ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 65


__ADS_3

Pagi ini Jazira pergi bersama Veno, Jingga, dan Marcel ke landasan jet pribadi milik Marcel untuk kembali ke Indonesia. Ya, kemarin Marcel bertanya kepada dokter pribadi Jazira, apakah Jazira bisa melakukan perjalanan jauh atau tidak.


Meskipun pada awalnya sang dokter melarang keras Jazira untuk berpergian jauh, terlebih lagi ke Indonesia yang membutuhkan waktu lama hingga 16 jam. Akhirnya setelah perundingan yang sedikit lama, sang dokter pun memperbolehkan Jazira pergi karena sesuatu yang mendesak.


Sebelum mereka semua benar-benar masuk ke dalam jet, Jingga yang menggenggam tangan Jazira pun mengelus perlahan tangan mungil milik sang kakak yang mengeluarkan keringat dingin.


Jingga tahu bahwa sang kakak pasti akan sangat ketakutan, terlebih lagi dia akan kembali ke tanah air, tempat di mana dia pernah tersakiti. Jingga pun memeluk sang kakak dari samping lalu menenangkan sang kakak agar tak terlalu khawatir.


"Call down ya Kak Zi, kita semua ada buat Kak Zizi. Yakinlah bahwa nanti Kak Albi nggak akan tahu kalau Kak Zizi ada di Indonesia. Kak Marcel akan jaga Kak Zizi dan si cantik kita ini," ujar Jingga mencoba menenangkan sang kakak seraya mengelus perut Jazira yang telah membuncit.


"Makasih ya, Ngga. Kak Zizi percaya sama kamu." Jazira memeluk erat sang adik dengan perasaan haru. Entahlah, hari ini merupakan hari yang membahagiakan untuk dirinya. Setelah dirinya diperbolehkan untuk pulang ke Indonesia meskipun dengan perasaan yang gugup, dirinya juga bahagia karena ayah Marcel ingin bertemu dengannya untuk meminta maaf.


"Udah siap, Zi? Yuk Ngga, Ven kita langsung berangkat." Marcel langsung menggandeng tubuh ringkih milik adik tirinya tersebut dan diikuti oleh Jingga dan Veno.


Mereka berempat pun segera naik ke atas jet dan langsung melakukan perjalanan menuju Indonesia. Selama perjalanan yang menghabiskan waktu selama kurang lebih enam belas jam itu, Jazira tak banyak melakukan aktivitas selain tidur dan aktivitas ringan lainnya.


Setelah hampir 16 jam lebih, akhirnya mereka pun tiba di Indonesia dan Jazira dan Jingga yang sedari tadi tertidur pun dibangunkan oleh Marcel.


"Ngga, bangun dulu yuk? Kita dah sampai di Jakarta loh," ucap Marcel lembut sembari mengecup perlahan pipi milik Jingga. Jingga yang merasa terganggu pun mulai membuka matanya.


Setelah netranya terbuka, wajah tampan milik Marcel lah yang menyapa penglihatannya. Jingga mencoba bangun atas bantuan Marcel yang menyangga tubuh mungilnya.


"Sekarang jam berapa?" tanya Jingga sembari menyenderkan kepalanya si dada bidang milik Marcel. Marcel pun mendekap perlahan badan milik Jingga dan mengecil singkat dahi gadis tersebut.

__ADS_1


"Sekarang pukul tujuh pagi waktu Indonesia. Kan kita berangkat jam tiga sore dari London," jawab Marcel yang membuat Jingga menganggukkan kepalanya. Jingga pun menarik tubuhnya dari Marcel dan bangun untuk membangunkan ibu hamil yang tertidur tak nyenyak itu.


"Kak Zizi, bangun dulu yuk kak. Kita udah landing di Jakarta," ujar Jingga yang membuat ibu hamil tersebut membuka matanya perlahan. Tercetak jelas kantung mata yang menghiasi bagian bawah mata indah memiliki Jazira yang membuat Jingga mengelus perlahan lengan milik Jazira yang masih berbaring.


Jazira pun menganggukan kepalanya dengan lemah lalu meminta bantuan kepada Marcel untuk mengangkat tubuhnya. Dengan cepat Marcel dan Jingga bergegas membantu Jazira untuk bangun dari tidurnya dan berdiri dengan bersandar pada tubuh kekar milik kakak tirinya tersebut.


"Kuat jalannya, Zi?" tanya Marcel sembari mencoba untuk membuat Jazira berdiri tegap. Jazira menarik nafasnya perlahan dan menghembuskan nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya. Tangannya mungilnya bergerak mendekati Jingga untuk meminta tolong kepada sang adik untuk menuntunnya keluar dari kamar yang ada di jet tersebut.


