
"Jadi Kak Marcel dan Kak Albi menyukai satu perempuan yang sama?" tanya Jingga dengan nada cengo nya yang langsung diangguki oleh Marcel. Lengan kokoh dengan tato yang terlihat itu menarik tubuh Jingga agar lebih mendekat pada dirinya.
"Hmm, pada awalnya kita semua kemana-mana selalu bertiga. Kita semua deket karena faktor rumah kita yang masih satu komplek dulu. Dari kecil kita selalu menyukai hal yang sama. Bahkan ketika sekolah pun, kita selalu sama. Mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah dasar." Marcel menjelaskan semuanya kepada Jazira dan Jingga yang yang terlihat antusias untuk mendengarkan ceritanya.
"Zizi bisa nebak nih, pasti di antara kalian yang suka atau mungkin malah cinta segitiga. Karena memang pada dasarnya Kak Marcel dan Mas Birru sama-sama keras kepala, jadi kalian berantem dan begini," tebak Jazira yang membuat Marcel sedikit tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Nah iya. Pasti kalian berdua ngrebutin cewek itu kan? Habis itu berantem dan lebih memilih buat ngorbanin persahabatan demi perempuan!" imbuh Jingga ikut berpartisipasi dengan nada bicara tak sukanya yang membuat Marcel terkekeh perlahan.
Lelaki bertubuh atlestis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Jingga. Tak lupa dia meninggalkan kecupan singkat di pipi mulus milik Jingga yang membuat sang empu semakin menatap Marcel dengan tatapan tajam.
Jazira yang melihat hal tersebut pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat interaksi antara Marcel dan Jingga. Entahlah hatinya merasa sangat senang ketika tahu bahwa kakak tirinya tersebut telah menambatkan hatinya kepada gadis cantik seperti Jingga.
"Nggak gitu, Ngga. Jadi ceritanya setelah kita sama-sama terus tuh dari taman kanak-kanak sampai sekolah dasar, tapi akhirnya kita pisah sejak Kak Marcel ikut Ayah ke rumah barunya. Sejak saat itu kita mulai menjauh dan nggak bisa main bareng tapi masih satu sekolah sampai SMA," imbuh Marcel yang membuat Jingga semakin asyik mendengar cerita dari Marcel.
"Kak Marcel ingat, kamu baru lahir sebelum Kak Marcel pindah. Waktu itu Kak Marcel jenguk kamu, gadis kecil dengan pipi besar yang membuat Kak Marcel ngotot minta adik," ucap Marcel yang membuat Jingga dan Jazira mengulum senyum tipis mereka.
Jingga yang mengetahui bahwa sang kakak dan Marcel pernah tinggal satu komplek dan mendengar bahwa Marcel pernah menjenguknya ketika masih kecil itu pun membuat Jingga terkejut.
"Terus ini inti ceritanya gimana? Langsung ngomong intinya aja deh, nggak usah muter-muter!" sentak Jingga dengan nada tak sukanya yang membuat Marcel menghembuskan nafasnya perlahan. Tangan besar milik Marcel terangkat untuk mengelus puncak kepala milik Jingga dan bersiap mengatakan cerita selanjutnya.
__ADS_1
"Akhirnya ketika kita menginjak SMA, Kak Marcel yang udah suka sama gadis itu pun coba buat bilang kalau kak Marcel suka sama dia terus ngajak jadian. Dan ternyata dadis itu pun juga memiliki rasa buat Kak Marcel, jadi kita berdua akhirnya pun jadian. Kak Marcel nggak bodoh ketika melihat wajah Kakakmu yang terlihat tidak suka waktu tahu Kak Marcel jadian sama dia," imbuh Marcel yang membuat Jingga langsung menatapnya tak suka.
Tak dapat dipungkiri, Jingga pun telah memiliki mantan pacar Namun dirinya tak pernah mengungkit-ungkit lagi masalah pacarnya di depan Marcel. Berbeda dengan Marcel yang menceritakan kepada Jingga secara langsung.
"Iya tahu, udah punya mantan. Bisa nggak sih ceritanya nggak usah sampai detail gitu!" sentak Jingga dengan nada yang tak santai. Hal tersebut membuat Marcel menggelengkan kepalanya perlahan. Sedangkan Jazira, gadis itu masih menyimak apa yang akan Marcel katakan selanjutnya.
"Setelah kurang lebih berapa lama kita jadian, persis seperti dugaan Kak Marcel. Kak Marcel harus pindah ke luar kota lagi untuk mengikuti dinas Ayahnya Kak Marcel yang saat itu tengah memrintis usaha. Jadi tinggalah pacar Kak Marcel itu dengan Albirru di SMA kita." Marcel melanjutkan ceritanya lagi karena melihat lirikan tajam dari Jingga.
