
"Bayi yang dia kandung sudah tiada sejak dalam kandungan? Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya polisi tersebut sembari menatap dokter itu yang berjalan mendekati Larina dan memberikan obat bius agar Larina tak meraung-raung lagi.
"Ya, sejak kehamilannya Nona Larina memang sering mengonsumsi minuman keras dan juga merokok. Mungkin saja pengaruh karena Tuan Albirru tak terlalu mengurusnya, sehingga dia berbuat semaunya tanpa ingat bahwa dirinya tengah mengandung," jawab sang dokter lalu segera mencoba menghubungi dokter spesialis yang lain untuk perencanaan pengeluaran bayi milik Larina.
...*****...
Malam harinya, setelah selesai memberikan keterangan serta menjadi saksi mata untuk kasus Larina kini Albirru tengah berada di dalam mobil bersama dengan Johan untuk kembali ke rumah.
Entah mengapa, tiba-tiba ditengah perjalanan Albirru meminta kepada Johan untuk pergi ke rumah sakit. Albirru benar-benar menyesali semuanya. Kali ini hanya Jazira lah yang dia inginkan, tak lebih.
Johan yang melihat Albirru dari kaca spion tengah pun hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia turut prihatin dengan apa yang menimpa kehidupan tuan mudanya itu.
Ya, Johan telah mengetahui semua kebenaran tentang Albirru dan Jazira setelah dirinya berbicara dengan Jingga dan Marcel tadi. Karena dirinya lah yang mengantar Veno serta Jazira ke rumah sakit.
"Apakah Jazira akan memaafkan ku, Paman Jo?" tanya Albirru sembari memijat pelipisnya dengan mata yang terpejam. Hatinya terasa sangat hampa kali ini. Rasa ingin meminta maaf kepada Jazira lah yang memenuhi relung hatinya.
"Jangan tanyakan padaku, tuan muda. Kali ini kita berpikir secara logis saja. Mana ada wanita yang akan memaafkan suaminya, yang telah mengusir dirinya sendiri dan mengatakan dirinya wanita murahan serta sampah? Jika pun ada selerti Anda saat ini, pasti tidak akan ada yang akan memaafkan laki-laki seperti Anda. Tapi kita kembalikan semuanya kepada Nona Maira. Dia adalah orang yang berhati mulia dan dia tahu mana yang benar dan mana yang salah," ucap Johan menanggapi pertanyaan sang atasan yang membuat Albirru semakin kalut.
Dirinya benar-benar takut jika sang istri tak memaafkannya dan memberikan dirinya kesempatan lagi. Albirru membuang pandangannya keluar jendela, kembali memikirkan bagaimana nasib kedepannya jika sang istri tak memaafkan dirinya dan memberikannya kesempatan. Apakah dirinya akan bisa bertahan tanpa wanita yang dicintai itu atau tidak.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah itu, akhirnya mobil yang ditunggangi oleh Albirru dan Johan tiba di rumah sakit. Dengan jas yang sudah dia sampurkan di di kursi penumpangnya, Albirru pun keluar dari mobil mewahnya sembari melipat kemejanya hingga ke siku. Sehingga memperlihatkan sikunya yang terdapat darah kering sisa cenderamata siang tadi.
Albirru berjalan dengan perasaan yang tak menentu, dia tak memikirkan bagaimana anak yang Jazira kandung saat ini. Yang kali ini dia pikirkan hanyalah Jazira, Jazira, dan Jazira tidak lebih dari itu.
Dia terus berjalan hingga dirinya tiba di meja resepsionis. Albirru pun menyebutkan nama sang istri lengkap dengan marga Alexander di belakangnya. Sang resepsionis yang telah mengetahui kabar menggemparkan siang tadi pun segera menunjukkan Albirru di mana ruang rawat pilih Jazira secara langsung.
Albirru pun mengikuti resepsionis tersebut yang mengantarkannya ke ruang VIP, tempat Jazira dirawat. Hingga setelah dirinya tiba di koridor terakhir, resepsionis tersebut mengatakan jika Albirru hanya perlu berbelok ke sebelah kanan dan akan menjumpai kamar milik Jazira.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Albirru pun melewati resepsionis itu begitu saja dan segera berbelok ke kanan. Benar saja terdapat Jingga, Marcel, serta Veno yang tengah menunggu di depan ruangan itu. Albirru sedikit berpikir, apakah sang istri masih dalam masa pemeriksaan atau apa.