Setelah beberapa saat Jazira habiskan untuk turun perlahan dari jet pribadi milik Marcel, akhirnya mereka berempat pun keluar dari bandara internasional yang ada di Jakarta dan segera menghampiri sopir yang telah bersiap untuk menjemput mereka.


"Langsung ke rumah sakit utama tempat ayah dirawat, ya pak?" ujar Marcel setelah berhasil masuk ke dalam mobil dengan Jazira, Jingga, dan Veno yang berada di belakangnya. Sang sopir pun menganggukkan kepalanya dan segera melajukan mobil mewah milik Marco menuju rumah sakit.


Ya, setelah mengalami sakit berat selama kurang lebih 1 bahun amanya, Marco mulai menyadari kesalahannya kepada Jazira. Seorang gadis yang tak bersalah apapun pada dirinya namun sempat menjadi sasaran utama dirinya untuk membalaskan dendam.


Setelah beberapa menit melakukan perjalanan dari bandara internasional sampai ke rumah sakit, akhirnya mereka berempat telah tiba di rumah sakit. Wanita yang perutnya semakin membesar kian bulan itu berjalan sambil menggandeng tangan kekar milik Veno.


Setelah itu tujuan utama mereka kali ini adalah ruang rawat VIP milik Marco. Dan setelah bertanya dimana ruang rawat milik Marco berada, akhirnya mereka berempat pun memutuskan untuk segera ke sana. Namun berbeda dengan Jazira.


Wanita itu meminta izin kepada Marcel, Jingga dan Veno untuk memeriksakan kandungannya sebentar, karena dirinya takut terjadi apa-apa dengan bayinya.


Walaupun pada awalnya Marcel melarang keras Jazira yang hendak menemaninya. Namun kekeras kepalaan Jazira mengalahkan ketiganya. Akhirnya Jazira pun berjalan menuju poli kandungan yang sempat dia tahu letaknya sebelum akhirnya dirinya pindah ke London.


Wanita yang menutupi tubuh bagian atasnya dengan hoddie berwarna hitam itu menundukkan kepalanya sembari mengelus perutnya membuncit.

__ADS_1


Sesekali dirinya mengangkat kepalanya untuk melihat sampai di mana dirinya berjalan.


...*****...


Sementara Albirru yang baru saja keluar dari rumahnya hendak berjalan menuju mobil yang terparkir pun terhenti karena teriakan dari Larina. Laki-laki yang telah rapi dengan pakaian formal itu segera berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumahnya.


Albirru langsung masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah tempat di mana Larina selama ini beristirahat. Dirinya terkejut karena melihat banyak darah yang keluar dari bagian bawah tubuh Larina. Wajah kesakitan dari Larina pun membuat Albirru sedikit khawatir.


Dengan segera Albirru pun berteriak memanggil nama Johan untuk mengangkat tubuh Larina. Larina sempat merasa kesal karena bukan Albirru lah yang mengangkat dirinya.


Namun rasa sakitnya mengalahkan emosinya untuk memarahi Albirru. Johan yang melihat hal tersebut pun dengan rasa sedikit malas mencoba untuk menggendong tubuh Larina. Tak ada niatan dari Albirru untuk mengikuti Johan yang akan membawa Larina ke rumah sakit. Namun teriakan dari Larina membuat laki-laki tersebut mau tidak mau ikut bersama.


Meskipun usia kandungan Larina hampir mencapai 9 bulan. Namun perkiraan kelahiran bayi tersebut masih beberapa bulan lagi.


Setelah tiba di rumah sakit, Johan memanggil para petugas rumah sakit untuk menjemput Larina yang berada di dalam mobil. Larina benar-benar sungguh heran dengan dua laki-laki yang menurutnya tidak memiliki perikemanusiaan itu. Mereka membiarkan dirinya menunggu lebih lama tanpa berniat untuk menggendongnya masuk ke dalam.


Setelah para perawat mengangkat Larina menuju brangkar dan membawanya masuk ke rumah sakit, Albirru pun berjalan santai sambil melihat ke mana para petugas tersebut membawa Larina pergi.


Setelah melewati beberapa koridor dan belokan, Albirru menggelengkan kepalanya perlahan saat mengetahui kemana para petugas itu membawa Larina. Tepat di belokan terakhir, dirinya tak sengaja menabrak seseorang yang menutupi kepalanya dengan sebuah hoddie berwarna hitam. Yang lebih membuat Albirru terkejut lagi karena tak sengaja dompet milik wanita tersebut jatuh tepat di sampingnya.


Albirru pun segera mengambil dompet tersebut, dan tak sengaja sebuah foto keluar dari selipan dompet mewah itu yang membuat Albirru terkejut.


Ingin baca cerita duda yang Kayenna rekomendassin? Fiks wajib baca Dua Jagoan Kecil Mas Duda by Mbak kembaran ya.

__ADS_1



__ADS_2