ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 9


__ADS_3

Seketika badan Jazira pun menegang. Karena tak mendapat penolakan, Albirru pun semakin menekan tengkuk milik Jazira dan memperdalam ciumannya.


Pada awalnya ciuman tersebut, Albirru pikir hanyalah ciuman singkat karena gemas dengan kecerewetan dari mulut Jazira. Tapi Albirru sama sekali tak menyangka bahwa dirinya menginginkan lebih daripada ciuman singkat tersebut.


Dengan sedikit paksaan dari Albirru, mulut mungil berwarna merah muda tersebut terbuka sedikit. Tanpa membuang banyak waktu, Albirru pun menjelajahi mulut Jazira lebih dalam.


Sedari tadi, Jazira hanya lah diam tanpa memberikan respon sedikitpun. Albirru lah yang memegang kendali penuh dalam permainan itu.


Jazira yang sudah merasa kehabisan nafas pun memukul dada bidang milik Albirru beberapa kali. Albirru yang paham akan maksud dari Jazira pun melepaskan ciuman tersebut.


Jazira yang berhasil lepas dari ciuman Albirru pun mengambil nafasnya banyak-banyak layaknya orang yang baru saja berlari sejauh satu kilo. Albirru yang melihat reaksi Jazira pun tersenyum miring dan mengangkat tangannya menuju bibir kecil milik Jazira.


Jari besar Albirru menyapu lembut bibir mungil milik Jazira yang sedikit basah karena tingkahnya. Jazira terkejut bukan main dengan perilaku Albirru baru saja. Belum reda keterkejutannya, Albirru pun mendekatkan lagi tubuh Jazira kedalam dekapannya dan meletakkan dagunya di puncak kepala milik Jazira.


"First kiss Zizi..." Gumam Jazira sambil meraba bibir ranumnya di dalam dekapan Albirru. Seketika senyum Albirru terbit di bibirnya. Dia merasa sangat bahagia, karena dia adalah orang pertama yang mengambil ciuman milik Jazira.


Johan yang melihat aktivitas dari sang atasan melalui spion tengah pun hanya tersenyum samar. Dia berharap agar Jazira dapat mengembalikan sosok Albirru yang dirindukan olehnya.


Jazira masih menyandarkan badannya kepada Albirru sampai tiba-tiba kantuk menyerangnya. Dengan perlahan, Jazira mulai mengerjapkan matanya beberapa kali hingga matanya menutup rapat.


Albirru yang merasakan hembusan nafas Jazira mulai teratur pun tersenyum lega. Dia menundukkan kepalamya sedikit, sehingga dirinya dapat melihat wajah teduh milik Jazira ketika terlelap.


Tangan Albirru pun terulur untuk mengusap rambut kecoklatan milik Jazira. Ketika tangannya masih mengelus surai panjang milik Jazira, pandangannya kembali menatap kedepan.


Pada awalnya, tujuan awal mereka semua adalah ke rumah utama. Namun karena ada keperluan mendadak, Albirru mengatakan kepada Johan agar pergi ke perusahaan.

__ADS_1


Selama perjalanan, Albirru tak henti-hentinya menatap wajah mungil milik Jazira. Entah mengapa, dia sangat merasa nyaman jika berada di dekat Jazira. Karena terlalu asyik menatap Jazira, Albirru tak sadar jika mereka semua telah tiba di perusahaan miliknya.


Setelah keluar dari mobil dengan bantuan Johan, Albirru pun berjalan memasuki pintu pribadi yang langsung menghubungkan ke lift khususnya.


Johan hanya menatap kepergian sang atasan yang masih setia membopong Jazira tanpa terlihat keberatan sedikitpun.


Saat memasuki lift, salah satu pegawainya pun tak sengaja melihat Albirru yang sedang menggendong seorang wanita.


"Apakah mau melihatnya? Pak Bos memggendong seorang wanita. Tapi apakah itu kekasihnya yang beberapa waktu lalu pernah datang kemari?" Tanya seorang wanita yang sedang memegang map plastik itu.


Sedangkan wanita yang berada disebelahnya pun masih menatap lift yang sudah tertutup itu.


"Tapi bukankah badannya sedikit berisi? Bukan seperti itu. Sepertinya kali ini beda lagi, karena tubuh wanita yang sangat beruntung itu sangatlah kecil." Timpalnya tak setuju dengan perkataan sang teman.