Marcel dan Jingga yang sedari tadi hanya berdiam diri pun sedikit terkejut karena kedatangan Albirru. Entah mendapat dorongan dari mana, Marcel yang melihat wajah lelah milik Albirru pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat mendekati Albirru.
Tak berhenti, Marcel pun menginjak perut milik Albirru dan segera menghajar rahang tegas milik Albirru. Kali ini Albirru sama sekali tak melawan, karena dia tahu bagaimana kecewanya Jingga serta Marcel kepada dirinya.
Dirinya terus menerima pukulan dari Marcell yang datang bertubi-tubi tanpa jeda sedikitpun yang membuat Jingga terkejut bukan main. Gadis itu segera berjalan cepat mendekati keduanya karena melihat darah segar yang keluar dari lubang hidung serta sudut bibir milik Albirru.
"Hentikan Kak! Jangan berbuat gegabah karena amarah! Bahkan nantinya Kak Marcel bisa dipidana jika laki-laki brengs*k ini melaporkan Marcel ke kantor polisi!" cegah Jingga sembari menahan lengan kekar milik Marcel yang masih terus memberi pukulan kepada wajah tampan milik Albirru.
Marcel yang mendengar ucapan Jingga pun segera menghempaskan tangan milik gadis yang dia cintai tersebut.
__ADS_1
"Biarkan saja! Biarkan laki-laki lemah ini melaporkan Kak Marcel ke kantor polisi! Bahkan Kak Marcel nggak takut jika Kak Marcel harus mendekam di penjara seumur hidup atau mungkin dihukum mati jika Kak Marcel berhasil membunuh laki-laki brengs*k ini!" ujar Marcel yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Jingga pun melerai keduanya yang membuat Albirru sedikit beringsut ke belakang untuk menghindari perlawanan dari Marcel lagi.
"Untuk apa kau kesini, hah?! Apakah setelah kau mengetahui semuanya dan menyebabkan anak yang ada di dalam kandungan Kak Zizi hampir saja mati, kini kau ingin kembali?! Jangan berharap kau bisa menemui Kakakku lagi!" bentak Jingga dengan mata yang memerah dan nafas yang memburu.
"Kau tahu?! Anakmu itu tak baik-baik saja sekarang! Apakah kau masih tak ingin mengakuinya?! Dia adalah benih yang kau tanam dalam perut Kak Zizi ketika kau tengah mabuk! Apakah kau lupa bahwa aku dan Kak Marcel lah yang membawa kau pulang ke rumah dan kau melakukan peme*kosaan itu kepada kakakku!" seru Jingga dengan nada lelahnya.
Albirru yang mendengar perkataan Jingga pun terkejut bukan main. Ingatannya terlempar ke malam di mana dirinya pergi ke club dan mabuk parah. Dirinya hanya sempat melihat Jingga yang datang ke club. Pada awalnya, dirinya hendak menegur Jingga namun, entahlah dirinya mengingat lagi.
Seketika ucapan Jazira yang mengatakan bahwa dirinyalah yang telah merebut mahkota miliknya tersebut kembali hadir di pikirannya yang membuat Albirru benar-benar menyesal.
"Aku tak akan membiarkanmu menyakiti Jazira lagi! Lihatlah, setelah ini aku akan mengurus bagaimanapun caranya agar kau dan Jazira dapat berpisah! Aku tak rela adikku itu kembali bersama dengan laki-laki brengs*k sepertimu!" bentak Marcel yang masih ditahan oleh Jingga.
Tiba-tiba penggalan-penggalan momen di mana dirinya sempat mendengar des*han dan era*gan dari Jazira mulai muncul di benak Albirru yang membuat laki-laki itu benar-benar menyesali kebodohannya.
"Tolong biarkan aku bertemu dan Maira. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku benar-benar menyesal telah melakukan semua ini. Tolong beri aku kesempatan untuk meminta maaf kepada Istriku itu," ucap Albirru yang sama sekali tak digubris oleh Marcel maupun Jingga.
"Bermimpilah untuk hal itu! Aku sama sekali tak akan pernah membiarkanmu menemui Adikku lagi!" ucap Marcel lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
__ADS_1