
Jazira yang tangannya masih berada di mulut pun dengan segera menurunkannya.
"Tu... tuan Albirru? Mengapa kau sampai disini?" Ucap Jazira sedikit terkejut dengan kedatangan Albirru di kos-kosan Tasya. Albirru hanya menatap tajam Jazira yang dengan santainya sudah berganti pakaian. Sedangkan dirinya yang susah payah mencari keberadaan Jazira.
"Apakah kau puas setelah membuatku kelimpungan mencarimu?" Ucap Albirru datar sambil berjalan mendekati Jazira. Jazira yang menatap wajah datar dari Albirru pun berjalan memundurkan badannya.
"A... apa yang akan kau lakukan Tuan?" Ucap Jazira ketakutan sambil berpegangan pada pintu kos milik Tasya.
Tanpa ba bi bu, Albirru pun segera menggendong tubuh mungil milik Jazira dan membopongnya bagaikan karung beras. Sontak Jazira yang terkejut pun memanggil Tasya berulang kali.
"Sya... Tasya! Tolongin aku, Sya!" Ucap Jazira dengan berteriak yang membuat Tasya segera keluar dari kamar kosnya. Dia terkejut karena melihat sang atasan yang menggendong tubuh Jazira lalu berjalan menuju gerbang kos.
"Aduh! Apa yang harus ku lakukan?! Cepatlah Sya, berpikir!" Ucap Tasya ketakutan sambil menatap Jazira yang kian menjauh. Seketika dia menggeplak kepalanya perlahan.
"Dia kan sama calon suaminya, terus kenapa Lo malah bingung. Mau digimanain tetep menang Tuan Albirru lah. Yaudah lah, masuk lagi." Ucapnya menyadarkan dirinya sendiri lalu memasuki kamar kos nya.
Sedangakn Jazira yang digendong dengan terbalik pun mencoba memukul punggung milik Albirru supaya dia menurunkannya. Namun Albirru tak menggubris perkataannya. Dia lantas memasukkan Jazira kedalam mobil.
Jazira yang masih emosi pun hanya menunggu Albirru memasuki mobil. Dan benar saja, ketika Albirru memasuki mobil Jazira langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kenapa sih, Bapak main angkat saya?! Malah angkatnya persis sama kuli beras! Zizi mau nginep di rumah Tasya, buka nggak pintunya?!" Ucap Jazira sambil mencoba membuka pintu mobil Albirru.
Dan ya, lagi-lagi Albirru tak menggubrisnya. Dia segera menyetarter mobilnya dam mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah utamanya. Jazira masih mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Albirru. Namun satu katapun tak keluar dari mulut Albirru.
Karena jarak ke tempat kos Tasya sangat jauh dari rumah utama, gadis yang sedari tadi mengoceh pun mulai mengantuk. Albirru hanya menyunggingkan senyumnya sambil melirik Jazira yang mulai tertidur.
__ADS_1
Albirru menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan melepas jasnya. Dengan cepat Albirru menutupi tubuh Jazira yang hanya ditutupi oleh kain daster ala emak-emak dengan jas hitamnya. Setelah selesai, Albirru pun kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
Hampir tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka berdua telah tiba di rumah utama Albirru. Albirru pun keluar dari mobilnya lalu berjalan memutar untuk menggendong tubuh Jazira.
Mbok Sum yang sedari tadi menunggu kedatangan tuan muda nya pun bernafas dengan lega ketika melihat Albirru telah tiba. Namun Mbok Sum mengernyit heran ketika melihat Albirru membopong seorang wanita menuju pintu utama.
Dengan tergopoh-gopoh, Mbok Sum pun berjalan mendekati pintu dan membukakannya untuk Albirru. Albirru hanya menatap Mbok Sum dengan sedikit senyumnya, lalu berjalan menuju lantai atas.
"Mbok, tolong jaga Maira ya? Saya kembali ke kamar dulu." Ucap Albirru kepada Mbok Sum setelah menyelimuti Jazira. Mbok Sum hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Albirru pun berjalan keluar kamar Jazira dan segera kembali ke kamarnya yang berada di lantai satu.
Mbok Sum yang melihat wajah lelah dari Jazira pun mulai mendekatinya. Mbok Sum duduk disebelah tubuh Jazira, lalu tangannya terulur untuk mengelus kepala Jazira. Jazira yang merasakan sentuhan seseorang pun semakin nyenyak tertidur.
"Gadis yang sangat cantik. Mbok Sum berharap agar Non Maira bisa mengembalikan Tuan Muda seperti dulu." Ucap Mbok Sum sambil membenarkan posisi selimut Jazira lalu berjalan mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu nakas.