"Mengapa wanita-wanita itu sangat beruntung ya? Perasaan aku pun sudah cantik, seksi, serta memenuhi kriteria untuk CEO-CEO tampan itu. Emang nasibku yang jelek kali." Ucap sang wanita sendu yang membuat temannya pergi meninggalkannya.


Dia tak ingin jika ruangannya sampai terjamah oranglain, bahkan seorang sekretaris pun. Setelah sampai didepan ruangannya, Albirru pun membuka pintu ruangannya dengan sikunya.


Aroma maskulin langsung menyeruak ketika pintu ruangan milik Albirru terbuka. Dengan segera, Albirru berjalan masuk dan melangkahkan kakinya menuju ruangan istirahatnya.


Dengan perlahan, Albirru merebahkan Jazira di tempat tidur berukuran king size tersebut dan melepaskan sandal rumah sakit yang Jazira pakai. Tak lupa dia pun menaikkan selimut hingga dada milik Jazira.


Albirru menekuk satu lututnya disamping ranjang. Tangannya terulur menyibakkan sedikit rambut Jazira yang menutupi mata Jazira. Lagi dan lagi senyum tipis terbit di bibirnya.


Entah karena apa, tiba-tiba Albirru memajukan badannya dan menempelkan bibirnya kembali ke Jazira. Dia menempelkan bibirnya dengan sangat lama. Kali ini dia tak melakukan hal nyeleneh seperti yang dia lakukan ketika berada di mobil, kali ini benar-benar murni hanya kecupan singkat.

__ADS_1


Setelahnya, Albirru pun berdiri dari posisi berlutut dengan satu lututnya. Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut dan mendekati meja kerjanya.


Albirru membenarkan sedikit dasinya setelah berhasil duduk di kursi kebesarannya. Dia mulai membuka dokumen-dokumen yang telah tertata rapi diatas mejanya.


Lama dia berkutat dengan laptop serta dokumen pentingnya, sampai dia tak sadar bahwa Johan telah memasuki ruangannya.


"Maaf Tuan, apakah kau sedang sangat sibuk sekarang? Saya sudah memanggilmu berkali-kali." Ucap Johan sambil menundukkan kepalanya. Albirru yang sedikit terkejut pun sama sekali tak bereaksi.


"Apa perlumu, Jo?" Tanya Albirru dengan nada rendah nya yang membuat Johan mendongakkan kepalanya. Albirru pun mengalihkan pandangannya menatap sang asisten.


"Ada masalah sedikit dibagian pemasaran bantuan, Tuan. Bantuan yang perusahaan ini berikan kepada warga polosok tak sampai tujuan. Tersangka telah dibawa ke perusahaan ini. Kami menunggu tindak lanjut dari Tuan." Ucap Johan menjelaskan apa yang terjadi.


Seketika Albirru pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Johan.


"Kita adakan pertemuan sekarang. Saya tunggu lima menit di ruangan meeting. Tidak lebih!" Ucap Albirru lalu melangkah meninggalkan Johan. Johan yang mendengar perkataan sang atasan pun segera mengambil ponselnya dan memberi kabar kepada semua karyawannya.


Albirru memasuki lift bersama dengan Johan, itupun dengan jarak yang sangat jauh. Albirru hanya menatap lurus kedepan tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Johan yang sudah tahu kebiasaan sang atasan pun hanya bisa diam dan tak bersuara.


Sesampainya dia di ruangan meeting, belum ada seorang pun yang berada di ruangan tersebut. Albirru hanya menatap datar ke Johan. Johan yang mengerti arti tatapan dari sang atasan pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Johan kembali mengabari kepada para karyawan pilihannya untuk segera datang ke ruang meeting.


Dan ya, 4 menit telah berlalu. Satu persatu para karyawan memasuki ruang meeting dengan menundukkan kepalanya. Albirru menatap tajam satu persatu karyawannya yang mulai duduk di kursi. Setelah semua berkumpul, Johan pun hendak memulai pembicaraannya. Namun tak ada seorang pun yang menyangka bahwa Albirru akan berbicara.


"Bukankah aku meminta waktu lima menit? Mengapa semua baru berkumpul setelah 8 menit? Kalian pikir pertemuan ini sama sekali tak penting?! Untuk apa kalian duduk?! Cepat berdiri dan tinggalkan ruangan ini! Jangan lupa untuk mengambil surat pemecatan kalian di bagian HRD!" Ucap Albirru panjang lebar untuk pertama kalinya yang membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


Setelah sadar dari keterkejutannya, semua orang bertambah kaget karena perkataan dari Albirru.


__ADS_2