
"Alina? Atas izin siapa, kau memberi nama pada putriku ini?" tanya Jazira sembari menatap sang putri yang tengah terdiam saat berada di gendongan sang papa. Albirru yang tengah menenangkan sang putri pun mengalihkan pandangannya kepada sang istri.
"Kau tak menyukainya? Baiklah kita akan menggantinya," jawab Albirru dengan nada lirihnya yang sama sekali tak membuat Jazira tak berminat untuk membahas tentang topik tersebut.
Jazira mengangkat tangan kanannya untuk mengelus punggung kecil milik sang putri. Albirru tersenyum tipis melihat wajah lelah sang istri. Tak dapat dia pungkiri, dia pun merasa bahagia setelah dirinya berpikir akan kehilangan sang buah hati. Namun Tuhan masih memberikan dirinya kesempatan.
"Arasa," ucap Jazira spontan saat tangan mungilnya masih menjelajahi wajah cantik putri kecilnya. Mendengar cetusan dari istrinya, membuat Albirru sontak mendongakkan kepala menatap wajah Jazira.
"Ara,"
"Asa,"
Albirru dan Jazira saling menatap satu sama lain ketika panggilan mereka untuk buah hati mereka berbeda. Jazira menatap wajah sang suami lalu segera merotasikan matanya ketika tatapan keduanya bertemu.
"Arasa Almaira Alexander," ujar Albirru sembari memberikan nama kepada buah hatinya. Albirru mencium kening mungil milik sang putri yang masih tertidur di dalam dekapannya.
"Kau tak perlu memberikan nama belakangmu kepada putriku. Cukup Arasa Almaira, dia tak memerlukan nama keluargamu," ujar Jazira dengan nada tak senangnya yang membuat Albirru kembali menatap sang istri.
__ADS_1
"Tak ada penolakan, namanya akan tetap Arasa Almaira Alexander. Tak ada penambahan atau pengurangan kata nya!" tegas Albirru yang membuat Jazira menatap tajam laki-laki yang tengah menggendong putri kecilnya.
"Dia putriku! Aku yang lebih berhak untuk dirinya! Aku tak ingin dia mengenal siapa ayahnya! Ayah yang dulu pernah meragukan siapa dirinya sesungguhnya! Aku tak akan pernah membiarkanmu-"
"Dia putriku, Ra! Ara putri kita!" sentak Albirru yang membuat Jazira diam seketika. Netra Jazira menatap netra tegas sang suami yang sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Ku perjelas sekali lagi! Dia putri kita, dan sejauh apa pun kau akan membawa dirinya pergi dariku dia tetap putri ku!" imbuh Albirru yang lagi-lagi membuat Jazira terdiam.
Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba suara tawa Jazira memenuhi ruangan itu. Jazira tertawa aneh yang membuat Albirru sedikit khawatir dengan keadaan sang istri.
"Kau baik-baik saja, Ra?" tanya Albirru sembari mengelus puncak kepala milik Jazira yang masih tersisa sedikit keringat karena tadi dirinya berteriak mencari anaknya.
"Kenapa?! Kau pikir aku gila?! Ya, aku gila kau tahu?! Kenapa kau baru bisa berubah setelah aku mulai menyerah, hah?! Kenapa kau tak memutuskan untuk berubah sebelum wanita licik itu melakukan sandiwara besar itu?! Kenapa?!" seru Jazira dengan air mata yang mulai menetes.
Ya, diri Jazira baik-baik saja. Tapi tidak dengan batinnya. Batinnya telah tersiksa saat dia masih bersama Albirru. Batinnya telah ditempa habis-habisan ketika masih bertahan bersama suaminya itu.
"Kenapa kau baru kembali padaku dan putriku setelah semua ini terjadi?! Setelah putriku harus lahir dalam keadaan prematur dan banyak selang di tubuhnya! Kau tak tahu bagaimana susahnya aku ketika aku tengah mengandungnya. Morning sickness ku tak akan berhenti sebelum aku melihatmu atau mendengar suaramu!" bentak Jazira yang membuat Albirru terkejut.
__ADS_1
Pantas saja Marcel selalu mengadakan rapat dadakan entah siang maupun malam, ternyata inilah penyebabnya?
"Maafkan aku, Ra. Aku benar-benar telah menyesal. Aku mohon padamu untuk memaafkanku. Aku berjanji, ini adalah kesempatan terakhir yang kau berikan. Jika sampai aku membuat kesalahan padamu lagi, Aku akan membiarkanmu pergi dariku," ujar Albirru memohon pada Jazira.
Seakan tahu bahwa kedua orang tuanya tengah bersitegang, Arasa mulai terbangun. Gadis itu mulai membuka matanya yang belum terbentuk sempurna. Gadis mungil itu mengangkat tangan kecilnya dan menyentuh dada bidang milik sang papa.
"Maaf kau bilang? Maaf ku telah kau habiskan selama ini. Tak akan ada lagi kesempatan untuk laki-laki sepertimu. Jatuhkan talak padaku, atau aku yang akan mengajukan gugatan cerai padamu?" ucap Jazira dengan nada yang lebih santai, tetapi tak lupa dengan air mata yang masih menetes.
"No, Ra! Ara butuh kita berdua. Dia membutuhkan perawatan intensif, selain dari peralatan dokter dia juga butuh orang tuanya. Aku tak akan pernah menjatuhkan talak padamu atau menerima gugatanmu!" jawab Albirru dengan tegas yang membuat Jazira tersenyum miring.
"Berikan Asa padaku, aku tak ingin kau semakin mendoktrin putriku ini agar selalu menempel padamu. Aku tak harus mencairkannya ayah baru bukan? Aku takut jika dia hanya bisa diam jika bersama pria," ujar Jazira yang membuat Albirru membelalakkan matanya.
"Maira! Kamu bilang apa sih, Ra? Papa Ara cuma satu, cuma aku aja!" jawab Albirru sensi yang membuat Jazira tertawa dalam hatinya. Jazira berpikir akan labih seru jika dirinya membuat panas sang suami.
"Kenapa?! Buat Mamanya Asa, gampang banget kalau buat cari Hot Daddy baru. Terlebih lagi banyak om bule yang nawarin diri buat jadi Papa barunya Asa. Iya kan, Sa? Nanti kita milih ya, Sa. Cari yang baik dan nggak suka celap celup. Setelah kamu sembuh Mama bakal perbaikin diri biar gampang buat gaet om-om," sindir Jazira usil yang membuat Albirru kelimpungan.
Selamat malam Mam kesayangan Kayenna, Alhamdulillah selesai satu bab nya. Maafkan Kayenna jarang up karena badan sedikit kurang fit, Insyaallah kalau badan sedikit enakan langsung boom up.
__ADS_1