ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 12


__ADS_3

Jazira yang sudah sangat ketakutan pun menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menepis pikirannya. Albirru yang melihat reaksi dari Jazira pun menghembuskan nafsanya kasar.


"Kau tak perlu takut! Aku hanya bercanda, aku hanya ingin mengobati lukamu! Cepat buka kemeja itu." Ucap Albirru sambil berjalan mendekati nakas didekat ranjang dan membuka laci nakas. Jazira yang mendengar perkataan dari Albirru pun bernafas lega.


Jazira terkejut karena tangan besar milik Albirru hendak menyentuh kemeja bagian depannya setelah berjalan kembali mendekatinya.


"Eh, apa yang akan kau lakukan Tuan? Jangan berbuat macam-macam!" Ucap Jazira lantang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa pikiranmu sangat kotor hah?! Aku hanya ingin memberi obat merah ini di bahumu! Buka kemeja ini sekarang, atau aku akan membukanya paksa?!" Bentak Albirru sambil menyentil dahi milik Jazira.


"Haih, apakah kau sangat suka marah-marah? Kau bisa bicara dengan nada yang sedikit santai bukan?" Cibir Jazira sambil membuka dua kancing kemeja milik Albirru lalu menampakkan bahu mulusnya.


Albirru menelan ludahnya dengan kesusahan lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Albirru pun menghembuskan nafasnya kasar lalu kembali menatap Jazira.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Albirru mengoleskan betadine di bahu milik Jazira. Jazira tak merasakan sakit sedikitpun karena pandangannya tertuju pada Albirru. Selesai mengoleskan obat merah pada bahu milik Jazira, dia kembali mengancingkan kemeja miliknya yang dipakai oleh Jazira.


"Kau bisa berdiri?" Tanya Albirru yang membuat Jazira sadar dari acara melamunnya. Jazira hanya menganggukkan kepalanya dan berdiri. Dia mendongak untuk menatap wajah tampan Albirru.


"Apakah kau tidak pernah minum susu hah?! Kenapa tinggimu seperti anak TK?" Tanya Albirru yang membuat Jazira membelalakkan matanya.


"Hei kau, seenaknya saja kau mengatakan aku anak TK! Aku tak salah, kau saja yang terlalu tinggi. Apakah kau makan tiang listrik? Kenapa kau sangat tinggi?" Ucap Jazira bingung karena dirinya hanya sebatas dada milik Albirru.


"Kau malah menyalahkan aku! Kau saja yang pendek. Perbanyaklah minum susu, supaya kau tumbuh tinggi!" Ucap Albirru sambil meninggalkan Jazira untuk keluar kamar.


Albirru kembali ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kerjanya. Jazira yang bingung hendak melakukan apa pun mengikuti Albirru dan duduk didepan Albirru.


"Ini sudah menjelang malam. Apakah kau masih bekerja di jam seperti ini?" Ucap Jazira sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang tertutup lengan kemeja milik Albirru.

__ADS_1


"Hmm, aku lebih suka seperti ini dan pulang larut. Tak ada siapapun di rumah." Ucap Albirru sambil membuka dokumen yang tadi belum dia selesaikan.


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tua yang menunggumu di rumah? Mereka pasti akan khawatir." Tanya Jazira yang langsung membuat Albirru meletakkan pulpennya dan menatap Jazira tajam.


"Apakah itu pertanyaan yang harus ku jawab? Jangan tanyakan apapun tentang orang tuaku. Kau bukanlah siapa-siapa yang mengharuskanku untuk menjawab pertanyaanmu itu!" Tukas Albirru yang membuat Jazira diam mematung.


Dia tak lagi berbicara sepatah kata apapun. Dia hanya menjatuhkan kepalanya di kedua lipatan tangannya. Tak ada bunyi lain di ruangan itu kecuali goresan tinta ke kertas serta detakan jam.


Hampir sepuluh menit Jazira diam mematung, dia kembali menatap pecahan kaca yang berada di lantai tersebut. Dengan segera, Jazira pun beranjak dari duduknya dan mengambil tempat sampah.


Ekor mata Albirru menatap apa yang dilakukan oleh Jazira. Jazira pun berjongkok di sebelah Albirru yang masih duduk untuk menandatangani dokumen lalu mulai memunguti pecahan kacanya.


