ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 77


__ADS_3

Jingga pun terus berjalan mengikuti Albirru yang masih menggendong Jazira menuju mobilnya kakaknya. Sesekali Jingga menolehkan kepalanya ke belakang untuk mengintip apakah orang-orang tadi masih mengikuti mereka.


Jingga membelalakkan matanya, mendapati beberapa orang tadi masih mengikuti dirinya dan juga kedua Kakaknya. Hingga akhirnya setelah tiba di samping mobil, Albirru pun membuka pintu belakang mobilnya dan memasukkan Jazira ke dalamnya. Sedangkan Jingga yang melihat tersebut pun segera masuk ke dalam mobil milik kakaknya.


"Kita balik ke rumah dulu ya?" tanya Albirru sembari masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya. Terlihat Jazira menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap sang adik, yang membawa Jingga sedikit berpikir.


"Nggak usah! Turunin kita di depan, nanti Jingga sana Kak Zizi akan naik taksi sendiri," jawab Jingga dengan nada tak santainya yang membuat Albirru menggelngkan kepalanya.


"No! Kalian harus pulang ke rumah Kak Albi tahu kalau Marcel sedang berada di kantornya bukan? Aku tak ingin mengambil risiko jika sesuatu hal terjadi pada kau dan kakakmu," jawab Albirru sembari menatap spion bagian tengah untuk melihat dua wanita yang dia miliki dalam hidupnya.


Jingga pun memikirkan apa yang Albirru katakan. Benar juga apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut, yang membuat Jazira ikut memikirkan apa yang sang suami katakan. Jingga pun menolehkan kepalanya kepada sang kakak dan diangguki oleh Jazira dengan anggukan ragunya.


Akhirnya Albirru pun menganggukkan kepalanya setelah melihat jawaban dari sang istri. Dirinya segera membawa kedua wanita tersebut kembali ke rumah dimana mereka pernah tinggal bersama.


"Kau tak perlu khawatir, Ngga. Bukankah kau juga menginginkan yang terbaik untuk kakak beserta ponakan mu?" tanya Albirru yang membuat Jingga menatap tak suka kepada kakaknya.


Entah mengapa dia mencium roman-roman sang kakak yang ingin mengambil hati dari kakak iparnya.


"Kau tak perlu mengatakan hal seperti itu. kak Zizi tak akan terbujuk oleh rayuan mu dan percaya kembali pada laki-laki yang tak memiliki prinsip sepertimu!" ujar Jingga yang membuat Albirru membelalakan matanya.


"Astaga kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu pada kakakmu sendiri, Ngga? Kak Albi sama sekali tak akan meminta atau bahkan memaksa kakakmu untuk kembali pada laki-laki sial*n seperti kakak mu ini. Ini murni karena Kak Albi tak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada kalian semua," jawab Albirru dengan santai disertai nada dinginnya.

__ADS_1


"Haihh, kenapa kau masih percaya diri bahwa aku masih mau memanggilmu kakak? Bahkan sejak kau melakukan hal menjijikan itu di rumah orang tuaku, saat itulah aku tak lagi menganggapmu sebagai kakakku," sindir Jingga yang membuat Albirru tak dapat berkutik.


Hening. Seketika setelah perkataan Jingga tadi, tak terdapat obrolan seru lainnya. Hanya ada kebisuan yang menemani mereka hingga akhirnya mereka tiba di rumah milik Albirru. Setelah tiba pun, Jazira masih enggan turun dari mobil milik suaminya.


Entahlah, melihat pintu tinggi yang ada di rumah sang suami membuatnya kembali merasakan sakit ketika sang suami merendahkan harga dirinya.


"Mari turun, apakah kau tak ingin kembali ke rumahmu?" tanya Albirru yang membuat Jazira tersadar dari lamunannya. Wanita itu menatap sang suami sekejap lalu mengalihkan pandangannya kepada Jingga.


Tak terdapat satu kata pun yang keluar dari bibir wanita itu sedari tadi. Jingga yang tak ingin banyak drama lagi pun segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk kakak iparnya.