"Ketika Kak Marcel ada di luar kota itu, Kak Marcel pernah mendengar kabar dari beberapa teman SMA yang masih sekolah di sana. Mereka bilang kalo Albirru terlihat dekat dengan pacar Kak Marcel waktu itu. Pada awalnya Kak Marcel mengira bahwa hal itu wajar karena mereka juga sahabatan," ungkap Marcel yang membuat Jazira dan Jingga menganggukkan kepalanya.
"Karena Kak Marcel udah capek dengar berita-berita yang nggak bener itu, Kak Marcel pun memutuskan untuk pulang untuk pastiin bener atau enggaknya berita yang itu. Dan ternyata benar, setelah Kak Marcel pulang ke sini Kak Marcel tahu bahwa mereka berdua telah berpacaran sejak Kak Marcel pergi," ujar Marcel yang membuat kedua wanita di hadapannya terkejut.
"Nama gadis itu, Jessica. Dia memang terkenal karena wajah cantiknya yang bisa digolongkan sebagai Most Wanted selain Albirru dan Kak Marcel waktu itu," jawab Marcel yang membuat kedua warna tersebut hanya ber oh ria. Pantas saja Jessica mau memacari dua pria sekaligus, karena dia memang menang wajah.
"Ya udah, biarin! Emang dari dulu aja Kakak mu udah kelihatan bejatnya, sekarang malah nambah dosisnya," ucap Jazira sembari berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar yang saling bersebelahan di hadapan mereka semua.
"Kak Zizi mau ke mana?" tanya Jingga sembari melepaskan pelukannya dari Marcel yang langsung membuat Jazira berhenti dari jalannya. Dia menolehkan sedikit kepalanya ke samping dan menjawab pertanyaan dari adik iparnya tersebut.
"Kak Zizi mau istirahat. Bukannya kalian berdua mau ajak Kak Zizi ke perusahaan besok?" ujar Jazira yang membuat kedua orang yang masih duduk dengan lengket itu tersenyum lebar. Setelahnya, Jazira pun segera melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dan segera menutup pintunya.
__ADS_1
Setelah menutup pintunya dengan rapat tak lupa Jazira jugamengunci pintu kamarnya. Tubuh mungilnya merosot ke lantai dengan badan yang bergetar hebat. Ingatannya kepada sang suami yang telah mengambil hatinya pun membuat wanita itu kembali menangis.
"Apakah salah jika aku mencintaimu? Kenapa mencintaimu saja, aku harus menahan sakit sehebat ini?" ujar Jazira sembari memeluk lututnya dengan erat.
Jazira mengelus perutnya yang masih rata sembari menghapus air matanya dengan perlahan. Jazira tengah membayangkan, betapa dia harus kuat ketika dirinya mengandung anak Albirru dan jauh dari suaminya tersebut.
Entah mengapa Jazira sangat yakin bahwa dirinya akan segera mengandung. Karena apa? Karena ketika Albirru melakukan hal itu, dirinya baru saja selesai dari haid. Bukankah hal itu merupakan masa subur bagi wanita untuk segera mendapat momongan?
"Kamu harus kuat, Zi. Apapun yang akan terjadi, jangan pernah menengok ke belakang. Jangan pernah berharap kepada laki-laki tak berprinsip itu dan kau harus memulai hidup yang baru," ucap Jazira mencoba membulatkan tekadnya untuk tak memikirkan Albirru lagi dan fokus kepada masa depannya dan Jingga. Mungkin juga dengan calon bayinya.
Sementara di tempat lain, seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya menggapai ponsel yang telah mengganggu suasana paginya. Wanita itu memperhatikan Albirru yang masih tertidur sembari memeluk tubuhnya yang masih polos tanpa tertutupi sehelai benang pun.
Perlahan, Larina pun menempelkan ponselnya ke telinga setelah menggeser tombol icon telepon berwarna hijau. Terdengar sapaan dari seberang sana yang sama sekali tak dihiraukan oleh Larina.
"Benarkah?! Kau sudah menemukannya?! Beri dia uang berapapun yang dia mau, asalkan jangan biarkan orang tersebut membuka mulutnya. Aku tak ingin semua rencanaku gagal. Kau paham?!" ujar larina dengan tegasnya sembari menatap Albirru untuk memastikan bahwa sang kekasih belum membuka matanya.
"Jika sampai Albirru sampai tahu semuanya, maka kau yang akan bertanggung jawab! Kau tahu bukan, apa akibatnya jika bermain-main dengan Larina?!"
...• Jangan Lupa Bersyukur •...
__ADS_1