ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 80


__ADS_3

Marcel yang tengah menyusuri jalan menuju rumah melalui jalur dalam, karena dirinya berhasil melacak ponsel milik Jingga pun berhenti karena melihat Albirru serta Johan yang tengah berdiri di samping mobilnya.


Marcel dan Veno pun segera keluar dari mobilnya lalu mendekati Johan serta Albirru.


"Gimana? Mereka berdua masih di dalam?" tanya Marcel sembari berjalan mendekati Albirri yang langsung digelengi oleh Albirru. Albirru pun menunjuk sopir Marcel yang masih terduduk tak bernyawa dengan mata yang terbuka. Marcel yang melihat hal itu pun terkejut.


"Mereka cari gara-gara sama orang yang salah!" ujar Marcel sembari membuka ponselnya. Dirinya meminta kepada Veno untuk menelepon kantor polisi dan dirinya menelpon anak buah milik mendiang ayahnya yang bekerja di dunia bawah, untuk mencari di mana Jingga dan Jazira berada.


"Paman Jo, minta pada ahli IT kita untuk melacak ponsel Maira. Aku yakin pasti ponsel Maira masih dia bawa," ujar Albirru yang langsung di angguki oleh Johan. Mereka berempat pun melakukan segala cara untuk menemukan Jazira serta Jingga.


...*****...


Setelah beberapa saat Jingga tertidur, Jingga pun membuka matanya perlahan. Jingga pun mulai mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap ke depan dan sekelilingnya.


Setelah itu Jingga terkejut bukan main ketika melihat keadaan sang kakak yang tengah terduduk di depannya dengan posisi kaki dan tangan yang terikat dan masih memejamkan matanya. Jingga yakin pasti Kakak nya masih dalam pengaruh bius.


Jingga yang panik karena melihat ruangan yang kotor tak terawat itu pun mencoba memanggil Kakaknya. Namun dirinya lupa karena mulutnya pun tertutup oleh sebuah kain yang menyebabkan dirinya tak bisa memanggil sang kakak.


Jingga mencoba menggerakkan kursinya untuk mendekati sang kakak dan dan berteriak dengan nada tak jelas untuk memanggil sang kakak. Namun usahanya nihil karena Jazira sama sekali tak mendengar ocehan tak jelasnya.


Hingga setelah Jingga mencoba keras untuk melepaskan tali yang mengikat kakinya, akhirnya kaki milik Jingga pun terbuka. Dengan cepat Jingga pun menaikkan kakinya dan menyentuh lutut milik kakaknya. Jingga pun sedikit menggerakkan kakinya dengan keras agar Jazira bangun dari tidurnya.


Belum sempat Jazira terbangun oleh gerakan kaki dari Jingga, seorang wanita dengan wajah marahnya datang mendatangi Jingga lalu menendang kaki milik Jingga hingga Jingga meringis kesakitan.


"Aakh!" pekik Jingga karena merasa sakit di kakinya. Wanita yang baru saja datang itu mendekati Jingga dan menampar perlahan pipi mulus milik Jingga yang sedikit tertutup oleh rambut indahnya.

__ADS_1


"Dasar kurang ajar! Apakah kau ingin membangunkan wanita brengs*k itu, hah?! Kau tak perlu susah susah melakukan hal itu!" bentak wanita itu tepat di hadapan Jingga.


Jingga yang melihat wajah wanita tersebut sangat mirip dengan Larina pun terkejut. Apakah mungkin wanita itu Larina? Namun Jingga berpikir lagi, bagaimana bisa Larina berada di sini setelah dia masuk ke penjara?


Dengan kasarnya, wanita itu berjalan mendekati Jazira dan menarik rambut milik Jazira. Jingga yang melihat hal tersebut pun berteriak dengan mulutnya yang tertutup rapat.


"Bangun! Dasar wanita gila!" bentak wanita yang mukanya mirip seperti Larina itu, yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya. Hatinya terasa begitu sakit ketika melihat sang kakak di diperlakukan seperti itu


Jazira yang baru terbangun pun terkejut bukan main karena bentakan dari wanita tersebut.


"Selamat bangun tuan putri! Benar bukan perkataanku tadi? Kita bertemu kembali. Aku pastikan anak sial*n ini akan gugur!" seru wanita itu yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya. Tatapan tajamnya tertuju pada wanita itu.


