
Yuk jangan lupa tekan like dan komen nya...
Albirru diam mematung mendengar ucapan dari sang istri. Apa maksud dari Jazira yang mengatakan bahwa putri mereka akan pergi jauh meninggalkan dirinya? Albirru menggenggam erat tangan sang istri dan menggelengkan kepalanya tak terima akan ucapan sang istri.
"Enggak, Ra! Kalian nggak akan pernah ninggalin aku. Bahkan aku nggak bisa bayangin gimana aku nantinya saat kalian pergi meninggalkan aku sendiri," ujar Albirru mencoba memohon kepada sang istri agar tak meninggalkan dirinya pergi.
Jazira sama sekali tak menjawab permintaan dari sang suami. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada sebuah inkubator bayi yang di mana di dalam nya terdapat sang buah hati yang masih terpejam lengkap dengan berbagai macam selang dan alat pernapasan yang melekat pada tubuh sang putri.
__ADS_1
"Kau lupa, Mas? Lihatlah putriku yang sangat cantik itu. Dia adalah bayi yang pernah kau maki dan hina ketika berada di kandungan ku. Kau juga yang meragukan dari mana asal usulnya. Kau mungkin juga lupa dengan insiden di mana kau pulang dengan kondisi mabuk," tanya Jazira dengan pikiran yang terlempar jauh ke saat di mana malam kelam itu menghancurkan hidupnya.
"Dan di malam itu pula, kau merampas hak mu yang belum aku ijinkan untuk kau ambil. Jika kau berada di posisi ku, apakah kau masih akan bertahan pada orang yang telah menghancurkan mu berkali-kali?" ujar Jazira lirih sembari tersenyum tipis tatkala melihat sang putri yang tengah bergerak.
"Aku tahu aku salah, Ra. Aku mohon maafkan aku," risik Albirru sembari menekuk kedua lutut nya di samping sang istri yang masih terbaring sembari menatap putri mereka.
Tatapan keduanya pun bertemu satu sama lain. Dapat Jazira rasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat netra nya menembus dalam netra indah milik sang suami. Seolah-olah tatapan mereka berdua telah menyiratkan bagaimana perasaan mereka satu sama lain.
__ADS_1
Tak munafik, Jazira memang membutuhkan sang suami untuk saat ini. Tak hanya dirinya, Arasa pun juga membutuhkan papa nya untuk menjaganya selama dua puluh empat jam. Terlebih lagi kondisi sang putri yang membutuhkan perhatian lebih dari dirinya dan sang suami.
"Aku pikir kau akan berubah setelah aku memberikan kesempatan itu padamu. Tapi, ternyata tidak. Mas Birru menyia-nyiakan kesempatan yang Zizi beri. Masih ingat juga bukan? Malam dimana sebelum Zizi pergi dari kehidupan Mas Birru waktu itu? Mas Birru mengeluarkan semua kartu yang selama ini Mas Birru pendam. Jadi, Zizi pikir untuk saat ini dan selanjutnya Zizi mantap akan berpisah dengan Mas Birru," imbuh Jazira dengan percaya dirinya yang membuat laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak, Ra! Mas nggak akan pernah kabulin permintaan kamu itu. Terus gimana sama masa depan Arasa? Aku nggak mau pisah sama Ara dan kamu," ujar Albirru masih memaksa sang istri agar tak meninggalkan dirinya.
"Aku yang akan menjamin kehidupan nya nanti. Kau lupa? Sekarang aku telah memiliki pekerjaan, Mas. Tenang lah, anak ku tak akan pernah kelaparan dan akan terjamin masa depan nya. Dan untuk kau serta Arasa, aku tak akan pernah membatasi pertemuan antara dirimu dan gadis kecil ku. Jika kau tak mau menalakku, maka aku yang akan mengajukan gugatan cerai pada mu. Mungkin setelah keadaan ku mulai membaik dan Arasa bisa pulang,"
__ADS_1
Mau Kayenna cepet up lagi? Komen yang banyak yaa...