Pecahan per pecahan mulai hilang dari permukaan lantai. Jazira masih anteng tak memperdulikan Albirru yang sudah menunduk menatap tubuh mungil milik Jazira.


Sampai tiba dimana tangan Jazira terkena pecahan kaca.


Tak Jazira sangka, Albirru membawa jarinya yang terluka laku memasukkan ke mulutnya. Dapat Jazira rasakan sedikit hisapan dari mulut Albirru yang berusaha mengeluarkan sedikit darahnya agar berhenti mengalir.


Mata Jazira terpaku melihat wajah khawatir dari Albirru. Ada rasa yang membuncah di dalam hatinya ketika mendapat perlakuan manis dari Albirru.


Albirru yang merasa ada seseorang yang sedang menatapnya pun megalihkan pandangannya ke Jazira. Mata mereka berdua pun bertemu satu sama lain. Detik itu juga, jantung mereka berdua berpacu dengan sangat cepat.


Jazira yang takut tak dapat mengendalikan dirinya pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Albirru yang tersadar pun segera mengeluarkan jari telunjuk milik Jazira dari mulutnya.


"Kenapa kau sangat suka terluka hah?! Lain kali hati-hati lah!" Ucap Albirru lalu berdiri dari jongkoknya. Jazira pun mengikuti pergerakan dari albirru dan menatap jengkel kepada Albirru.


"Kau memang sangat suka mencari gara-gara denganku ya? Aku bukan sangat suka terluka, aku hanya mencoba untuk bertanggung jawab. Bukankah figura tersebut jatuh karena ulahku?" Tanya Jazira smabil menatap Albirru yang sednag melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Apakah kau seorang OB? Disini banyak OB, kau tak perlu repot-repot untuk membersihkan ini semua." Sergah Albirru menjawab perkataan Jazira.


Jazira hanya mencibir pelan Albirru dengan mulut kecilnya yang komat-kamit tak jelas. Jazira membungkukkan badannya hendak menyentuh foto yang masih tergeletak di lantai tersebut.


"Apakah kau mau terluka lagi?!" Ucap Albirru yang tak dihiraukan oleh Jazira. Tangan mungilnya terulur untuk mengambil foto Albirru bersama wanita cantik dengan latar Menara Eifel itu.


"Tuan, wanita cantik ini siapa?" Ucap Jazira bertanya kepada Albirru sambil mengelus gambar wanita yang dirangkul hangat oleh Albirru itu.


"Jika kau ingin tahu siapa cinta pertamaku di dunia ini? Maka dialah orangnya." Ucap Albirru yang membuat badan Jazira menegang. Hampir saja foto tersebut jatuh dari tangannya jika dia tak segera megeratkan pegangannya.


"Si... siapa nama wanita cantik ini?" Ucap Jazira dengan senyum kakunya sambil mendongakkan kepalanya.


"Jingga. Namanya adalah Jingga. Nama yang bagus bukan?" Jawab albirru sambil bertanya kepada Jazira tentang nama wanita yang sangat Albirru cintai itu.


Jazira hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengembalikan foto tersebut ke meja kerja milik Albirru.


Mereka berdua terkejut karena pintu ruangan milik Albirru terbuka secara tiba-tiba dan muncullah wanita berpakaian ketat dengan bibir berwarna merah itu.


"Benar tebakan ku bukan? Kau pasti masih disini. Apa kabarmu, sayang?" Ucap wanita itu sambil berjalan mendekati Albirru. Jazira yang terkejut pun hanya menatap pada wanita tersebut.


Albirru mundur beberapa langkah menjauhi wanita yang mulai mendekatinya itu.


"Apa yang kau lakukan, sayang? Apakah kau menghindariku? Aku minta maaf karena terlambat datang kemari." Ucap wanita itu manja lalu memeluk tubuh kekar milik Albirru.


Dia juga berusaha meninggikan tubuhnya untuk mencium bibir dari sang kekasih. Albirru yang masih melihat keberadaan Jazira pun menahan sang kekasih.


"Larina! Apakah kau tak melihat masih ada orang lain di ruangan ini?" Bisik Albirru kepada sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2