"Dasar wanita biad*b! Lepaskan aku dan adikku!" sentak Jazira dengan nada marahnya karena dengan sengaja wanita itu tak menutup mulut milik Jazira sama seperti milik Jingga.


Dia bukan takut jika wanita itu menyakitinya, dia takut jika dia menyakiti sang kakak dan keponakannya. Jingga terus berusaha untuk melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuhnya serta mulutnya.


"Aku mohon tolong lepaskan aku dan adikku. Kami tak bersalah, adikmu lah yang bersalah karena dirinya telah membuat sebuah kebohongan besar!" jawab Jazira yang membuat wanita tersebut marah. Dengan puncak amarahnya, wanita tersebut pun menampar pipi Jazira dengan brutal yang membuat darah Jingga semakin mendidih.


Akhirnya karena emosinya sudah berada di puncak, Jingga pun berhasil melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Jingga pun segera bangkit dari kursinya dan melepas ikatan yang menutupi mulutnya.


Dengan cepat Jingga pun menjambak keras rambut milik wanita yang tengah menampar pipi Jazira. Jingga pun segera mendorong keras tubuh wanita itu hingga terjatuh.


"Ku bilang hentikan! Siapa kau sebenarnya?! Apakah kau buta? Dia tengah mengandung, ada kehidupan baru di perutnya!" bentak Jingga yang langsung membuat wanita itu kembali berdiri. Dengan arogannya, wanita tersebut mendorong tubuh Jingga hingga terpental ke tembok.


Wanita tersebut benar-benar marah kali ini. Bahkan tanpa membuang waktu yang lebih lama, wanita tersebut segera menjatuhkan kursi milik Jazira hingga jatuh ke belakang, yang membuat kepala Jazira langsung membentur lantai.

__ADS_1


"Aaakh!" pekik Jazira kesakitan karena benturan yang ada di kepalanya. Wanita itu menjongkokkan badannya tepat di sebelah Jazira dan mencekik leher milik Jazira dengan mata yang terbelalak lebar.


"Dengarkan sekali lagi! Jika kau menyakiti adikku, maka aku tak akan pernah melepaskan mu. Perkenalkan, aku Jessica. Mantan kekasih suamimu," ucap wanita itu yang langsung membuat Jazira terkejut.


Sedangkan Jingga yang masih terjatuh pun mencoba bangkit dari jatuhnya. Namun karena tubuhnya yang membentur tembok tadi, membuat kepala Jingga terasa sangat pusing. Terlebih lagi darah yang mengalir dari hidungnya membuat Jingga hanya dapat menatap sang kakak dengan tangis yang mulai membasahi pipinya.


"Kak Zizi!" ucap Jingga dengan suara pilunya melihat perlakuan wanita itu kepada sang kakak. Gadis itu menangis keras dengan posisi miring ke samping ketika melihat sang kakak yang masih disiksa oleh wanita itu.


"Ku mohon lepaskan Kak Zizi!" imbuh Jingga dengan tangis sakitnya melihat kondisi sang kakak. Jingga menjatuhkan kepalanya dengan tangis yang masih belum usai.


"Tak ada acara lain supaya kau dan anak sial*n ini lenyap dari dunia ini!" ucapan wanita itu tegas sembari mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam jaketnya.


Jazira yang melihat hal tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kali ini tangisnya benar-benar pecah karena takut sesuatu hal terjadi pada anaknya. Jazira pun mencoba menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk menghindari Jessica.


Jazira merasa lebih sakit lagi ketika melihat kondisi Jingga yang telah terkulai lemas di lantai dengan darah yang keluar dari hidungnya.


Dengan kasarnya, Jessica pun mencekal bibir milik Jazira dengan erat lali masukkan sebuah cairan ke dalam mulut Jazira dengan paksa. Jazira berusaha sekuat tenaga untuk meminum cairan itu. Pikirannya tertuju pada sang anak yang apa lemah di dalam sana.


Namun posisinya kali ini benat-benar sangat tak menguntungkan Jazira. Dengan posisi tertidur seperti itu, cairan itu pun langsung masuk ke tenggorokan nya.


Hingga tiba-tiba sebuah suara tembakan datang menyapa pendengarannya sebelum Jazira benar-benar tak sadarkan diri dengan banyak busa yang keluar dari bibirnya.


Follow ig author yuk: @kay_enna


Supaya lebih akrab dengan Kayenna

__ADS_1


__ADS_2