ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 124 - SEASON 2


__ADS_3

Betapa terkejutnya Albirru ketika melihat kondisi Jazira yang dapat digolongkan sedikit tidak wajar. Hati laki-laki itu hancur seketika saat melihat wanita yang dia cintai, bertingkah layaknya wanita gila. Bagaimana tidak, dengan tangis yang masih membasahi wajah cantiknya, Jazira mengelus dan memperlakukan guling kecil itu layaknya sebagai seorang bayi.


Albirru yang jantungnya berdegub dua kali lebih cepat itu, langsung menghampiri sang istri lalu segera menghempaskan guling yang ada di dekapan Jazira.


"Berhenti, Sayang. Dia bukan Arasa kita!" ujar Albirru sembari membawa tubuh Jazira ke dalam pelukan kekar nya. Jazira yang terkejut karena Albirru melemparkan guling yang dia kira sebagai Arasa itu pun, berteriak histeris.


"Kenapa kau membuang anak kita! Dia kesakitan karena kau melemparnya, Mas!" bentak Jazira sembari mencoba untuk keluar dari dekapan Albirru. Jazira juga mendongakkan kepalanya menghadap sang suami, dengan tatapan mata tajamnya.


Albirru yang melihat kondisi sang istri seperti itu pun benar-benar merasa menyesal. Sang istri berubah menjadi seperti itu juga karena ulahnya. Andai saja dirinya tak memilih Larina, mungkin saja Jazira tidak akan mengalami gangguan kejiwaan seperti sekarang ini.


"Maira, dengerin Mas, Sayang." Albirru mencoba berkata lembut kepada sang istri, yang berhasil membuat Jazira menghentikan aksinya untuk lepas dari pelukan sang suami. Wanita itu menatap wajah tampan milik sang suami dengan tangis yang masih belum reda.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh seperti ini, Sayang. Kamu bukan Mairaku. Maira ku adalah Maira yang kuat dan pantang menyerah. Kamu harus sembuh, Ra." Albirru mengelus pipi milik sang istri, dengan mata yang mulai memanas.


Jingga yang memang tidak bisa melihat sang kakak lebih jauh lagi pun berjalan keluar dari ruang rawat inap milik sang kakak. Tak lupa gadis cantik itu menutup pintunya sehingga dapat memberikan ruang untuk sang kakak, sekedar saling berbicara.


"Apakah Zizi yang membunuh Arasa? Apakah karena Zizi, anak kita pergi?" tanya Jazira dengan suara yang bergetar hebat, sembari menatap kedua mata indah milik sang suami.


Albirru menggelengkan kepalanya. Dia mengelus puncak kepala milik sang istri dan mengecup kening milik Jazira. Jazira yang diperlakukan lebih baik oleh sang suami pun memejamkan matanya, sembari meremas baju yang dikenakan oleh Albirru.


"Kamu nggak salah, Ra. Arasa pergi karena memang Tuhan lebih sayang sama dia. Kamu harus kuat, kamu sudah hebat karena berhasil membuatnya melihat dunia. Mas bangga sama kamu, Ra." Albirru kembali menghujani puncak kepala milik Jazira dengan kecupan hangatnya.


"Kita pulang ya, Ra? Kita kembali ke rumah kita," lirih Albirru karena berpikir jika sang istri terlalu lama berada di rumah sakit, maka Jazira akan semakin sulit untuk melupakan tragedi paling buruk di pernikahan mereka.

__ADS_1


Pada awalnya Jazira yang hendak menolak perkataan Albirru itu, tiba-tiba terkejut saat suaminya langsung mengangkat tubuhnya. Laki-laki bertubuh kekar itu segera berjalan menuju pintu keluar, dengan Jazira yang meminta untuk di turunkan.


Albirru yang hendak keluar pun terkejut saat Marcel membuka pintunya dari luar. Marcel yang sudah mengetahui sedikit cerita dari Jingga terkait kondisi Jazira pun bertanya kepada Albirru hendak di bawa kemana sang adik.


"Kau akan membawa Jazira kemana?" tanya Marcel sembari mengikuti langkah Albirru yang sudah berjalan keluar dari ruangan tadi, dengan langkah tergesanya.


"Aku akan membawa Maira pulang ke rumah. Kau dan Jingga urus semua yang ada di sini, dan juga dokter yang akan merawat Maira di rumah!" jawab Albirru sembari menatap sang sahabat sejenak.


Marcel yang tahu aba-aba dari Albirru pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Marcel menatap Albirru yang tengah memasuki lift dengan adik tirinya yang berada di gendongan laki-laki kekar itu.


Marcel segera menyelesaikan semua sisa urusan untuk adik tirinya bersama dengan Jingga. Sementara Albirru, laki-laki itu masih berusaha sekuat tenaga agar Jazira tak terjatuh dari gendongannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Aku tidak gila! Aku masih bisa berjalan sendiri!"


__ADS_2