
"Maafkan saya Nyonya Jazira, Nona Arasa gagal saya selamatkan. Paru-parunya yang lemah disertai antibodi yang kurang membuat kondisinya drop. Sekali lagi saya minta maaf, saya hanya berusaha sekuat saya. Tapi Tuhan lah penentu takdirnya," ujar seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD yang ada di hadapan Jazira.
Mendadak Jazira merasa limbung mendengar ucapan dari dokter yang menangani Arasa. Bagai melayang-layang, Jazira rasanya tak mempercayai perkataan dari sang dokter yang mengatakan bahwa sang putri telah meninggal dunia.
Seketika Jazira merasakan bahwa dunianya telah berhenti. Tak ada lagi harapan untuknya hidup saat mengetahui bahwa anak yang dia kandung selama 8 setengah bulan dengan perjuangannya sendiri kini telah pergi.
"A ... apa yang kau katakan?! Kau hanya bercanda bukan? Katakan kalau semua ini hanya candaan saja!" ujar Jazira dengan tatapan nyalangnya kepada sang dokter. Dokter tersebut pun menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf sekali Nyonya Jazira," lirih sang dokter yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir semakin deras. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, Jazira segera masuk ke ruang UGD tersebut dengan menyingkirkan tubuh sang dokter yang tengah lemah karena tak berhasil menyelamatkan Arasa.
"Arasa! Anak mama!" seru Jazira sembari berjalan memasuki ruang UGD dengan tangisan pilunya disertai tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Tatapan Jazira tertuju pada selimut putih yang menutupi sebagian brangkar di dekat monitor pembaca detak jantung.
__ADS_1
Dengan tubuh yang bergetar hebat, Jazira melangkahkan kakinya menuju brangkar tersebut. Tak dipungkiri, Jazira telah berusaha sekuat mungkin supaya sang putri tetap hidup bersama dengan dirinya.
Dengan kasar, Jazira mulai menyeka air matanya yang main terus menetes membanjiri pipinya. Tangan mungil milik Jazira terulur untuk membuka selimut putih itu. Jazira menahan tangisnya dan berharap bahwa apa yang ada dalam pikirannya serta ucapan dokter tadi hanyalah khayalannya semata.
Deg!
Jantung Jazira terasa berhenti berdegub tatkala melihat wajah cantik sang putri yang telah terlelap dalam damainya. Tak lupa senyum tipis menghiasi wajah yang sangat mirip dengan Albirru itu.
"Maafkan Mama, Sa," lirih Jazira dengan suara parahnya sembari menangis tersedu-sedu. Dirinya tahu, tak seharinya dirinya menangisi kepergian sang putri. Namun mengingat bagaimana perjuangannya selama mengandung Arasa membuat Jazira tak dapat membohongi perasaannya.
"Apakah kamu tak mau menemani Mama, Nak? Kenapa kamu pergi terlalu cepat? Kau tak kasian pada Mama mu ini? Jangan pergi, Sa. Mama butuh kamu," imbuh Jazira dengan tangisnya di pelukan sang perawat.
__ADS_1
Perawat tersebut pun ikut menitikkan air matanya. Dirinya mengetahui bagaimana riwayat Jazira yang mengandung Arasa dengan susah payah. Mulai dari pendarahan yang sudah menjadi rutinitas untuk Jazira selama kurang lebih delapan bulan setengah itu.
Jazira memeluk sang perawat dengan sangat erat saat ini. Hingga tiba-tiba suara gadis di belakang Jazira yang membuat Jazira menolehkan kepalanya. Tangis Jazira semakin pecah tatkala melihat Jingga, adik iparnya yang telah membantu dirinya untuk mempertahankan Arasa.
"Jingga," lirih Jazira sembari mendongakkan kepalanya. Jingga yang tengah menahan tangisnya saat melihat jenazah sang keponakan pun segera berjongkok disebelah sang kakak.
Tanpa aba-aba Jazira pun melepas pelukannya dari sang perawat lalu segera memeluk sang adik dengan sangat erat. Jingga memejamkan matanya saat pendengarannya mendengar tangisan pilu dari sang kakak. Dapat dia rasakan bahwa hatinya tengah tersayat saat melihat bayi tak berdosa itu telah tiada.
"Arasa, Ngga. Kenapa dia tinggalin Kak Zizi?" tanya Jazira dengan nada menyesakkan yang membuat Jingga mengelus punggung milik Jazira yang bergetar hebat itu.
"Tuhan lebih sayang sama Arasa, Kak. Ikhlaskan saja ya, Kak. Hal ini adalah hal terbaik untuk hidup Arasa," jawab Jingga dengan nada lemahnya.
__ADS_1
Tatapan Jingga beralih pada seorang laki-laki dengan tato di lengan kanannya yang tengah berjalan mendekati brangkar milik Arasa dan menggendong tubuh mungil Arasa yang telah tak bernafas itu.