
Wanita yang masih menangis itu membuat dua orang yang berada disebelah serta hadapannya sedikit khawatir. Marcel menaikkan kedua alisnya, mencoba bertanya kepada Jingga bagaimana perkembangan Jazira.
"Jangan nangis lagi ya Kak Zi. Jangan pikirin si Albirru yang nggak punya hati itu." Jingga masih saja mengelus punggung milik Jazira yang bergetar karena tangisnya. Namun, lagi lagi Jazira sama sekali tak menghiraukan apa yang Jingga katakan yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya sambil menatap Marcel.
"Udah Zi Kak Marcel dan Jingga ada buat lo. Tinggalin laki-laki yang emang nggak tulus sayang sama lo. Banyak laki-laki di luaran sana yang bisa bahagiain lo. Iya kan, Ngga?" ujar Marcel sembari menatap Jingga yang masih mengelus punggung milik Jazira.
Jingga pun menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh milik Jazira dengan erat. Jingga kembali mengelus tubuh milik kakaknya yang mulai membalas pelukannya.
"Jingga yakin kalau apa yang Kak Zizi pilih ini adalah pilihan terbaik. Nggak ada alasan yang memberatkan Kak Zizi sehingga Kak Zizi berat buat ninggalin negara kita. Jingga selalu ada buat Kak Zizi," ujar Jingga yang kembali membuat Jazira menangis.
Gadis itu semakin menangis tersedu-sedu dalam pelukan adik ipar yang sangat menyayanginya. Marcel tersenyum singkat melihat kedewasaan Jingga dalam menghadapi masalah dan memilih keputusan.
Jingga mengalihkan pandangannya kepada Marcel sehingga tatapan keduanya bertemu. Marcel tersenyum bangga sembari menganggukkan kepalanya, tatapannya benar-benar membuat Jingga sedikit salah tingkah.
"Kak Zizi takut kalau Kak Zizi hamil dan kakakmu nggak ngakuin anak Kak Zizi, Ngga. Kak Zizi pun takut jikalau kakakmu tahu Kak Zizi hamil, dia akan rebut paksa anak Kak Zizi dan membawanya pergi," ucap Jazira sesenggukan yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya.
"Hal itu nggak akan mungkin terjadi, Zi. Kak Marcel dan Jingga akan jagain kalian berdua nantinya. Dan dapat Kak Marcel pastikan kalau suami lo itu nggak tahu keberadaan kita. Kita berdua nggak akan mungkin ponakan kita kembali sama bapaknya yang bejat itu. Iya kan, Ngga?" ujar Marcel yang seketika membuat Jingga sedikit terkejut.
"Po ... ponakan kita?" tanya Jingga dengan nada yang sedikit cengo. Marcel pun mengernyitkan dahinya bingung sambil menatap Jingga yang sepertinya sedikit salah tangkap.
__ADS_1
"Loh bener kan? Ponakan lo tuh ya ponakan gue juga. Orang Zizi adik gue, walaupun cuma adik tiri tapi dia tetep adik gue." Marcel yang paham bahwa Jingga salah tangkap pun menjelaskan maksudnya yang membuat Jingga membuang pandangannya ke sembarang arah karena sedikit malu.
"Iya Kak Zi, toh hal itu nggak akan terjadi. Gimana Kak Zizi mau hamil kalau kalian belum ngelakuin hal itu? Bukankah hal itu tertulis di surat kontrak punya kalian berdua?" ujar Jingga yang membuat Jazira mendongakkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya.
"Mas Birru ngelakuin malam itu, Ngga. Malam dimana dia mabuk berat setelah tahu kalau Larina hamil dan diantar sama kamu dan Kak Marcel pulang," bisik Jazira dengan nada gemetarnya yang membuat Jingga diam mematung.
Tatapan gadis itu langsung tertuju pada Marcel yang juga terlihat sedikit terkejut. Lama mereka saking menatap dengan tatapan kaget, Akhirnya Marcel pun menganggukkan kepalanya yang membuat Jingga ikut menganggukkan kepalanya.
"Itu bukanlah masalah yang besar. Kita bisa membesarkan anakmu kelak. Gue nggak akan biarin ponakan gue kenal siapa bapaknya. Dan jika suami lo tau kalo lo hamil, pasti dia berpikir kalo itu anak gue," ujar Marcel yang membuat Jazira terkejut.
"Kenapa bisa seperti itu? Bahkan kita sama sekali tak pernah bertemu lagi setelah hari pernikahanku dan Mas Birru bukan? Lalu bagaimana Mas Birru akan mengira seperti itu?" tanya Jazira kebingungan sambil menatap Jingga dan Marcel secara bergantian.