"Ayo turun, Kak Zi. Anggap saja kita tengah berkunjung ke rumah orang lain. Kita akan mengunjungi Mbok Sum dan Paman Johan," ajak Jingga yang disambut oleh anggukan kepala dari Jazira. Jazira pun segera keluar dari mobil sang suami dengan bantuan Jingga.


"Mbok Sum!" panggil Jingga dengan suara menggema nya yang membuat wanita tua yang tengah berada di dapur itu terkejut. Mbok Sum yang menyadari bahwa itu suara Jingga pun segera keluar dari dapur dengan tergopoh-gopoh.


"Ya Allah, Non Jingga!" pekik Mbok Sum sembari berjalan cepat mendekati Jingga dan memeluk gadis kecil yang juga dia besarkan dengan tangannya sendiri.


Ada perasaan haru dari diri Mbok Sum ketika bisa memeluk Jingga lagi. "Jingga kangen Simbok," ujar Jingga dengan bahagianya yang disambut oleh anggukan kepala dari Mbok Sum.


Tatapan Mbok Sum pun beralih pada seorang wanita dengan perut besar yang tengah berjalan mendekatinya. Dengan cepat Mbok Sum segera melepas pelukannya dari Jingga dan berjalan mendekati Jazira dengan air mata yang telah menumpuk di pelupuk matanya.


"Non Maira!" seru Mbok Sum sembari memeluk ibu hamil tersebut disertai dengan air mata yang mulai menetes. Jazira yang kembali bertemu dengan wanita yang telah dia anggap sebagai ibunya tersebut pun segera memeluk Mbok Sum dengan erat meskipun sedikit terganjal oleh perutnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menikmati pertemuan pertama kali mereka setelah beberapa bulan, Mbok Sum yang menyadari bahwa perut milik Jazira besar pun segera menarik tubuhnya dan mengelus perut besar milik Jazira.


"Itu Putri kecil Albi, Mbok," ucap Albirru lalu berdiri di samping Jazira yang membuat Mbok Sum terkejut. Benar bukan dugaannya bahwa ketika Albirru mengalami morning sickness saat itu, itu adalah pertanda bahwa Jazira tengah hamil.


Yang lebih berbahagia lagi karena anak yang tengah Jazira kandung adalah anak perempuan.


"Benarkah? Alhamdulillah penerus Den Albi seorang wanita. Mbok Sum yakin, gadis ini akan kuat seperti ibunya. Bahkan Mbok Sum berharap semoga dia lebih kuat daripada ibunya," ujar Mbok Sum dengan haru birunya yang membuat Albirru tersenyum tipis.


"Dia kuat, Mbok. Bahkan dia sangat kuat hingga sampai saat ini pun dia masih bertahan," jawab Jazira setelah beberapa saat dirinya terdiam.


"Ya, dia sangatlah kuat. Seperti mamanya," ucap Albirru sembari mengelus punggung milik Jazira yang mulai pegal.


Albirru pun memajukan badannya dan mengecup singkat kening milik Jazira yang membuat semua orang terkejut.


"Bertahanlah hingga dia lahir ke dunia ini. Aku berharap semoga kau tak memilih untuk egois dan membuat putri kecil kita tersakiti. Aku yakin, kau masih Mairaku yang dulu. Percaya padaku, kali ini aku berbicara padamu sebagai Albirru yang baru. Albirru yang tak akan pernah meninggalkan wanita yang dia cintai dan Albirru yang akan selalu bertahan dengan satu wanita. Tak ada yang lain," ucap Albirru sambil memeluk tubuh sang istri.


Tak ada yang dapat Jingga dan Mbok Sum katakan saat melihat momen indah di hadapan mereka seperti ini. Ada perasaan lega di hati Mbok Sum saat mengetahui bahwa kedua atasannya akan bersatu kembali.


Sedangkan Jazira, wanita itu hanya berdiri mematung mendengar apa yang sang suami katakan.


"I still loving you, Ra."

__ADS_1


__ADS_2