Berbeda lagi dengan Albirru, dia sedang sibuk menelepon banyak orang untuk persiapan besok. Dia yang mengurus semua persiapannya tanpa campur tangan orang lain. Sentuhan terakhirnya, Albirru pun menghubungi Johan.
"Jo? Kau hubungi kembali nomor-nomor yang aku kirimkan baru saja. Tanyakan kepada mereka semua, apakah besok pagi semuanya sudah siap atau belum. Jika belum, kau ganti saja dengan yang lain. Kau paham?" Ucap Albirru langsung pada intinya. Johan yang masih bingung pun hanya mampu menghela nafasnya.
"Maaf tuan, apa yang harus ku lak-" Ucapan Johan terputus karena Albirru tiba-tiba mematikan sambungan teleponnya. Ingin Johan melemparkan atasannya tersebut ke laut, tapi apa daya nya?
Dengan perasaan yang masih emosi, Johan pun menghubungi satu persatu nomor yang Albirru berikan.
"Apakah dia tak menatap pukul berapa sekarang? Untung kau anak sahabatku. Jika tidak, maka aku akan mencari atasan yang lebih baik darimu." Gerutu Johan sambil menekan tombol telepon untuk mneyambungkan panggilan keduanya.
"Selamat malam, maaf mengganggu. Saya Johan asisten pribadi Tuan Albirru. Saya diperintahkan untuk menghubungi Anda, boleh saya tahu apa yang Tuan Albirru minta kepada kalian?" Ucap Johan sopan sambil memikirkan apa yang dilakukan oleh tuan mudanya ketika tak ada dirinya.
__ADS_1
"Jadi Anda lah, Tuan Johan? Baiklah saya akan menjelaskan apa yang Tuan Albirru maksud." Ucap orang tersebut sambil membuka buku catatannya. Johan pun mulai mendengarkan apa yang orang tersebut katakan.
Betapa terkejutnya Johan karena penuturan dari orang tersebut. Johan dibuat terkejut lagi karena waktunya besok pagi. Dia menggelengkan kepalanya dan mematikan panggilannya karena dia sudah tahu maksud dari atasannya.
"Apakah dia tak bisa menunggu sebentar saja. Kenapa dia selalu gegabah." Ucap Johan sambil berjalan keluar kamarnya. Ya, tujuannya sekarang adalah rumah utama Tuan Albirru.
Orang tadi mengatakan bahwa dia sudah dalam perjalanan menuju rumah Albirru. Jadi mau tak mau dirinya lah yang mengurus semuanya. Tak ada yang tahu, bahwa dirinya sudah bersiap tidur. Namun demi atasannya itu, dirinya rela tak tidur dan pergi kembali ke rumah Albirru.
Dia tak ingin ambil risiko dengan menyetir sendiri, akhirnya dengan berat hati dirinya meminta agar sopirnya mengantarkannya ke rumah Albirru.
Sementara Albirru yang hendak bersiap tidur, terganggu karena ponselnya berdering. Dia melihat siapa yang meneleponnya. Albirru pun menghembuskan nafanya kasar lalu mengangkat panggilan kekasihnya ditengah malam.
"Sayang! Apakah yang kau kirim semalam benar akan terjadi? Mengapa semua ini sangat mendadak. Aku belum siap melepaskanmu. Aku akan datang besok. Aku akan melihat seberapa cantiknya dia, besok. Baiklah sayang, kau tidur saja. Sampai jumpa besok pagi." Ucap Larina dengan cepatnya langsung menutup panggilannya.
"She is crazy? Gila, telepon malam-malam hanya untuk mengatakan hal itu?!" Ucap Albirru sambil menatap ponselnya dan segera meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Apakah kau pikir aku tak mengetahui semuanya hah?! Albirru tak sebodoh yang kau kira." Ucapnya sambil tersenyum miring dan mulai memejamkan matanya.
*********
Keesokan harinya, Jazira mulai menggeliatkan badannya dan mengerjapkan matanya. Setelah menguap, dia mulai membuka matanya lebar-lebar dan membangunkan badannya.
Niat hati ingin membuka matanya lebar-lebar agar cepat tersadar, kini matanya benar-benar melebar. Bagaimana dia tak terkejut ketia melihat beberapa orang telah berada di kamarnya.
Hai semuanya, maafkan Kayenna karena baru up. InsyaAllah nanti malam up 1 bab lagi. Don't forget like and comment ya❤
__ADS_1