"Maafin Jingga sama Kak Marcel, Kak Zi. Jingga minta tolong Kak Marcel buat bilang ke Kak Albi kalau kalian berdua pernah berhubungan badan sebelumnya. Ta ... tapi Jingga bersumpah, Jingga nggak bermaksud membuat Kak Zizi berada di posisi seperti saat ini. Maafin Jingga Kak," ujar Jingga dengan nada penuh rasa bersamanya yang membuat Jazira sedikit terkejut.
Bukankah secara tidak langsung, Jingga lah yang membuat Albirru marah besar kepada Jazira dan berpikiran buruk kepada Jazira? Memang pada awalnya Jazira sempat kecewa dengan pengakuan Jingga. Namun setelah melihat sifat tak tegas dan plin plan dari suaminya, membuat Jazira tersenyum manis.
Jingga yang melihat senyum Jazira pun menolehkan kepalanya ke Marcel dengan tatapan bingungnya. Marcel yang tahu pun hanya mengendikkan bahunya serta menggelengkan kepalanya.
"Kak Zizi berterimakasih sama kamu, Ngga. Terimakasih karena kau telah membawa pergi Kak Zizi dari laki-laki yang hanya menilai seorang wanita dari segi keper awanannya saja. Biarkan dia bersama dengan wanita pilihannya," puji Jazira yang membuat Jingga menatap Jazira dengan tatapan senang dan bahagianya.
__ADS_1
"Terimakasih juga buat Kak Marcel. Entahlah apa yang harus Zizi berikan untuk mengganti semua kebaikan Kak Marcel untuk Zizi. Rasanya, uang pun tak akan dapat mengukur betapa mahalnya hutang budi Zizi sama Kak Marcel." Tak lupa Jazira pun mengucapkan terimakasih kepada Marcel yang tengah duduk sambil menyenderkan badannya di kursi penumpang.
"Gue nggak minta apapun dari lo. Gue cuma berharap lo bisa hidup bahagia terlepas dari Albirru dan memulai hidup yang baru bersama Jingga, gadis asing yang memutuskan untuk pergi denganmu dan meninggalkan kakaknya yang telah membesarkannya selama ini," ujar Marcel yang membuat Jazira segera menatap adik iparnya tersebut.
Senyum bahagia disertai rasa haru menyelimuti wanita yang baru saja selesai menangis itu. Dia memeluk erat sama adik ipar dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Jingga dengan nada yang bergetar.
"Makasih banyak, Ngga. Entahlah, Kak Zizi nggak bisa bayangin gimana hidup kak Zizi jika kau tak ikut bersama Kak Zizi," ujar Jazira yang langsung di sambut dengan senyuman serta anggukan kepala dari Jingga.
"Sama-sama kak Zi, Jingga sendiri pun benar-benar menyesal karena pernah menghalangi Kak Zizi untuk pergi waktu masih awal dulu. Tapi sekarang, Jingga akan selalu ada disisi Kak Zizi," jawab Jingga yang benar-benar membuat Jazira merasa bersyukur.
"Kak Zizi ucapkan banyak terima kasih sama kamu, Ngga. Bahkan kau hanya lagi adik iparku, tapi kau lebih memilihku daripada Kakak mu. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan memulai hidup baru bersama adikku ini. Mungkin nanti kita akan mencari kerja di sana, atau jika perlu kita akan melamar pekerjaan di kantor milik Kak Marcel. Boleh kan kak?" tanya Jazira dengan raut wajah yang sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
Marcel pun menggelengkan kepalanya perlahan yang membuat Jazira sedikit ketakutan. Yang berada di pikirannya saat ini adalah bagaimana dirinya dan Jingga akan bertahan hidup di negeri orang? Apakah mereka akan terus bergantung pada bantuan Marcel? Tidak bukan?
"Me ... mengapa kak? Apakah tak ada satu lowongan pun untuk Zizi dan Jingga? Minimal untuk Zizi saja, meskipun hanya menjadi OB saja," tanya Jazira dengan nada ketakutannya.
Jingga pun menatap kearah Marcel dengan tatapan bingungnya setelah Jazira melepas pelukannya. Tak lama kemudian, Jingga dan Marcel pun tertawa bersama yang membuat Jazira kebingungan.
"Bagaimana bisa aku mempekerjakan pemilik salah satu perusahaan besar menjadi bawahanku? Aku tak berani melakukan itu," ucap Marcel yang membuat Jazira terkejut sekaligus bingung.
__ADS_1