia memberi alamat apartemen milik sang ayah kepada sopir taksinya.


Dalam perjalanan menuju apartemen, Jazira hanya menatap keluar jendela. Atensi nya teralihkan saat mendapat notifikasi chat di ponselnya. Dengan malas, Jazira mengambil ponsel yang berada di sling bag nya lalu membaca pesan tersebut.


Jazira mengernyit bingung karena chat tersebut datang dari sang suami. Dengan perasaan yang nano-nano, Jazira membuka pesannya.


Pesan pertama Albirru mengatakan bahwa dia akan mentransfer uang sesuai perjanjian kontrak ke rekening Jazira. Zizi hanya menghembuskan nafasnya perlahan lalu membaca pesan dibawahnya.


Pesan keduanya, Albirru mengatakan bahwa mungkin besok atau lusa dia akan mengirimkan surat cerai mereka beserta tanda tangannya.


Dan ya setelah membaca pesan kedua dari Albirru, Zizi hanya diam termangu. Setetes bulir bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Zizi pun hanya dapat menangis dalam diamnya.


Apakah sesakit ini setelah diajak terbang tinggi oleh realita yang sesuai dengan ekspetasi kita, lalu dijatuhkankan oleh masalah yang muncul ditengah jalan?


Ketika sampai di apartemen milik ayah Jazira pun, Zizi tak sadar. Sang sopir telah memanggilnya beberapa kali, Zizi tersadar ketika sopir tersebut menepuk bahunya.


Zizi yang terkejut pun segera menghapus air matanya. Dia segera keluar dari taksi dan membayarkan uang sesuai yang tertera di argometer kepada sopir taksinya.


Sesampainya dia si unit milik sang ayah, Jazira merasakan de javu kembali. Dia menguatkan hatinya agar melupakan kejadian beberapa hari yang lalu.


"Ayo Zi, kau pasti kuat. Kau anak Ibu yang paling hebat, bukan?" Ucap Jazira menyemangati dirinya sendiri. Setelah membuka kunci apartemen dengan kunci cadangan yang dia miliki, Zizi pun melangkahkan kakinya memasuki tempat kelam yang ada dalam hidupnya.


Zizi menatap lantai yang menjadi saksi bisu dimana dia sekarang telah menjadi gadis yatim piatu. Kini dia hanya sendiri, sendiri. Jika sebelumnya dia masih memiliki Mbok Sum, Paman Johan, Jingga, dan sang suami tapi kali ini dia benar-benar sendiri.


"Dasar Albirru gila! Apakah dia tak tahu jika aku sudah jatuh cinta padanya?! Laki-laki mati rasa!" Teriak Jazira sambil merebahkan dirinya dikasurnya dulu. Jazira yang memang sudah lelah pun memutuskan untuk membersihkan kamarnya terlebih dahulu, kemudian dia akan tidur.


********


Sementara Jingga yang telah selesai menyuapi Marcel pun segera membantu Marcel untuk kembali berbaring. Netra Marcel masih setia menatap Jingga yang sedang merawatnya. Tatapan mereka kembali bertemu karena Jingga merasa jika ada seseorang yang sedang menatapnya.


"Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Jingga kepada Marcel. Marcel hanya menggelengkan kepalanya lalu memejamkan matanya sekejap.

__ADS_1


"Dimana Zizi?" Tanya Marcel setelah sekian lama hening. Jingga yang sedang duduk sambil mengirimkan pesan kepada temannya pun mendongakkan kepalanya.


"Dia bilang sedang ada urusan diluar. Memang ada apa?" Jawab Jingga lalu memberikan pertanyaan lagi kepada Marcel. Marcel sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Jingga, dia mulai memejamkan matanya.


Perhatian Jingga teralihkan ketika dia mendapat panggilan telepon dari kakaknya. Dengan segera dia pun menerima panggilannya.


"Halo kak, ada apa?" Sapa Jingga setelah panggilannya tersambung. Jingga yang memang masih polos pun tak sadar jika loudspeakernya aktif. Ya, karena dia menempelkan ponselnya ditelinga lantas dengan tak sengaja menyentuh tombol loudspeakernya.


"Ngga, kakak cuma mau tanya sekali lagi. Ini soal tawaran kakak sama kamu beberapa tahun yang lalu, tentang perjodohan itu. Apakah kau mau?" tanya Albirru langsung pada intinya.


"Jingga udah bilang berapa kali sama Kakak? Jingga nggak mau dijodhin sama rekan bisnis Kakak! Jingga nggak perlu uang Kakak untuk biaya kuliah atau apapun itu, Jingga akan kerja!" Jawab Jingga sambil berjalan keluar ruangan Marcel. Ya, dia tak ingin orang lain mengetahui masalahnya.


Namun Jingga terlambat, Marcel telah mendengar ucapan dari kakak Jingga tentang perjodohannya. Ya, kakak Jingga yang tak lain adalah rivalnya sendiri.


Setelah beberapa menit berbicara dengan Albirru, Jingga pun memasuki ruangan Marcel kembali. Dia terkejut karena Marcel sedang duduk menghadapnya.


"Eh, mengapa kau terbangun? Apakah aku mengganggumu?" Tanya Jingga mencoba memastikan. Namun lagi-lagi Marcel hanya menggelengkan kepalanya. Jingga tak ambil pusing, dia berjalan menuju sofa dimana dia duduk tadi.


Jingga sama sekali tak memiliki inisiatif untuk menelepon Jazira dan menanyakan keberadaannya. Dia masih terpikir bagaimana caranya dia untuk mencari pekerjaan.


Tiba-tiba ide konyol terlintas dipikirannya. Dia menatap Marcel yang sedang memainkan ponselnya.


"Emm, Kak Marcel?" Panggil Jingga ragu-ragu. Marcel pun hanya melirik sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Apakah Kak Marcel memiliki lowongan pekerjaan? Apapun itu, Jingga akan ambil." tanya Jingga yang dengan perasaan takut.


Dan ya, pertanyaan Jingga tadi lah yang akan menjadi wadah cerita untuk mereka berdua. Kisah antara keduanya baru saja akan dimulai.


*******


Iyi Gecerler! All❤. Terimakasih karena masih menunggu cerita ini up. Kayenna minta maaf jika harang up atau sering telat up yaa🙏

__ADS_1


__ADS_2