ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 87


__ADS_3

Ada yang masih baca nggak nih? Mungkin udah pada pergi pembacanya, Zi. Maafkan Kayenna yang jarang up ya semua🙏


"Sini Ra, Mas bantu buat pijitnya." Albirru masih bersikeras untuk membantu sang istri melakukan pijat laktasi. Namun, sekuat tenaga Jazira menolak bantuan dari sang suami yang berpikiran kotor seperti itu.


Padahal dalam benak dan hati Albirru, tak ada niatan untuk bertindak kurang sopan pada wanita yang sangat dia cintai ini. Albirru mengatas namakan permintaan maaf dalam usahanya kali ini.


"Nggak usah! Sana keluar aja! Kasian Asa kalo kelamaan," usir Jazira sembari mendorong tubuh sang suami agar menjauh dari brangkarnya. Namun, bukan Albirru namanya jika dia tak bersi kukuh.


"Udah nggak apa-apa. Mbok, Mbok Sum bisa keluar aja ya sama suster nya. Albi yang bakal bantu Arasa buat minum ASI," pinta Albirru kepada wanita yang telah berpuluh tahun hidup bersama dengan dirinya.


Mbok Sum yang paham bagaimana perasaan sang majikan pun menganggukkan kepalanya dan memberi kode kepada sang perawat untuk keluar dari ruang rawat milik Jazira.

__ADS_1


Jazira yang melihat Mbok Sum dan juga sang perawat mulai pergi meninggalkan ruang rawatnya pun kelabakan karena perintah sang pada perawat tadi dan juga Mbok Sum.


"Ngapain disuruh pergi Mbok Sum sama susternya, sih? Harusnya yang pergi itu Mas Birru aja. Sana pergi!" usir Jazira sembari menatap tak rela pada Mbok Sum dan juga sang perawat yang telah berjalan menjauhi ruang rawat nya. Seolah-olah tuli, laki-laki tersebut sibuk mengelus punggung sang putri yang menempel di dadanya.


"Udah, daripada marah-marah. Lebih baik kamu pijat laktasi mandiri dulu aja, siapa tahu setelah dipijat langsung keluar. Jangan banyak-banyak marah Ra, kamu mau kalo mama nya Ara udah tua? Padahal papa nya masih muda gini?" tanya Albirru sambil berjalan menjauhi sang istri, tak menghiraukan raut wajah Jazira yang menatap Albirru dengan raut wajah cengo nya.


"Ini nggak kebalik, nih? Masih muda? Inget umur Pak, umur aja udah tiga puluh. Bibinya nih yang masih dua puluh tahun nggak ngaku-ngaku," ujar Jazira sembari menggelengkan kepalanya, yang sama sekali tak dihiraukan oleh Albirru.


"Pakai Hp aku, Ra. Buka aja caranya, nanti bakal di jelasin," ujar Albirru sembari mengarahkan saku celana nya di sebelah Jazira setelah berjalan mendekati brankar milik sang istri.


"Ambil di saku kanan, Ra. Mau ngambil takut Ara jatuh nanti," ujar Albirru sembari menolehkan kepalanya ke samping menatap sang istri yang masih bersandar pada brankar yang di tegakkan.

__ADS_1


Jazira sedikit mengernyitkan dahinya mendapati perlakuan Albirru. Tetapi memikirkan sang anak yang membutuhkan asi nya membuat Jazira segera mengulurkan kedua tangannya yang masing-masing terpasang selang infus dan alat penghitung detak jantung.


Jazira mendongakkan kepalanya menatap sang putri yang tengah menatapnya serta sang suami yang juga masih menatapnya. Jazira tersenyum manis lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengelus puncak kepala milik sang putri yang sangat anteng di gendongan sang papa setelah berhasil mengambil ponsel milik sang suami.


"Hai cantik. Kamu haus ya, Nak. Sabar ya, sebentar lagi," ujar Jazira dengan senyum manis yang tercetak di wajah sayunya. Albirru tersenyum tipis lalu mengecup singkat kening milik Jazira.


"Semangat mama," ujar Albirru dengan semangatnya sembari menggerakkan sang putri seolah memberikan semangat untuk sang istri. Jazira pun tersenyum miring lalu mulai menekan tombol power di ponsel sang suami setelah sang suami berjalan menjauhi dirinya.


"Pin nya?" seru Jazira yang tak membuat laki-laki bertubuh atletis itu menolehkan kepalanya.


"Tanggal pernikahan kita," jawab Albirru datar tanpa mengalihkan pandangannya dari sang putri.

__ADS_1


__ADS_2