
Sontak Jingga dan Marcel yang mendengar ucapan dari Albirru pun segera menolehkan kepalanya ke belakang. Jazira yang terkejut pun mengikuti arah pandangan sang suami yang mengarah pada buah dada nya.
"Hah?! Apanya yang bocor?!" tanya Jingga dengan nada kaget nya sembari menatap ke belakang dengan posisi penuh. Dengan cepat Albirru pun menunjuk dada milik sang istri yang membuat Jingga ikut terkejut.
"Astaga Kak, itu bukan bocor. Itu merembes," jawab Jingga dengan nada lega nya sembari mengambilkan sebuah jaket bomber berwarna navy yang ada diatas dashboard, yang tak lain adalah milik kakak nya.
"Tutupin pakai ini aja Kak, kita lagi buru-buru juga. Kasian Arasa kalau kelamaan," ujar Jingga sembari mengulurkan jaket milik sang kakak. Albirru pun segera menerima nya dan segera memakaikan jaket tersebut kepada sang istri dengan sangat hati-hati. Terlebih Jazira yang sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata apapun.
Setelah selesai, Albirru pun mengambil tubuh mungil sang putri dari pangkuan Jazira. Laki-laki itu menggendong jenazah Arasa di lengan sebelah kanan, sementara lengan sebelah kiri dia gunakan untuk memeluk pinggang kecil sang istri dari belakang.
__ADS_1
Jazira sama sekali tak menolak, wanita itu menatap putri kecilnya yang ada di dekapan sang suami. Tak ada yang lain selain air mata ketika mata indah itu menatap jenazah putrinya yang telah memutih. Albirru memberi perintah kepada Marcel agar segera melakukan mobilnya.
Dua mobil beserta ambulans milik rumah sakit kota beriringan menuju tempat pemakaman elite yang terletak tak jauh dari rumah milik Albirru. Ya, karena hal tersebut adalah permintaan dari Johan. Dirinya tak ingin Albirru kesusahan untuk menziarahi putrinya.
Berulang kali Albirru mengecup puncak kepala milik sang istri sembari mengeratkan pelukannya pada wanita yang telah memporak porandakan dirinya itu. Dengan posisi nya sekarang, Albirru semakin merasa menyesal akan kebodohannya dengan mengusir wanita yang sangat dia cintai disaat Jazira tengah mengandung benihnya.
"Aku benar-benar minta maaf, Ra. Aku bersumpah tidak akan pernah menyakiti kamu lagi. Kau tahu? Kejadian menjijikan yang pernah aku lakukan saat kau pergi meninggalkan aku itu karena aku memang tak ingin laki-laki lain mendekatimu. Aku mohon, Ra." Albirru memeluk sang istri dari samping yang membuat Jazira menjadikan dada bidang milik sang suami sebagai sandarannya.
Hingga tak terasa, mobil yang Albirru dan Jazira tumpangi telah tiba di tempat pemakaman yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk Arasa.
__ADS_1
Johan yang telah tiba terlebih dahulu pun segera berjalan mendekati mobil milik sang atasan dan membukakan pintu belakang nya. Terlihat Jazira yang mulai menjauhkan tubuh nya dari sang suami dan menatap pemandangan yang ada di samping mobil milik sang suami.
Seketika Jazira segera menggelengkan kepalanya dan menangis sembari menatap sang suami. Albirru pun menatap sang istri dengan perasaan hancurnya sembari mengatupkan kedua kelopak matanya, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kita pulang aja. Zizi nggak mau ninggalin Arasa sendiri, disini," pinta Jazira kepada sang suami sembari menyentuh tubuh kecil milik Arasa.
"Jangan gini, Ra. Arasa harus segera dimakamkan. Kita nggak bisa terus-terusan mengulur waktu untuk Arasa, kasian dia." Albirru menyentuh tangan sang istri dan mencoba untuk melepaskan pegangan tangan sang istri dari putrinya.
"Nggak! Kamu tega biarin dia sendirian disini?! Aku yang mengandung Arasa selama 8 bulan dengan keadaan yang berdarah-darah, tapi sekarang kau seolah mengikhlaskanagar anakmu kedinginan dibawah sana?!" tolak Jazira dengan tatapan dinginnya kepada Albirru.
__ADS_1
"Dan apa kamu tega membiarkan putri kecil kita ini dibiarkan begini saja? Dia layak di kebumikan dengan segera, Ra. Kamu boleh egois! Tapi diluar hal ini! Memang aku salah selama ini, tapi untuk hal ini aku tak akan mengalah dan menuruti kemauanmu! Jika memang kau tak ingin melihat putri mu untuk yang terakhir kalinya, maka akan aku pastikan kau akan menyesal! Semua terserah padamu!" seru Albirru dengan nada tegasnya sembari keluar dari mobil dengan putri kecilnya.